seseorang yang memiliki teman yang mengalami gangguan makan. (Magnific)
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami: gangguan makan bukan sekadar persoalan makanan, berat badan, atau penampilan. Gangguan makan merupakan kondisi psikologis yang dapat melibatkan kecemasan, rasa malu, kebutuhan akan kontrol, perfeksionisme, citra tubuh yang negatif, dan berbagai kesulitan emosional lainnya.
Karena itu, ketika kamu menduga seorang teman mengalami gangguan makan, respons yang paling membantu bukanlah memaksanya untuk makan, menyuruhnya menaikkan berat badan, atau mengatakan, “Kamu kan sudah kurus, tidak perlu diet.”
Sebaliknya, yang lebih penting adalah membuatnya merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), menurut prinsip-prinsip psikologi mengenai dukungan sosial, komunikasi empatik, dan perilaku mencari bantuan, ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan.
1. Bicaralah karena peduli, bukan karena ingin mengubah tubuhnya
Langkah pertama adalah membuka percakapan dengan cara yang tidak membuat temanmu merasa sedang diperiksa atau diinterogasi.
Hindari memulai dengan kalimat seperti:
“Kamu kok makin kurus?”
“Kamu sebenarnya makan atau tidak?”
“Jangan diet terus.”
“Kamu kelihatan terlalu kurus.”
“Kenapa sih kamu takut makan?”
“Kamu harus lebih banyak makan.”
Meskipun kalimat tersebut mungkin muncul dari rasa khawatir, fokus pada tubuh dan makanan dapat membuat seseorang semakin malu atau defensif.
Lebih baik fokus pada perubahan yang kamu amati dan perasaanmu sebagai seorang teman.
Misalnya:
“Aku akhir-akhir ini melihat kamu kelihatannya sedang mengalami banyak tekanan. Aku cuma ingin bilang bahwa aku peduli dan kalau kamu ingin cerita, aku siap mendengarkan.”
Atau:
“Aku mungkin salah, tapi aku merasa akhir-akhir ini hubunganmu dengan makanan kelihatannya cukup berat. Aku tidak bermaksud menghakimi. Aku cuma khawatir karena aku peduli sama kamu.”
Pendekatan seperti ini memberi ruang bagi temanmu untuk menentukan apakah ia ingin bercerita.
Dalam psikologi, perasaan bahwa seseorang didengar, diterima, dan tidak dihakimi dapat menjadi bagian penting dari dukungan sosial. Kamu tidak harus langsung menemukan solusi. Terkadang, menjadi orang yang bersedia mendengarkan saja sudah sangat berarti.
Jangan berharap percakapan pertama langsung menghasilkan perubahan
Seseorang yang mengalami gangguan makan mungkin belum menyadari sepenuhnya bahwa perilakunya bermasalah. Ada pula yang sebenarnya sadar, tetapi merasa takut untuk berubah.
Karena itu, jangan kecewa jika ia menyangkal atau belum mau berbicara.
Kamu bisa mengatakan:
“Tidak apa-apa kalau kamu belum siap cerita. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada kalau suatu saat kamu membutuhkan seseorang.”
Kalimat sederhana seperti itu dapat menjaga pintu komunikasi tetap terbuka.
2. Dengarkan tanpa buru-buru memberikan nasihat
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika ingin membantu orang lain adalah terlalu cepat memberikan solusi.
Ketika seorang teman berkata:
“Aku merasa bersalah banget setelah makan.”
Respons spontan mungkin:
“Jangan merasa begitu. Makan saja normal.”
Masalahnya, bagi seseorang yang sedang mengalami gangguan makan, nasihat tersebut mungkin tidak menyentuh masalah sebenarnya.
Yang mereka alami bukan sekadar kurangnya informasi tentang makanan. Bisa jadi ada kecemasan atau konflik psikologis yang jauh lebih kompleks.
Cobalah menjadi pendengar terlebih dahulu.
Kamu dapat menggunakan pertanyaan terbuka seperti:
“Apa yang biasanya kamu rasakan ketika itu terjadi?”
“Sejak kapan kamu merasa seperti ini?”
“Apakah ada sesuatu yang sedang membuatmu tertekan?”
“Apa yang menurutmu paling sulit sekarang?”
“Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu merasa sedikit lebih nyaman?”
Perhatikan bahwa pertanyaan tersebut tidak berfokus pada angka timbangan atau jumlah makanan.
Tujuannya adalah memahami pengalaman emosionalnya.
Validasi perasaan, bukan perilaku berbahaya
Ini adalah perbedaan yang sangat penting.
