seseorang yang memiliki anak kesayangan. (Magnific)
Ada anak yang selalu menjadi tempat orang tua bercerita. Ada yang lebih sering dibela ketika terjadi konflik. Ada yang lebih mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Ada pula anak yang merasa harus berusaha jauh lebih keras hanya untuk mendapatkan perhatian, penghargaan, atau kasih sayang yang menurutnya diberikan begitu saja kepada saudaranya.
Situasi seperti ini dapat menimbulkan pertanyaan yang menyakitkan:
“Mengapa dia lebih disayang daripada saya?”
Dalam psikologi, fenomena ini dapat berkaitan dengan parental differential treatment, yaitu ketika orang tua memperlakukan anak-anaknya secara berbeda. Perlakuan berbeda tidak selalu berarti buruk. Anak yang masih kecil, misalnya, memang membutuhkan perhatian lebih besar daripada kakaknya yang sudah remaja. Anak yang sedang sakit juga mungkin membutuhkan perlakuan khusus.
Namun, ketika perbedaan perlakuan berlangsung terus-menerus, terutama jika salah satu anak selalu mendapatkan lebih banyak kasih sayang, dukungan, kepercayaan, atau pembelaan, hal tersebut dapat memengaruhi hubungan antar-saudara dan perkembangan emosional anak.
Lalu, mengapa seorang anak bisa menjadi “kesayangan” orang tua sementara anak lainnya tidak?
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), terdapat tujuh kemungkinan yang dapat dijelaskan dari perspektif psikologi.
1. Kepribadian Anak Lebih Cocok dengan Kepribadian Orang Tua
Salah satu alasan yang paling sering terjadi adalah kecocokan kepribadian.
Orang tua juga manusia. Mereka mempunyai karakter, kebiasaan, nilai, dan cara berkomunikasi tertentu. Karena itu, mereka bisa merasa lebih mudah memahami anak yang memiliki karakter mirip dengan dirinya.
Misalnya, seorang ayah memiliki sifat tenang, teratur, dan menyukai rutinitas. Salah satu anaknya juga memiliki sifat serupa: rajin, tidak banyak membantah, dan senang mengikuti aturan.
Tanpa disadari, ayah tersebut mungkin merasa lebih nyaman berinteraksi dengan anak itu.
Sebaliknya, anak lainnya mungkin lebih spontan, keras kepala, kritis, atau sangat mandiri. Perbedaan tersebut dapat membuat hubungan mereka lebih sering diwarnai konflik.
Bukan berarti orang tua secara sadar berkata, “Saya tidak suka anak ini.”
Sering kali prosesnya jauh lebih halus.
Anak yang kepribadiannya lebih cocok dengan orang tua terasa lebih “mudah dipahami”. Percakapan mengalir lebih lancar, konflik lebih sedikit, dan orang tua merasa lebih dihargai.
Sementara anak dengan karakter yang berbeda mungkin dianggap sulit, keras kepala, atau tidak menurut.
Dalam jangka panjang, anak yang lebih cocok dengan orang tua bisa mendapatkan lebih banyak interaksi positif.
Dari sinilah muncul sebuah siklus:
lebih cocok → lebih nyaman berinteraksi → lebih banyak interaksi positif → hubungan semakin dekat → anak semakin dianggap istimewa.
Sementara anak yang sering mengalami konflik dapat mengalami siklus sebaliknya:
lebih sering berbeda pendapat → hubungan terasa melelahkan → interaksi menjadi negatif → jarak emosional semakin besar.
Yang perlu dipahami adalah bahwa perbedaan ini tidak otomatis menunjukkan bahwa orang tua mencintai salah satu anak dan membenci anak lainnya.
Kadang-kadang, orang tua hanya merasa lebih mudah berhubungan dengan anak tertentu.
2. Anak Tersebut Memenuhi Harapan dan Nilai yang Dianggap Penting oleh Orang Tua
Setiap orang tua memiliki harapan terhadap anaknya.
Ada orang tua yang sangat menghargai prestasi akademik. Ada yang mengutamakan sopan santun. Ada yang bangga ketika anaknya memiliki karier yang dianggap bergengsi. Ada pula yang sangat menghargai anak yang patuh, bertanggung jawab, atau mampu membantu keluarga.
Ketika seorang anak memenuhi standar tersebut, orang tua dapat memberikan lebih banyak pujian dan penghargaan.
Contohnya, seorang ibu sangat menghargai pendidikan.
Anak pertama mendapatkan nilai tinggi, masuk universitas yang dianggap bagus, dan mengikuti nasihat ibunya.
Anak kedua memiliki kemampuan berbeda. Ia mungkin lebih berbakat dalam seni, bisnis, olahraga, atau bidang lain, tetapi prestasinya tidak sesuai dengan definisi kesuksesan yang digunakan ibunya.
Akibatnya, anak pertama mungkin lebih sering dipuji.
“Lihat kakakmu. Dia rajin.”
“Kalau kamu seperti kakakmu, Mama pasti bangga.”
Kalimat seperti ini tampak sederhana, tetapi jika terus diulang, anak dapat menangkap pesan yang lebih dalam:
“Saya disayangi ketika saya memenuhi standar orang tua.”
Dalam psikologi, kebutuhan akan penerimaan dari orang tua sangat kuat pada masa kanak-kanak. Anak biasanya belajar memahami dirinya melalui respons orang-orang terdekatnya.
Jika seorang anak terus-menerus mendapatkan respons positif ketika berprestasi, ia dapat menghubungkan pencapaian dengan penerimaan.
Sebaliknya, anak yang merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi dapat mulai melihat saudaranya sebagai “anak yang benar” dan dirinya sebagai “anak yang mengecewakan”.
Padahal, bisa jadi masalahnya bukan kemampuan anak, melainkan perbedaan definisi kesuksesan antara anak dan orang tua.
3. Anak yang Lebih Patuh Sering Terlihat Lebih “Mudah Disayangi”
Dalam keluarga, anak yang patuh sering mendapatkan respons positif.
Ia tidak banyak membantah.
Ia mengikuti aturan.
Ia melakukan apa yang diminta.
Ia jarang menimbulkan masalah.
Bagi orang tua yang kelelahan mengurus keluarga, karakter seperti ini tentu terasa menyenangkan.
Sebaliknya, anak yang banyak bertanya, mempertanyakan aturan, atau menolak sesuatu yang dianggap tidak masuk akal dapat dianggap lebih sulit.
Masalahnya, anak yang kritis belum tentu anak yang buruk.
Seorang anak mungkin menolak perintah bukan karena tidak menghormati orang tua, tetapi karena ia memiliki kebutuhan akan otonomi yang lebih besar.
Misalnya, ketika orang tua mengatakan:
“Kamu harus mengambil jurusan ini.”
Anak pertama mungkin menjawab:
“Baik.”
Anak kedua mungkin bertanya:
“Kenapa saya harus mengambil jurusan itu? Saya sebenarnya lebih tertarik dengan bidang lain.”
Orang tua dapat melihat anak pertama sebagai anak yang patuh dan anak kedua sebagai pembangkang.
Padahal, dari perspektif perkembangan psikologis, kemampuan anak untuk membangun pendapat sendiri juga merupakan bagian dari proses menuju kemandirian.
Jika orang tua lebih menghargai kepatuhan daripada komunikasi, anak yang patuh dapat memperoleh lebih banyak kasih sayang yang terlihat.
Ia lebih sering dipercaya.
Lebih sering dibela.
Lebih jarang dimarahi.
Sementara anak yang lebih vokal bisa mendapatkan label seperti “keras kepala”, “susah diatur”, atau “tidak tahu diri”.
Label tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seluruh keluarga memperlakukannya.
4. Orang Tua Memiliki Ikatan Emosional yang Berbeda dengan Setiap Anak
Ada hal yang sering tidak disadari orang tua: hubungan emosional mereka dengan setiap anak tidak selalu terasa sama.
Seorang ibu mungkin memiliki hubungan sangat dekat dengan anak perempuannya karena mereka sering berbicara tentang perasaan.
Seorang ayah mungkin lebih dekat dengan anak laki-lakinya karena mereka memiliki hobi yang sama.
Ada juga orang tua yang merasa sangat dekat dengan anak yang lahir pada periode tertentu dalam hidupnya.
Misalnya, anak pertama lahir ketika orang tua masih muda dan sedang membangun kehidupan bersama. Banyak pengalaman penting terjadi bersama anak tersebut.
Sementara anak kedua lahir ketika kondisi keluarga sudah berubah.
Bukan berarti anak kedua kurang dicintai.
Namun, konteks emosional ketika anak hadir ke dunia bisa memengaruhi hubungan orang tua-anak.
Dalam beberapa kasus, orang tua juga dapat merasa lebih terhubung dengan anak yang memiliki kesamaan pengalaman, minat, atau cara berpikir.
Misalnya:
Ayah suka sepak bola, anak pertama juga suka sepak bola.
Mereka menonton pertandingan bersama.
Mereka berdiskusi.
Mereka memiliki aktivitas yang menjadi “bahasa bersama”.
Kedekatan kemudian tumbuh secara alami.
Anak lain yang tidak tertarik dengan sepak bola mungkin tidak mendapatkan jumlah interaksi yang sama.
Akibatnya, dari luar terlihat seperti ayah lebih menyayangi anak pertama.
Padahal, yang terjadi mungkin adalah perbedaan kesempatan untuk membangun kedekatan emosional.
5. Urutan Kelahiran dan Peran yang Terbentuk dalam Keluarga
Urutan kelahiran tidak secara otomatis menentukan kepribadian atau siapa yang paling disayang. Namun, posisi seorang anak dalam keluarga dapat memengaruhi peran yang kemudian terbentuk.
Anak pertama sering mendapatkan pengalaman sebagai “anak yang pertama kali”.
Orang tua belajar menjadi orang tua melalui dirinya.
Karena itu, hubungan antara orang tua dan anak pertama dapat memiliki sejarah emosional yang panjang.
Sementara anak kedua atau ketiga mungkin tumbuh dalam kondisi yang berbeda.
Dalam keluarga tertentu, anak pertama dianggap sebagai:
“Yang paling bisa diandalkan.”
Anak kedua mungkin dianggap:
“Yang paling manja.”
Anak ketiga:
“Yang paling lucu.”
Lama-kelamaan, label tersebut dapat menjadi identitas keluarga.
Masalah muncul ketika label berubah menjadi perlakuan yang tidak seimbang.
Misalnya:
“Kakak memang paling bertanggung jawab.”
“Adik memang masih kecil.”
“Dia memang dari dulu susah diatur.”
Jika terus diulang, setiap anggota keluarga dapat mulai memainkan perannya masing-masing.
Anak yang disebut bertanggung jawab akhirnya merasa harus selalu kuat.
Anak yang dianggap nakal mungkin merasa percuma mencoba menjadi baik karena keluarga sudah memiliki pandangan tertentu tentang dirinya.
Dalam psikologi keluarga, pola seperti ini dapat menjadi sangat kuat karena keluarga membangun semacam “aturan tidak tertulis” mengenai siapa setiap anak dan bagaimana ia seharusnya bertindak.
6. Orang Tua Bisa Memproyeksikan Dirinya Sendiri kepada Anak
Ini adalah salah satu alasan yang lebih kompleks.
Kadang-kadang orang tua memiliki hubungan emosional tertentu dengan anak karena melihat bagian dirinya sendiri pada anak tersebut.
Seorang ayah mungkin melihat dirinya ketika masih muda dalam diri anak laki-lakinya.
Seorang ibu mungkin merasa anak perempuannya memiliki pengalaman yang mirip dengan pengalaman hidupnya.
Kemiripan ini dapat menghasilkan rasa kedekatan yang sangat kuat.
Namun, ada sisi lainnya.
Jika seorang anak mengingatkan orang tua pada seseorang atau pengalaman yang tidak menyenangkan, orang tua mungkin secara tidak sadar menjadi lebih sensitif terhadap anak tersebut.
Contohnya, seorang ayah yang dulu memiliki hubungan sulit dengan orang tuanya mungkin sangat mudah tersulut ketika anaknya menunjukkan perilaku yang dianggap “tidak menghormati”.
Padahal, reaksi tersebut mungkin lebih besar daripada situasinya sendiri.
Anak kemudian merasa:
“Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, tetapi Ayah selalu marah kepada saya.”
Inilah salah satu alasan mengapa perlakuan orang tua kadang tidak sepenuhnya didasarkan pada perilaku anak saat ini.
Masa lalu orang tua dapat ikut masuk ke dalam hubungan dengan anak.
Orang tua membawa pengalaman masa kecil, luka emosional, keyakinan, ketakutan, dan harapan ke dalam cara mereka membesarkan anak.
Jika tidak disadari, hal tersebut dapat menghasilkan perlakuan yang berbeda kepada anak-anak.
7. Anak yang Menjadi “Kesayangan” Sering Kali Bukan Karena Lebih Dicintai, tetapi Karena Hubungan Mereka Lebih Mudah Memberikan Kepuasan Emosional
Ini mungkin alasan yang paling penting.
Orang tua bisa saja mencintai semua anaknya, tetapi tidak merasakan kedekatan emosional yang sama dengan semuanya.
Kasih sayang dan kedekatan bukanlah hal yang selalu identik.
Orang tua mungkin rela berkorban untuk semua anaknya.
Namun, mereka mungkin lebih sering menelepon satu anak.
Lebih nyaman bercerita kepada satu anak.
Lebih sering membela satu anak.
Lebih senang menghabiskan waktu dengan satu anak.
Mengapa?
Karena hubungan tersebut memberikan pengalaman emosional yang lebih menyenangkan.
Misalnya, anak tertentu membuat orang tua merasa dihargai.
Anak tersebut sering mengatakan:
“Terima kasih, Bu.”
“Kamu hebat, Yah.”
“Aku bangga sama Ayah.”
Respons semacam itu dapat membuat orang tua merasa hubungan mereka berhasil.
Sementara anak lainnya mungkin lebih tertutup.
Bukan berarti tidak mencintai orang tua, tetapi ia tidak terbiasa mengekspresikan kasih sayang secara verbal.
Akibatnya, orang tua bisa merasa lebih dekat dengan anak pertama.
Ini kemudian menciptakan sebuah lingkaran:
Orang tua merasa lebih dekat → lebih sering memberikan perhatian → anak merasa lebih dekat → hubungan semakin hangat.
Sebaliknya:
Orang tua merasa anak menjauh → orang tua mengurangi interaksi → anak merasa tidak disayangi → anak semakin menjauh.
Ironisnya, kedua pihak akhirnya merasa bahwa pihak lainlah yang memulai jarak tersebut.
Ketika “Anak Kesayangan” Menjadi Masalah
Memiliki hubungan yang sedikit berbeda dengan masing-masing anak sebenarnya merupakan hal yang manusiawi.
Tidak semua hubungan harus identik.
Masalah muncul ketika perbedaan tersebut berubah menjadi ketidakadilan yang konsisten.
Misalnya:
satu anak selalu dibela meskipun jelas melakukan kesalahan;
satu anak mendapatkan kebebasan lebih besar tanpa alasan yang jelas;
orang tua terus membandingkan saudara;
satu anak selalu dianggap pintar sementara anak lain dianggap bodoh;
prestasi anak tertentu selalu dibanggakan sementara prestasi anak lain diabaikan;
kebutuhan emosional salah satu anak dianggap tidak penting;
orang tua menggunakan satu anak untuk merendahkan anak lainnya.
Perlakuan seperti itu dapat meninggalkan luka psikologis.
Anak yang merasa tidak menjadi pilihan orang tua mungkin mulai mempertanyakan nilai dirinya.
Ia dapat berpikir:
“Kenapa saya tidak pernah cukup?”
“Kenapa apa pun yang saya lakukan selalu salah?”
“Kenapa kakak selalu lebih baik?”
“Apakah orang tua saya sebenarnya tidak menginginkan saya?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat terbawa sampai dewasa.
Dampaknya terhadap Anak yang Merasa Tidak Disayangi
Perbedaan perlakuan orang tua dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya.
Salah satu dampaknya adalah rendahnya harga diri.
Anak mungkin belajar bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil mendapatkan perhatian orang tua.
Sebagian anak kemudian menjadi sangat perfeksionis.
Mereka terus berusaha menjadi yang terbaik agar akhirnya mendapatkan pengakuan.
Sebagian lainnya justru melakukan kebalikannya.
Mereka berhenti berusaha karena merasa:
“Untuk apa saya mencoba? Mereka tetap akan memilih kakak.”
Kedua respons tersebut sebenarnya dapat berasal dari luka yang sama.
Ada juga anak yang menjadi sangat mandiri secara emosional.
Dari luar ia terlihat kuat.
Ia tidak meminta bantuan.
Ia tidak bercerita kepada orang tua.
Ia tidak berharap apa-apa.
Tetapi di balik itu mungkin terdapat keyakinan:
“Saya sudah tahu bahwa saya tidak bisa mengandalkan mereka.”
Pada masa dewasa, pengalaman tersebut dapat memengaruhi hubungan romantis, persahabatan, dan cara seseorang menerima kasih sayang.
Dampaknya terhadap Hubungan Antar-Saudara
Anak yang menjadi favorit juga belum tentu selalu menjadi “pemenang”.
Ia dapat merasakan tekanan tersendiri.
Misalnya, ia merasa harus terus mempertahankan posisi sebagai anak yang paling sukses.
Ia mungkin takut mengecewakan orang tua.
Sementara saudara yang merasa dianaktirikan dapat menyimpan kemarahan kepada saudaranya.
Padahal, sering kali saudara tersebut bukan penyebab masalah.
Anak yang mendapatkan lebih banyak perhatian juga mungkin merasa bersalah:
“Kenapa orang tua lebih baik kepada saya?”
Akhirnya, hubungan antar-saudara menjadi penuh persaingan.
Padahal, sumber masalah sebenarnya adalah pola hubungan dalam keluarga.
Inilah mengapa membandingkan anak-anak dapat menjadi sangat berbahaya.
Ketika orang tua mengatakan:
“Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?”
Mereka mungkin bermaksud memotivasi.
Namun, anak bisa mendengarnya sebagai:
“Kakak lebih berharga daripada saya.”
Apakah Orang Tua Harus Memperlakukan Semua Anak Secara Persis Sama?
Tidak selalu.
Keadilan dalam keluarga bukan berarti setiap anak harus mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang persis sama.
Anak berusia lima tahun tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan anak berusia lima belas tahun.
Anak yang sedang mengalami masalah tertentu mungkin membutuhkan perhatian lebih.
Yang lebih penting adalah setiap anak merasa dicintai, dihargai, didengar, dan memiliki tempat yang aman dalam keluarga.
Orang tua dapat memberikan perlakuan berbeda berdasarkan kebutuhan tanpa membuat anak merasa nilainya berbeda.
Contohnya:
“Adik mendapatkan lebih banyak bantuan karena masih kecil.”
berbeda dengan:
“Adik memang lebih penting daripada kamu.”
Perbedaannya sangat besar.
Yang pertama adalah perbedaan berdasarkan kebutuhan.
Yang kedua adalah hierarki nilai.
Jika Anda Merasa Bukan Anak Kesayangan
Jika seseorang merasa orang tuanya lebih menyayangi saudaranya, perasaan tersebut tidak seharusnya langsung dianggap sebagai kecemburuan atau ketidakdewasaan.
Perasaan itu mungkin muncul karena pengalaman yang nyata.
Namun, penting juga untuk membedakan antara:
“Orang tua saya memperlakukan kami berbeda.”
dan
“Orang tua saya tidak mencintai saya.”
Keduanya tidak selalu berarti sama.
Orang tua bisa melakukan kesalahan dalam menunjukkan kasih sayang tanpa berarti tidak memiliki kasih sayang.
Jika memungkinkan, seseorang dapat mencoba memahami pola tersebut secara lebih objektif.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Dalam situasi apa orang tua lebih memperhatikan saudara saya?
Apakah perlakuan tersebut selalu terjadi atau hanya dalam kondisi tertentu?
Apakah kebutuhan saya memang berbeda dengan kebutuhan saudara?
Apakah saya pernah mengomunikasikan perasaan saya?
Apakah saya sedang membandingkan seluruh hubungan saya dengan saudara berdasarkan beberapa kejadian tertentu?
Pertanyaan seperti ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri.
Tujuannya adalah memahami situasi dengan lebih jernih.
Kesimpulan
Dalam psikologi, fenomena seorang anak menjadi “kesayangan” orang tua dapat muncul dari berbagai faktor.
Tujuh di antaranya adalah:
Kecocokan kepribadian antara anak dan orang tua.
Kemampuan anak memenuhi harapan dan nilai yang dianggap penting oleh orang tua.
Tingkat kepatuhan dan kemudahan dalam berinteraksi.
Perbedaan ikatan emosional yang terbentuk dengan masing-masing anak.
Urutan kelahiran dan peran yang terbentuk dalam keluarga.
Proyeksi pengalaman dan masa lalu orang tua kepada anak.
Hubungan tertentu yang memberikan kepuasan emosional lebih besar kepada orang tua.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diingat:
Menjadi anak yang paling disukai dalam situasi tertentu tidak selalu berarti menjadi anak yang paling dicintai.
Kasih sayang orang tua dapat hadir dalam bentuk yang tidak selalu sehat, tidak selalu adil, dan tidak selalu mudah dirasakan oleh setiap anak.
Yang menjadi masalah bukan semata-mata bahwa orang tua memiliki hubungan yang berbeda dengan setiap anak. Masalah muncul ketika perbedaan tersebut membuat seorang anak secara terus-menerus merasa lebih rendah, tidak diinginkan, atau harus bersaing dengan saudaranya untuk mendapatkan kasih sayang.
Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mencintainya.
Anak membutuhkan orang tua yang mampu membuatnya merasa dicintai.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022