seseorang yang lebih kreatif. (Magnific)
JawaPos.com - Ada dua cara berbeda dalam menjalani kehidupan. Cara pertama adalah reaktif.
Seseorang mengatakan sesuatu, kamu langsung tersinggung. Sebuah masalah muncul, kamu langsung panik. Rencana berubah, kamu langsung mengeluh. Mendapat kritik, kamu langsung membela diri. Melihat orang lain lebih sukses, kamu langsung merasa tertinggal.
Hidup akhirnya terasa seperti serangkaian tombol yang terus ditekan oleh keadaan.
Kamu tidak benar-benar memilih responsmu. Kamu hanya bereaksi terhadap apa yang terjadi.
Namun ada cara kedua: kreatif.
Bukan berarti selalu punya ide brilian. Bukan pula berarti harus menjadi seniman, penulis, atau orang yang penuh imajinasi.
Menjadi kreatif dalam konteks psikologi berarti memiliki kemampuan untuk menciptakan respons, bukan sekadar mengeluarkan reaksi otomatis.
Ketika menghadapi masalah, kamu bertanya:
“Apa yang bisa aku lakukan dari situasi ini?”
Ketika seseorang mengecewakanmu:
“Bagaimana aku ingin meresponsnya?”
Ketika rencana gagal:
“Apa kemungkinan lain yang masih tersedia?”
Dan ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan:
“Apa yang masih berada dalam kendaliku?”
Inilah perbedaan yang sangat penting.
Orang reaktif dikendalikan oleh keadaan. Orang kreatif berusaha menciptakan respons terhadap keadaan.
Psikologi modern banyak membahas kemampuan seperti regulasi emosi, fleksibilitas kognitif, toleransi terhadap ketidakpastian, metakognisi, dan sense of agency. Semuanya berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk menciptakan jarak antara apa yang terjadi dan apa yang kemudian ia lakukan.
DIlansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), jika kamu ingin menjadi orang yang lebih kreatif daripada reaktif, cobalah memegang tujuh kunci berikut.
1. Jangan Langsung Merespons: Ciptakan Jeda
Salah satu ciri orang reaktif adalah kecepatannya merespons.
Tetapi cepat bukan selalu berarti baik.
Ketika seseorang mengirim pesan yang menyebalkan, tangan langsung ingin mengetik balasan.
Ketika atasan mengkritik pekerjaanmu, pikiran langsung mencari pembelaan.
Ketika pasangan mengatakan sesuatu yang menyakitkan, kamu langsung membalas dengan sesuatu yang lebih menyakitkan.
Masalahnya, respons yang muncul dalam beberapa detik pertama sering kali bukan respons yang paling bijaksana.
Itu adalah respons otomatis.
Otak manusia memiliki berbagai mekanisme untuk mendeteksi ancaman dan mempersiapkan respons dengan cepat. Dalam situasi emosional, kita bisa mengalami penyempitan perhatian: pikiran menjadi lebih fokus pada ancaman dan lebih sulit melihat alternatif.
Karena itu, salah satu keterampilan psikologis yang sangat penting adalah kemampuan menciptakan jeda.
Jeda tidak harus lama.
Kadang cukup:
menarik napas,
diam selama beberapa detik,
minum air,
berjalan sebentar,
membaca ulang pesan,
tidur semalam sebelum mengambil keputusan besar.
Jeda sederhana ini memberikan ruang antara stimulus dan respons.
Dan di ruang kecil itulah kreativitas muncul.
Misalnya seseorang berkata:
“Kamu memang selalu bikin masalah.”
Respons reaktif:
“Kamu juga sama saja!”
Respons kreatif:
“Aku tidak ingin membicarakan ini kalau kita sedang emosi. Kita bahas lagi ketika sudah lebih tenang.”
Perhatikan bahwa situasinya belum tentu berubah.
Orang lain masih mengatakan hal yang sama.
Tetapi kamu mengubah bagian yang berada dalam kendalimu: responsmu.
Itulah awal dari kreativitas psikologis.
Latihan sederhana
Mulai sekarang, ketika sesuatu membuatmu ingin langsung bereaksi, gunakan aturan:
STOP → NAPAS → AMATI → PILIH
Tanyakan:
“Apakah aku sedang merespons situasi, atau hanya sedang melampiaskan emosi?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi bisa mengubah banyak keputusan.
2. Bedakan Fakta, Interpretasi, dan Cerita di Kepalamu
Banyak orang tidak benar-benar bereaksi terhadap kejadian.
Mereka bereaksi terhadap makna yang mereka berikan kepada kejadian tersebut.
Misalnya:
Temanmu tidak membalas pesan.
Faktanya:
“Pesanku belum dibalas.”
Namun pikiran bisa segera membuat cerita:
“Dia sudah tidak menghargai aku.”
Lalu cerita berkembang:
“Mungkin dia memang tidak suka berteman denganku.”
Kemudian muncul emosi:
“Aku kecewa.”
Dan akhirnya muncul tindakan:
“Aku juga tidak akan menghubunginya lagi.”
Padahal semuanya bermula dari sebuah fakta sederhana:
Pesan belum dibalas.
Di sinilah kemampuan mengenali pola pikir menjadi penting.
Dalam psikologi kognitif, manusia diketahui dapat melakukan berbagai distorsi kognitif—pola berpikir yang membuat interpretasi terhadap suatu kejadian menjadi kurang akurat.
Kita bisa melakukan mind reading, misalnya menganggap tahu apa yang dipikirkan orang lain.
Kita juga bisa melakukan catastrophizing, yaitu langsung membayangkan skenario terburuk.
Atau personalization, yaitu menganggap sesuatu berkaitan dengan diri kita padahal belum tentu.
Orang kreatif belajar berkata:
“Tunggu. Apa yang benar-benar aku ketahui?”
Kemudian pisahkan tiga hal:
Fakta
Apa yang benar-benar terjadi?
Interpretasi
Apa makna yang aku berikan terhadap kejadian tersebut?
Cerita
Apa kesimpulan yang mulai dibuat oleh pikiranku?
Contoh:
Fakta:
Atasan belum membalas email saya.
Interpretasi:
Mungkin dia tidak puas dengan pekerjaan saya.
Cerita:
Saya pasti akan dipecat.
Dengan memisahkan ketiganya, kamu mulai mendapatkan kembali kebebasan berpikir.
Dan semakin besar jarak antara fakta dan cerita, semakin besar pula peluang untuk menghasilkan respons yang lebih kreatif.
3. Ganti Pertanyaan “Kenapa Ini Terjadi?” dengan “Apa yang Bisa Aku Lakukan Sekarang?”
Pertanyaan menentukan arah pikiran.
Ketika sesuatu buruk terjadi, manusia sering terjebak dalam pertanyaan:
“Kenapa ini terjadi kepadaku?”
Pertanyaan tersebut kadang berguna.
Tetapi jika terus diulang, ia bisa membuat kita masuk ke dalam lingkaran frustrasi.
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Kenapa hidupku seperti ini?”
“Kenapa aku selalu gagal?”
“Kenapa orang lain lebih beruntung?”
“Kenapa mereka tidak mengerti aku?”
Masalahnya bukan karena pertanyaan tersebut selalu salah.
Masalahnya adalah pertanyaan tersebut sering membuat perhatian kita berputar pada penyebab yang tidak lagi bisa kita ubah.
Orang yang lebih kreatif cenderung menggeser fokus ke pertanyaan yang menghasilkan kemungkinan tindakan.
“Apa yang bisa aku lakukan sekarang?”
Atau:
“Pilihan apa yang masih tersedia?”
Atau:
“Apa yang bisa kupelajari dari ini?”
Misalnya bisnis gagal.
Pertanyaan reaktif:
“Kenapa aku sebodoh ini?”
Pertanyaan kreatif:
“Apa yang sebenarnya tidak bekerja?”
Pertanyaan reaktif:
“Kenapa pelanggan tidak membeli?”
Pertanyaan kreatif:
“Apa yang bisa kuubah dari produk, pesan pemasaran, atau cara menjualnya?”
Situasi yang sama.
Tetapi pertanyaan berbeda menghasilkan ruang berpikir yang berbeda.
Kreativitas sering kali bukan kemampuan menghasilkan jawaban luar biasa. Kreativitas dimulai dari kemampuan mengajukan pertanyaan yang lebih berguna.
4. Latih Toleransi terhadap Ketidakpastian
Orang reaktif biasanya sangat membutuhkan kepastian.
Mereka ingin tahu:
Apa yang akan terjadi?
Apa keputusan yang benar?
Apakah orang itu menyukai saya?
Apakah rencana ini akan berhasil?
Apakah masa depan saya aman?
Masalahnya, kehidupan tidak memberikan semua jawaban tersebut.
Dan ketika kita tidak tahan terhadap ketidakpastian, kita sering mengambil keputusan hanya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman, bukan karena keputusan tersebut benar-benar baik.
Misalnya seseorang belum mendapatkan kepastian dari pasangannya.
Karena tidak tahan menunggu, ia terus mengirim pesan.
Bukan karena ada informasi baru.
Tetapi karena ia ingin mengurangi kecemasannya.
Atau seseorang merasa tidak yakin dengan pekerjaannya.
Ia terus mencari validasi dari orang lain.
Atau seseorang takut gagal.
Ia akhirnya tidak pernah mencoba.
Dalam kondisi seperti ini, masalah utamanya bukan kurangnya informasi.
Masalahnya adalah ketidakmampuan menoleransi ketidakpastian.
Orang kreatif belajar mengatakan:
“Aku belum tahu. Dan tidak apa-apa.”
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi secara psikologis sangat kuat.
Karena ketika kamu tidak memaksa dirimu untuk segera mendapatkan kepastian, pikiran memiliki ruang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan.
Kamu bisa mengatakan:
“Aku belum tahu apakah ini akan berhasil. Tapi aku bisa mencoba langkah kecil.”
Itulah fleksibilitas.
Bukan mengetahui semua jawaban.
Tetapi mampu bergerak meskipun belum mengetahui semuanya.
5. Jangan Terlalu Cepat Mengidentifikasi Diri dengan Kegagalan
Ada perbedaan besar antara:
“Aku gagal.”
dan
“Aku adalah orang gagal.”
Kalimat pertama menggambarkan peristiwa.
Kalimat kedua mengubah peristiwa menjadi identitas.
Begitu kegagalan menjadi identitas, kreativitas mulai menyusut.
Karena jika seseorang percaya:
“Aku memang tidak pintar.”
maka ia cenderung berhenti mencoba.
Jika percaya:
“Aku memang tidak pandai bersosialisasi.”
ia mungkin menghindari situasi sosial.
Jika percaya:
“Aku memang orang yang selalu membuat keputusan buruk.”
ia mungkin kehilangan keberanian untuk mengambil keputusan baru.
Inilah pentingnya melihat diri secara lebih fleksibel.
Kamu bukan hanya hasil dari satu keputusan.
Kamu bukan hanya nilai ujianmu.
Kamu bukan hanya pekerjaanmu.
Kamu bukan hanya hubunganmu.
Kamu juga bukan satu kegagalan.
Dalam psikologi, cara seseorang memandang kemampuan dirinya dapat memengaruhi bagaimana ia menghadapi tantangan. Pandangan yang lebih berkembang terhadap kemampuan memungkinkan seseorang melihat kesalahan sebagai informasi dan kesempatan belajar, bukan sebagai bukti final tentang dirinya.
Jadi daripada mengatakan:
“Aku tidak bisa.”
coba ubah menjadi:
“Aku belum bisa.”
Daripada:
“Aku memang orang yang buruk dalam hal ini.”
coba:
“Aku belum menemukan cara yang cocok.”
Perbedaannya kecil dalam bahasa.
Tetapi besar dalam kemungkinan.
Identitas yang terlalu kaku membatasi kreativitas.
6. Belajar Melihat Lebih dari Satu Kemungkinan
Pikiran reaktif sering berpikir secara hitam-putih.
Berhasil atau gagal.
Benar atau salah.
Suka atau benci.
Menang atau kalah.
Tetapi kehidupan jauh lebih kompleks daripada itu.
Sebuah proyek yang gagal bukan berarti seluruh usaha sia-sia.
Sebuah hubungan yang berakhir bukan berarti semua kenangan buruk.
Seseorang yang mengkritikmu tidak selalu membencimu.
Seseorang yang memujimu tidak selalu benar-benar mengenalmu.
Orang kreatif membiasakan diri bertanya:
“Apakah ada kemungkinan lain?”
Misalnya:
“Dia tidak membalas pesanku.”
Kemungkinan pertama:
“Dia mengabaikanku.”
Kemungkinan kedua:
“Dia sedang sibuk.”
Kemungkinan ketiga:
“Dia belum tahu bagaimana menjawab.”
Kemungkinan keempat:
“Ada sesuatu yang sedang terjadi dalam hidupnya.”
Kita tidak perlu menganggap semua kemungkinan sama benarnya.
Tujuannya bukan menjadi naif.
Tujuannya adalah tidak mengunci diri pada satu interpretasi sebelum memiliki cukup informasi.
Inilah yang membuat fleksibilitas kognitif begitu penting.
Semakin mampu kamu mempertimbangkan alternatif, semakin kecil kemungkinan kamu dikendalikan oleh interpretasi pertama yang muncul di kepala.
7. Bangun Kebiasaan Bertanya: “Apa Respons yang Mewakili Diriku?”
Ini mungkin kunci yang paling dalam.
Karena menjadi kreatif bukan hanya tentang mencari respons yang efektif.
Tetapi juga mencari respons yang sesuai dengan nilai yang ingin kamu jalani.
Bayangkan seseorang menghina kamu.
Kamu bisa membalas.
Kamu bisa berteriak.
Kamu bisa menghina balik.
Kamu bisa diam.
Kamu bisa meninggalkan situasi.
Kamu bisa menetapkan batas.
Banyak pilihan tersedia.
Tetapi pertanyaannya bukan hanya:
“Respons mana yang paling cepat?”
Melainkan:
“Orang seperti apa yang ingin aku menjadi ketika menghadapi situasi ini?”
Kalau kamu ingin menjadi orang yang tenang, apakah respons ini mencerminkan ketenangan?
Kalau kamu ingin menjadi orang yang berani, apakah kamu sedang menghindar?
Kalau kamu ingin menjadi orang yang menghargai diri sendiri, apakah kamu sedang membiarkan orang lain melewati batas?
Kalau kamu ingin menjadi orang yang bijaksana, apakah keputusan ini dibuat berdasarkan emosi sesaat?
Pertanyaan seperti ini mengubah kehidupan dari sekadar bereaksi terhadap dunia menjadi menciptakan diri melalui pilihan-pilihan kecil.
Dan pada akhirnya, kreativitas dalam kehidupan bukan hanya soal menghasilkan sesuatu yang baru.
Kreativitas juga berarti kemampuan untuk berkata:
“Aku tidak harus mengulang respons lama hanya karena situasinya mirip.”
Kreatif Bukan Berarti Selalu Tenang
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Menjadi lebih kreatif daripada reaktif bukan berarti kamu tidak boleh marah.
Bukan berarti kamu harus selalu positif.
Bukan berarti kamu harus selalu tenang.
Dan bukan berarti kamu harus menerima semua perlakuan orang lain.
Kamu tetap boleh marah.
Kamu boleh kecewa.
Kamu boleh sedih.
Kamu boleh mengatakan tidak.
Kamu boleh meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Perbedaannya adalah:
emosi boleh hadir, tetapi emosi tidak harus menjadi pengemudi.
Kamu bisa merasa marah tanpa harus menyakiti.
Kamu bisa merasa takut tanpa harus melarikan diri.
Kamu bisa merasa kecewa tanpa harus menghancurkan sesuatu.
Kamu bisa merasa cemburu tanpa harus merendahkan orang lain.
Kamu bisa merasa tersinggung tanpa harus langsung membalas.
Inilah bentuk kematangan psikologis yang sangat berharga:
merasakan sesuatu tanpa harus langsung menjadi sesuatu.
Cara Melatihnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Kamu tidak perlu menunggu masalah besar untuk melatih kemampuan ini.
Justru latihan terbaik dimulai dari situasi kecil.
Ketika seseorang memotong pembicaraanmu, berhenti sebentar.
Ketika pesanmu belum dibalas, jangan langsung membuat kesimpulan.
Ketika rencana berubah, cari satu alternatif.
Ketika melakukan kesalahan, tanyakan apa yang bisa dipelajari.
Ketika menerima kritik, pisahkan isi kritik dari nada penyampaiannya.
Ketika merasa ingin menyerah, tanyakan apakah kamu benar-benar ingin berhenti atau hanya ingin berhenti merasa tidak nyaman.
Sedikit demi sedikit, otak belajar bahwa stimulus tidak harus menghasilkan respons yang sama.
Kamu memiliki pilihan.
Dan semakin sering kamu menggunakan pilihan tersebut, semakin kuat rasa kendalimu terhadap hidup.
Pada Akhirnya, Kreativitas adalah Kemampuan untuk Memiliki Pilihan
Mungkin selama ini kita mengira kreativitas hanya berhubungan dengan seni, ide, bisnis, tulisan, atau inovasi.
Padahal ada bentuk kreativitas yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari:
kreativitas dalam merespons kehidupan.
Ketika keadaan tidak sesuai harapan, kamu mencari kemungkinan.
Ketika emosi muncul, kamu menciptakan jeda.
Ketika pikiran membuat kesimpulan, kamu memeriksa kembali.
Ketika gagal, kamu mencari informasi.
Ketika tidak tahu, kamu belajar menoleransi ketidakpastian.
Ketika orang lain memancing reaksi, kamu memilih respons yang sesuai dengan nilai hidupmu.
Dan ketika masa lalu menawarkan pola yang sama, kamu berkata:
“Aku tidak harus merespons dengan cara yang sama seperti sebelumnya.”
Itulah kebebasan yang sebenarnya.
Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi kepada kita.
Kita tidak bisa mengendalikan perilaku semua orang.
Kita tidak bisa memastikan masa depan.
Kita tidak bisa menghapus semua masalah.
Tetapi di antara apa yang terjadi dan apa yang kita lakukan, sering kali masih ada sebuah ruang kecil.
Dan semakin besar kemampuan kita untuk menyadari ruang tersebut, semakin besar pula kemampuan kita untuk memilih.
Jadi, jika kamu ingin menjadi tipe orang yang lebih kreatif daripada reaktif, ingat tujuh kunci ini:
Ciptakan jeda sebelum merespons.
Bedakan fakta dari interpretasi dan cerita di kepala.
Ganti pertanyaan “kenapa” dengan “apa yang bisa kulakukan?”
Latih toleransi terhadap ketidakpastian.
Jangan jadikan kegagalan sebagai identitas.
Biasakan melihat lebih dari satu kemungkinan.
Pilih respons yang mencerminkan orang yang ingin kamu menjadi.
Karena pada akhirnya, hidup tidak hanya dibentuk oleh apa yang terjadi kepada kita.
Hidup juga dibentuk oleh respons yang kita pilih setelah sesuatu terjadi.
Dan mungkin, salah satu bentuk kreativitas paling tinggi bukanlah mampu menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.
Melainkan mampu menciptakan versi respons dirimu yang belum pernah kamu pilih sebelumnya.***