Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 September 2026 | 04.50 WIB

8 Kalimat yang Biasa Diucapkan oleh Mereka yang Sudah Tidak Mampu Lagi Memaafkan, Apa Saja?

Ilustrasi, orang yang sudah tidak mampu lagi memaafkan. Magnific/ wayhomestudio.

 
JawaPos.com - Memaafkan tidak selalu mudah, khususnya bagi mereka yang telah berulang kali disakiti, dikhianati, atau dilakukan dengan sangat buruk.

Mungkin sebagian orang mampu bangkit kembali berkali-kali, tapi bagi yang lain memilih menutup diri sepenuhnya.

Mereka sudah mencapai batas kesabarannya, menjadi sedikit lebih keras hati, dan kerap kali menggunakan kalimat-kalimat tertentu yang terdengar dramatis sebagai ungkapan bahwa mereka sudah tidak mampu lagi memaafkan.

Dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Kamis (24/9), berikut ini delapan kalimat yang biasa diucapkan oleh mereka yang sudah tidak mampu lagi memaafkan karena sering disakiti.

1. 'Saya Tidak Punya Energi untuk Ini'

Mereka yang sering diperlakukan buruk tidak lagi peduli dengan apa maksud atau niat orang lain.

Apalagi setelah sekian lama diperlakukan tidak adil, mereka cenderung langsung berkata 'Saya tidak punya energi untuk ini'.

Mungkin terdengar kasar, tapi setidaknya mereka mencoba jujur.

Memaafkan kesalahan yang sama berulang kali sungguh melelahkan.

Itu sebabnya, penting untuk tidak lagi menguji kesabaran mereka.

Kelelahan ekstrem atau burnout itu nyata adanya dan bisa membuat mereka terkuras energinya, baik secara emosional, mental, maupun fisik.

Mereka tidak lagi bersedia berperan sebagai pendamai ketika dirinya-lah pihak yang sebenarnya telah disakiti.

2. 'Saya Tidak Memercayai Siapa pun'


Dulu, mereka terlalu mudah memberi maaf.

Saat orang lain berbuat salah, mereka tetap yakin bahwa orang-orang yang mereka sayangi layak mendapat kesempatan kedua.

Tapi, karena terus-menerus disakiti dan dikhianati, rasa lelah luar biasa pun muncul.

Mereka menjadi muak dengan segala alasan yang ada.

Kini, dengan kondisi batin yang benar-benar terkuras, sikap dingin mereka begitu terasa.

Apalagi saat mereka mengatakan bahwa mereka tidak lagi memercayai siapa pun.

Mereka mungkin tetap ingin berbuat baik, tapi, sudah tidak mau lagi dimanfaatkan.

Sekarang, mereka lebih memprioritaskan kebutuhan diri sendiri.

Mereka tidak lagi bersedia berprasangka baik atau memberi toleransi kepada orang lain.

Mungkin, orang di luar sana menganggapnya kejam.

Tapi, apa pun yang orang lain katakan atau lakukan justru akan berbalik merugikan dirinya sendiri.

3. 'Permintaan Maaf Tidak Benar-Benar Mengubah Apa pun'


Mereka sudah terlalu sering mendengar kata 'maaf' dari orang-orang yang tidak tulus, yang hanya menggunakan permintaan maaf sebagai dalih untuk menghindari tanggung jawab.

Mungkin, cara itu berhasil, tapi hanya sesaat.

Selanjutnya, mereka tidak segan mengatakan secara terus terang kalau permintaan maaf kini sudah tidak ada lagi artinya.

Mereka sudah tidak mau lagi meladeni omong kosong orang seperti itu.

Bukankah jika benar-benar menyesal, tindakan harus lebih nyata daripada sekadar kata-kata?.

4. 'Saya Sudah Tidak Mau Lagi Membuat-buat Alasan untuk Orang Lain'


Akan ada batasnya seseorang untuk membenarkan dan terus mencari alasan atas perilaku buruk orang lain.

Kenyataannya, memang ada orang yang buruk perilakunya.

Meski mengakui kenyataan tersebut tidak nyaman, tapi itu lebih baik daripada terus-menerus memahami, memaklumi, dan memaafkan.

Hingga akhirnya mereka muak dan sudah tidak mau lagi memberi maaf atas perilaku buruk orang itu.

Mereka pun berani mengungkapkan perasaannya dalam percakapan.

5. 'Orang Tidak Pernah Berubah'


Merek yang semakin sulit memaafkan kesalahan orang lain sering kali mengembangkan pandangan hidup yang suram namun realistis.

Mereka sudah tidak lagi berharap orang lain akan berubah, terutama ketika buktinya sudah terlihat jelas.

Meski ada orang yang memang benar berubah, tapi mereka tidak bisa percaya begitu saja.

Mereka yang sudah terlalu sering dikecewakan tidak akan mau mendengarkan alasan apa pun.

Jadi, percuma saja orang yang menyakiti mereka bicara panjang lebar, mereka tidak akan mengubah pendiriannya.

6. 'Dulu Saya Mengira Waktu Menyembuhkan Segalanya, Kini Saya Tahu yang Sebenarnya'


Ada ungkapan bahwa hanya waktu yang mampu menyembuhkan segalanya.

Tapi, bagi mereka yang sudah hilang kemampuan memaafkan, ungkapan tersebut jarang berlaku bahkan cenderung tidak percaya.

Begitu rasa dendam muncul, mereka lebih sulit bangkit, bahkan dari hal-hal sepele yang menyinggung perasaan mereka.

Terlebih jika mereka sudah terlanjur sangat terluka oleh orang-orang di sekitarnya.

Bukan sengaja bersikap pesimistis atau merusak suasana, tapi mereka memandang bahwa orang lain itu menyebalkan.
 
Itulah pandangan yang mereka pegang teguh.

Mereka tidak lagi peduli dengan perasaan orang lain.

Mereka hanya mementingkan diri sendiri.

Itu sebabnya orang yang tadinya baik hati bisa berubah menjadi sosok yang tidak punya belas kasih dan jarang belajar untuk memaafkan kembali.

7. 'Saya Tidak Ingin Mendengar Penjelasan Mereka Lagi'


Mungkin dulu mereka biasa memberi orang lain kesempatan untuk menyampaikan sudut pandangnya.

Mereka begitu peduli, jadi mereka ingin mendengar sisi lain bahkan dari orang yang pernah menyakiti mereka.

Namun, setelah berkali-kali diperlakukan buruk, mereka menutup pintu maaf itu dan berkata 'Saya sudah tidak mau lagi mendengar penjelasannya lagi'.

Mereka sudah sama sekali tidak peduli dengan apa pun yang orang lain ingin katakan begitu orang tersebut mengkhianati kepercayaan mereka.

8. 'Saya Lelah Harus Bersikap Lebih Dewasa'

Memaafkan adalah sebuah kebajikan.

Memaafkan juga bisa menjadi hadiah bagi diri sendiri, tapi bukan berarti mereka harus menjadi pihak yang lebih besar hatinya.

Mereka yang sudah lelah disakiti oleh orang yang mereka sayangi akan sampai pada titik dimana mereka tidak mau lagi menoleransinya.

Mereka hanya ingin melangkah maju.

Tidak peduli siapa orang itu bagi mereka, jika orang itu telah berulang kali menginjak-injak harga dirinya, mereka tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

Demi menjaga ketenangan batin, mereka akhirnya belajar kapan saatnya untuk pergi.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore