Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 September 2026 | 02.20 WIB

7 Alasan Mengapa Kamu Mungkin Sulit Memaafkan Diri Sendiri Menurut Psikologi. Apa Sajakah Itu?

seseorang yang sulit memaafkan diri / foto: Magnific/tongstocker1987

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu melakukan sebuah kesalahan yang sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun lalu, tetapi setiap kali mengingatnya, rasa bersalah itu muncul kembali?

Kamu mungkin sudah meminta maaf kepada orang lain. Mungkin orang tersebut juga sudah memaafkanmu. Bahkan, keadaan sekarang sudah jauh berbeda dari masa lalu.

Namun anehnya, kamu sendiri masih belum bisa berdamai dengan apa yang pernah kamu lakukan.

Ada kalanya kita jauh lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain dibandingkan kesalahan diri sendiri. Ketika orang lain melakukan kesalahan, kita mungkin mampu memahami bahwa mereka sedang belajar, berada dalam kondisi sulit, atau tidak sepenuhnya memahami konsekuensi dari tindakan mereka.

Tetapi ketika kita yang melakukan kesalahan, standar yang kita gunakan bisa menjadi jauh lebih keras.

"Kok dulu aku bisa melakukan itu?"

"Seharusnya aku tahu."

"Kalau saja waktu itu aku memilih berbeda."

"Aku benar-benar mengecewakan diriku sendiri."

Pikiran seperti ini dapat membuat kesalahan masa lalu terasa seperti hukuman yang tidak pernah selesai.

Dalam psikologi, kemampuan untuk memaafkan diri sendiri bukan berarti menganggap kesalahan tidak penting. Memaafkan diri sendiri lebih berkaitan dengan kemampuan untuk mengakui kesalahan, memahami apa yang terjadi, mengambil pelajaran, memperbaiki sesuatu jika memungkinkan, kemudian berhenti menghukum diri tanpa akhir.

Jadi, mengapa sebagian orang begitu sulit melakukannya?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat tujuh kemungkinan alasannya.

1. Kamu Mengira Rasa Bersalah Adalah Bentuk Tanggung Jawab

Salah satu alasan seseorang sulit memaafkan dirinya sendiri adalah karena ia merasa bahwa terus-menerus merasa bersalah merupakan bentuk tanggung jawab.

Seolah-olah jika rasa bersalah itu menghilang, berarti dirinya sudah "lupa" terhadap kesalahan yang pernah dilakukan.

"Aku memang pantas merasa bersalah."

"Aku tidak boleh melupakannya."

"Aku harus terus mengingat kesalahan ini supaya tidak mengulanginya."

Cara berpikir seperti ini cukup masuk akal pada awalnya. Rasa bersalah memang dapat memiliki fungsi psikologis yang penting. Perasaan tersebut dapat memberi sinyal bahwa perilaku kita tidak sesuai dengan nilai yang kita pegang dan mendorong kita untuk memperbaiki keadaan.

Masalahnya muncul ketika rasa bersalah tidak lagi berfungsi sebagai sinyal, tetapi berubah menjadi hukuman permanen.

Bayangkan seseorang pernah berbohong kepada orang yang ia cintai. Ia menyadari kesalahannya, meminta maaf, belajar dari pengalaman tersebut, dan sejak saat itu berusaha menjadi lebih jujur.

Namun setiap kali mengingat kejadian itu, ia berkata kepada dirinya sendiri:

"Aku orang yang buruk."

Di titik tersebut, rasa bersalah tidak lagi sekadar mengatakan, "Aku melakukan sesuatu yang salah."

Perasaan itu telah berkembang menjadi, "Ada sesuatu yang salah dengan diriku."

Perbedaan ini sangat penting.

Kesalahan adalah sesuatu yang dilakukan seseorang. Kesalahan tidak selalu menjadi definisi keseluruhan dirinya.

Memaafkan diri sendiri bukan berarti menghapus tanggung jawab. Justru, seseorang dapat mengakui, "Aku melakukan kesalahan dan aku bertanggung jawab atasnya," tanpa harus terus berkata, "Karena itu aku tidak layak mendapatkan kedamaian."

2. Kamu Sulit Memisahkan Kesalahan dari Identitas Dirimu

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

"Aku membuat keputusan yang buruk."

dan:

"Aku adalah orang yang buruk."

Kalimat pertama berfokus pada perilaku. Kalimat kedua menyerang identitas.

Ketika seseorang terlalu sering menghubungkan kesalahan dengan identitas dirinya, proses memaafkan diri menjadi jauh lebih sulit.

Misalnya, seseorang pernah gagal menjadi pasangan yang baik dalam sebuah hubungan.

Ia kemudian mulai berpikir:

"Aku memang tidak pernah bisa menjadi pasangan yang baik."

Atau seseorang pernah gagal dalam pekerjaan:

"Aku memang bodoh."

Atau pernah menyakiti seseorang:

"Aku memang orang yang buruk."

Masalahnya, manusia jauh lebih kompleks daripada satu kejadian.

Kamu bisa melakukan sesuatu yang salah tanpa seluruh dirimu menjadi "kesalahan" tersebut.

Dalam psikologi, pola pikir yang menggeneralisasi satu pengalaman menjadi kesimpulan menyeluruh tentang diri dapat membuat seseorang melihat dirinya secara terlalu negatif.

Kesalahan masa lalu kemudian tidak lagi menjadi sebuah peristiwa yang perlu dipelajari, melainkan menjadi "bukti" bahwa dirinya memang tidak berharga.

Ketika hal itu terjadi, memaafkan diri terasa seperti menyangkal identitas yang sudah terbentuk.

Padahal, manusia berubah.

Orang yang melakukan sesuatu lima tahun lalu belum tentu memiliki cara berpikir, pengalaman, pengetahuan, atau kedewasaan yang sama dengan dirimu hari ini.

Kamu tidak harus menyukai kesalahanmu untuk mengakui bahwa kamu telah berkembang sejak saat itu.

3. Kamu Terlalu Sering Mengulang Masa Lalu di Dalam Pikiran

Ada orang yang tubuhnya sudah berada di masa sekarang, tetapi pikirannya terus kembali ke masa lalu.

Ia mengingat percakapan lama.

Mengulang keputusan yang pernah dibuat.

Membayangkan bagaimana semuanya mungkin berbeda jika ia memilih jalan lain.

"Kalau waktu itu aku tidak mengatakan kalimat tersebut..."

"Kalau aku pergi lebih cepat..."

"Kalau aku tidak mempercayainya..."

"Kalau aku mengambil keputusan yang berbeda..."

Pengulangan pikiran seperti ini dapat membuat peristiwa yang sebenarnya sudah berlalu terasa seolah-olah masih terjadi.

Dalam psikologi, kecenderungan untuk terus memikirkan pengalaman negatif secara berulang sering dibahas dalam konteks rumination atau perenungan berlebihan.

Perenungan berbeda dengan refleksi yang sehat.

Refleksi bertanya:

"Apa yang bisa kupelajari dari kejadian ini?"

Sedangkan perenungan sering kali berputar pada pertanyaan:

"Mengapa aku melakukan itu?"

"Kenapa aku sebodoh itu?"

"Bagaimana mungkin aku bisa sebegitu buruknya?"

Pertanyaan tersebut tidak selalu menghasilkan solusi. Sebaliknya, seseorang dapat terjebak dalam lingkaran pikiran yang sama.

Semakin sering kamu mengulang suatu kesalahan tanpa menemukan perspektif baru, semakin kuat pula hubungan antara ingatan tersebut dan emosi negatif.

Itulah sebabnya waktu saja tidak selalu cukup untuk membuat seseorang berdamai dengan masa lalu.

Yang berubah bukan hanya jumlah waktu yang berlalu, tetapi juga cara seseorang memaknai pengalaman tersebut.

4. Kamu Memiliki Standar yang Sangat Tinggi terhadap Dirimu Sendiri

Orang yang memiliki tuntutan tinggi terhadap dirinya sendiri sering kali merasa bahwa mereka seharusnya bisa melakukan semuanya dengan benar.

Mereka sulit menerima kegagalan.

Sulit menerima keputusan yang ternyata tidak berhasil.

Dan sulit menerima kenyataan bahwa pada saat tertentu mereka tidak tahu apa yang sekarang sudah mereka ketahui.

Masalahnya adalah manusia membuat keputusan berdasarkan informasi, pengalaman, kondisi emosional, dan kemampuan yang tersedia pada saat itu.

Kamu tidak memiliki pengetahuan tentang masa depan ketika mengambil keputusan.

Tetapi setelah semuanya terjadi, kamu sudah mengetahui hasilnya.

Akibatnya, kita sering menilai diri kita di masa lalu menggunakan pengetahuan yang baru kita miliki sekarang.

Misalnya, sekarang kamu tahu bahwa sebuah hubungan tidak sehat.

Namun ketika hubungan itu dimulai, kamu belum mengetahui semua hal yang sekarang kamu ketahui.

Sekarang kamu tahu bahwa sebuah keputusan pekerjaan ternyata buruk.

Tetapi ketika mengambil keputusan tersebut, kamu mungkin memiliki alasan yang pada saat itu terasa masuk akal.

Melihat masa lalu dengan pengetahuan masa kini dapat membuat keputusan lama tampak jauh lebih bodoh daripada sebenarnya.

Ini salah satu jebakan psikologis yang membuat seseorang berkata:

"Seharusnya aku tahu."

Padahal mungkin kenyataannya adalah:

"Aku baru mengetahui hal itu setelah mengalaminya."

Kedua kalimat tersebut memiliki makna yang sangat berbeda.

5. Kamu Menganggap Memaafkan Diri Berarti Membenarkan Kesalahan

Sebagian orang takut memaafkan dirinya sendiri.

Bukan karena mereka ingin terus menderita, tetapi karena mereka khawatir jika berhenti merasa bersalah, mereka akan menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.

"Aku tidak boleh memaafkan diriku."

"Kalau aku memaafkan diri sendiri, berarti aku menganggap apa yang kulakukan tidak masalah."

Padahal, memaafkan dan membenarkan bukanlah hal yang sama.

Kamu dapat mengatakan:

"Apa yang kulakukan memang salah."

sekaligus:

"Aku tidak ingin menghukum diriku selamanya karena kesalahan tersebut."

Memaafkan diri dapat berjalan bersama tanggung jawab.

Jika kesalahan tersebut masih bisa diperbaiki, mungkin ada tindakan yang dapat dilakukan.

Meminta maaf.

Mengembalikan sesuatu.

Mengubah perilaku.

Memperbaiki hubungan jika pihak lain menginginkannya.

Belajar dari pengalaman.

Atau menerima bahwa ada konsekuensi tertentu yang memang tidak dapat diubah.

Setelah melakukan bagian yang dapat dilakukan, seseorang tetap perlu memberi dirinya kesempatan untuk melanjutkan hidup.

Karena tujuan dari rasa bersalah bukanlah membuat seseorang menderita tanpa batas.

Tujuannya adalah membantu seseorang memahami bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

6. Kamu Masih Terluka oleh Dampak dari Kesalahan Itu

Ada kesalahan yang konsekuensinya kecil.

Tetapi ada pula keputusan yang mengubah hidup seseorang.

Mungkin hubungan berakhir.

Seseorang kehilangan kepercayaan.

Kesempatan tertentu hilang.

Sebuah persahabatan tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Atau kamu menyadari bahwa tindakanmu pernah menyebabkan orang lain terluka.

Dalam situasi seperti ini, memaafkan diri sendiri memang tidak selalu sederhana.

Terkadang yang sulit bukan sekadar memaafkan tindakan masa lalu, tetapi menerima konsekuensi yang masih terasa sampai sekarang.

Seseorang mungkin berkata:

"Aku tahu aku harus move on, tetapi akibatnya masih ada."

Dan itu manusiawi.

Memaafkan diri sendiri tidak berarti memaksa diri untuk mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kamu bisa menyesali sesuatu sekaligus tetap melanjutkan hidup.

Kamu bisa berharap mengambil keputusan berbeda tanpa harus membenci dirimu yang dulu.

Kamu juga bisa mengakui bahwa suatu kesalahan memiliki konsekuensi tanpa menyimpulkan bahwa hidupmu harus dihukum selamanya.

Terkadang proses memaafkan diri justru dimulai dari kalimat sederhana:

"Aku tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Tetapi aku masih bisa menentukan apa yang akan kulakukan setelah ini."

7. Kamu Belum Berdamai dengan Versi Dirimu di Masa Lalu

Mungkin alasan paling dalam mengapa kamu sulit memaafkan diri sendiri adalah karena kamu masih memandang dirimu di masa lalu dengan kebencian.

Kamu melihat versi dirimu yang dulu sebagai seseorang yang bodoh, ceroboh, egois, naif, atau tidak cukup baik.

Padahal, versi dirimu yang dulu mungkin sedang berusaha menjalani hidup dengan kemampuan yang ia miliki.

Ia tidak mengetahui apa yang sekarang kamu ketahui.

Ia belum mengalami semua pengalaman yang membuatmu menjadi dirimu hari ini.

Ia mungkin membuat keputusan yang salah.

Tetapi ia juga sedang belajar.

Bayangkan jika seorang teman dekat datang kepadamu dan berkata:

"Aku melakukan kesalahan besar bertahun-tahun lalu. Aku sudah menyadarinya, sudah berusaha memperbaikinya, tetapi aku masih membenci diriku sendiri."

Kemungkinan besar kamu tidak akan langsung mengatakan:

"Bagus. Teruslah menyiksa dirimu."

Kamu mungkin akan berkata:

"Kamu memang salah, tetapi kamu sudah belajar."

"Semua orang pernah membuat kesalahan."

"Kamu tidak bisa mengubah masa lalu."

"Yang penting sekarang adalah apa yang kamu lakukan."

Pertanyaannya:

Mengapa kita sering memberikan pemahaman seperti itu kepada orang lain, tetapi menolak memberikannya kepada diri sendiri?

Mungkin karena kita terbiasa menganggap bahwa belas kasih kepada diri sendiri adalah kelemahan.

Padahal, memperlakukan diri dengan penuh pengertian bukan berarti menghilangkan tanggung jawab.

Justru, self-compassion dapat membantu seseorang melihat kesalahan dengan lebih realistis: tidak menyangkalnya, tetapi juga tidak membesar-besarkannya menjadi identitas permanen.

Bagaimana Mulai Belajar Memaafkan Diri Sendiri?

Memaafkan diri sendiri bukan tombol yang bisa ditekan sekali lalu semuanya selesai.

Bagi sebagian orang, prosesnya membutuhkan waktu.

Kamu bisa memulainya dengan beberapa pertanyaan sederhana.

1. Apa sebenarnya yang kamu sesali?

Cobalah menyebutkan perilakunya secara spesifik.

Bukan:

"Aku manusia yang buruk."

Tetapi:

"Aku menyesal karena pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti orang lain."

Semakin spesifik masalahnya, semakin mudah kamu melihat apa yang sebenarnya perlu dipertanggungjawabkan.

2. Apa yang sudah kamu lakukan untuk memperbaikinya?

Jika masih ada sesuatu yang dapat diperbaiki, pertimbangkan tindakan nyata.

Jika tidak ada yang dapat diubah lagi, mungkin tugas berikutnya adalah menerima kenyataan tersebut.

3. Apa yang sudah kamu pelajari?

Kesalahan yang sama dapat memiliki makna berbeda ketika kita mengambil pelajaran darinya.

Kamu mungkin menjadi lebih hati-hati.

Lebih jujur.

Lebih mampu menetapkan batasan.

Lebih memahami kebutuhan orang lain.

Atau lebih memahami dirimu sendiri.

4. Apakah kamu sedang menilai dirimu menggunakan pengetahuan yang belum kamu miliki saat itu?

Ini pertanyaan yang penting.

Jangan menghukum versi masa lalu karena tidak mengetahui sesuatu yang baru kamu pelajari setelah pengalaman tersebut terjadi.

5. Jika orang yang kamu cintai melakukan kesalahan yang sama, apa yang akan kamu katakan kepadanya?

Kemudian tanyakan:

"Apakah aku bersedia mengatakan hal yang sama kepada diriku?"

Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki.

Tidak semua hubungan dapat dipulihkan.

Dan tidak semua konsekuensi bisa dihapus.

Namun hidup manusia tidak berhenti hanya karena satu bab yang buruk.

Memaafkan Diri Bukan Berarti Melupakan

Ada kesalahpahaman bahwa ketika kita memaafkan diri sendiri, kita harus melupakan apa yang terjadi.

Tidak demikian.

Kamu masih boleh mengingat.

Kamu masih boleh menyesal.

Kamu masih boleh berharap bisa melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Yang berubah adalah hubunganmu dengan ingatan tersebut.

Dulu mungkin ingatan itu berkata:

"Kamu orang yang buruk."

Sekarang mungkin kamu bisa berkata:

"Aku pernah melakukan kesalahan. Aku tidak bangga dengan hal itu. Tetapi aku sudah belajar, dan aku tidak ingin hidup selamanya sebagai hukuman dari kesalahan tersebut."

Itulah salah satu bentuk kedewasaan emosional.

Bukan menjadi seseorang yang tidak pernah salah, melainkan menjadi seseorang yang mampu bertanggung jawab tanpa menghancurkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, kamu tidak bisa kembali ke masa lalu dan menjadi versi dirimu yang berbeda.

Tetapi kamu masih memiliki kesempatan untuk menjadi versi dirimu yang lebih baik hari ini.

Dan mungkin, memaafkan diri sendiri bukan tentang mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak penting.

Mungkin justru sebaliknya.

Kamu mengakui bahwa apa yang terjadi penting.

Kamu mengambil pelajarannya.

Kamu menerima konsekuensinya.

Kemudian, perlahan-lahan, kamu berhenti menjadikan satu kesalahan sebagai alasan untuk menghukum seluruh hidupmu.

Karena manusia bukan hanya kumpulan dari hal-hal yang pernah ia lakukan.

Manusia juga adalah apa yang ia pelajari, bagaimana ia berubah, dan apa yang ia pilih untuk lakukan setelah menyadari kesalahannya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore