seseorang yang membantu pasangan mengembangkan rasa empati. (Magnific)
Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan empati yang sama. Ada pasangan yang sebenarnya menyayangi kita, tetapi kesulitan memahami perasaan kita. Ada pula yang ketika mendengar keluhan justru langsung memberikan solusi, membela diri, mengubah topik, atau mengatakan bahwa masalah tersebut sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.
Kondisi seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau bahkan tidak dihargai dalam hubungan.
Kabar baiknya, kemampuan empati bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Dalam psikologi, berbagai kemampuan yang berkaitan dengan empati—seperti mengenali emosi, mengambil perspektif orang lain, mendengarkan secara aktif, dan merespons secara tepat—dapat dilatih dan dikembangkan.
Namun, ada satu hal penting: kita dapat membantu pasangan mengembangkan empati, tetapi kita tidak dapat mengembangkan empati untuk mereka. Perubahan tetap membutuhkan kemauan dari pasangan itu sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), terdapat 10 cara yang dapat dilakukan.
1. Berhenti Menuntut Pasangan “Harus Mengerti” dan Mulailah Menjelaskan Perasaan dengan Spesifik
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam hubungan adalah menganggap pasangan seharusnya mengetahui perasaan kita tanpa perlu dijelaskan.
Misalnya:
“Kamu seharusnya tahu kenapa aku kecewa.”
Atau:
“Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti mengerti.”
Pernyataan seperti ini dapat dimengerti ketika seseorang sedang terluka. Namun, dari sudut pandang komunikasi interpersonal, pernyataan tersebut tidak selalu membantu pasangan memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Setiap orang memiliki pengalaman hidup, pola pikir, dan cara memproses emosi yang berbeda. Sesuatu yang dianggap sangat menyakitkan oleh satu orang belum tentu secara otomatis dipahami dengan cara yang sama oleh orang lain.
Karena itu, cobalah menjelaskan emosi secara lebih spesifik.
Misalnya:
“Aku merasa sedih ketika kamu membatalkan rencana kita tanpa memberitahuku lebih awal. Buatku, masalahnya bukan cuma soal rencananya batal. Aku merasa seperti waktuku tidak terlalu dihargai.”
Pernyataan tersebut memberikan pasangan informasi yang jauh lebih jelas.
Ada tiga unsur penting:
Peristiwa → perasaan → makna.
Contohnya:
“Ketika kamu tidak membalas pesan seharian, aku merasa cemas. Aku kemudian merasa seolah-olah aku tidak penting buat kamu.”
Cara seperti ini membantu pasangan memahami bukan hanya apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana kejadian tersebut dipersepsikan secara emosional.
Mengapa ini penting?
Empati membutuhkan informasi. Seseorang tidak selalu dapat mengetahui pengalaman emosional orang lain hanya berdasarkan perilaku yang terlihat.
Dengan menjelaskan perasaan secara spesifik, kita memberikan kesempatan kepada pasangan untuk belajar memahami dunia emosional kita.
2. Ajarkan Pasangan untuk Mendengarkan Tanpa Langsung Memberikan Solusi
Salah satu tanda pasangan kurang terampil dalam empati adalah kecenderungan untuk langsung memberikan solusi.
Misalnya kita berkata:
“Hari ini aku benar-benar stres di kantor.”
Pasangan langsung menjawab:
“Ya sudah, jangan dipikirin.”
Atau:
“Kalau kamu tidak suka pekerjaanmu, cari pekerjaan lain.”
Secara logika, solusi tersebut mungkin masuk akal.
Masalahnya, empati tidak selalu membutuhkan solusi.
Kadang seseorang hanya ingin didengarkan dan dipahami.
Dalam komunikasi yang lebih empatik, pasangan dapat dilatih menggunakan respons seperti:
“Kedengarannya hari ini memang berat buat kamu.”
“Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa kesal.”
“Jadi kamu merasa kecewa karena sudah berusaha keras, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan?”
Respons semacam ini menunjukkan bahwa seseorang berusaha memahami pengalaman emosional pasangannya sebelum memberikan nasihat.
Gunakan aturan sederhana:
Dengarkan → pahami → validasi → baru tanyakan apakah pasangan membutuhkan solusi.
Misalnya:
“Kamu mau aku dengarkan saja atau kamu ingin kita mencari solusi bersama?”
Pertanyaan sederhana ini dapat mengurangi banyak konflik dalam hubungan.
3. Latih Pasangan untuk Mengidentifikasi Emosi
Sebagian orang bukan tidak peduli, tetapi memang kesulitan mengenali emosi—baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain.
Misalnya, pasangan melihat kita diam lalu hanya berkata:
“Kamu kenapa sih?”
Ketika kita menjawab “nggak apa-apa”, ia mungkin tidak tahu bagaimana harus melanjutkan.
Kemampuan memahami emosi dapat dilatih dengan memperkaya kosakata emosi.
Tidak semua emosi hanya berupa:
marah,
sedih,
senang,
takut.
Seseorang dapat merasa:
kecewa,
frustrasi,
malu,
tersinggung,
tidak dihargai,
kesepian,
kewalahan,
khawatir,
bingung,
tidak aman,
ditolak,
tidak dianggap penting.
Semakin banyak seseorang mampu membedakan emosi, semakin mudah ia memahami pengalaman emosional orang lain.
Cobalah dalam percakapan sehari-hari:
“Menurutmu, aku kelihatan sedang marah atau sebenarnya kecewa?”
Atau:
“Kalau kamu ada di posisiku, kira-kira perasaan apa yang mungkin muncul?”
Namun, jangan menjadikan pertanyaan tersebut sebagai ujian.
Tujuannya bukan:
“Ayo tebak perasaanku dengan benar.”
Melainkan:
“Mari kita belajar memahami emosi satu sama lain.”
4. Gunakan Teknik “Coba Lihat dari Sudut Pandangku”
Dalam psikologi, empati berkaitan dengan kemampuan mengambil perspektif orang lain.
Artinya, seseorang mencoba membayangkan:
“Bagaimana situasi ini mungkin terasa jika aku berada di posisi pasangan?”
Ketika terjadi konflik, kita sering terjebak dalam pertanyaan:
“Siapa yang benar?”
Padahal, dalam hubungan romantis, pertanyaan yang lebih produktif sering kali adalah:
“Bagaimana situasi ini terlihat dari sudut pandang pasangan saya?”
Misalnya pasangan marah karena kita terlambat.
Kita mungkin berpikir:
“Aku cuma terlambat 30 menit. Kenapa reaksinya sebesar itu?”
Daripada berhenti pada perspektif sendiri, coba tanyakan:
“Kalau aku sudah menunggu selama 30 menit tanpa kabar, kira-kira aku akan merasa bagaimana?”
Mungkin jawabannya:
khawatir,
tidak dihargai,
kesal,
kecewa,
merasa tidak diprioritaskan.
Dengan demikian, fokus berpindah dari “reaksinya berlebihan” menjadi “aku mulai memahami mengapa situasi ini terasa menyakitkan baginya.”
5. Berikan Contoh Empati dalam Perilaku Sehari-hari
Salah satu cara terbaik membantu seseorang belajar empati adalah melalui contoh nyata.
Daripada terus berkata:
“Kamu kurang empati.”
Lebih efektif menunjukkan seperti apa perilaku empatik.
Misalnya ketika pasangan mengalami hari yang buruk:
“Aku lihat kamu kelihatan capek. Kamu mau cerita atau ingin istirahat dulu?”
Ketika pasangan melakukan kesalahan:
“Aku tahu kamu tidak bermaksud membuat masalah. Tapi aku ingin kita membicarakan bagaimana supaya hal ini tidak terjadi lagi.”
Ketika pasangan sedang marah:
“Aku tahu kamu sedang kesal. Aku ingin memahami apa yang membuat kamu merasa seperti itu.”
Respons tersebut memberikan model komunikasi yang bisa ditiru.
Dalam hubungan, kita sering belajar bukan hanya dari nasihat pasangan, tetapi juga dari pola interaksi yang berulang.
Jika seseorang terus-menerus mengalami komunikasi yang penuh validasi dan rasa ingin tahu, ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar bagaimana memberikan hal yang sama.
6. Hindari Menggunakan Rasa Bersalah sebagai Cara Mengajarkan Empati
Ketika merasa tidak dipahami, seseorang mungkin tergoda mengatakan:
“Kamu memang egois.”
“Kamu tidak pernah peduli sama aku.”
“Kamu tidak punya empati sama sekali.”
Masalahnya, label seperti ini sering membuat pasangan masuk ke mode defensif.
Ketika seseorang merasa diserang, fokusnya dapat berpindah dari:
“Aku ingin memahami perasaan pasanganku.”
menjadi:
“Aku harus membela diri.”
Akibatnya, komunikasi justru semakin sulit.
Cobalah mengganti label dengan deskripsi perilaku.
Daripada:
“Kamu egois.”
Coba:
“Ketika aku sedang cerita tentang masalahku lalu kamu langsung membicarakan masalahmu sendiri, aku merasa tidak didengarkan.”
Daripada:
“Kamu tidak punya empati.”
Coba:
“Aku ingin ketika aku sedang sedih, kamu mencoba memahami perasaanku dulu sebelum memberikan solusi.”
Perbedaan ini tampak kecil, tetapi dampaknya terhadap komunikasi bisa besar.
Kritik terhadap karakter cenderung menyerang identitas seseorang.
Sementara kritik terhadap perilaku memberi ruang bagi perubahan.
7. Ajarkan Konsep Validasi Emosional
Validasi sering disalahartikan sebagai persetujuan.
Padahal keduanya berbeda.
Memvalidasi perasaan seseorang tidak berarti mengatakan bahwa semua tindakannya benar.
Misalnya pasangan marah karena kita lupa ulang tahun hubungan.
Kita dapat mengatakan:
“Aku bisa memahami kenapa kamu kecewa. Kalau aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan merasa tidak dihargai.”
Kalimat tersebut tidak berarti:
“Aku selalu salah dan kamu selalu benar.”
Validasi hanya mengakui bahwa perasaan pasangan memiliki alasan dan dapat dipahami dari sudut pandangnya.
Dalam hubungan, kalimat validasi yang sederhana dapat sangat membantu:
“Aku mengerti kenapa kamu merasa begitu.”
“Wajar kalau situasi itu membuatmu kecewa.”
“Aku mungkin melihat situasinya berbeda, tapi aku ingin memahami bagaimana kamu mengalaminya.”
“Aku tidak bermaksud menyakitimu, tetapi aku mengerti bahwa tindakanku membuatmu terluka.”
Kemampuan mengatakan hal-hal seperti ini merupakan bagian penting dari komunikasi emosional yang sehat.
8. Pilih Waktu yang Tepat untuk Membicarakan Kurangnya Empati
Pembicaraan mengenai empati sebaiknya tidak dilakukan ketika kedua orang sedang berada di puncak emosi.
Bayangkan pasangan baru saja marah dan kita berkata:
“Nah, ini masalah kamu. Kamu memang tidak punya empati.”
Kemungkinan besar percakapan tidak akan menghasilkan perubahan positif.
Ketika seseorang sedang sangat marah, takut, atau tertekan, kemampuan untuk memproses informasi secara tenang dapat menurun.
Karena itu, pilih waktu ketika kondisi relatif stabil.
Misalnya:
“Aku ingin membicarakan sesuatu tentang cara kita berkomunikasi. Bukan untuk menyalahkan kamu. Aku ingin kita sama-sama lebih baik dalam memahami satu sama lain. Kapan kamu merasa nyaman membicarakannya?”
Cara tersebut menciptakan konteks yang lebih aman.
Percakapan tentang hubungan sebaiknya diposisikan sebagai:
“Kita menghadapi masalah bersama.”
bukan:
“Aku sedang memperbaiki kamu.”
Perbedaan perspektif ini sangat penting.
9. Berikan Penguatan ketika Pasangan Mulai Menunjukkan Empati
Jika pasangan mulai melakukan perubahan, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang otomatis dan tidak perlu dihargai.
Misalnya sebelumnya pasangan selalu langsung memberikan solusi, kemudian suatu hari ia berkata:
“Kamu ingin aku dengarkan dulu atau kita cari solusi?”
Itu adalah kemajuan.
Kita dapat memberikan respons:
“Aku suka ketika kamu bertanya seperti itu. Aku merasa lebih didengarkan.”
Penguatan positif seperti ini membantu pasangan mengetahui perilaku apa yang memberikan dampak positif dalam hubungan.
Bukan berarti kita harus memuji pasangan secara berlebihan setiap kali ia melakukan sesuatu yang seharusnya memang dilakukan.
Namun, ketika seseorang sedang belajar keterampilan baru, umpan balik yang jelas sangat membantu.
Misalnya:
“Tadi ketika kamu mengulang apa yang aku ceritakan untuk memastikan kamu paham, aku merasa benar-benar diperhatikan.”
Pasangan akhirnya mengetahui:
“Oh, ternyata cara seperti ini membuat dia merasa dipahami.”
Dari sana, perilaku empatik dapat menjadi kebiasaan.
10. Pahami Batas antara “Kurang Terampil Berempati” dan “Tidak Mau Berempati”
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Tidak semua pasangan yang kurang empatik berarti tidak mencintai pasangannya.
Ada orang yang memang tidak pernah belajar komunikasi emosional.
Ada yang tumbuh dalam keluarga yang tidak terbiasa membicarakan perasaan.
Ada yang terbiasa menyelesaikan masalah secara praktis.
Ada yang merasa tidak nyaman menghadapi emosi.
Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami perspektif orang lain.
Dalam situasi seperti ini, latihan dan komunikasi dapat membantu.
Namun, ada perbedaan besar antara:
“Aku belum tahu bagaimana cara berempati.”
dan:
“Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu.”
Jika seseorang sudah berkali-kali diajak berkomunikasi dengan baik, sudah dijelaskan kebutuhan emosionalnya, tetapi terus-menerus meremehkan perasaan pasangan, menolak bertanggung jawab, sengaja menyakiti, atau menggunakan kelemahan emosional pasangan untuk mengontrolnya, masalahnya mungkin bukan sekadar kurangnya keterampilan empati.
Dalam kondisi tersebut, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:
“Bagaimana membuat pasangan lebih empatik?”
tetapi juga:
“Apakah pasangan saya bersedia membangun hubungan yang lebih sehat bersama saya?”
Empati membutuhkan kemauan, bukan hanya kemampuan.
Empati Bukan Berarti Selalu Setuju
Ada satu kesalahpahaman penting mengenai empati.
Menjadi empatik bukan berarti kita harus menyetujui semua pendapat pasangan.
Contohnya:
“Aku memahami kenapa kamu marah.”
tidak sama dengan:
“Karena kamu marah, berarti semua tindakanmu benar.”
Kita dapat memahami perasaan seseorang sekaligus tidak menyetujui perilakunya.
Misalnya:
“Aku mengerti kamu sangat kecewa karena aku terlambat. Perasaanmu masuk akal. Tetapi membentak dan menghina aku tetap bukan cara yang bisa kita terima dalam hubungan.”
Ini merupakan bentuk empati yang tetap memiliki batas.
Hubungan yang sehat membutuhkan keduanya:
pemahaman emosional + batas yang sehat.
Bagaimana Jika Pasangan Sama Sekali Tidak Mau Berubah?
Ini merupakan situasi yang jauh lebih sulit.
Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk memiliki keinginan memahami orang lain.
Kita dapat:
menjelaskan kebutuhan kita,
memberikan contoh,
mengajarkan cara berkomunikasi,
memberikan kesempatan,
memberikan umpan balik,
dan menetapkan batas.
Tetapi keputusan untuk berubah tetap berada pada pasangan.
Karena itu, perhatikan konsistensi perilaku, bukan hanya janji.
Pasangan mungkin berkata:
“Aku akan berubah.”
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah dalam beberapa minggu atau bulan berikutnya terdapat perubahan nyata dalam cara ia mendengarkan, merespons, meminta maaf, dan mempertimbangkan perasaan pasangannya?
Perubahan yang sehat biasanya tidak selalu dramatis. Kadang justru terlihat dari hal-hal kecil:
mulai bertanya sebelum memberikan solusi,
tidak langsung defensif,
mau mendengarkan sampai selesai,
mampu mengakui kesalahan,
mulai mengenali perasaan pasangan,
mau meminta maaf,
dan berusaha memperbaiki perilaku.
Kapan Konseling Pasangan Bisa Dipertimbangkan?
Jika masalah empati sudah menjadi sumber konflik yang berulang, konseling pasangan dapat menjadi pilihan.
Terutama jika pola yang terjadi selalu sama:
masalah → salah paham → pertengkaran → defensif → meminta maaf → masalah yang sama terulang.
Dalam kondisi seperti ini, pihak ketiga yang profesional dapat membantu pasangan melihat pola komunikasi yang mungkin sulit mereka lihat sendiri.
Konseling juga bukan berarti hubungan tersebut pasti bermasalah berat.
Justru, pasangan dapat menggunakan konseling sebagai tempat untuk belajar:
komunikasi yang lebih efektif,
mendengarkan secara aktif,
regulasi emosi,
validasi,
penyelesaian konflik,
pengambilan perspektif,
dan membangun rasa aman emosional.
Kesimpulan
Membantu pasangan mengembangkan empati bukanlah proses membuat pasangan selalu memahami kita.
Tujuannya adalah membangun hubungan di mana kedua orang belajar mengatakan:
“Aku mungkin tidak mengalami sesuatu dengan cara yang sama seperti kamu, tetapi aku mau berusaha memahami bagaimana rasanya menjadi kamu.”
Sepuluh langkah yang dapat dilakukan adalah:
Jelaskan perasaan secara spesifik.
Latih pasangan mendengarkan sebelum memberikan solusi.
Perkaya kemampuan mengenali dan menyebutkan emosi.
Latih pengambilan perspektif.
Berikan contoh perilaku empatik.
Hindari label dan rasa bersalah sebagai alat komunikasi.
Gunakan validasi emosional.
Pilih waktu yang tepat untuk membicarakan masalah.
Berikan umpan balik ketika pasangan menunjukkan kemajuan.
Bedakan antara pasangan yang belum mampu berempati dan pasangan yang tidak mau berempati.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa kesalahpahaman. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang bersedia memperbaiki cara mereka memahami satu sama lain.
Empati pun bukan sesuatu yang harus sempurna. Ia lebih mirip sebuah keterampilan yang terus dilatih melalui percakapan, pengalaman, kesediaan mendengarkan, dan keberanian untuk melihat dunia dari perspektif orang yang kita cintai.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022