Kamu bisa mengatakan:
“Aku bisa mengerti kalau kamu merasa sangat cemas.”
Tetapi bukan berarti:
“Berarti tidak makan memang keputusan yang tepat.”
Validasi berarti mengakui bahwa perasaan seseorang nyata dan sulit, bukan membenarkan perilaku yang berpotensi membahayakan dirinya.
Misalnya:
“Aku bisa memahami bahwa makanan mungkin membuatmu cemas. Aku tidak akan menghakimimu karena merasa seperti itu. Tapi aku juga khawatir kalau kamu harus menghadapi semuanya sendirian.”
Respons seperti ini menunjukkan empati sekaligus tetap mempertahankan batas yang sehat.
3. Hindari komentar tentang berat badan, bentuk tubuh, dan penampilan
Jika kamu ingin membantu teman yang diduga mengalami gangguan makan, cobalah mengurangi pembicaraan mengenai tubuh.
Bahkan komentar yang terdengar positif dapat menjadi pemicu.
Contohnya:
“Wah, kamu sekarang makin kurus.”
Bagi sebagian orang, komentar tersebut mungkin terdengar seperti pujian. Namun bagi seseorang dengan gangguan makan, komentar tentang penurunan berat badan dapat memperkuat keyakinan bahwa menjadi semakin kurus berarti semakin berhasil atau semakin berharga.
Hal yang sama berlaku untuk komentar seperti:
“Kamu kelihatan lebih gemuk.”
“Untung kamu tidak gemuk.”
“Kamu masih kelihatan kurus kok.”
“Aku iri sama badanmu.”
“Kalau aku punya badan seperti kamu, aku juga tidak akan makan banyak.”
Sebisa mungkin, arahkan percakapan kepada hal-hal lain.
Kamu dapat memuji kualitas yang tidak berhubungan dengan tubuh, misalnya:
“Aku suka cara kamu memperlakukan orang lain.”
“Kamu orang yang sangat perhatian.”
“Aku senang kalau ngobrol sama kamu.”
“Aku menghargai caramu tetap berusaha meskipun sedang menghadapi banyak hal.”
Ini membantu memperkuat identitas seseorang di luar penampilan fisiknya.
Ciptakan lingkungan pertemanan yang tidak berpusat pada tubuh
Kamu juga dapat membantu dengan mengurangi percakapan seperti:
“Aku gendut banget.”
“Hari ini aku tidak boleh makan karena kemarin kebanyakan.”
“Aku harus olahraga karena tadi makan banyak.”
Percakapan semacam itu mungkin dianggap normal dalam lingkungan sosial, tetapi bagi orang yang sedang berjuang dengan hubungan terhadap makanan dan tubuh, pembicaraan tersebut dapat memperkuat fokus pada berat badan dan rasa bersalah terhadap makanan.
4. Jangan memaksa makan, tetapi tawarkan dukungan yang konkret
Jika kamu melihat temanmu tidak makan, insting pertama mungkin adalah memaksanya.
“Pokoknya kamu harus makan sekarang.”
Namun, tekanan semacam itu belum tentu membantu secara psikologis.
Gangguan makan dapat membuat aktivitas makan terasa sangat menakutkan atau penuh kecemasan. Tekanan berlebihan dapat membuat seseorang semakin defensif atau memilih menyembunyikan perilakunya.
Daripada memaksa, kamu bisa memberikan dukungan konkret.
Misalnya:
“Kalau kamu merasa tidak nyaman makan sendirian, aku bisa menemanimu.”
Atau:
“Kalau kamu mau, kita bisa makan bersama dan ngobrol tentang hal lain.”
Dukungan seperti ini mengurangi rasa sendirian tanpa menjadikan waktu makan sebagai arena konflik.
Namun, ada perbedaan antara tidak memaksa dan membiarkan kondisi menjadi semakin berbahaya.
Jika kamu melihat tanda-tanda kondisi fisik atau psikologis yang serius, dukungan dari profesional menjadi jauh lebih penting.
5. Dorongnya mencari bantuan profesional tanpa membuatnya merasa “rusak”
Gangguan makan dapat membutuhkan bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, dokter, atau tenaga kesehatan lain yang memiliki pengalaman menangani gangguan makan.
Tetapi kalimat:
“Kamu harus ke psikolog karena kamu punya gangguan makan.”
bisa terasa menghakimi, terutama jika diagnosis belum pernah diberikan oleh profesional.
Lebih baik menggunakan bahasa yang berorientasi pada dukungan.
Misalnya:
“Aku merasa kamu sedang menghadapi sesuatu yang berat. Mungkin akan lebih ringan kalau ada orang profesional yang bisa membantu kamu memahami apa yang sedang terjadi.”
Atau:
“Kalau kamu mau, aku bisa menemani kamu mencari bantuan.”
Penting juga untuk tidak berusaha mendiagnosis teman sendiri.
Perilaku tertentu memang dapat menjadi tanda peringatan, tetapi hanya profesional yang dapat melakukan penilaian dan diagnosis yang tepat.
Jika ia menolak bantuan
Jangan langsung menyerah.
Seseorang mungkin menolak bantuan karena:
merasa masalahnya tidak cukup serius,
takut dianggap lemah,
takut berat badannya berubah,
takut kehilangan kontrol,
malu,
belum siap menghadapi perubahan,
atau tidak tahu harus mulai dari mana.
Kamu dapat mengatakan:
“Aku menghargai kalau kamu belum siap. Aku tidak akan memaksamu. Tapi kalau suatu saat kamu ingin mencari bantuan, aku bersedia menemanimu.”
Dengan demikian, kamu menawarkan bantuan tanpa menjadikan persahabatan sebagai tekanan.
6. Bantu dia mengurangi rasa malu dan rasa bersalah
Rasa malu sering menjadi bagian yang sangat menyakitkan dalam masalah kesehatan mental.
Seseorang mungkin berpikir:
“Kenapa aku tidak bisa makan seperti orang lain?”
“Aku tahu ini tidak sehat, tetapi aku tidak bisa berhenti.”
“Orang lain pasti menganggap aku aneh.”
Jika temanmu mengatakan sesuatu seperti itu, hindari respons:
“Ya sudah, tinggal berhenti.”
Perubahan perilaku psikologis biasanya tidak sesederhana itu.
Lebih membantu jika kamu mengatakan:
“Kamu tidak perlu malu cerita sama aku.”
atau:
“Aku tidak menganggap kamu aneh. Aku justru senang kamu mau cerita.”
Perasaan diterima dapat membantu mengurangi isolasi sosial.
Jangan gunakan rasa bersalah sebagai motivasi
Hindari:
“Kamu bikin semua orang khawatir.”
“Kasihan orang tuamu.”
“Kalau kamu terus begini, kamu menyakiti orang lain.”
Meskipun kekhawatiran keluarga dan teman memang nyata, rasa bersalah bukanlah strategi yang baik untuk mendorong pemulihan.
Seseorang membutuhkan dukungan untuk menghadapi masalahnya, bukan tambahan alasan untuk membenci dirinya sendiri.
7. Tetap hadir dan perhatikan tanda-tanda ketika situasinya menjadi serius
Membantu teman dengan gangguan makan bukan berarti kamu harus menjadi terapisnya.
Kamu adalah teman.
Dan sebagai teman, salah satu hal paling berharga yang dapat kamu berikan adalah kehadiran yang konsisten.
Tidak harus selalu membicarakan makanan atau kesehatan mental.
Ajak ia melakukan aktivitas biasa:
berjalan-jalan,
menonton film,
belajar bersama,
bermain gim,
mengobrol,
melakukan hobi,
atau sekadar duduk bersama.
Hal ini penting karena seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental dapat semakin terisolasi dari lingkungan sosialnya.
Tunjukkan bahwa persahabatanmu tidak hanya bergantung pada kondisi tubuhnya atau kemampuannya untuk makan dengan cara tertentu.
Namun, tetap perhatikan tanda bahaya.
Jika seseorang mengalami kondisi fisik yang tampak serius, seperti pingsan, kebingungan, kelemahan ekstrem, dehidrasi berat, nyeri dada, kesulitan bernapas, atau kondisi lain yang mengancam keselamatan, jangan mencoba menangani situasi tersebut hanya sebagai teman. Cari bantuan medis segera atau hubungi layanan darurat setempat.
Jika terdapat pembicaraan mengenai keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau tidak ingin hidup, perlakukan itu sebagai keadaan serius dan cari bantuan profesional atau layanan darurat sesegera mungkin.
Yang Sebaiknya Tidak Kamu Katakan
Kadang-kadang niat kita baik, tetapi pilihan kata justru membuat seseorang semakin tertutup.
Beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari antara lain:
“Kamu kan sudah kurus.”
Gangguan makan tidak selalu terlihat dari bentuk tubuh. Seseorang dapat mengalami gangguan makan pada berbagai ukuran tubuh.
“Tinggal makan saja.”
Masalahnya biasanya jauh lebih kompleks daripada sekadar mengetahui bahwa tubuh membutuhkan makanan.
“Aku juga pernah diet, biasa saja.”
Pengalamanmu mungkin berbeda dengan pengalaman temanmu. Membandingkan kondisi dapat membuat perasaannya terasa tidak valid.
“Kamu harus kuat.”
Kalimat ini bisa membuat seseorang merasa gagal ketika ia masih kesulitan.
“Jangan pikirkan makanan terus.”
Bagi seseorang yang mengalami gangguan makan, pikiran tentang makanan dan tubuh mungkin justru sulit dikendalikan.
“Kamu kelihatan sehat kok.”
Penampilan tidak dapat menentukan apakah seseorang sedang mengalami gangguan makan atau tidak.
Bagaimana Jika Temanmu Marah Ketika Kamu Mengkhawatirkannya?
Hal itu mungkin terjadi.
Seseorang bisa merasa tersinggung, malu, takut, atau bahkan marah ketika perilakunya dibicarakan.
Jika hal tersebut terjadi, jangan langsung membalas dengan argumen.
Kamu dapat mengatakan:
“Maaf kalau cara aku menyampaikannya membuatmu tidak nyaman. Aku tidak bermaksud menghakimi atau mengontrol kamu. Aku hanya menyampaikannya karena aku peduli.”
Kemudian beri ruang.
Kamu tidak harus memenangkan percakapan.
Tujuanmu bukan membuktikan bahwa kamu benar.
Tujuanmu adalah memastikan bahwa temanmu tahu bahwa ada seseorang yang peduli dan bersedia membantu ketika ia siap.
Ingat: Kamu Tidak Bertanggung Jawab untuk “Menyembuhkan” Temanmu
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Jika kamu sangat menyayangi seorang teman, kamu mungkin merasa harus menyelamatkannya.
Tetapi gangguan makan adalah masalah yang dapat membutuhkan penanganan profesional. Kamu tidak harus mengetahui semua jawabannya.
Kamu juga tidak harus memantau setiap makanan yang ia konsumsi, mengecek berat badannya, mengawasi olahraga, atau memastikan ia mengikuti semua saran yang diberikan.
Peranmu adalah menjadi teman yang suportif.
Kamu dapat:
mendengarkan,
menunjukkan kepedulian,
mengurangi stigma,
menawarkan bantuan,
mendorongnya mendapatkan pertolongan profesional,
dan mencari bantuan ketika keselamatannya terancam.
Pada saat yang sama, kamu juga perlu menjaga dirimu sendiri.
Mendukung seseorang yang mengalami gangguan makan bisa melelahkan secara emosional. Kamu boleh memiliki batasan. Kamu boleh meminta bantuan orang dewasa tepercaya atau profesional ketika situasinya terasa terlalu berat untuk kamu tangani sendirian.
Pada Akhirnya, Jadilah Teman yang Membuatnya Merasa Aman
Ketika seseorang sedang berjuang dengan gangguan makan, mungkin ada banyak hal yang membuatnya merasa tidak aman: makanan, tubuhnya sendiri, komentar orang lain, rasa bersalah, atau ketakutan terhadap perubahan.
Kamu mungkin tidak dapat menghilangkan semua ketakutan tersebut.
Tetapi kamu dapat memberikan sesuatu yang sangat berharga: hubungan yang tidak menghakimi.
Tujuh hal yang dapat kamu lakukan adalah:
Bicaralah karena peduli, bukan untuk mengkritik tubuhnya.
Dengarkan tanpa buru-buru memberikan nasihat.
Hindari komentar tentang berat badan dan bentuk tubuh.
Tawarkan dukungan tanpa memaksa.
Dorong bantuan profesional dengan cara yang penuh empati.
Bantu mengurangi rasa malu dan rasa bersalah.
Tetap hadir sambil memperhatikan tanda-tanda kondisi yang serius.
Dan yang tidak kalah penting: jangan menunggu seseorang terlihat “cukup kurus” atau “cukup sakit” sebelum menganggap kekhawatiranmu valid.
Gangguan makan tidak selalu terlihat dari luar.
Jika kamu melihat seseorang yang kamu sayangi sedang mengalami kesulitan dengan makanan, tubuh, atau perilaku terkait makan, kepedulian yang disampaikan dengan lembut dapat menjadi awal dari percakapan yang sangat penting.
Terkadang, kalimat sederhana seperti:
“Aku peduli sama kamu. Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022