Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 September 2026 | 12.55 WIB

6 Cara Merancang Kehidupan yang Sesuai dengan Keinginanmu Menurut Psikologi

seseorang yang merancang kehidupan sesuai kehidupan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang menjalani hidup dengan sebuah pola yang hampir tidak pernah mereka pertanyakan.

Bangun pagi. Bekerja. Menyelesaikan kewajiban. Mengejar uang. Memenuhi ekspektasi orang lain. Membayar tagihan. Beristirahat. Lalu mengulang semuanya keesokan harinya.

Dari luar, kehidupan seperti itu mungkin terlihat baik-baik saja.

Namun, di dalam diri, ada pertanyaan yang perlahan muncul:

"Sebenarnya, aku sedang membangun kehidupan yang aku inginkan, atau hanya menjalani kehidupan yang diharapkan orang lain dariku?"

Pertanyaan ini penting.

Sebab kehidupan tidak selalu menjadi seperti yang kita inginkan hanya karena kita bekerja keras. Seseorang bisa sangat sibuk, sangat disiplin, bahkan sangat sukses, tetapi tetap merasa kosong karena seluruh energinya digunakan untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu ia inginkan.

Psikologi modern banyak membahas bagaimana manusia membangun kehidupan yang lebih bermakna melalui otonomi, nilai pribadi, tujuan yang jelas, hubungan yang sehat, kebiasaan, dan kemampuan beradaptasi.

Jadi, jika kamu ingin mulai merancang kehidupan yang lebih sesuai dengan dirimu, jangan hanya bertanya:

"Apa yang ingin aku capai?"

Cobalah bertanya lebih dalam:

"Kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani setiap hari?"

Karena hidup bukan hanya tentang mencapai tujuan.

Hidup adalah tentang siapa dirimu ketika sedang menuju ke sana.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat enam langkah yang bisa kamu gunakan.

1. Berhenti Sejenak dan Tentukan: "Sebenarnya Aku Ingin Hidup Seperti Apa?"

Salah satu kesalahan terbesar ketika merancang kehidupan adalah langsung membuat daftar target.

Ingin punya rumah.

Ingin punya banyak uang.

Ingin naik jabatan.

Ingin menikah.

Ingin punya bisnis.

Ingin pergi ke banyak negara.

Ingin memiliki tubuh ideal.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:

"Mengapa aku menginginkan semua itu?"

Karena terkadang kita mengejar tujuan bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena kita belajar bahwa itulah tanda keberhasilan.

Sejak kecil, kita mungkin terbiasa mendengar:

"Kalau mau sukses, harus punya pekerjaan bagus."

"Kalau sudah dewasa, harus punya rumah."

"Kalau ingin dianggap berhasil, penghasilanmu harus tinggi."

"Kalau ingin bahagia, kamu harus mencapai sesuatu."

Tanpa sadar, kita bisa membangun kehidupan berdasarkan standar yang berasal dari luar diri.

Dalam psikologi, kebutuhan manusia untuk merasa memiliki kendali terhadap kehidupannya sendiri merupakan salah satu aspek penting dalam self-determination.

Artinya, manusia cenderung membutuhkan perasaan bahwa:

"Aku memilih kehidupan ini karena memang sesuai dengan diriku."

Bukan sekadar:

"Aku menjalani ini karena orang lain mengatakan seharusnya begitu."

Jadi, mulailah dengan mengenali keinginanmu sendiri.

Ambil kertas.

Lalu jawab beberapa pertanyaan berikut dengan jujur:

Jika tidak ada orang yang menilai saya, saya ingin menjalani hidup seperti apa?
Jika uang bukan masalah utama, bagaimana saya ingin menghabiskan waktu?
Apa yang membuat saya merasa hidup?
Kapan terakhir kali saya merasa benar-benar menjadi diri sendiri?
Hal apa yang selama ini saya lakukan hanya untuk mendapatkan pengakuan?
Apa yang sebenarnya penting bagi saya?
Seperti apa kehidupan sehari-hari yang membuat saya merasa tenang sekaligus berkembang?

Jangan terlalu cepat mencari jawaban yang "ideal".

Cari jawaban yang jujur.

Karena kamu tidak bisa merancang kehidupan yang sesuai dengan dirimu jika kamu sendiri belum tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.

2. Tentukan Nilai Hidupmu, Bukan Hanya Tujuanmu

Tujuan dan nilai adalah dua hal yang berbeda.

Tujuan adalah sesuatu yang ingin kamu capai.

Nilai adalah cara kamu ingin menjalani kehidupan.

Misalnya:

Tujuan: ingin memiliki penghasilan besar.

Nilai: ingin memiliki kebebasan, keamanan, dan kemampuan membantu keluarga.

Atau:

Tujuan: ingin menikah.

Nilai: ingin memiliki hubungan yang penuh kasih, kejujuran, dan pertumbuhan bersama.

Atau:

Tujuan: ingin menjadi seorang pemimpin.

Nilai: ingin memberikan kontribusi dan membantu orang lain berkembang.

Perbedaannya sangat penting.

Sebab tujuan memiliki garis akhir.

Nilai tidak.

Misalnya kamu memiliki tujuan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tertentu. Ketika tujuan itu tercapai, lalu apa?

Kalau kamu tidak mengetahui nilai yang berada di balik tujuan tersebut, kamu bisa kembali merasa kehilangan arah.

Sebaliknya, ketika kamu memahami nilai hidupmu, kamu memiliki semacam kompas internal.

Kamu bisa bertanya:

"Apakah keputusan ini mendekatkanku kepada kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilaiku?"

Misalnya kamu menyadari bahwa tiga nilai terpenting bagimu adalah:

Kebebasan
Keluarga
Pertumbuhan

Maka keputusan karier tidak hanya dinilai berdasarkan gaji.

Kamu juga mempertimbangkan:

Apakah pekerjaan ini memberiku cukup kebebasan?
Apakah pekerjaan ini membuatku masih punya waktu untuk keluarga?
Apakah aku masih bisa berkembang?

Dengan begitu, kamu tidak sekadar mengejar "sukses".

Kamu mulai mendefinisikan sukses menurut versimu sendiri.

Cobalah memilih 5 nilai yang paling penting bagimu.

Misalnya:

kebebasan
keluarga
kesehatan
kreativitas
keamanan
petualangan
spiritualitas
pembelajaran
kontribusi
cinta
kedamaian
keberanian
kemandirian
hubungan
pertumbuhan

Kemudian tanyakan:

"Apakah kehidupan saya saat ini mencerminkan nilai-nilai tersebut?"

Jawabannya mungkin tidak menyenangkan.

Mungkin kamu menyadari bahwa kamu mengatakan keluarga sangat penting, tetapi hampir tidak pernah punya waktu untuk mereka.

Kamu mengatakan kesehatan penting, tetapi tidur selalu berantakan.

Kamu mengatakan kebebasan penting, tetapi seluruh hidupmu diatur oleh kebutuhan untuk menyenangkan orang lain.

Tidak perlu langsung mengubah semuanya.

Kesadaran adalah langkah pertama.

3. Bayangkan Kehidupan Idealmu Secara Konkret

Banyak orang mengatakan:

"Aku ingin bahagia."

Tetapi kebahagiaan terlalu abstrak untuk dijadikan arah kehidupan.

Lebih baik bertanya:

"Seperti apa kehidupan sehari-hari yang membuatku merasa bahwa hidup ini layak dijalani?"

Bayangkan suatu hari dalam hidupmu beberapa tahun dari sekarang.

Bukan versi kehidupan yang terlihat keren di media sosial.

Bukan kehidupan yang membuat orang lain iri.

Tetapi kehidupan yang benar-benar terasa cocok untukmu.

Bayangkan:

Kamu bangun pagi.

Di mana kamu tinggal?

Siapa yang ada di dekatmu?

Apa yang kamu lakukan setelah bangun?

Bagaimana pekerjaanmu?

Berapa banyak waktu yang kamu habiskan untuk bekerja?

Dengan siapa kamu berbicara?

Apa yang kamu lakukan pada sore hari?

Bagaimana hubunganmu dengan keluarga?

Bagaimana kondisi tubuhmu?

Apa yang kamu lakukan ketika akhir pekan?

Apa yang membuatmu merasa bangga ketika melihat kehidupanmu?

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu mengubah "mimpi" menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Misalnya, kamu menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak ingin menjadi sangat kaya.

Kamu hanya ingin:

bekerja maksimal 6–7 jam sehari,
memiliki waktu bersama keluarga,
tinggal di lingkungan yang tenang,
memiliki tabungan yang cukup,
tubuh yang sehat,
dan memiliki waktu untuk mengerjakan sesuatu yang kamu sukai.

Itu sudah merupakan desain kehidupan.

Dan mungkin desain itu jauh berbeda dari kehidupan yang sedang kamu jalani sekarang.

Jangan hanya membayangkan hasil. Bayangkan rutinitasnya.

Ini penting.

Banyak orang membayangkan:

"Aku ingin sukses."

Tetapi mereka tidak membayangkan:

"Kalau aku sudah sukses, seperti apa hari Seninku?"

Padahal kehidupan sebenarnya terdiri dari hari-hari biasa.

Bukan hanya momen pencapaian.

Jika kehidupan idealmu terlihat bagus hanya dalam foto, tetapi rutinitas sehari-harinya melelahkan, mungkin kamu sedang mengejar gambaran kesuksesan, bukan kehidupan yang benar-benar kamu inginkan.

4. Ubah Keinginan Besar Menjadi Sistem Kecil

Setelah mengetahui kehidupan yang kamu inginkan, jangan langsung mencoba mengubah seluruh hidup dalam satu minggu.

Itu salah satu alasan banyak resolusi gagal.

Kita membuat target yang terlalu besar:

"Mulai sekarang aku harus olahraga setiap hari."

"Mulai bulan depan aku harus membaca 30 buku."

"Aku harus bangun jam 5 pagi."

"Aku harus berhenti menggunakan media sosial."

"Aku harus mulai bisnis."

"Aku harus menjadi orang baru."

Masalahnya bukan pada keinginan untuk berubah.

Masalahnya adalah kita sering meremehkan betapa sulitnya mengubah perilaku yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Karena itu, daripada hanya menetapkan tujuan, bangun sistem kecil.

Misalnya:

Tujuan:

"Aku ingin menjadi lebih sehat."

Sistem:

berjalan 20 menit setelah makan malam,
menaruh botol air di meja kerja,
tidur pada jam yang lebih konsisten,
menyiapkan makanan lebih sehat.

Tujuan:

"Aku ingin menjadi lebih pintar."

Sistem:

membaca 10 halaman setiap malam,
menulis satu halaman catatan,
mendengarkan podcast edukatif ketika perjalanan,
mempelajari satu keterampilan selama 30 menit setiap hari.

Tujuan:

"Aku ingin membangun bisnis."

Sistem:

menghabiskan 30 menit setiap pagi untuk riset,
berbicara dengan satu calon pelanggan setiap minggu,
membuat satu eksperimen kecil,
mempelajari satu aspek bisnis setiap hari.

Perubahan besar sering kali tidak terasa seperti perubahan besar ketika sedang dilakukan.

Ia terlihat kecil.

Hampir membosankan.

Tetapi dilakukan berulang kali.

Di sinilah kebiasaan menjadi penting.

Kamu tidak perlu menjadi manusia baru dalam semalam.

Kamu hanya perlu membuat kehidupanmu sedikit lebih sesuai dengan arah yang kamu pilih.

Satu kebiasaan kecil.

Kemudian satu lagi.

Kemudian satu lagi.

5. Buat Rencana untuk Saat Kamu Kehilangan Motivasi

Ini adalah bagian yang sering dilupakan.

Banyak orang merancang kehidupan hanya berdasarkan kondisi ketika mereka sedang bersemangat.

Padahal motivasi manusia naik turun.

Hari ini kamu merasa sangat termotivasi.

Besok kamu lelah.

Lusa pekerjaan menumpuk.

Minggu depan mungkin ada masalah keluarga.

Sebulan kemudian kamu mungkin mulai mempertanyakan kembali tujuanmu.

Karena itu, kehidupan yang baik tidak dibangun hanya dengan motivasi.

Ia dibangun dengan rencana yang tetap bisa berjalan ketika motivasi menurun.

Salah satu pendekatan psikologis yang berguna adalah membuat rencana dalam bentuk:

"Jika X terjadi, maka saya akan melakukan Y."

Misalnya:

"Jika saya merasa terlalu malas untuk berolahraga, saya akan berjalan selama 10 menit saja."

"Jika saya ingin menghabiskan waktu terlalu lama di media sosial, saya akan meletakkan ponsel selama 15 menit."

"Jika saya pulang kerja dalam keadaan lelah, saya akan tetap membaca minimal dua halaman."

"Jika saya gagal menjalankan rutinitas selama satu hari, saya akan kembali ke rutinitas pada hari berikutnya."

Perhatikan perbedaannya.

Kamu tidak mengatakan:

"Saya tidak boleh gagal."

Kamu mengatakan:

"Saya tahu bahwa saya mungkin gagal, dan saya sudah tahu apa yang akan saya lakukan setelahnya."

Ini jauh lebih realistis.

Sebab masalah terbesar bukan ketika kamu keluar dari jalur.

Masalahnya adalah ketika kamu menganggap keluar dari jalur sebagai alasan untuk berhenti selamanya.

Kamu melewatkan olahraga satu hari.

Lalu berkata:

"Ya sudah, gagal."

Kamu tidak membaca selama seminggu.

Lalu berkata:

"Aku memang tidak disiplin."

Kamu gagal menjalankan rencana bisnis.

Lalu berkata:

"Berarti aku bukan orang yang cocok berbisnis."

Jangan membuat satu kesalahan kecil menjadi identitas.

Satu hari buruk bukan kehidupan yang buruk.

Yang penting adalah kemampuan untuk kembali.

6. Evaluasi Kehidupanmu Secara Berkala dan Berani Mengubah Arah

Merancang kehidupan bukan berarti membuat satu rencana pada usia 20 tahun lalu mengikutinya sampai usia 60 tahun.

Manusia berubah.

Kebutuhan berubah.

Prioritas berubah.

Hubungan berubah.

Kondisi ekonomi berubah.

Tubuh berubah.

Minat berubah.

Karena itu, desain kehidupan juga harus bisa berubah.

Kamu mungkin pernah sangat ingin menjadi seorang pengusaha.

Beberapa tahun kemudian, kamu menemukan bahwa yang sebenarnya kamu cari bukanlah bisnis, tetapi kebebasan.

Atau kamu mungkin pernah menganggap uang sebagai prioritas utama.

Kemudian setelah kondisi finansialmu lebih aman, kamu mulai menyadari bahwa kesehatan dan hubungan jauh lebih penting.

Itu bukan berarti kamu gagal.

Itu berarti kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri.

Psikologi juga mengenal pentingnya kemampuan beradaptasi secara psikologis—kemampuan untuk tetap bergerak berdasarkan nilai yang penting, meskipun keadaan berubah.

Karena itu, lakukan evaluasi secara berkala.

Misalnya setiap tiga atau enam bulan.

Tanyakan:

Tentang diriku
Apakah aku masih menyukai arah hidupku?
Apa yang berubah dalam diriku?
Apa yang sekarang menjadi lebih penting?
Tentang waktuku
Ke mana sebagian besar waktuku pergi?
Apakah penggunaan waktuku sesuai dengan nilai hidupku?
Tentang hubungan
Siapa orang yang membuat hidupku lebih sehat?
Hubungan mana yang justru terus menguras energiku?
Tentang pekerjaan
Apakah pekerjaanku mendukung kehidupan yang ingin kubangun?
Apa yang ingin kupelajari selanjutnya?
Tentang kesehatan
Apakah tubuhku mendukung kehidupan yang ingin kujalani?
Bagaimana kualitas tidur, makanan, aktivitas fisik, dan istirahatku?
Tentang masa depan
Apakah aku masih menginginkan tujuan yang sama?
Jika tidak, apa yang ingin aku ubah?

Tidak semua jawaban harus menghasilkan keputusan besar.

Kadang-kadang jawabannya hanya:

"Aku perlu tidur lebih banyak."

Atau:

"Aku ingin lebih sering bertemu orang yang kusayangi."

Atau:

"Aku ternyata tidak perlu mengejar sebanyak yang kupikirkan."

Hal-hal kecil seperti itu juga merupakan bagian dari merancang kehidupan.

Jangan Menunggu Kehidupan Ideal untuk Mulai Hidup

Ada satu jebakan lain yang perlu diperhatikan.

Kita sering berkata:

"Nanti kalau sudah punya uang, aku akan menikmati hidup."

"Nanti kalau sudah sukses, aku akan lebih tenang."

"Nanti kalau sudah menikah, aku akan bahagia."

"Nanti kalau sudah mencapai target, aku akan punya waktu."

"Nanti kalau semuanya sudah beres, baru aku akan hidup sesuai keinginanku."

Masalahnya adalah kehidupan hampir tidak pernah benar-benar "beres".

Selalu ada target berikutnya.

Selalu ada tagihan.

Selalu ada pekerjaan.

Selalu ada masalah.

Selalu ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Karena itu, jangan hanya membangun kehidupan yang kamu inginkan untuk masa depan.

Cari cara agar sebagian kecil dari kehidupan yang kamu inginkan bisa mulai hadir hari ini.

Kalau kamu menginginkan kehidupan yang lebih tenang, ciptakan 20 menit ketenangan hari ini.

Kalau kamu menginginkan hubungan yang lebih dekat dengan keluarga, hubungi mereka hari ini.

Kalau kamu ingin menjadi orang yang sehat, mulai dengan satu pilihan yang lebih sehat hari ini.

Kalau kamu ingin menjadi seorang penulis, tulis satu halaman hari ini.

Kalau kamu ingin belajar, pelajari sesuatu hari ini.

Kalau kamu ingin lebih bebas, mulai cari tahu keputusan apa yang bisa membuat hidupmu sedikit lebih mandiri.

Kamu tidak harus menunggu kehidupan berubah total.

Kamu bisa mulai mengubah arah kehidupanmu melalui keputusan-keputusan kecil yang kamu buat hari ini.

Pada Akhirnya, Hidup yang Kamu Inginkan Tidak Harus Terlihat Hebat bagi Orang Lain

Mungkin ini bagian yang paling penting.

Kehidupan yang sesuai denganmu belum tentu terlihat mengesankan bagi orang lain.

Bagi seseorang, kehidupan ideal adalah menjadi CEO perusahaan besar.

Bagi orang lain, kehidupan ideal adalah bekerja dengan tenang, memiliki keluarga kecil, tinggal di tempat yang nyaman, dan pulang sebelum malam.

Bagi seseorang, kebahagiaan berarti bepergian ke berbagai negara.

Bagi orang lain, kebahagiaan berarti memiliki rumah sederhana dan menghabiskan sore bersama orang-orang yang dicintai.

Tidak ada satu desain kehidupan yang berlaku untuk semua orang.

Karena itu, berhentilah terlalu sering membandingkan halaman kehidupanmu dengan halaman kehidupan orang lain.

Media sosial membuat kita melihat hasil akhir orang lain tanpa melihat seluruh prosesnya.

Kita melihat rumahnya.

Tidak melihat utangnya.

Kita melihat kariernya.

Tidak melihat tekanannya.

Kita melihat perjalanannya.

Tidak melihat masalah pribadinya.

Kita melihat pencapaiannya.

Tidak melihat harga yang mungkin harus dibayarnya.

Kehidupan yang benar-benar sesuai denganmu bukanlah kehidupan yang membuat semua orang kagum.

Melainkan kehidupan yang ketika kamu menjalaninya, kamu bisa berkata:

"Ini memang bukan kehidupan yang sempurna. Tetapi ini kehidupan yang aku pilih."

Enam Langkah untuk Merancang Kehidupanmu

Jika semuanya diringkas, kamu bisa mengingat enam langkah ini:

1. Kenali keinginanmu

Berhenti sejenak dan tanyakan apa yang benar-benar kamu inginkan, bukan hanya apa yang diharapkan orang lain.

2. Tentukan nilai hidupmu

Cari tahu prinsip apa yang ingin kamu jadikan dasar dalam menjalani hidup.

3. Visualisasikan kehidupan sehari-hari

Jangan hanya membayangkan pencapaian. Bayangkan seperti apa hari biasa dalam kehidupan yang kamu inginkan.

4. Bangun sistem kecil

Ubah tujuan besar menjadi kebiasaan dan tindakan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten.

5. Siapkan rencana ketika motivasi turun

Jangan bergantung pada semangat. Buat strategi untuk menghadapi hari buruk, kegagalan, dan kehilangan motivasi.

6. Evaluasi dan beradaptasi

Kamu boleh mengubah tujuan. Kamu boleh mengganti arah. Kamu boleh menyadari bahwa sesuatu yang dulu kamu inginkan ternyata bukan lagi yang kamu butuhkan.

Kamu Tidak Harus Mengubah Seluruh Hidupmu Hari Ini

Mungkin setelah membaca semua ini kamu berpikir:

"Hidupku sekarang jauh sekali dari kehidupan yang aku inginkan."

Tidak apa-apa.

Jangan menjadikan kesadaran itu sebagai alasan untuk menyalahkan diri sendiri.

Justru kesadaran bahwa ada sesuatu yang ingin kamu ubah adalah awal yang penting.

Kamu tidak perlu mengetahui seluruh jalan.

Kamu hanya perlu mengetahui langkah berikutnya.

Tanyakan kepada dirimu malam ini:

"Kalau aku benar-benar ingin membangun kehidupan yang sesuai dengan diriku, satu hal kecil apa yang bisa aku ubah mulai minggu ini?"

Mungkin jawabannya adalah tidur lebih teratur.

Mungkin mengurangi satu aktivitas yang tidak penting.

Mungkin mulai belajar.

Mungkin menghubungi seseorang.

Mungkin menyusun keuangan.

Mungkin mulai berolahraga.

Mungkin berhenti mengatakan "iya" pada sesuatu yang sebenarnya ingin kamu tolak.

Mungkin mulai mengerjakan sesuatu yang selama ini hanya kamu simpan sebagai impian.

Tidak harus besar.

Karena kehidupan yang berbeda sering kali dimulai dari keputusan yang terlihat sangat kecil.

Kamu tidak sedang mencoba menjadi orang lain.

Kamu sedang mencoba menjadi versi dirimu yang hidupnya lebih selaras dengan apa yang benar-benar penting bagimu.

Dan mungkin, pada akhirnya, merancang kehidupan bukan tentang menciptakan kehidupan yang sempurna.

Melainkan tentang perlahan-lahan membuat kehidupanmu semakin jujur terhadap dirimu sendiri.

Hari demi hari.

Pilihan demi pilihan.

Kebiasaan demi kebiasaan.

Sampai suatu hari kamu melihat ke belakang dan menyadari:

"Ternyata aku tidak tiba-tiba menemukan kehidupan yang kuinginkan. Aku membangunnya sedikit demi sedikit."***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore