Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 September 2026 | 13.03 WIB

7 Cara Bangkit dari Perpisahan yang Datang Tiba-tiba dan Mengejutkan Menurut Psikologi

seseorang yang bangkit dari perpisahan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Perpisahan selalu menyakitkan. Namun, ada jenis perpisahan yang terasa jauh lebih sulit untuk diterima: perpisahan yang datang tiba-tiba dan mengejutkan.

Tidak ada persiapan. Tidak ada waktu untuk menyesuaikan diri. Bahkan mungkin sehari sebelumnya hubungan masih terasa baik-baik saja, lalu tiba-tiba semuanya berubah.

Orang yang selama ini menjadi tempat bercerita mendadak pergi. Rutinitas yang selama ini dijalani bersama berhenti begitu saja. Pesan yang biasanya ditunggu tidak lagi datang. Rencana masa depan yang sudah dibayangkan bersama seolah-olah harus dibatalkan dalam satu malam.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak hanya kehilangan pasangan. Ia juga kehilangan rasa aman, rutinitas, harapan, dan gambaran tentang masa depan yang sebelumnya dianggap akan terjadi.

Tidak mengherankan jika setelah perpisahan mendadak, seseorang bisa merasa sangat kacau. Ada yang menangis terus-menerus, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, tidak mampu berkonsentrasi, atau terus bertanya, "Kenapa ini bisa terjadi?"

Menurut psikologi, reaksi seperti itu dapat menjadi bagian dari proses menghadapi kehilangan. Jadi, jika saat ini Anda sedang merasa hancur setelah ditinggalkan secara tiba-tiba, perasaan tersebut bukan berarti Anda lemah.

Yang perlu dilakukan bukan memaksa diri untuk segera melupakan, tetapi memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami, menerima, dan perlahan beradaptasi dengan kenyataan baru.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), terdapat tujuh cara yang dapat membantu bangkit dari perpisahan yang datang secara tiba-tiba.

1. Izinkan Diri Sendiri Berduka

Kesalahan yang sering dilakukan setelah putus cinta adalah mencoba terlihat baik-baik saja secepat mungkin.

"Aku harus kuat."

"Aku harus segera move on."

"Aku tidak boleh menangis karena dia."

Padahal, kehilangan hubungan dapat memunculkan proses berduka. Meskipun orang yang kita cintai masih hidup, hubungan dan kehidupan yang pernah dibangun bersamanya telah berakhir. Karena itu, wajar jika muncul kesedihan yang intens.

Dalam psikologi, respons terhadap kehilangan dapat melibatkan berbagai emosi, mulai dari sedih, marah, kecewa, bingung, takut, hingga rasa tidak percaya.

Yang lebih membingungkan, emosi tersebut tidak selalu muncul secara berurutan.

Hari ini mungkin Anda merasa sangat sedih. Besok bisa merasa marah. Beberapa hari kemudian mungkin merasa sudah baik-baik saja, lalu tiba-tiba kembali menangis setelah melihat foto atau mendengar lagu tertentu.

Ini bukan berarti Anda gagal move on.

Proses berduka memang tidak selalu berjalan lurus.

Karena itu, langkah pertama adalah mengizinkan diri sendiri merasakan apa yang memang sedang dirasakan.

Jika ingin menangis, menangislah. Jika merasa kecewa, akui bahwa Anda kecewa. Jika merasa marah, sadari bahwa kemarahan tersebut ada tanpa harus melampiaskannya secara destruktif.

Menerima emosi bukan berarti membiarkan diri tenggelam di dalamnya. Justru dengan mengakui emosi, kita memberi kesempatan kepada otak dan tubuh untuk memproses pengalaman tersebut.

Cobalah mengganti kalimat:

"Aku harus berhenti sedih."

menjadi:

"Aku sedang sedih karena kehilangan sesuatu yang berarti bagiku, dan tidak apa-apa jika prosesnya membutuhkan waktu."

Perubahan kecil dalam cara berbicara kepada diri sendiri dapat membantu mengurangi tekanan untuk segera pulih.

2. Jangan Terjebak dalam Pertanyaan "Kenapa?"

Setelah perpisahan yang mendadak, pikiran sering mencari penjelasan.

"Kenapa dia berubah?"

"Kenapa dia tidak mengatakan dari awal?"

"Apakah selama ini aku kurang baik?"

"Apakah ada orang lain?"

"Kalau aku melakukan sesuatu secara berbeda, apakah hubungan ini masih bisa diselamatkan?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi.

Masalahnya, ketika tidak ada jawaban yang memuaskan, seseorang bisa terjebak dalam ruminasi, yaitu pola berpikir berulang mengenai masalah yang sama tanpa menghasilkan solusi baru.

Ruminasi sering terasa seperti sedang mencari jawaban, padahal sebenarnya kita hanya mengulang luka yang sama.

Misalnya, Anda mengingat kembali percakapan enam bulan lalu dan mencoba mencari satu kalimat yang mungkin menjadi penyebab semuanya.

Anda membuka kembali foto lama.

Membaca ulang chat.

Mencari tanda-tanda bahwa sebenarnya hubungan sudah bermasalah.

Kemudian muncul pertanyaan baru.

Dan siklus tersebut berulang.

Jika dilakukan terus-menerus, perhatian Anda akan tetap terikat pada hubungan yang sudah berakhir.

Karena itu, cobalah membedakan antara mencari pemahaman dan mencari kepastian yang mungkin tidak pernah Anda dapatkan.

Anda boleh bertanya, "Apa yang bisa kupelajari dari hubungan ini?"

Namun, Anda tidak harus terus mencari jawaban atas pertanyaan, "Mengapa dia memilih pergi?"

Tidak semua perpisahan memberikan penjelasan yang lengkap.

Kadang-kadang, proses penyembuhan justru dimulai ketika kita menerima bahwa ada hal-hal yang tidak akan pernah kita ketahui sepenuhnya.

3. Kurangi Kontak yang Membuat Luka Terus Terbuka

Setelah putus, godaan terbesar biasanya adalah tetap mengikuti kehidupan mantan.

Melihat story.

Memeriksa kapan terakhir online.

Membaca ulang percakapan.

Melihat siapa yang menyukai unggahannya.

Bertanya kepada teman tentang kehidupannya.

Sekilas, semua itu mungkin terasa seperti cara untuk tetap terhubung.

Namun, jika setiap aktivitas tersebut membuat Anda kembali berharap, cemas, atau terluka, Anda perlu membuat batas.

Mengurangi kontak bukan berarti membenci mantan.

Ini adalah bentuk perlindungan diri.

Bayangkan seseorang sedang mengalami luka fisik. Jika lukanya terus disentuh, proses pemulihannya tentu menjadi lebih sulit.

Hal yang sama dapat terjadi secara psikologis. Setiap kali Anda melihat sesuatu yang berkaitan dengan mantan, ingatan emosional dapat kembali aktif.

Karena itu, Anda dapat mencoba beberapa langkah sederhana:

mute atau unfollow sementara;
berhenti membaca ulang percakapan lama;
menyimpan foto bersama di tempat yang tidak mudah diakses;
menghindari mencari informasi tentang kehidupan mantan;
meminta teman untuk tidak terus-menerus memberikan kabar tentang mantan.

Tidak harus dilakukan selamanya.

Yang terpenting adalah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi dengan kehidupan tanpa hubungan tersebut.

Jika suatu hari nanti Anda sudah lebih stabil secara emosional, Anda dapat menentukan sendiri batas yang terasa sehat.

4. Bangun Kembali Rutinitas dan Identitas Diri

Salah satu alasan perpisahan terasa sangat menyakitkan adalah karena hubungan sering menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari.

Ada kebiasaan mengucapkan selamat pagi.

Ada jadwal bertemu.

Ada tempat makan favorit.

Ada aktivitas akhir pekan.

Ada seseorang yang selalu dihubungi ketika terjadi sesuatu.

Ketika hubungan berakhir, bukan hanya pasangan yang hilang. Rutinitas juga berubah.

Akibatnya, hari-hari bisa terasa kosong.

Di sinilah pentingnya membangun kembali struktur kehidupan.

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Bangun dan tidur pada waktu yang relatif teratur. Tetap makan. Berolahraga ringan. Keluar rumah. Bertemu teman. Kembali melakukan aktivitas yang sebelumnya mungkin terabaikan.

Jangan menunggu motivasi muncul.

Dalam banyak situasi, tindakan dapat mendahului perasaan.

Artinya, Anda tidak harus menunggu merasa bahagia untuk mulai menjalani kehidupan. Justru dengan kembali melakukan aktivitas yang sehat dan bermakna, perlahan kondisi emosional dapat ikut berubah.

Selain rutinitas, Anda juga perlu menemukan kembali identitas pribadi.

Tanyakan kepada diri sendiri:

"Siapa aku di luar hubungan ini?"

Mungkin ada hobi yang lama ditinggalkan.

Mungkin ada cita-cita yang tertunda.

Mungkin ada teman yang jarang ditemui.

Mungkin ada bagian dari diri Anda yang selama ini terlalu fokus pada hubungan.

Perpisahan dapat menjadi kesempatan untuk membangun kembali kehidupan yang tidak hanya berpusat pada seseorang.

Tujuannya bukan menjadi orang yang sama seperti sebelum bertemu dengannya.

Tujuannya adalah membangun versi diri yang lebih utuh setelah melewati pengalaman tersebut.

5. Jangan Menjadikan Perpisahan sebagai Bukti bahwa Anda Tidak Berharga

Setelah ditinggalkan, salah satu pikiran paling berbahaya adalah:

"Kalau dia meninggalkanku, berarti aku tidak cukup baik."

Padahal, berakhirnya sebuah hubungan tidak otomatis menentukan nilai diri seseorang.

Hubungan terdiri dari dua orang dengan kebutuhan, pilihan, kesiapan, pengalaman, komunikasi, dan keadaan hidup yang kompleks.

Sebuah hubungan dapat berakhir tanpa berarti salah satu pihak tidak berharga.

Cobalah memisahkan dua hal:

"Hubunganku berakhir."

dan

"Aku adalah orang yang gagal."

Keduanya bukan hal yang sama.

Perpisahan adalah sebuah peristiwa.

Nilai diri adalah sesuatu yang jauh lebih luas.

Anda tetap memiliki kualitas, kemampuan, hubungan sosial, pengalaman, dan kehidupan di luar status hubungan tersebut.

Ketika pikiran negatif muncul, jangan langsung mempercayainya.

Misalnya:

"Tidak ada yang akan mencintaiku lagi."

Ubah menjadi:

"Saat ini aku sedang merasa tidak dicintai, tetapi perasaan itu tidak dapat memprediksi seluruh masa depanku."

Atau:

"Dia memilih mengakhiri hubungan ini, tetapi keputusan tersebut tidak menentukan nilai diriku sebagai manusia."

Ini bukan sekadar berpikir positif.

Ini adalah upaya untuk membangun cara berpikir yang lebih realistis dan tidak menghukum diri sendiri.

6. Ceritakan kepada Orang yang Aman, Bukan kepada Semua Orang

Ketika hati sedang hancur, berbicara dengan orang lain dapat sangat membantu.

Namun, pilihlah orang yang tepat.

Anda tidak membutuhkan banyak orang. Anda membutuhkan orang yang mampu mendengarkan tanpa terus menghakimi.

Teman yang baik mungkin tidak memiliki solusi untuk masalah Anda. Tetapi ia dapat mengatakan:

"Aku tahu ini berat. Kamu tidak harus melewati semuanya sendirian."

Dukungan sosial dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi tekanan emosional.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Jangan menjadikan curhat sebagai aktivitas untuk terus mengulang cerita yang sama tanpa batas.

Bicarakan perasaan Anda, tetapi setelah itu perlahan arahkan perhatian kepada apa yang dapat dilakukan hari ini.

Misalnya:

"Aku masih sangat sedih."

Kemudian:

"Setelah ngobrol, aku mau mandi, makan, lalu tidur lebih awal."

Dengan demikian, curhat menjadi bagian dari proses pemulihan, bukan satu-satunya aktivitas yang dilakukan sepanjang hari.

Jika Anda merasa kesedihan sangat berat, berlangsung lama, atau mulai mengganggu pekerjaan, tidur, makan, hubungan sosial, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang bijaksana.

Mencari bantuan bukan tanda kelemahan.

Justru itu merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

7. Berhenti Memaksa Diri untuk "Melupakan", Fokuslah pada Menerima

Banyak orang menganggap tujuan akhir dari move on adalah melupakan mantan.

Padahal, melupakan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.

Anda mungkin masih mengingatnya bertahun-tahun kemudian.

Anda mungkin masih mengingat tempat yang pernah didatangi bersama.

Anda mungkin masih memiliki kenangan indah.

Dan itu tidak berarti Anda belum move on.

Tujuan pemulihan bukan menghapus masa lalu.

Tujuannya adalah membuat masa lalu tidak lagi mengendalikan kehidupan Anda.

Pada suatu titik, Anda mungkin masih mengingat orang tersebut tetapi tidak lagi merasa harus menghubunginya.

Anda dapat melihat foto lama tanpa merasa hancur.

Anda dapat mendengar lagu tertentu tanpa ingin kembali ke masa lalu.

Anda dapat mengakui bahwa hubungan tersebut pernah berarti tanpa harus menginginkannya kembali.

Itulah salah satu bentuk penerimaan.

Penerimaan bukan berarti mengatakan bahwa perpisahan tersebut baik atau bahwa Anda menyukainya.

Penerimaan berarti:

"Aku tidak memilih kejadian ini, tetapi aku menerima bahwa ini sudah menjadi bagian dari hidupku. Sekarang aku harus menentukan bagaimana melanjutkan hidup setelahnya."

Kalimat tersebut mungkin terasa sederhana.

Namun, proses untuk benar-benar merasakannya membutuhkan waktu.

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Bangkit?

Tidak ada batas waktu yang berlaku untuk semua orang.

Ada orang yang mulai merasa lebih baik setelah beberapa minggu. Ada pula yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Durasi pemulihan dapat dipengaruhi oleh banyak hal: lamanya hubungan, tingkat kedekatan emosional, cara perpisahan terjadi, dukungan sosial, pengalaman kehilangan sebelumnya, kondisi kehidupan saat ini, dan kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya.

Karena itu, jangan menjadikan proses orang lain sebagai standar untuk diri sendiri.

Jika teman Anda sudah terlihat bahagia setelah satu bulan, bukan berarti Anda harus melakukan hal yang sama.

Dan jika setelah beberapa bulan Anda masih merasa sedih sesekali, itu juga tidak otomatis berarti Anda gagal move on.

Yang lebih penting adalah melihat arah perkembangan Anda.

Apakah Anda mulai bisa menjalani aktivitas?

Apakah Anda mulai bisa menikmati hal-hal kecil?

Apakah intensitas kesedihan perlahan berkurang?

Apakah Anda mulai memikirkan masa depan lagi?

Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.

Jika Hari Ini Masih Terasa Sangat Berat

Ada hari-hari ketika Anda merasa sudah membaik.

Lalu tiba-tiba sebuah lagu membuat Anda menangis.

Sebuah tempat mengingatkan Anda kepadanya.

Sebuah tanggal membuat semua kenangan muncul kembali.

Jangan langsung menganggap bahwa Anda kembali ke titik nol.

Pemulihan emosional memang dapat mengalami naik turun.

Pada hari yang buruk, jangan memikirkan bagaimana caranya menjalani hidup tanpa orang tersebut selama bertahun-tahun.

Fokus saja pada hari ini.

Bahkan, jika terlalu berat, fokus pada beberapa jam ke depan.

Makan sesuatu.

Minum air.

Mandi.

Berjalan sebentar.

Berbicara dengan seseorang.

Tidur.

Besok Anda bisa memikirkan hal berikutnya.

Anda tidak harus menyelesaikan seluruh proses penyembuhan dalam satu hari.

Penutup: Perpisahan Mendadak Bukan Akhir dari Kehidupan Anda

Perpisahan yang datang tiba-tiba memang dapat membuat hidup terasa seperti kehilangan arah.

Terutama ketika Anda belum siap dan masih memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Namun, satu hal yang penting untuk diingat: berakhirnya sebuah hubungan tidak berarti berakhirnya kehidupan Anda.

Anda mungkin kehilangan seseorang yang sangat berarti.

Tetapi Anda belum kehilangan seluruh masa depan.

Masih ada hubungan lain yang dapat dibangun. Masih ada pengalaman yang belum dijalani. Masih ada tempat yang belum dikunjungi. Masih ada hal-hal tentang diri Anda yang belum ditemukan.

Untuk sekarang, Anda tidak perlu memaksa diri untuk langsung bahagia.

Cukup mulai dengan satu langkah kecil.

Izinkan diri berduka.

Kurangi hal-hal yang membuat luka terus terbuka.

Bangun kembali rutinitas.

Rawat tubuh.

Cari dukungan.

Berhenti menyalahkan diri sendiri.

Dan perlahan, belajar menerima kenyataan yang tidak pernah Anda pilih.

Suatu hari nanti, Anda mungkin menyadari bahwa yang berubah bukan hanya keadaan di sekitar Anda.

Anda juga telah menjadi seseorang yang lebih mengenal dirinya sendiri, lebih memahami batasnya, dan lebih mampu menentukan kehidupan seperti apa yang ingin dijalani.

Bangkit bukan berarti tidak pernah sedih lagi.

Bangkit berarti Anda mulai mampu menjalani hidup meskipun pernah mengalami kehilangan yang sangat menyakitkan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore