seseorang yang kelelahan akibat dating apps. (Magnific)
Awalnya, dating apps mungkin terasa menyenangkan.
Kamu membuka aplikasi, melihat beberapa profil, menemukan seseorang yang menarik, lalu mendapatkan match. Ada rasa penasaran. Ada kemungkinan. Ada sensasi seperti, “Siapa tahu kali ini berbeda.”
Tetapi setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun menggunakannya, pengalaman tersebut bisa berubah.
Kamu mulai merasa malas membuka aplikasi. Percakapan terasa repetitif. Match baru tidak lagi membuatmu bersemangat. Kamu semakin sulit mempercayai orang yang baru dikenal. Bahkan ketika ada seseorang yang sebenarnya cukup menarik, kamu justru merasa, “Duh, harus mulai dari awal lagi.”
Kalau kamu pernah merasakan hal seperti ini, mungkin masalahnya bukan karena kamu terlalu pemilih, tidak cukup menarik, atau sudah kehilangan kemampuan untuk jatuh cinta.
Bisa jadi kamu sedang mengalami dating app fatigue—kelelahan psikologis yang muncul akibat proses mencari pasangan melalui aplikasi kencan secara terus-menerus.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), penelitian terbaru mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap fenomena ini. Studi longitudinal terhadap pengguna dating apps menemukan bahwa pengguna dapat mengalami peningkatan kelelahan emosional dan perasaan tidak efektif dalam proses dating dari waktu ke waktu.
Yang menarik, kelelahan ini tidak selalu terlihat seperti “aku benci dating apps”.
Kadang-kadang bentuknya jauh lebih halus.
Kamu masih membuka Tinder, Bumble, Hinge, atau aplikasi lainnya. Kamu masih melakukan swipe. Kamu masih membalas pesan.
Tetapi secara emosional, kamu sudah tidak benar-benar berada di sana.
Lalu, apa saja tandanya?
1. Kamu membuka dating apps, tetapi sebenarnya tidak ingin bertemu siapa pun
Ini mungkin salah satu tanda yang paling membingungkan.
Kamu merasa bosan dengan dating apps, tetapi tetap membukanya hampir setiap hari.
Kamu melakukan swipe tanpa tujuan.
Kamu mendapatkan match, tetapi tidak terlalu tertarik untuk memulai percakapan.
Kalau seseorang mengajak bertemu, kamu malah merasa terbebani.
Dan ketika tidak ada match, kamu juga merasa biasa saja.
Seolah-olah kamu berada dalam lingkaran:
kesepian → membuka aplikasi → swipe → mendapatkan match → lelah berkomunikasi → tidak ingin bertemu → kembali merasa kesepian → membuka aplikasi lagi.
Fenomena seperti ini berkaitan dengan apa yang dalam penelitian tentang dating fatigue digambarkan sebagai kombinasi kelelahan emosional, kognitif, dan perilaku. Studi kualitatif terhadap pengguna dating apps, misalnya, menemukan pengalaman seperti kelelahan akibat percakapan yang berulang, penggunaan layar berlebihan, decision overload, rasa putus asa, mindless swiping, dan keraguan terhadap diri sendiri.
Dengan kata lain, kamu mungkin tidak lagi menggunakan aplikasi karena benar-benar ingin mengenal seseorang.
Kamu menggunakannya karena sudah menjadi kebiasaan.
Ini perbedaan yang penting.
Ada perbedaan antara:
“Aku membuka aplikasi karena ingin bertemu seseorang.”
dan:
“Aku membuka aplikasi karena tidak tahu harus melakukan apa.”
Ketika dating berubah menjadi aktivitas otomatis, pengalaman tersebut bisa terasa semakin melelahkan.
Mengapa ini bisa terjadi?
Salah satu masalahnya adalah terlalu banyak pilihan.
Dating apps membuat kita seolah-olah memiliki akses kepada ratusan atau bahkan ribuan calon pasangan. Sekilas, ini terdengar seperti keuntungan.
Tetapi secara psikologis, terlalu banyak pilihan tidak selalu membuat kita lebih puas.
Penelitian tentang choice overload dalam online dating menemukan bahwa banyaknya pilihan pasangan dapat meningkatkan perasaan kewalahan dan bahkan berkaitan dengan penurunan harga diri.
Akhirnya, bukan hanya mencari pasangan yang melelahkan.
Memilih siapa yang layak diberi kesempatan juga menjadi pekerjaan mental.
2. Kamu semakin sulit merasa excited terhadap orang baru
Dulu mendapatkan match mungkin membuatmu senang.
Sekarang?
“Ya sudah.”
Seseorang mengirim pesan yang menarik.
“Bagus sih.”
Ada orang yang secara fisik sesuai dengan tipemu.
“Hmm.”
Ada yang mengajak bertemu.
“Nanti dulu deh.”
Ini bukan berarti kamu sudah tidak memiliki ketertarikan romantis.
Bisa jadi, otakmu sudah terlalu sering mengalami siklus yang sama.
Kenalan.
Chat.
Mulai tertarik.
Berharap.
Kemudian ghosting.
Atau bertemu.
Kemudian tidak cocok.
Lalu kembali lagi ke aplikasi.
Setelah mengalami siklus ini berkali-kali, seseorang bisa menjadi lebih skeptis dan kurang responsif secara emosional.
Penelitian tentang rejection mindset dalam online dating menunjukkan bahwa ketika seseorang terus-menerus dihadapkan pada banyak pilihan calon pasangan, kecenderungan untuk menolak juga dapat meningkat. Dalam serangkaian studi, peneliti menemukan bahwa peserta menjadi semakin selektif dan kurang mungkin menerima opsi pasangan berikutnya ketika terus melihat pilihan dalam jumlah besar.
Ini menciptakan paradoks.
Semakin banyak orang yang tersedia, semakin sulit seseorang merasa benar-benar puas dengan satu orang.
Kamu mungkin mulai berpikir:
“Dia baik, tapi mungkin ada yang lebih cocok.”
“Dia menarik, tapi bukan tipeku.”
“Chat-nya menyenangkan, tapi chemistry-nya belum tentu.”
“Lumayan sih, tapi aku coba lihat dulu siapa tahu ada yang lebih bagus.”
Tidak ada yang salah dengan memiliki standar.
Tetapi kalau hampir semua orang terasa “kurang”, mungkin masalahnya bukan selalu pada orang-orang yang kamu temui.
Bisa jadi kamu sudah terlalu lelah mengevaluasi.
3. Percakapan dengan orang baru mulai terasa seperti pekerjaan
Ini salah satu tanda dating fatigue yang sangat umum.
Dulu kamu mungkin menikmati pertanyaan-pertanyaan kecil:
“Kerja di mana?”
“Weekend biasanya ngapain?”
“Kamu suka film apa?”
“Sudah berapa lama tinggal di sini?”
Sekarang pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa seperti formulir.
Kamu bahkan mungkin sudah memiliki jawaban otomatis.
“Kerja di bidang X.”
“Hobi olahraga dan traveling.”
“Kalau weekend biasanya hangout atau di rumah.”
Lalu mengulanginya lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Inilah yang bisa disebut sebagai repetitive conversation fatigue.
Penelitian kualitatif tentang online dating fatigue menemukan bahwa percakapan yang berulang merupakan salah satu sumber kelelahan yang dialami pengguna.
Masalahnya bukan karena pertanyaan tersebut buruk.
Masalahnya adalah kamu harus terus-menerus melakukan pekerjaan emosional dan kognitif untuk memperkenalkan dirimu kepada orang asing.
Setiap orang baru membutuhkan energi.
Kamu perlu membaca profil.
Mengingat detail tentang mereka.
Menyusun respons.
Mencari topik.
Mencoba terlihat menarik tetapi tidak terlalu berlebihan.
Menilai apakah mereka tertarik.
Menilai apakah kamu tertarik.
Dan pada saat yang sama, kamu harus mempertahankan kemungkinan bahwa semua ini mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa.
Tidak heran jika akhirnya kamu merasa:
“Aku capek harus mulai dari nol lagi.”
Kalimat ini sering kali lebih menggambarkan kelelahan daripada ketidaktertarikan terhadap hubungan.
4. Kamu mulai menganggap dating sebagai kompetisi, bukan hubungan
Dating apps membuat proses mencari pasangan menjadi sangat terukur.
Berapa banyak match?
Berapa banyak orang yang membalas?
Berapa banyak yang ghosting?
Berapa banyak yang mengajak bertemu?
Berapa banyak yang kemudian menghilang?
Tanpa sadar, kamu bisa mulai mengukur nilai dirimu berdasarkan performa di aplikasi.
Kalau mendapatkan banyak match, kamu merasa menarik.
Kalau sepi, kamu mulai bertanya:
“Apakah aku kurang menarik?”
“Foto profilku jelek?”
“Apa yang salah denganku?”
“Kenapa orang lain gampang mendapatkan pasangan sementara aku tidak?”
Ini bisa menjadi jebakan psikologis.
Sistem dating apps memang mendorong pengguna untuk mempresentasikan diri melalui foto, bio, dan sejumlah kecil informasi yang kemudian dinilai dengan cepat oleh orang lain. Tinjauan sistematis terhadap 45 studi menemukan adanya hubungan negatif dating app dengan beberapa aspek body image, mental health, dan wellbeing, meskipun hubungan tersebut tidak berarti aplikasi secara langsung menyebabkan semua masalah tersebut.
Yang berbahaya adalah ketika pengalaman di aplikasi mulai diterjemahkan menjadi kesimpulan tentang identitas diri.
Tidak mendapatkan match berubah menjadi:
“Aku tidak menarik.”
Di-ghosting berubah menjadi:
“Aku tidak layak dicintai.”
Kencan gagal berubah menjadi:
“Tidak ada yang cocok denganku.”
Padahal sebenarnya, sebuah aplikasi hanya menunjukkan sebagian kecil dari realitas sosial.
Profil seseorang bukan keseluruhan dirinya.
Jumlah match bukan ukuran nilai seseorang.
Dan keberhasilan dating bukan indikator objektif mengenai apakah seseorang pantas dicintai.
5. Kamu menjadi sinis terhadap hampir semua orang yang kamu temui
Setelah mengalami cukup banyak pengalaman buruk, wajar jika seseorang menjadi lebih berhati-hati.
Tetapi dating fatigue dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih jauh.
Kamu mulai memiliki asumsi negatif sebelum seseorang benar-benar melakukan sesuatu.
“Pasti ghosting.”
“Paling cuma cari perhatian.”
“Cowok di aplikasi semuanya sama.”
“Cewek di aplikasi semuanya terlalu banyak tuntutan.”
“Kalau terlalu cepat chat, pasti red flag.”
“Kalau terlalu lambat balas, pasti tidak serius.”
Pada titik tertentu, kamu tidak lagi mengenal orang baru dengan rasa ingin tahu.
Kamu mengenal mereka sambil menunggu mereka mengecewakanmu.
Penelitian tentang mobile-online-dating fatigue menemukan bahwa pengalaman negatif yang berulang dapat berkaitan dengan pola interpretasi tertentu, stereotip, devaluasi, dan praktik dating yang semakin tidak memuaskan.
Ini menciptakan lingkaran yang cukup berbahaya.
Kamu mengalami pengalaman buruk.
↓
Kamu menjadi lebih skeptis.
↓
Kamu lebih cepat mencari tanda-tanda bahwa seseorang bermasalah.
↓
Kamu lebih mudah kehilangan ketertarikan.
↓
Kamu semakin jarang memberikan kesempatan.
↓
Pengalaman dating semakin tidak menyenangkan.
↓
Kamu semakin yakin bahwa dating memang melelahkan.
Dan siklus tersebut berulang.
Masalahnya, sikap skeptis memang dapat melindungi kita dari beberapa pengalaman buruk.
Tetapi kalau terlalu kuat, ia juga dapat membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat seseorang sebagai individu.
6. Kamu sebenarnya ingin memiliki hubungan, tetapi sudah tidak punya energi untuk mencarinya
Mungkin ini tanda yang paling dalam.
Kamu masih ingin punya pasangan.
Kamu masih ingin memiliki seseorang untuk diajak pulang, berbagi cerita, melakukan aktivitas sederhana, atau membangun masa depan.
Tetapi proses untuk sampai ke sana terasa terlalu melelahkan.
Kamu tidak berkata:
“Aku tidak ingin dicintai.”
Kamu berkata:
“Aku tidak sanggup kenalan dengan orang baru lagi.”
Dan keduanya adalah hal yang sangat berbeda.
Sebuah studi longitudinal yang mengikuti pengguna dating apps selama 12 minggu menemukan adanya peningkatan emotional exhaustion dan inefficacy dari waktu ke waktu. Peneliti juga menemukan bahwa depresi, kecemasan, dan kesepian pada awal penelitian memprediksi lebih banyak kelelahan emosional dan perasaan tidak efektif dalam proses dating.
Artinya, seseorang bisa saja masih menginginkan hubungan romantis tetapi sudah merasa tidak mampu menjalani proses untuk mendapatkannya.
Ini mirip dengan seseorang yang ingin berolahraga tetapi sudah terlalu lelah untuk pergi ke gym.
Keinginannya masih ada.
Energinya yang tidak ada.
Jadi, apakah dating apps memang buruk bagi kesehatan mental?
Jawabannya tidak sesederhana “iya”.
Dating apps juga memiliki banyak manfaat.
Banyak orang menemukan pasangan melalui aplikasi. Aplikasi dapat memperluas jaringan sosial, mempertemukan orang yang sebelumnya tidak mungkin bertemu, dan memberikan kesempatan bagi sebagian orang untuk menemukan pasangan yang sesuai dengan kebutuhan atau preferensi mereka.
Bahkan penelitian menunjukkan bahwa tidak semua pengguna mengalami dampak negatif.
Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan kesimpulan bahwa dating apps menyebabkan depresi atau kecemasan.
Meta-analisis terbaru yang mencakup 23 studi dan lebih dari 26.000 partisipan memang menemukan bahwa pengguna dating apps, secara rata-rata, melaporkan kondisi psychological health dan wellbeing yang lebih buruk dibandingkan non-pengguna. Namun, para peneliti juga menekankan keterbatasan desain penelitian yang membuat hubungan sebab-akibat belum bisa dipastikan.
Dengan kata lain:
Orang yang sedang mengalami kesepian, kecemasan, atau masalah psikologis mungkin lebih tertarik menggunakan dating apps.
Tetapi penggunaan dating apps juga mungkin memperburuk pengalaman tersebut pada sebagian orang.
Keduanya dapat terjadi sekaligus.
Mengapa dating apps bisa terasa sangat melelahkan?
Salah satu jawabannya adalah karena dating apps menggabungkan beberapa tekanan psikologis sekaligus.
Pertama, terlalu banyak pilihan
Kamu tidak hanya bertemu satu atau dua orang.
Kamu berhadapan dengan kemungkinan yang hampir tidak terbatas.
Secara intuitif, kita mungkin berpikir semakin banyak pilihan berarti semakin besar peluang mendapatkan pasangan yang tepat.
Namun, terlalu banyak pilihan dapat menciptakan choice overload.
Ketika pilihan terlalu banyak, kita justru dapat menjadi lebih sulit memutuskan dan semakin takut membuat keputusan yang salah. Penelitian online dating menemukan bahwa tingginya ketersediaan calon pasangan berkaitan dengan meningkatnya perceived overload dan fear of being single serta menurunnya self-esteem dalam eksperimen tertentu.
Kedua, penolakan terjadi dalam jumlah besar
Dalam kehidupan offline, kamu mungkin tidak mengalami puluhan keputusan romantis dalam satu malam.
Di dating apps, hal itu bisa terjadi hanya dalam beberapa menit.
Swipe kiri.
Swipe kanan.
Match.
Tidak match.
Dibalas.
Tidak dibalas.
Ghosting.
Unmatch.
Otak terus mendapatkan feedback sosial.
Dan feedback tersebut tidak selalu mudah diproses secara emosional.
Ketiga, kamu harus terus menjual versi terbaik dirimu
Foto terbaik.
Bio terbaik.
Kalimat pembuka terbaik.
Respons terbaik.
Kencan terbaik.
Tanpa sadar, dating dapat berubah menjadi semacam pekerjaan personal branding.
Kamu bukan hanya mencari pasangan.
Kamu juga merasa harus terus-menerus memasarkan dirimu sebagai seseorang yang layak dipilih.
Dan itu bisa sangat menguras energi.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan kalau kamu mengalami 6 tanda tadi?
Jawabannya mungkin bukan langsung menghapus semua dating apps selamanya.
Yang lebih penting adalah mengetahui apakah kamu sedang mencari hubungan atau sekadar mencari stimulasi dan validasi dari aplikasi.
Cobalah melakukan beberapa perubahan.
1. Beri dirimu izin untuk berhenti sementara
Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa kamu harus selalu tersedia untuk dating.
Kamu boleh berhenti.
Kamu boleh menghapus aplikasi untuk sementara.
Kamu boleh tidak membalas pesan selama beberapa waktu.
Istirahat bukan berarti menyerah.
Kadang-kadang, istirahat justru membuatmu bisa kembali melihat dating sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan kewajiban.
2. Kurangi jumlah aplikasi
Menggunakan banyak aplikasi sekaligus mungkin membuatmu merasa memiliki lebih banyak peluang.
Tetapi bisa juga membuat proses dating menjadi pekerjaan penuh waktu.
Daripada berada di lima aplikasi dan merasa kewalahan, mungkin lebih baik memilih satu atau dua platform yang paling sesuai dengan tujuanmu.
Lebih sedikit pilihan bisa berarti lebih sedikit beban mental.
3. Jangan mengubah dating menjadi pekerjaan
Kamu tidak harus membalas semua match.
Kamu tidak harus melakukan swipe setiap hari.
Kamu tidak perlu mengejar jumlah tertentu.
Dan kamu tidak perlu merasa gagal ketika minggu ini tidak mendapatkan pasangan.
Dating bukan target KPI.
Tidak ada angka yang menentukan apakah kamu berhasil sebagai manusia.
4. Berikan ruang untuk interaksi di dunia nyata
Jika memungkinkan, jangan biarkan seluruh kehidupan romantismu berlangsung di layar.
Temui teman.
Ikut komunitas.
Datang ke acara sosial.
Ikut kelas.
Kembangkan hobi.
Pergi ke tempat yang memungkinkanmu bertemu orang secara natural.
Bukan karena dating apps selalu buruk, tetapi karena hubungan manusia jauh lebih kompleks daripada foto, bio, dan beberapa pesan teks.
5. Perhatikan bagaimana perasaanmu setelah menggunakan aplikasi
Ini eksperimen sederhana yang bisa dilakukan.
Setelah menggunakan dating app selama 20–30 menit, tanyakan:
“Aku merasa lebih baik atau lebih buruk?”
Apakah kamu merasa:
lebih optimistis?
lebih terhubung?
lebih bersemangat?
Atau:
lebih cemas?
lebih rendah diri?
lebih kesepian?
lebih frustrasi?
lebih sinis?
lebih lelah?
Jawabannya dapat menjadi informasi penting mengenai bagaimana pola penggunaan aplikasi tersebut memengaruhimu.
Dan mungkin yang paling penting: jangan menganggap kelelahan sebagai bukti bahwa kamu tidak cocok untuk dicintai
Ini bagian yang sering dilupakan.
Ketika berkali-kali mengalami ghosting, penolakan, percakapan yang gagal, atau kencan yang tidak berhasil, seseorang mudah membuat kesimpulan besar tentang dirinya sendiri.
“Aku memang tidak menarik.”
“Aku terlalu sulit dicintai.”
“Aku selalu salah memilih orang.”
“Aku mungkin akan sendirian selamanya.”
Tetapi dating fatigue bukan bukti bahwa kamu tidak mampu menjalin hubungan.
Bisa jadi kamu hanya kelelahan menjalani sistem yang menuntutmu terus mencari, memilih, menilai, menampilkan diri, berharap, lalu memulai lagi.
Penelitian terbaru tentang dating app burnout justru menunjukkan bahwa kelelahan dapat meningkat dari waktu ke waktu pada sebagian pengguna. Jadi, perasaan “aku sudah capek banget dengan semua ini” bukan pengalaman yang sepenuhnya aneh atau individual.
Namun, penting juga untuk membedakan dating fatigue dari masalah kesehatan mental yang lebih luas.
Kalau rasa lelah, putus asa, kehilangan minat, kecemasan, atau rendah diri sudah muncul bukan hanya dalam dating tetapi juga dalam pekerjaan, pertemanan, tidur, aktivitas sehari-hari, dan kehidupan secara umum, jangan buru-buru menyalahkan dating apps.
Mungkin ada sesuatu yang lebih luas yang sedang kamu alami.
Dalam kondisi seperti itu, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental bisa menjadi langkah yang lebih tepat.
Pada akhirnya, mungkin kamu tidak membutuhkan lebih banyak match
Mungkin kamu membutuhkan lebih banyak ruang.
Ruang untuk tidak memilih.
Ruang untuk tidak dinilai.
Ruang untuk tidak merasa harus tampil sempurna.
Ruang untuk mengenal seseorang secara perlahan.
Dan ruang untuk mengingat bahwa hubungan romantis seharusnya bukan sekadar proses mencari seseorang yang memilihmu.
Hubungan juga tentang menemukan seseorang yang benar-benar cocok dengan kehidupanmu, nilai-nilaimu, dan cara kamu ingin dicintai.
Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu merasa:
“Aku masih ingin punya pasangan, tapi aku sudah tidak sanggup lagi menggunakan dating apps,”
mungkin kamu tidak kehilangan keinginan untuk mencintai.
Mungkin kamu hanya sedang lelah.
Dan tidak apa-apa untuk beristirahat.
Karena terkadang, yang perlu dihentikan bukan keinginan untuk menemukan seseorang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022