Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 12.56 WIB

6 Cara Melindungi Anak dari Efek “Romeo dan Juliet” Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang melindungi anaknya dari romeo dan juliet. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ketika anak mulai memasuki masa remaja, ketertarikan terhadap lawan jenis atau mulai memiliki hubungan romantis merupakan bagian yang cukup wajar dari perkembangan mereka. Namun, bagi sebagian orang tua, fase ini bisa menimbulkan kekhawatiran.


Kekhawatiran tersebut terkadang membuat orang tua mengambil langkah yang sangat tegas: melarang anak berpacaran, menyita ponsel, membatasi pertemanan, atau bahkan meminta anak memutuskan hubungan dengan orang yang disukainya.

Niatnya tentu baik. Orang tua ingin melindungi anak dari hubungan yang dianggap belum sesuai usia, pergaulan yang berisiko, patah hati, maupun berbagai konsekuensi lain yang mungkin muncul.

Namun, ada sebuah fenomena psikologis yang perlu dipahami orang tua ketika melakukan pelarangan secara keras. Fenomena ini sering dikenal sebagai “Romeo and Juliet effect” atau efek Romeo dan Juliet.

Istilah tersebut merujuk pada gagasan bahwa hambatan atau larangan dari pihak luar terhadap sebuah hubungan romantis dapat, dalam kondisi tertentu, justru membuat ketertarikan seseorang terhadap pasangannya semakin kuat.

Nama ini terinspirasi dari kisah Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Hubungan kedua tokoh tersebut mendapatkan tentangan dari keluarga masing-masing. Konflik dan larangan justru menjadi bagian yang membuat hubungan mereka terasa semakin intens.

Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan beberapa konsep, salah satunya adalah reactance, yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan kebebasan ketika merasa kebebasannya sedang dibatasi atau diambil.

Bagi orang tua, memahami fenomena ini bukan berarti harus membiarkan anak melakukan apa saja. Sebaliknya, pemahaman tersebut dapat membantu orang tua memilih cara yang lebih efektif untuk memberikan perlindungan.

Lalu, bagaimana cara melindungi anak tanpa membuat hubungan yang dilarang justru terasa semakin menarik?

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), terdapat enam pendekatan yang dapat diterapkan.

1. Hindari Larangan yang Terlalu Keras Tanpa Penjelasan

Salah satu respons spontan orang tua ketika mengetahui anak mulai dekat dengan seseorang adalah mengatakan:

“Kamu tidak boleh pacaran!”

atau:

“Mulai sekarang jangan berhubungan lagi dengan dia!”

Dalam situasi tertentu, larangan memang diperlukan. Misalnya ketika terdapat risiko kekerasan, eksploitasi, manipulasi, atau ketimpangan usia yang membahayakan anak.

Namun, untuk situasi yang tidak menunjukkan bahaya langsung, larangan total tanpa komunikasi dapat menimbulkan masalah lain.

Remaja sedang berada dalam fase perkembangan ketika kebutuhan untuk memiliki otonomi semakin besar. Mereka mulai ingin membuat keputusan sendiri, menentukan siapa teman mereka, memilih aktivitas, dan membangun identitas pribadi.

Ketika orang tua hanya mengatakan “tidak boleh” tanpa menjelaskan alasannya, anak bisa menangkap pesan yang berbeda:

“Orang tua ingin mengendalikan hidup saya.”

Di sinilah konsep psychological reactance dapat muncul.

Ketika seseorang merasa kebebasannya terancam, ia dapat terdorong untuk melakukan sesuatu yang justru dilarang. Bukan selalu karena tindakan tersebut benar-benar diinginkan, tetapi karena tindakan itu menjadi simbol kebebasan.

Dalam konteks hubungan romantis, kondisi ini dapat membuat sosok yang dilarang terasa semakin spesial.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Alih-alih hanya mengatakan “jangan”, orang tua dapat menjelaskan alasan kekhawatiran mereka.

Misalnya:

“Ayah dan Ibu tidak ingin mengatur perasaan kamu. Kami khawatir karena menurut kami hubungan ini membuat kamu mulai mengabaikan sekolah dan sering pulang terlalu malam. Kita perlu mencari batas yang lebih aman.”

Kalimat seperti ini mengubah percakapan dari perintah versus pembangkangan menjadi masalah versus solusi.

Anak tetap memiliki ruang untuk didengarkan, sementara orang tua tetap dapat menetapkan batas.

2. Bedakan Antara Perasaan Anak dan Perilakunya

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mencoba melarang anak memiliki perasaan.

Misalnya:

“Jangan suka sama dia.”

Masalahnya, perasaan tidak bekerja seperti tombol yang dapat dinyalakan dan dimatikan berdasarkan perintah.

Anak mungkin tidak dapat memilih siapa yang membuatnya tertarik. Namun, ia tetap dapat belajar mengelola tindakan yang muncul dari perasaan tersebut.

Ini adalah perbedaan yang sangat penting dalam pengasuhan.

Orang tua dapat mengatakan:

“Kamu boleh punya perasaan suka kepada seseorang. Ibu tidak akan memarahi kamu karena itu. Tapi kita tetap perlu membicarakan bagaimana kamu bersikap supaya hubungan tersebut tidak merugikan kamu.”

Pesan tersebut memberikan dua hal sekaligus: validasi emosi dan batas perilaku.

Anak belajar bahwa memiliki perasaan bukan sesuatu yang memalukan, tetapi setiap perasaan tetap perlu dikelola secara bertanggung jawab.

Pendekatan seperti ini juga membantu orang tua mendapatkan informasi lebih banyak.

Jika anak takut dimarahi setiap kali berbicara tentang hubungan romantis, ia mungkin memilih menyembunyikannya.

Sebaliknya, jika anak merasa aman untuk bercerita, orang tua memiliki kesempatan lebih besar untuk mengetahui apakah hubungan tersebut sehat atau justru mengandung tanda bahaya.

3. Bangun Komunikasi yang Membuat Anak Tidak Perlu Menyembunyikan Hubungan

Salah satu risiko terbesar dari pelarangan ekstrem adalah munculnya hubungan yang berlangsung secara sembunyi-sembunyi.

Anak mungkin mulai:

menggunakan akun media sosial rahasia,
menghapus percakapan,
berbohong mengenai keberadaannya,
bertemu diam-diam,
meminta bantuan teman untuk menutupi hubungan,
atau menggunakan perangkat lain agar tidak diketahui orang tua.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua justru kehilangan akses terhadap informasi yang penting untuk keselamatan anak.

Karena itu, komunikasi terbuka merupakan bentuk perlindungan.

Orang tua dapat secara rutin membicarakan topik seperti:

apa arti hubungan yang sehat,
bagaimana memperlakukan pasangan dengan hormat,
bagaimana mengatakan “tidak”,
bagaimana menghadapi tekanan dari teman atau pasangan,
batas privasi,
penggunaan media sosial,
keamanan ketika bertemu seseorang,
serta apa yang harus dilakukan ketika merasa tidak nyaman.

Yang penting, percakapan tersebut tidak hanya dilakukan ketika orang tua mengetahui anak sedang dekat dengan seseorang.

Pendidikan mengenai hubungan sebaiknya menjadi percakapan yang berlangsung secara bertahap.

Misalnya saat menonton film bersama, orang tua dapat bertanya:

“Menurut kamu, hubungan mereka sehat atau tidak?”

atau:

“Kalau seseorang cemburu lalu meminta pasangannya berhenti berteman dengan orang lain, menurutmu itu perhatian atau kontrol?”

Pertanyaan semacam ini membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis tanpa merasa sedang diinterogasi.

4. Ajarkan Anak Mengenali Ciri-Ciri Hubungan yang Sehat

Melindungi anak bukan berarti memastikan mereka tidak pernah mengalami hubungan yang sulit.

Tidak realistis mengharapkan orang tua dapat mengendalikan semua orang yang ditemui anak.

Yang lebih berguna adalah membekali anak dengan kemampuan mengenali hubungan yang sehat dan tidak sehat.

Anak perlu memahami bahwa rasa suka tidak otomatis membuat sebuah hubungan menjadi baik.

Hubungan yang sehat biasanya memiliki beberapa unsur seperti:

Saling menghormati

Tidak ada pihak yang merendahkan, mempermalukan, atau mengancam pihak lain.

Batas pribadi

Anak memahami bahwa ia berhak mengatakan tidak terhadap sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Kebebasan bersosialisasi

Memiliki pasangan tidak berarti seseorang harus kehilangan teman, keluarga, hobi, atau kehidupan pribadinya.

Tidak ada paksaan

Pasangan tidak boleh memaksa seseorang melakukan sesuatu hanya karena takut ditinggalkan.

Komunikasi

Masalah dibicarakan, bukan diselesaikan melalui ancaman, manipulasi, atau kekerasan.

Kepercayaan

Hubungan tidak dibangun melalui pemeriksaan ponsel secara obsesif, tuntutan kata sandi, atau pengawasan terus-menerus.

Orang tua juga perlu mengajarkan tanda-tanda bahaya.

Misalnya ketika seseorang berkata:

“Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti mau melakukannya.”

Kalimat semacam ini dapat menjadi bentuk tekanan emosional.

Anak perlu tahu bahwa cinta tidak menghapus hak seseorang atas batas pribadi.

5. Jangan Menjadikan Orang yang Disukai Anak sebagai “Musuh”

Ketika orang tua tidak menyukai seseorang yang dekat dengan anak, sangat mudah untuk memberikan label negatif.

“Dia anak nakal.”

“Dia tidak cocok untuk kamu.”

“Jangan pernah bertemu dia lagi.”

Masalahnya, semakin orang tersebut diposisikan sebagai “musuh”, semakin besar kemungkinan anak merasa harus membelanya.

Ini bisa menciptakan dinamika “kami versus mereka.”

Anak merasa:

“Orang tuaku tidak mengerti aku, hanya dia yang mengerti aku.”

Dalam situasi tertentu, justru inilah kondisi yang ingin dihindari.

Jika memungkinkan dan aman, orang tua dapat berusaha mengenal orang yang dekat dengan anak secara langsung.

Bukan dengan gaya interogasi, tetapi melalui interaksi yang wajar.

Tujuannya bukan menjadi teman dekat dengan orang tersebut, melainkan memperoleh informasi nyata daripada hanya mengandalkan asumsi.

Orang tua juga dapat mengajak anak mengevaluasi hubungan berdasarkan perilaku konkret.

Daripada mengatakan:

“Dia anak buruk.”

lebih baik mengatakan:

“Ibu memperhatikan sejak dekat dengannya kamu sering merasa takut ketika dia marah. Menurutmu, apa yang terjadi?”

Perbedaan ini sangat besar.

Pada kalimat pertama, orang tua menyerang orang yang disukai anak.

Pada kalimat kedua, orang tua mengajak anak mengevaluasi pengalaman mereka sendiri.

Dengan begitu, anak berkesempatan menemukan kesimpulan berdasarkan pengamatan, bukan sekadar mengikuti perintah.

6. Tetapkan Batas yang Jelas, Konsisten, dan Proporsional

Memahami efek Romeo dan Juliet bukan berarti orang tua harus menjadi permisif.

Anak tetap membutuhkan batas.

Justru batas yang jelas dapat memberikan rasa aman, terutama ketika disertai alasan yang dapat dipahami.

Contohnya, orang tua dapat menetapkan aturan mengenai:

jam pulang,
tempat bertemu,
transportasi,
penggunaan ponsel,
komunikasi daring,
prioritas sekolah,
keamanan ketika bepergian,
serta siapa yang dapat dihubungi ketika terjadi keadaan darurat.

Namun, aturan sebaiknya memiliki hubungan yang jelas dengan tujuan keselamatan dan perkembangan anak.

Misalnya:

“Kamu boleh bertemu temanmu, tetapi pulang maksimal pukul 20.00 dan beri tahu kami jika lokasinya berubah.”

Aturan tersebut lebih mudah dipahami dibanding:

“Kamu tidak boleh bertemu dia lagi.”

Batas yang proporsional juga dapat berubah seiring bertambahnya usia dan kematangan anak.

Remaja yang lebih tua dan menunjukkan tanggung jawab mungkin dapat memperoleh lebih banyak kebebasan dibandingkan anak yang jauh lebih muda atau yang belum mampu menjaga dirinya sendiri.

Dengan kata lain, tujuan pengasuhan bukan mempertahankan kontrol selamanya.

Tujuannya adalah secara bertahap mengajarkan anak mengontrol dirinya sendiri.

Mengapa Larangan Justru Bisa Membuat Perasaan Semakin Kuat?

Untuk memahami efek Romeo dan Juliet, kita perlu melihat lebih jauh bagaimana manusia merespons pembatasan kebebasan.

Bayangkan seorang remaja diberi pilihan untuk bertemu seseorang secara normal.

Pertemuan tersebut mungkin terasa biasa.

Namun kemudian orang tua berkata:

“Kamu tidak boleh bertemu dia.”

Tiba-tiba orang yang sama memperoleh makna baru.

Bukan hanya “orang yang saya sukai”, tetapi menjadi:

“Orang yang dilarang oleh orang tua saya.”

Hambatan tersebut dapat membuat hubungan terasa lebih intens, lebih dramatis, atau lebih istimewa.

Dalam psikologi sosial, salah satu konsep yang relevan adalah reactance. Ketika seseorang merasa kebebasannya diambil, ia dapat terdorong untuk memulihkan kebebasan tersebut.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan fenomena ini menjadi:

“Semakin dilarang, semakin cinta.”

Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Efek Romeo dan Juliet bukan hukum psikologi yang berlaku pada setiap hubungan. Ketertarikan, usia, kualitas hubungan, konteks keluarga, kepribadian, tingkat konflik, dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi respons seseorang terhadap larangan.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak berpikir bahwa setiap larangan pasti akan membuat anak semakin mencintai seseorang.

Sebaliknya, yang perlu dipahami adalah bahwa cara menyampaikan batas dapat memengaruhi bagaimana anak merespons batas tersebut.

Jadi, Haruskah Orang Tua Membiarkan Anak Berpacaran?

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua keluarga.

Usia anak, tingkat kematangan, nilai keluarga, kondisi hubungan, serta risiko yang terlibat perlu dipertimbangkan.

Yang lebih penting daripada sekadar pertanyaan “boleh atau tidak?” adalah:

Bagaimana orang tua membimbing anak menghadapi ketertarikan romantis secara aman dan bertanggung jawab?

Jika hubungan tersebut tidak menunjukkan bahaya serius, pendekatan dialogis sering kali lebih produktif daripada larangan total.

Sebaliknya, jika terdapat tanda-tanda serius seperti kekerasan, ancaman, eksploitasi, pemaksaan, manipulasi berat, atau situasi lain yang membahayakan keselamatan anak, orang tua perlu mengambil tindakan perlindungan yang lebih tegas.

Dalam situasi berisiko, keselamatan anak harus menjadi prioritas.

Ketika Anak Sudah Terlanjur Menyembunyikan Hubungannya

Bagaimana jika orang tua baru mengetahui bahwa anak sudah lama memiliki hubungan secara diam-diam?

Reaksi pertama mungkin berupa kemarahan.

Namun, sebelum melakukan hukuman besar, cobalah mencari tahu mengapa anak memilih menyembunyikannya.

Pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:

“Apa yang membuat kamu merasa tidak bisa cerita kepada kami?”

“Apa yang kamu takutkan akan terjadi kalau kami tahu?”

“Selama ini bagaimana hubungan kalian?”

“Pernahkah dia memaksa atau membuat kamu merasa takut?”

Pertanyaan tersebut dapat memberikan informasi yang jauh lebih berharga daripada sekadar memeriksa ponsel atau memarahi anak.

Jika anak ternyata menyembunyikan hubungan karena takut dimarahi, orang tua dapat menggunakan momen tersebut untuk memperbaiki komunikasi.

Namun jika anak menyembunyikan hubungan karena mengalami tekanan atau ancaman dari pasangannya, situasinya tentu berbeda dan membutuhkan perhatian lebih serius.

Orang Tua Tidak Harus Menang dalam Setiap Perdebatan

Dalam pengasuhan remaja, orang tua terkadang merasa harus “menang”.

Jika anak membantah, orang tua merasa harus membuat anak diam.

Jika anak tidak setuju, orang tua merasa anak harus mengikuti keputusan mereka.

Padahal, tujuan pengasuhan bukan memenangkan debat.

Tujuannya adalah membantu anak berkembang menjadi orang dewasa yang mampu membuat keputusan dengan baik.

Karena itu, terkadang kalimat terbaik bukan:

“Pokoknya Ibu bilang tidak!”

melainkan:

“Ibu mungkin tidak setuju dengan keputusanmu, tetapi Ibu ingin memahami cara kamu berpikir. Mari kita lihat bersama apa risikonya dan bagaimana kamu bisa tetap aman.”

Kalimat seperti ini tidak berarti orang tua kehilangan kewibawaan.

Justru sebaliknya.

Anak belajar bahwa orang tua dapat menjadi tempat bertanya ketika menghadapi masalah yang rumit.

Kesimpulan: Perlindungan Terbaik Bukan Selalu Berupa Larangan

Efek Romeo dan Juliet memberikan satu pelajaran penting bagi orang tua: larangan yang keras dan tidak disertai komunikasi dapat, dalam kondisi tertentu, membuat sesuatu terasa semakin menarik bagi remaja.

Namun, fenomena ini tidak berarti semua larangan akan membuat anak semakin mencintai seseorang.

Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan perkembangan anak terhadap otonomi, sekaligus memberikan batas yang melindungi mereka.

Enam langkah yang dapat diterapkan adalah:

Hindari larangan keras tanpa penjelasan.
Bedakan antara perasaan anak dan perilakunya.
Bangun komunikasi yang membuat anak tidak perlu menyembunyikan hubungan.
Ajarkan ciri-ciri hubungan yang sehat dan tidak sehat.
Hindari menjadikan orang yang disukai anak sebagai musuh.
Tetapkan batas yang jelas, konsisten, dan proporsional.

Pada akhirnya, orang tua tidak mungkin mengontrol setiap perasaan anak.

Namun, orang tua dapat membantu anak memahami perasaan tersebut, mengenali risiko, menetapkan batas, dan mengambil keputusan yang lebih matang.

Anak yang merasa didengarkan bukan berarti anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Sebaliknya, anak yang merasa aman untuk berbicara dengan orang tuanya memiliki peluang lebih besar untuk meminta bantuan ketika menghadapi masalah.

Dan dalam jangka panjang, itulah salah satu bentuk perlindungan yang paling penting.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore