
seseorang yang tidak bisa memaafkan orang lain (Magnific/gpointstudio)
Dalam psikologi, kesulitan memaafkan tidak selalu berarti seseorang memiliki sifat pendendam. Ketidakmampuan untuk memaafkan dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang memproses luka emosional, menilai sebuah peristiwa, memandang dirinya sendiri, serta memahami hubungan dengan orang yang telah menyakitinya.
Memaafkan juga bukan berarti membenarkan perilaku orang lain atau melupakan kejadian yang menyakitkan. Seseorang dapat memaafkan tanpa harus kembali mempercayai orang tersebut, tanpa mempertahankan hubungan, dan tanpa menganggap bahwa tindakan yang dilakukan kepadanya adalah sesuatu yang wajar.
Lantas, mengapa seseorang terkadang begitu sulit memaafkan orang lain dengan tulus?
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (24/8), terdapat enam alasan yang dapat dijelaskan dari perspektif psikologi.
1. Luka Emosionalnya Belum Benar-Benar Sembuh
Salah satu alasan paling mendasar seseorang sulit memaafkan adalah karena luka yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut masih terasa.
Ketika seseorang mengalami penghinaan, pengkhianatan, penolakan, kebohongan, kehilangan, atau perlakuan tidak adil, pengalaman tersebut dapat meninggalkan jejak emosional yang kuat. Meskipun peristiwanya sudah berlalu bertahun-tahun, perasaan yang muncul akibat kejadian tersebut belum tentu ikut menghilang.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin mengatakan bahwa dirinya ingin memaafkan, tetapi secara emosional masih merasa terluka.
Misalnya, seseorang pernah dikhianati oleh sahabat yang sangat dipercayainya. Setelah bertahun-tahun berlalu, ia mungkin sudah tidak lagi berhubungan dengan sahabat tersebut. Namun, setiap kali mengingat kejadian itu, muncul kembali rasa kecewa dan pertanyaan seperti, “Mengapa dia tega melakukan itu kepada saya?”
Hal tersebut menunjukkan bahwa waktu tidak selalu otomatis menyembuhkan luka emosional.
Secara psikologis, manusia membutuhkan proses untuk memahami dan mengintegrasikan pengalaman yang menyakitkan. Jika emosi seperti marah, sedih, kecewa, atau rasa kehilangan belum diproses dengan baik, keinginan untuk memaafkan bisa terasa seperti memaksa diri untuk melupakan sesuatu yang sebenarnya masih menyakitkan.
Karena itu, seseorang tidak selalu perlu terburu-buru memaafkan.
Terkadang, langkah pertama bukanlah memaafkan orang lain, melainkan mengakui bahwa dirinya memang terluka.
2. Seseorang Merasa Bahwa Apa yang Terjadi Sangat Tidak Adil
Rasa tidak adil merupakan salah satu faktor yang dapat membuat seseorang sulit melepaskan kemarahan.
Manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk memahami dunia sebagai sesuatu yang masuk akal dan relatif adil. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil, pikirannya dapat terus mencari penjelasan mengenai mengapa hal tersebut terjadi.
Pertanyaan seperti:
“Mengapa saya yang harus mengalami ini?”
“Mengapa dia tidak mendapatkan konsekuensinya?”
“Mengapa orang tersebut bisa hidup bahagia setelah menyakiti saya?”
“Mengapa tidak ada yang membela saya?”
dapat terus muncul dalam pikiran.
Masalahnya, semakin seseorang memikirkan ketidakadilan tersebut tanpa menemukan jawaban yang memuaskan, semakin besar kemungkinan kemarahan tetap bertahan.
Dalam situasi seperti ini, memaafkan terkadang terasa seperti menyerah terhadap ketidakadilan.
Seseorang mungkin berpikir, “Kalau saya memaafkannya, berarti saya membiarkan dia menang.”
Padahal, secara psikologis, memaafkan tidak harus berarti menyatakan bahwa tindakan tersebut benar. Memaafkan lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang mengurangi keterikatan emosionalnya terhadap luka tersebut.
Seseorang tetap dapat mengakui bahwa dirinya telah diperlakukan dengan buruk sekaligus berusaha melepaskan beban emosional yang muncul akibat pengalaman tersebut.
Dengan kata lain, menerima bahwa sesuatu tidak adil tidak selalu berarti harus membawa kemarahan itu selamanya.
3. Orang yang Menyakiti Tidak Pernah Meminta Maaf atau Bertanggung Jawab
Memaafkan menjadi jauh lebih sulit ketika orang yang melakukan kesalahan tidak menunjukkan penyesalan.
Bayangkan seseorang telah disakiti oleh orang yang sangat dekat dengannya. Bukannya meminta maaf, orang tersebut justru menyangkal, menyalahkan korban, atau bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Situasi seperti ini dapat membuat luka semakin dalam.
Bagi orang yang terluka, permintaan maaf sering kali bukan sekadar kata-kata. Permintaan maaf dapat menjadi bentuk pengakuan bahwa rasa sakit yang dialaminya memang nyata.
Ketika pengakuan tersebut tidak pernah datang, seseorang mungkin merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan penutupan emosional atau closure.
Akibatnya, pikiran dapat terus kembali kepada kejadian tersebut.
“Apakah dia sadar bahwa dia sudah menghancurkan kepercayaan saya?”
“Apakah dia benar-benar mengerti betapa sakitnya saya?”
“Mengapa justru saya yang harus melupakan semuanya?”
Inilah salah satu alasan mengapa memaafkan tidak selalu membutuhkan hubungan kembali dengan orang yang bersangkutan.
Seseorang dapat memilih untuk memproses luka dan akhirnya memaafkan demi dirinya sendiri, meskipun orang yang menyakitinya tidak pernah meminta maaf.
Namun, proses tersebut tidak mudah karena manusia secara alami menginginkan adanya pengakuan terhadap rasa sakit dan kesalahan.
4. Masih Terjebak dalam Ruminasi atau Mengulang Kejadian di Dalam Pikiran
Alasan lain seseorang sulit memaafkan adalah karena pikirannya terus mengulang kejadian yang menyakitkan.
Dalam psikologi, pola berpikir berulang mengenai pengalaman negatif sering disebut sebagai ruminasi.
Orang yang mengalami ruminasi mungkin terus memutar kembali percakapan, kejadian, atau tindakan seseorang di dalam pikirannya.
Misalnya:
“Seharusnya waktu itu saya mengatakan ini.”
“Mengapa saya tidak menyadarinya lebih awal?”
“Bagaimana kalau saya mengambil keputusan yang berbeda?”
“Mengapa dia melakukan hal tersebut kepada saya?”
Pada awalnya, memikirkan kembali suatu kejadian mungkin terasa seperti usaha untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa menghasilkan solusi, pikiran tersebut justru dapat mempertahankan emosi negatif.
Semakin sering seseorang mengingat penghinaan, pengkhianatan, atau perlakuan buruk yang diterimanya, semakin mudah emosi terkait pengalaman tersebut muncul kembali.
Akibatnya, seseorang mungkin merasa bahwa ia belum bisa memaafkan, padahal sebagian masalahnya adalah pikirannya belum berhenti hidup di dalam kejadian tersebut.
Memaafkan kemudian bukan sekadar keputusan intelektual. Seseorang juga perlu belajar mengubah pola hubungan dengan ingatan tersebut.
Tujuannya bukan memaksa diri untuk lupa, tetapi membiarkan ingatan itu tetap menjadi bagian dari masa lalu tanpa terus mengendalikan emosi di masa sekarang.
5. Rasa Marah Memberikan Perasaan Memiliki Kendali
Ini mungkin terdengar aneh, tetapi terkadang seseorang mempertahankan kemarahannya karena kemarahan tersebut memberikan rasa kuat atau rasa memiliki kendali.
Ketika seseorang disakiti, ia mungkin merasa tidak berdaya. Orang lain telah mengambil keputusan yang menyakitkan tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk mengendalikan keadaan.
Kemudian, kemarahan dapat menjadi cara psikologis untuk mempertahankan batas diri.
Seseorang mungkin berpikir:
“Saya tidak akan pernah melupakan apa yang dia lakukan.”
Pikiran tersebut dapat memberikan perasaan bahwa dirinya sedang menjaga diri agar tidak disakiti kembali.
Dalam konteks tertentu, kemarahan memang dapat memiliki fungsi adaptif. Kemarahan dapat membantu seseorang mengenali bahwa batas dirinya telah dilanggar dan mendorongnya untuk mengambil tindakan perlindungan.
Namun, ketika kemarahan dipertahankan terlalu lama, fungsi tersebut dapat berubah.
Alih-alih melindungi seseorang, kemarahan justru dapat membuatnya terus terikat dengan orang yang telah menyakitinya.
Ironisnya, seseorang mungkin sudah tidak lagi berinteraksi dengan orang tersebut, tetapi secara emosional masih memberikan banyak ruang dalam kehidupannya.
Karena itu, melepaskan kemarahan bukan berarti menjadi lemah.
Dalam banyak kasus, justru dibutuhkan kekuatan untuk mengatakan:
“Apa yang terjadi kepada saya memang salah, tetapi saya tidak ingin kejadian itu terus mengendalikan hidup saya.”
6. Memaafkan Disalahartikan sebagai Melupakan atau Membiarkan Kesalahan
Banyak orang sulit memaafkan karena memiliki pemahaman bahwa memaafkan berarti melupakan.
Padahal, memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang dapat mengingat dengan jelas apa yang pernah dilakukan kepadanya, tetapi tidak lagi dikuasai oleh kemarahan terhadap orang tersebut.
Demikian pula, memaafkan tidak berarti seseorang harus memberikan kepercayaan yang sama seperti sebelumnya.
Contohnya, seseorang dapat memaafkan mantan teman yang pernah mengkhianatinya, tetapi memilih untuk tidak kembali menjalin persahabatan.
Seseorang dapat memaafkan anggota keluarga yang pernah menyakitinya, tetapi tetap menetapkan batasan dalam hubungan.
Seseorang juga dapat memaafkan pasangan yang pernah melakukan kesalahan, tetapi memutuskan bahwa hubungan tersebut tidak sehat untuk dilanjutkan.
Dengan memahami perbedaan tersebut, proses memaafkan menjadi lebih realistis.
Memaafkan bukan berarti mengatakan, “Apa yang kamu lakukan tidak masalah.”
Memaafkan lebih dekat dengan mengatakan, “Apa yang kamu lakukan memang menyakitkan, tetapi saya tidak ingin terus membawa luka ini ke dalam kehidupan saya.”
Memaafkan Tidak Harus Terjadi dengan Cepat
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa orang yang sudah dewasa secara emosional harus mampu memaafkan dengan cepat.
Padahal, setiap luka memiliki proses yang berbeda.
Ada pengalaman yang dapat dimaafkan dalam beberapa hari. Ada pula pengalaman yang membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk diproses.
Tidak semua orang memiliki kapasitas emosional yang sama dalam menghadapi kehilangan, pengkhianatan, atau konflik.
Karena itu, memaksa seseorang untuk segera berkata “Saya sudah memaafkan” justru dapat membuat proses emosionalnya menjadi tidak autentik.
Memaafkan dengan ikhlas bukan sekadar mengucapkan kata maaf. Ada proses memahami apa yang terjadi, mengakui emosi, menerima kenyataan bahwa masa lalu tidak dapat diubah, kemudian perlahan mengurangi keterikatan emosional terhadap peristiwa tersebut.
Memaafkan Tidak Sama dengan Membenarkan
Penting untuk memahami bahwa memaafkan tidak berarti membenarkan tindakan orang lain.
Seseorang dapat mengatakan:
“Saya memaafkanmu, tetapi apa yang kamu lakukan tetap salah.”
Dua hal tersebut dapat berjalan bersamaan.
Memaafkan juga tidak mengharuskan seseorang kembali kepada hubungan yang sama. Jika seseorang pernah mendapatkan perlakuan yang merusak atau berulang kali disakiti, menetapkan batasan dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Dengan demikian, seseorang tidak perlu memilih antara memaafkan atau melindungi dirinya sendiri.
Ia dapat melakukan keduanya.
Bagaimana Jika Belum Bisa Memaafkan?
Jika seseorang belum mampu memaafkan, hal pertama yang perlu dilakukan bukan memaksa diri untuk segera melupakan.
Cobalah memahami apa yang sebenarnya masih tertinggal.
Apakah yang paling menyakitkan adalah tindakan orang tersebut?
Apakah rasa tidak adil?
Apakah tidak adanya permintaan maaf?
Apakah hilangnya kepercayaan?
Atau mungkin perasaan bahwa diri sendiri tidak dihargai?
Menjawab pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang memahami akar emosinya.
Selanjutnya, seseorang dapat belajar menerima bahwa dirinya memang pernah terluka. Tidak perlu menyangkal rasa marah atau sedih hanya karena merasa harus terlihat kuat.
Pada akhirnya, tujuan dari memaafkan bukan selalu membuat hubungan kembali seperti semula.
Tujuannya dapat lebih sederhana: membebaskan diri dari kebutuhan untuk terus membawa kejadian masa lalu ke dalam setiap hari yang dijalani sekarang.
Penutup
Tidak bisa memaafkan orang lain dengan ikhlas bukan berarti seseorang adalah manusia yang buruk atau pendendam. Dalam perspektif psikologi, kesulitan memaafkan dapat muncul karena luka emosional yang belum sembuh, rasa ketidakadilan, tidak adanya permintaan maaf, ruminasi, kebutuhan untuk mempertahankan rasa kendali, serta pemahaman yang keliru tentang arti memaafkan.
Memaafkan adalah proses, bukan perlombaan.
Seseorang tidak harus memaksa dirinya untuk mengatakan “Saya sudah tidak marah” ketika sebenarnya masih terluka. Yang lebih penting adalah perlahan memahami emosi tersebut dan mencari cara agar pengalaman masa lalu tidak terus menentukan kehidupan di masa sekarang.
Pada akhirnya, memaafkan bukan selalu tentang memberikan hadiah kepada orang yang telah menyakiti kita.
Sering kali, memaafkan adalah keputusan untuk berhenti memberikan terlalu banyak ruang dalam hidup kita kepada sebuah kejadian yang sudah berlalu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
