Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 September 2026 | 12.52 WIB

7 Cara Membantu Anak Dewasa Bangkit dari Masa Sulit Menurut Psikologi

seseorang yang membantu bangkit dari masa sulit. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Melihat anak yang sudah dewasa sedang melewati masa sulit bukanlah hal yang mudah bagi orang tua.


Dulu, ketika mereka masih kecil, mungkin kita bisa langsung memeluk, mengantar ke dokter, membantu mengerjakan sesuatu, atau sekadar menggenggam tangan mereka ketika sedang takut. Namun ketika anak sudah dewasa, bentuk bantuan yang mereka butuhkan sering kali berubah.

Mereka mungkin sedang menghadapi kegagalan dalam pekerjaan, masalah hubungan, tekanan finansial, kehilangan seseorang yang dicintai, kebingungan mengenai masa depan, atau sekadar merasa hidup tidak berjalan seperti yang mereka harapkan.

Sebagai orang tua, keinginan untuk segera menyelesaikan masalah mereka tentu sangat besar.

Kita mungkin ingin berkata, "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."

Atau, "Kalau kamu mau mendengarkan nasihat Ibu, sebenarnya masalah ini bisa selesai."

Bahkan terkadang kita berpikir bahwa dengan memberikan uang, mencarikan pekerjaan, menghubungi seseorang, atau memberikan banyak nasihat, kita sudah melakukan hal terbaik.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (12/9), psikologi menunjukkan bahwa dukungan kepada anak yang sudah dewasa tidak selalu berarti mengambil alih masalah mereka.

Sering kali, dukungan yang paling berarti justru adalah membuat mereka merasa tidak sendirian, tetap dihargai, dan masih memiliki kemampuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.

Jika Anda ingin membantu anak yang sudah dewasa bangkit dari masa sulit, berikut tujuh cara yang dapat dilakukan.

1. Dengarkan mereka tanpa terburu-buru memberikan solusi

Salah satu bentuk dukungan yang sering diremehkan adalah mendengarkan.

Ketika anak dewasa datang dan menceritakan masalahnya, orang tua sering merasa harus segera memberikan jawaban. Apalagi jika kita pernah mengalami sesuatu yang mirip.

Kita mungkin langsung mengatakan:

"Kalau menurut Ibu, kamu seharusnya..."

"Kenapa tidak dari dulu kamu..."

"Kalau Bapak jadi kamu, Bapak akan..."

Niatnya mungkin baik.

Tetapi bagi seseorang yang sedang berada dalam tekanan, terlalu banyak solusi sebelum mereka merasa didengarkan justru dapat membuat mereka semakin tertutup.

Ada perbedaan antara mendengarkan untuk memahami dan mendengarkan untuk mencari celah memberikan nasihat.

Ketika mendengarkan, cobalah memberikan ruang bagi anak untuk menyelesaikan ceritanya.

Anda bisa mengatakan:

"Ayah dengarkan."

"Kalau kamu mau cerita, Ibu ada di sini."

"Sepertinya ini memang berat buat kamu."

"Apa bagian yang paling membuat kamu tertekan?"

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu dapat membantu seseorang merasa bahwa emosinya tidak dianggap berlebihan.

Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua keputusan anak.

Mendengarkan juga bukan berarti menganggap mereka selalu benar.

Mendengarkan berarti memberi pesan:

"Aku ingin memahami apa yang sedang kamu alami sebelum aku memutuskan apa yang harus kukatakan."

Bagi anak yang sudah dewasa, pesan semacam ini sangat berharga.

Karena ketika seseorang sedang mengalami kegagalan atau kehilangan arah, mereka sering kali tidak hanya membutuhkan solusi. Mereka juga membutuhkan tempat yang aman untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam dirinya.

2. Validasi perasaannya, bukan berarti membenarkan semua keputusannya

Ada perbedaan besar antara validasi dan persetujuan.

Misalnya, anak Anda gagal mendapatkan pekerjaan yang sangat diinginkannya.

Anda mungkin berpikir:

"Kan sudah Ibu bilang jangan terlalu berharap."

Tetapi kalimat tersebut, meskipun mungkin benar menurut Anda, tidak banyak membantu pada saat itu.

Validasi dapat terdengar seperti:

"Wajar kalau kamu kecewa. Kamu sudah berusaha keras untuk itu."

Atau:

"Ibu bisa mengerti kenapa kamu merasa sedih setelah semua yang kamu lakukan."

Validasi membuat seseorang merasa bahwa emosinya dapat dipahami.

Ini penting karena emosi yang ditekan atau terus-menerus dianggap tidak masuk akal sering kali justru menjadi semakin berat.

Namun sekali lagi, validasi bukan berarti membenarkan semua tindakan.

Jika anak melakukan sesuatu yang keliru, Anda tetap dapat mengatakan:

"Ibu memahami kenapa kamu marah. Tapi menurut Ibu, keputusan yang kamu ambil ketika sedang marah mungkin perlu dipikirkan lagi."

Dengan cara seperti ini, Anda memisahkan perasaan dari perilaku.

Perasaannya dapat dipahami.

Perilakunya tetap dapat dievaluasi.

Inilah salah satu bentuk dukungan yang lebih sehat kepada anak yang sudah dewasa: tidak menghakimi emosinya, tetapi tetap membantu mereka berpikir dengan jernih.

3. Hindari membandingkan mereka dengan orang lain

Salah satu hal yang paling mudah dilakukan orang tua ketika melihat anaknya sedang kesulitan adalah membandingkan.

"Temanmu yang dulu sekolah bersama kamu sudah sukses."

"Anak tetangga sudah punya rumah."

"Adikmu saja bisa melewati masalah itu."

"Di usia kamu, Ayah dulu sudah..."

Mungkin tujuan awalnya adalah memotivasi.

Namun perbandingan sering kali menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Alih-alih merasa terdorong, anak justru dapat merasa bahwa dirinya tidak cukup baik.

Padahal kehidupan orang dewasa tidak memiliki satu jadwal yang berlaku untuk semua orang.

Ada orang yang menemukan kariernya di usia dua puluhan.

Ada yang baru menemukan arah hidup di usia tiga puluhan atau empat puluhan.

Ada yang berhasil membangun hubungan lebih cepat.

Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih setelah hubungan berakhir.

Ada pula yang harus memulai kembali setelah kehilangan pekerjaan, mengalami kegagalan bisnis, atau melewati masa hidup yang sangat berat.

Karena itu, daripada mengatakan:

"Lihat temanmu, dia sudah jauh lebih maju."

Lebih baik mengatakan:

"Setiap orang punya perjalanan yang berbeda. Sekarang, apa yang paling kamu butuhkan untuk melangkah sedikit demi sedikit?"

Perubahan kalimat tersebut terlihat sederhana.

Namun pesan yang diberikan sangat berbeda.

Kalimat pertama membuat anak melihat dirinya melalui pencapaian orang lain.

Kalimat kedua membantu mereka kembali melihat dirinya sendiri.

4. Berikan bantuan tanpa membuat mereka merasa kehilangan kendali

Ketika anak sedang mengalami kesulitan, orang tua sering ingin melakukan semuanya.

Mencari pekerjaan untuk mereka.

Mengatur jadwal mereka.

Menelepon orang lain atas nama mereka.

Memberikan uang tanpa batas.

Mengambil keputusan untuk mereka.

Dalam situasi tertentu, bantuan praktis memang sangat dibutuhkan.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan: jangan sampai bantuan berubah menjadi pengambilalihan kehidupan anak.

Anak yang sudah dewasa tetap membutuhkan rasa bahwa dirinya memiliki kendali atas hidupnya.

Anda dapat menawarkan bantuan dengan cara yang memberi mereka pilihan.

Misalnya:

"Kalau kamu membutuhkan bantuan biaya untuk sementara, kita bisa membicarakannya."

"Kalau kamu mau, Ayah bisa membantumu melihat pilihan pekerjaan. Tapi keputusan akhirnya tetap kamu yang menentukan."

"Apakah kamu ingin Ibu hanya mendengarkan, atau kamu ingin Ibu ikut memikirkan solusinya?"

Pertanyaan terakhir bahkan bisa sangat membantu.

Karena terkadang kita memberikan nasihat ketika anak sebenarnya hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Dan terkadang sebaliknya, anak memang membutuhkan bantuan nyata.

Dengan menanyakan kebutuhan mereka terlebih dahulu, kita tidak hanya membantu, tetapi juga menghormati kedewasaan mereka.

5. Bantu mereka melihat kemajuan kecil

Ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit, masa depan bisa terasa sangat jauh.

Mereka mungkin berpikir:

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana."

"Semua sudah berantakan."

"Aku sudah tertinggal terlalu jauh."

Dalam keadaan seperti ini, nasihat besar tentang masa depan terkadang justru terasa menekan.

Daripada bertanya:

"Kapan kamu mau sukses?"

Cobalah membantu mereka memikirkan:

"Apa satu hal kecil yang bisa kamu lakukan minggu ini?"

Misalnya, jika anak sedang kehilangan pekerjaan, langkah pertamanya mungkin bukan langsung mendapatkan pekerjaan baru.

Langkah kecilnya bisa berupa memperbarui CV.

Menghubungi satu teman.

Melamar satu pekerjaan.

Mengikuti satu pelatihan.

Atau sekadar kembali memiliki rutinitas tidur dan bangun yang lebih teratur.

Jika anak sedang mengalami patah hati, langkah pertamanya mungkin bukan langsung "melupakan orang tersebut."

Mungkin cukup dengan kembali makan dengan baik, keluar rumah, bertemu teman, atau melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai.

Pemulihan sering kali tidak terjadi melalui satu keputusan besar.

Ia dapat terjadi melalui banyak langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Sebagai orang tua, Anda dapat membantu anak melihat langkah-langkah tersebut.

"Yang penting kamu sudah mulai."

"Memang belum selesai, tetapi kamu sudah bergerak."

"Pelan-pelan saja. Tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini."

Kalimat seperti ini dapat membantu anak mengubah fokus dari "Aku harus memperbaiki seluruh hidupku" menjadi "Aku hanya perlu mengambil langkah berikutnya."

6. Tetap hadir tanpa terus-menerus mengawasi

Ada perbedaan antara hadir dan mengawasi.

Hadir berarti anak tahu bahwa Anda dapat diandalkan ketika mereka membutuhkan dukungan.

Mengawasi berarti terus-menerus menanyakan:

"Sudah dapat kerja?"

"Sudah selesai masalahnya?"

"Sudah bicara dengan orang itu?"

"Kapan kamu akan berubah?"

Jika dilakukan terus-menerus, pertanyaan tersebut dapat membuat anak merasa sedang dinilai setiap saat.

Dukungan yang sehat memberi ruang.

Anda dapat mengirim pesan sederhana:

"Semoga hari ini sedikit lebih baik."

"Kalau kamu butuh apa-apa, kabari Ibu."

"Jangan lupa makan."

Kemudian biarkan mereka memiliki ruang untuk menjalani prosesnya.

Anak dewasa tetap membutuhkan privasi.

Mereka perlu mengalami konsekuensi dari pilihan mereka.

Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk menemukan solusi dengan caranya sendiri.

Orang tua tidak harus selalu berada di samping mereka untuk membuktikan bahwa mereka peduli.

Kadang-kadang, mengetahui bahwa seseorang ada ketika dibutuhkan sudah memberikan rasa aman yang besar.

7. Ingatkan bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh kegagalan

Ini mungkin salah satu dukungan paling penting.

Ketika orang dewasa mengalami kegagalan, mereka sering kali tidak hanya kehilangan sesuatu di luar dirinya.

Mereka juga dapat mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

"Apakah aku tidak cukup pintar?"

"Apakah aku memang tidak mampu?"

"Apakah hidupku akan selalu seperti ini?"

"Apa yang salah denganku?"

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.

Anak perlu tahu bahwa kegagalan dalam satu bidang kehidupan tidak sama dengan kegagalan sebagai manusia.

Kehilangan pekerjaan tidak membuat seseorang menjadi tidak berharga.

Perceraian tidak otomatis membuat seseorang menjadi manusia yang gagal.

Bisnis yang bangkrut tidak menghapus seluruh kemampuan dan pengalaman seseorang.

Hubungan yang berakhir tidak berarti seseorang tidak layak dicintai.

Satu periode buruk dalam kehidupan tidak menentukan keseluruhan kehidupan seseorang.

Orang tua dapat mengingatkan hal tersebut dengan kalimat sederhana:

"Yang sedang gagal adalah situasimu, bukan nilai dirimu sebagai manusia."

"Ibu tetap melihat banyak hal baik dalam dirimu, meskipun sekarang kamu sedang kesulitan."

"Kamu tidak harus membuktikan nilaimu kepada kami."

"Kalau perlu mulai lagi, tidak apa-apa. Kami tetap menyayangimu."

Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana.

Namun bagi seseorang yang sedang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri, penerimaan tanpa syarat dapat menjadi sumber kekuatan yang sangat besar.

Jangan Berusaha Menyelamatkan Anak dari Semua Kesulitan

Ada satu pelajaran penting yang perlu dipahami orang tua ketika anak sudah dewasa.

Membantu bukan berarti menyelamatkan mereka dari setiap kesulitan.

Kesulitan, meskipun tidak menyenangkan, merupakan bagian dari kehidupan orang dewasa.

Anak perlu belajar mengambil keputusan.

Mereka perlu belajar menghadapi konsekuensi.

Mereka perlu belajar bahwa terkadang rencana gagal.

Mereka perlu menemukan cara untuk bangkit setelah kecewa.

Tugas orang tua bukan menghilangkan seluruh kesulitan tersebut.

Tugas orang tua dapat berupa menyediakan tempat yang cukup aman sehingga anak tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.

Ada perbedaan antara:

"Ayah akan menyelesaikan masalah ini untukmu."

dan:

"Ayah mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah ini untukmu, tetapi Ayah akan menemanimu memikirkannya."

Kalimat kedua mungkin terdengar lebih sederhana.

Namun sebenarnya ia mengandung pesan yang sangat kuat:

"Aku percaya kamu mampu melewati ini, dan kamu tidak sendirian."

Kapan Orang Tua Perlu Mendorong Anak Mencari Bantuan Profesional?

Dukungan keluarga sangat berarti, tetapi keluarga tidak selalu dapat menangani semua masalah sendirian.

Jika anak mengalami perubahan yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, kesulitan berfungsi dalam pekerjaan atau hubungan, menarik diri secara ekstrem, mengalami kesedihan atau kecemasan yang menetap, atau menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya tidak aman, dukungan profesional dari psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.

Orang tua tidak perlu mendiagnosis anak.

Tidak perlu mengatakan:

"Kamu depresi."

"Kamu mengalami gangguan kecemasan."

Lebih baik mengatakan:

"Ibu melihat akhir-akhir ini kamu kelihatan sangat kewalahan. Mungkin ada baiknya kalau kamu punya tempat untuk bicara dengan profesional. Kalau kamu mau, Ibu bisa membantu mencari."

Dengan demikian, bantuan profesional tidak diposisikan sebagai hukuman atau tanda kelemahan.

Sebaliknya, ia menjadi salah satu bentuk perawatan diri.

Dan jika anak menunjukkan risiko segera terhadap keselamatan dirinya atau orang lain, jangan hanya mengandalkan percakapan keluarga; cari bantuan darurat atau layanan kesehatan setempat sesegera mungkin.

Pada Akhirnya, Anak Dewasa Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Memiliki Semua Jawaban

Ketika anak masih kecil, orang tua mungkin merasa bahwa tugasnya adalah mengetahui apa yang harus dilakukan.

Namun ketika anak tumbuh dewasa, hubungan itu berubah.

Anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang memiliki semua jawaban.

Mereka membutuhkan orang tua yang mampu berkata:

"Aku tidak tahu persis apa yang harus dilakukan, tetapi kita bisa memikirkannya bersama."

Mereka membutuhkan seseorang yang tidak langsung menghakimi ketika mereka gagal.

Seseorang yang tidak membandingkan mereka dengan orang lain.

Seseorang yang mampu memberikan bantuan tanpa merampas kendali.

Seseorang yang dapat mendengarkan tanpa selalu memberikan ceramah.

Dan yang paling penting, seseorang yang tetap melihat nilai diri mereka bahkan ketika mereka sendiri sedang tidak mampu melihatnya.

Tujuh hal yang dapat dilakukan orang tua adalah:

Dengarkan tanpa terburu-buru memberikan solusi.
Validasi perasaan tanpa harus membenarkan semua keputusan.
Hindari membandingkan mereka dengan orang lain.
Berikan bantuan tanpa mengambil alih kendali hidup mereka.
Bantu mereka fokus pada kemajuan kecil.
Tetap hadir tanpa terus-menerus mengawasi.
Ingatkan bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh kegagalan.

Mungkin kita tidak dapat menghapus semua luka yang dialami anak.

Kita juga tidak dapat menjalani hidup menggantikan mereka.

Tetapi kita dapat menjadi tempat yang membuat mereka berani mencoba lagi.

Karena terkadang, hal yang paling dibutuhkan seorang anak yang sudah dewasa bukanlah orang tua yang berkata, "Ini yang harus kamu lakukan."

Melainkan orang tua yang berkata:

"Aku percaya kamu masih bisa bangkit. Dan selama kamu membutuhkan tempat untuk pulang, aku ada di sini."***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore