Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Agustus 2026 | 02.07 WIB

Jika Teman Sekamar Punya 7 Tanda Ini, Bisa Jadi Dia Bertipe Cinderella Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki teman sekamar bertipe cinderella. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Tinggal serumah dengan orang lain bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga bisa membuka sisi kepribadian seseorang yang sebelumnya tidak pernah kita lihat. Dari kebiasaan sederhana seperti cara membereskan kamar, membagi pekerjaan rumah, hingga bagaimana seseorang bereaksi ketika menghadapi masalah, kehidupan bersama sering kali membuat pola perilaku seseorang terlihat lebih jelas.


Mungkin Anda pernah memiliki teman sekamar yang tampaknya selalu menunggu seseorang untuk membantunya. Ia sering berharap orang lain membereskan sesuatu, mengeluhkan keadaan, merasa hidupnya tidak adil, atau percaya bahwa suatu hari nanti akan datang seseorang yang membuat kehidupannya jauh lebih mudah.

Dalam psikologi populer, pola seperti ini kadang dikaitkan dengan istilah "Cinderella complex" atau Cinderella syndrome. Istilah ini diperkenalkan oleh Colette Dowling melalui bukunya The Cinderella Complex pada 1980-an. Konsep tersebut menggambarkan kecenderungan seseorang untuk memiliki ketakutan atau keengganan yang kuat terhadap kemandirian, sehingga secara tidak sadar berharap akan ada orang lain yang menyelamatkan, merawat, atau mengambil alih sebagian tanggung jawab hidupnya.

Namun, penting untuk memahami bahwa "tipe Cinderella" bukan diagnosis psikologis resmi. Seseorang tidak dapat didiagnosis hanya karena memiliki beberapa kebiasaan tertentu. Perilaku yang terlihat seperti ketergantungan juga bisa muncul karena kebiasaan keluarga, pengalaman hidup, kurangnya keterampilan, stres, atau situasi sementara.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (27/8), jika Anda melihat tanda-tanda berikut pada teman sekamar, jangan buru-buru memberikan label. Sebaliknya, anggap tanda-tanda ini sebagai pola perilaku yang mungkin menunjukkan adanya kesulitan dalam membangun kemandirian.

1. Ia sering menunggu orang lain menyelesaikan masalahnya

Salah satu tanda yang paling mudah terlihat ketika tinggal bersama adalah bagaimana seseorang menghadapi masalah sehari-hari.

Ketika ada sesuatu yang rusak, misalnya keran bocor, lampu mati, atau tagihan rumah belum dibayar, orang yang sangat bergantung pada orang lain mungkin tidak segera mencari solusi. Ia justru menunggu seseorang mengambil alih.

"Sudah kamu saja yang urus."

"Memangnya harus bagaimana?"

"Aku nggak ngerti soal begituan."

Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus muncul dalam berbagai situasi, pola tersebut dapat menunjukkan kecenderungan untuk menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain.

Orang yang mandiri tidak harus mengetahui semua hal. Perbedaannya terletak pada kemauan untuk belajar dan mencari solusi.

Ia mungkin tidak tahu cara memperbaiki keran, tetapi akan mencoba mencari tukang.

Ia mungkin tidak memahami sistem pembayaran tagihan, tetapi akan belajar bagaimana melakukannya.

Sementara itu, seseorang yang memiliki kecenderungan sangat bergantung dapat merasa lebih nyaman ketika orang lain mengambil alih masalah tersebut.

Dalam kehidupan sebagai teman sekamar, pola ini bisa menjadi masalah karena akhirnya satu orang selalu menjadi "pengurus rumah", sementara orang lainnya terbiasa menjadi pihak yang dibantu.

2. Ia percaya bahwa seseorang akan datang untuk "menyelamatkan" hidupnya

Ini merupakan salah satu karakteristik yang paling dekat dengan gagasan Cinderella complex.

Orang tersebut mungkin sering membayangkan bahwa kehidupannya akan berubah ketika menemukan pasangan yang tepat, mendapatkan pekerjaan tertentu, memiliki teman yang lebih sukses, atau bertemu seseorang yang mampu memberikan rasa aman.

Harapan memiliki kehidupan yang lebih baik sebenarnya sangat manusiawi.

Masalahnya muncul ketika seseorang mulai melihat orang lain sebagai jalan keluar utama dari persoalan hidupnya.

Misalnya, ia selalu berkata bahwa hidupnya akan jauh lebih mudah jika memiliki pasangan yang kaya.

Atau ia menganggap masalah finansial akan selesai ketika menikah.

Atau ia percaya bahwa seseorang yang lebih pintar akan selalu membantunya mengambil keputusan.

Pola tersebut berbeda dengan sekadar memiliki impian romantis. Dalam pola ketergantungan, seseorang dapat mulai mengurangi usahanya sendiri karena percaya bahwa pada akhirnya akan ada orang lain yang mengambil alih.

Di sinilah istilah "Cinderella" menjadi metafora: bukan karena orang tersebut benar-benar menunggu seorang pangeran, tetapi karena ia mungkin memiliki fantasi bahwa seseorang dari luar dirinya akan datang dan mengubah kehidupannya.

3. Ia sering merasa menjadi korban keadaan

Teman sekamar dengan kecenderungan seperti ini mungkin memiliki pola bicara yang selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling dirugikan.

Ketika mendapatkan masalah, penyebabnya hampir selalu berada di luar dirinya.

Bosnya yang salah.

Temannya yang tidak mengerti dirinya.

Keluarganya yang tidak mendukung.

Pasangannya yang tidak cukup perhatian.

Teman sekamarnya yang dianggap tidak membantu.

Sekali lagi, mengalami ketidakadilan bukan berarti seseorang memiliki Cinderella complex.

Kita semua pernah berada dalam situasi ketika memang orang lain yang melakukan kesalahan.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang.

Apakah ia hampir tidak pernah mempertanyakan kontribusinya sendiri terhadap suatu masalah?

Apakah ia selalu merasa orang lain harus memahami kondisinya, tetapi jarang berusaha memahami kondisi orang lain?

Apakah ia menganggap dirinya tidak berdaya setiap kali menghadapi kesulitan?

Jika jawabannya sering kali iya, mungkin terdapat kecenderungan external locus of control, yaitu kecenderungan melihat hasil hidup sebagai sesuatu yang terutama ditentukan oleh faktor eksternal.

Dalam konteks tertentu, pola tersebut dapat memperkuat ketergantungan karena seseorang merasa dirinya tidak benar-benar memiliki kendali terhadap kehidupannya.

4. Ia ingin dirawat, tetapi tidak selalu menyadari bahwa dirinya sedang bergantung

Tanda lainnya dapat terlihat dari ekspektasi terhadap orang-orang di sekitarnya.

Misalnya, ia berharap teman sekamarnya mengingatkan jadwal tertentu, membangunkannya, menyiapkan sesuatu, mengambil barangnya, atau membereskan bagian rumah yang menjadi tanggung jawabnya.

Awalnya mungkin terasa sepele.

Tetapi lama-kelamaan, hubungan tersebut bisa berubah menjadi pola seperti "orang tua dan anak".

Satu orang menjadi pihak yang selalu mengingatkan, mengatur, dan menyelesaikan.

Sementara satu orang lainnya menjadi pihak yang menerima bantuan.

Menariknya, orang yang bergantung belum tentu menyadari bahwa dirinya sedang menciptakan pola tersebut.

Ia mungkin merasa bahwa permintaannya sangat wajar.

"Kan kamu lebih tahu."

"Kan kamu lebih rajin."

"Kan kamu memang biasa mengurus begituan."

Namun, jika alasan tersebut terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab pribadi, hubungan bisa menjadi tidak seimbang.

Kemandirian bukan berarti seseorang tidak boleh meminta bantuan. Manusia memang membutuhkan orang lain.

Kemandirian berarti mampu meminta bantuan tanpa menjadikan bantuan tersebut sebagai satu-satunya cara untuk berfungsi.

5. Ia merasa tidak nyaman ketika harus mengambil keputusan sendiri

Coba perhatikan bagaimana teman sekamar Anda mengambil keputusan.

Apakah ia sering meminta pendapat untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ia putuskan sendiri?

Misalnya, memilih makanan, menentukan jadwal, membeli barang sederhana, memilih pekerjaan, atau menyelesaikan konflik kecil.

Meminta pendapat tentu normal.

Namun, seseorang yang sangat bergantung dapat mengalami kesulitan ketika harus menentukan sesuatu tanpa validasi atau arahan dari orang lain.

Ia mungkin berkata:

"Kamu pilihkan saja."

"Menurut kamu aku harus bagaimana?"

"Aku takut salah."

"Kalau kamu di posisi aku, kamu akan apa?"

Pada tingkat tertentu, perilaku ini dapat berhubungan dengan rendahnya kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Ia bukan tidak memiliki kemampuan mengambil keputusan. Ia mungkin tidak percaya bahwa dirinya mampu menghadapi konsekuensi dari keputusan tersebut.

Ketakutan terhadap kesalahan akhirnya membuatnya lebih nyaman ketika keputusan dibuat oleh orang lain.

6. Ia mudah kecewa ketika orang lain tidak memenuhi ekspektasinya

Ini adalah tanda yang sering kali luput diperhatikan.

Orang yang terbiasa mendapatkan bantuan dari orang lain bisa mulai menganggap bantuan tersebut sebagai sesuatu yang memang seharusnya diberikan.

Akibatnya, ketika orang lain mulai berkata "tidak", ia mungkin merasa sangat kecewa.

Misalnya, selama ini Anda selalu mencuci piring bersama atau bahkan membereskan piringnya. Ketika suatu hari Anda berhenti melakukannya, ia mungkin mengatakan bahwa Anda sudah berubah.

Atau selama ini Anda selalu membantu menyelesaikan berbagai urusannya. Ketika Anda sedang sibuk dan tidak bisa membantu, ia menganggap Anda tidak peduli.

Dalam hubungan yang sehat, bantuan adalah sesuatu yang diberikan, bukan sesuatu yang otomatis menjadi kewajiban orang lain.

Jika seseorang mulai menganggap perhatian dan bantuan sebagai haknya, hubungan dapat berubah menjadi tidak seimbang.

Karena itu, salah satu cara terbaik untuk melihat pola tersebut adalah dengan menetapkan batasan yang sehat.

Bukan untuk menghukum teman sekamar, tetapi untuk melihat apakah ia mampu mengambil kembali tanggung jawab yang memang menjadi bagiannya.

7. Ia sebenarnya mampu mandiri, tetapi takut melakukannya

Ini mungkin merupakan tanda yang paling menarik.

Seseorang dengan kecenderungan "Cinderella" tidak selalu benar-benar tidak mampu.

Justru terkadang ia mampu, tetapi merasa takut terhadap konsekuensi kemandirian.

Ia mungkin sebenarnya bisa tinggal sendiri.

Bisa mengatur keuangan.

Bisa mengambil keputusan.

Bisa mencari pekerjaan.

Bisa menyelesaikan masalah.

Tetapi ketika harus melakukan semuanya sendiri, muncul rasa cemas atau tidak aman.

Ada perasaan seperti:

"Bagaimana kalau aku gagal?"

"Bagaimana kalau aku tidak sanggup?"

"Bagaimana kalau tidak ada yang membantu?"

Ketakutan seperti ini dapat membuat seseorang mempertahankan ketergantungan, bahkan ketika secara kemampuan sebenarnya ia sudah cukup mampu.

Dalam psikologi, penting membedakan antara tidak mampu dan tidak percaya bahwa dirinya mampu.

Keduanya terlihat mirip dari luar, tetapi akar masalahnya bisa berbeda.

Seseorang mungkin membutuhkan keterampilan praktis.

Orang lain mungkin membutuhkan kepercayaan diri.

Dan pada sebagian orang, keduanya bisa terjadi bersamaan.

Mengapa Seseorang Bisa Mengembangkan Pola Seperti Ini?

Tidak ada satu penyebab tunggal.

Pengalaman masa kecil dapat memainkan peran. Misalnya, seseorang yang terlalu sering diselamatkan dari kesulitan mungkin tidak memperoleh cukup kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah sendiri.

Sebaliknya, seseorang yang sejak kecil selalu dituntut sempurna mungkin tumbuh dengan ketakutan yang besar terhadap kesalahan.

Lingkungan sosial juga dapat berpengaruh.

Jika seseorang selalu berada dalam hubungan di mana orang lain mengambil keputusan untuknya, ketergantungan dapat menjadi kebiasaan.

Budaya dan norma mengenai peran gender juga pernah dibahas dalam konteks Cinderella complex, terutama karena konsep awal Dowling banyak membahas ketakutan perempuan terhadap kemandirian. Namun, pola ketergantungan terhadap orang lain tidak terbatas pada satu gender. Siapa pun dapat menunjukkan perilaku yang sangat bergantung pada orang lain.

Karena itu, istilah "Cinderella" sebaiknya digunakan sebagai metafora populer, bukan sebagai label klinis.

Jangan Langsung Menghakimi Teman Sekamar Anda

Jika Anda menemukan tujuh tanda tersebut, hal yang paling tidak membantu adalah langsung mengatakan:

"Kamu Cinderella complex."

Label seperti itu dapat membuat seseorang merasa diserang dan justru menjadi defensif.

Lebih baik bicarakan perilaku yang konkret.

Daripada mengatakan:

"Kamu selalu bergantung pada orang lain."

Lebih baik:

"Sepertinya akhir-akhir ini aku cukup sering mengurus hal-hal yang sebenarnya menjadi tanggung jawab kita berdua."

Perbedaan kalimat tersebut sangat penting.

Kalimat pertama menyerang identitas seseorang.

Kalimat kedua membicarakan perilaku.

Dalam hubungan teman sekamar, fokus pada perilaku biasanya jauh lebih efektif.

Bagaimana Menghadapi Teman Sekamar yang Terlalu Bergantung?

Pertama, buat pembagian tanggung jawab yang jelas.

Siapa yang membayar tagihan?

Siapa yang membersihkan kamar mandi?

Siapa yang membuang sampah?

Siapa yang membeli kebutuhan rumah?

Semakin jelas pembagiannya, semakin kecil kemungkinan satu orang mengambil alih semua pekerjaan.

Kedua, jangan selalu buru-buru menyelamatkan.

Jika teman sekamar Anda menghadapi masalah yang sebenarnya bisa ia selesaikan sendiri, berikan kesempatan untuk mencoba.

Anda dapat mengatakan:

"Coba kamu urus dulu. Kalau memang ada bagian yang kamu tidak tahu, kita cari solusinya."

Ini berbeda dengan membiarkannya sendirian.

Anda tetap mendukung, tetapi tidak mengambil alih.

Ketiga, tetapkan batasan tanpa rasa bersalah.

Mengatakan "tidak" bukan berarti Anda tidak peduli.

Anda bisa membantu teman, tetapi Anda juga memiliki kehidupan dan tanggung jawab sendiri.

Keempat, dorong kemandirian secara bertahap.

Jika seseorang sudah terbiasa bergantung, perubahan drastis mungkin justru membuatnya semakin cemas.

Lebih baik mulai dari hal kecil.

Biarkan ia mengurus satu urusan sendiri.

Kemudian mengambil keputusan sendiri.

Kemudian menyelesaikan masalah yang lebih besar.

Kemandirian biasanya berkembang melalui pengalaman bahwa seseorang ternyata mampu menghadapi berbagai situasi.

Kesimpulannya

Jika teman sekamar Anda menunjukkan tujuh tanda di atas—sering menyerahkan masalah kepada orang lain, berharap ada seseorang yang menyelamatkannya, merasa menjadi korban keadaan, membutuhkan perawatan berlebihan, sulit mengambil keputusan sendiri, kecewa ketika bantuan tidak diberikan, dan takut menghadapi kemandirian—mungkin terdapat pola ketergantungan yang menyerupai apa yang dalam psikologi populer disebut Cinderella complex.

Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia "bertipe Cinderella".

Satu atau dua perilaku saja tidak cukup untuk menggambarkan kepribadian seseorang. Bahkan jika pola tersebut muncul berulang kali, kita tetap tidak mengetahui penyebab sebenarnya tanpa memahami pengalaman dan kondisi orang tersebut secara lebih mendalam.

Yang lebih penting adalah melihat pola perilakunya dan dampaknya terhadap hubungan Anda.

Jika Anda tinggal bersama seseorang yang selalu berharap diselamatkan, jangan mengambil peran sebagai penyelamat permanen. Bantulah ketika memang diperlukan, tetapi tetap berikan ruang baginya untuk belajar bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Sebab pada akhirnya, menjadi mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.

Kemandirian berarti mengetahui bahwa kita boleh menerima bantuan dari orang lain, tetapi kita juga percaya bahwa diri sendiri mampu berdiri ketika bantuan tersebut tidak datang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore