seseorang yang tidak bahagia setelah berselingkuh. (Magnific)
Pada awalnya, pengalaman tersebut bahkan bisa terasa sangat menyenangkan.
Ada perhatian baru. Ada percakapan yang terasa lebih hidup. Ada rasa penasaran, gairah, dan sensasi seperti kembali menjadi seseorang yang "diinginkan". Bagi orang yang sedang tidak puas dengan hubungan utamanya, kehadiran orang ketiga dapat menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan yang selama ini hilang akhirnya ditemukan.
Namun, dari sudut pandang psikologi, perasaan menyenangkan tersebut tidak selalu sama dengan kebahagiaan yang lebih besar dan lebih stabil.
Justru, perselingkuhan sering membawa sejumlah konsekuensi psikologis: konflik batin, kecemasan, rasa bersalah, kebutuhan untuk menyembunyikan sesuatu, ketidakpastian mengenai masa depan, hingga masalah kepercayaan yang dapat terbawa ke hubungan berikutnya.
Ini bukan berarti setiap orang yang berselingkuh pasti tidak bahagia. Manusia dan hubungan sangat kompleks. Ada pula kasus ketika perselingkuhan menjadi bagian dari proses berakhirnya hubungan yang memang sudah tidak sehat. Namun, jika pertanyaannya adalah mengapa perselingkuhan biasanya tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih bahagia, psikologi memberikan beberapa penjelasan yang menarik.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), terdapat enam di antaranya.
1. Rasa "bahagia" di awal bisa berasal dari kebaruan, bukan kecocokan
Salah satu alasan perselingkuhan terasa sangat menggairahkan pada awalnya adalah karena adanya unsur kebaruan.
Orang baru membawa pengalaman baru.
Cara berbicara berbeda. Cara memberikan perhatian berbeda. Ada cerita yang belum pernah didengar. Ada pengalaman yang belum pernah dilakukan bersama. Bahkan pesan sederhana seperti "sudah makan?" dapat terasa sangat berarti ketika datang dari seseorang yang sedang membuat kita penasaran.
Dalam psikologi, kebaruan dapat menjadi sumber stimulasi yang kuat. Sesuatu yang baru sering membuat perhatian kita meningkat dan emosi menjadi lebih intens.
Masalahnya, intensitas bukan selalu berarti kualitas.
Seseorang bisa merasa sangat bersemangat terhadap hubungan baru bukan karena orang tersebut benar-benar lebih cocok, tetapi karena hubungan itu belum melewati fase kehidupan sehari-hari.
Mereka belum tentu pernah menghadapi masalah keuangan bersama.
Belum tentu pernah berdebat mengenai pekerjaan rumah.
Belum tentu pernah menghadapi keluarga masing-masing.
Belum tentu pernah mengalami tekanan pekerjaan dalam waktu yang sama.
Belum tentu pernah mengetahui bagaimana pasangan tersebut bereaksi ketika sakit, kecewa, marah, lelah, atau menghadapi masalah besar.
Dengan kata lain, hubungan baru sering kali memperlihatkan versi seseorang yang paling menarik, sementara hubungan lama memperlihatkan versi seseorang yang lebih lengkap—termasuk kekurangan, kebiasaan buruk, dan sisi yang sulit.
Inilah salah satu alasan mengapa membandingkan pasangan lama dengan orang ketiga bisa menjadi tidak adil.
Pasangan lama dibandingkan dalam kondisi kehidupan nyata, sedangkan orang ketiga sering kali dinilai dalam situasi yang lebih terbatas dan penuh kebaruan.
Perselingkuhan kemudian dapat menciptakan ilusi:
"Saya lebih bahagia bersamanya."
Padahal, yang sebenarnya dirasakan mungkin adalah:
"Saya merasa lebih bersemangat karena pengalaman ini masih baru."
Keduanya berbeda.
Kebaruan akan berkurang seiring waktu. Setelah hubungan baru memasuki rutinitas, pasangan baru pun akhirnya menjadi manusia biasa dengan kekurangan, kebiasaan, dan masalahnya sendiri.
Karena itu, rasa bahagia yang muncul pada fase awal perselingkuhan belum tentu menjadi indikator bahwa seseorang telah menemukan hubungan yang lebih baik.
2. Perselingkuhan menciptakan konflik batin yang menguras energi psikologis
Salah satu hal yang sering tidak terlihat dari luar adalah beban mental yang harus ditanggung oleh seseorang yang menjalani kehidupan ganda.
Ketika seseorang berselingkuh, ia mungkin harus mengelola dua hubungan sekaligus.
Ada pesan yang harus disembunyikan.
Ada jadwal yang harus dijelaskan.
Ada cerita yang harus dibuat konsisten.
Ada panggilan telepon yang harus dihapus.
Ada tempat tertentu yang tidak boleh diketahui pasangan.
Semakin lama perselingkuhan berlangsung, semakin banyak informasi yang harus diingat dan dikelola.
Di sinilah muncul konflik psikologis.
Di satu sisi, seseorang mungkin menginginkan kebebasan, gairah, atau perhatian dari hubungan baru.
Di sisi lain, ia mungkin masih memiliki keterikatan emosional, tanggung jawab, sejarah, atau rasa sayang kepada pasangan utama.
Dua kebutuhan tersebut dapat bertabrakan.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami keadaan psikologis yang tidak nyaman: ia menginginkan sesuatu, tetapi pada saat yang sama mengetahui bahwa cara mendapatkannya bertentangan dengan nilai, komitmen, atau citra dirinya sendiri.
Konflik seperti ini dapat membuat seseorang merasa terpecah.
Di depan orang lain ia mungkin terlihat bahagia.
Namun ketika sendirian, pikirannya dipenuhi pertanyaan:
"Apakah saya melakukan hal yang benar?"
"Bagaimana kalau pasangan saya mengetahuinya?"
"Apakah saya benar-benar mencintai orang ini?"
"Bagaimana kalau hubungan baru ini juga gagal?"
"Siapa sebenarnya yang ingin saya pertahankan?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak selalu muncul setiap saat, tetapi dapat menjadi sumber tekanan yang signifikan.
Inilah mengapa kebahagiaan yang didapat dari perselingkuhan sering kali tidak sesederhana yang terlihat.
Ada kesenangan, tetapi ada pula biaya psikologis yang menyertainya.
3. Rasa bersalah dan malu dapat mengurangi kesejahteraan psikologis
Tidak semua orang yang berselingkuh merasa bersalah. Respons setiap individu berbeda.
Namun, bagi orang yang memiliki nilai kuat mengenai kesetiaan dan kejujuran, perselingkuhan dapat menciptakan rasa bersalah yang cukup besar.
Rasa bersalah berbeda dengan sekadar takut ketahuan.
Takut ketahuan berfokus pada konsekuensi:
"Bagaimana jika pasangan saya mengetahui?"
Sementara rasa bersalah lebih berkaitan dengan evaluasi terhadap perilaku diri sendiri:
"Saya tahu bahwa apa yang saya lakukan bertentangan dengan nilai saya."
Jika berlangsung terus-menerus, konflik tersebut dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Seseorang mungkin mulai berpikir bahwa dirinya bukan orang yang ia kira sebelumnya.
"Aku selalu menganggap diriku sebagai orang yang setia."
"Ternyata aku bisa melakukan hal seperti ini."
Perubahan dalam cara melihat diri sendiri dapat menjadi pengalaman yang tidak nyaman.
Pada sebagian orang, rasa bersalah bahkan dapat mendorong perilaku defensif. Mereka menjadi mudah marah ketika ditanya, terlalu berhati-hati dalam berkomunikasi, atau berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa tindakannya sebenarnya dapat dibenarkan.
Di sinilah muncul mekanisme psikologis yang menarik.
Seseorang mungkin mulai mencari alasan untuk membuat perilakunya terasa lebih masuk akal.
"Hubungan saya memang sudah tidak bahagia."
"Pasangan saya tidak pernah memahami saya."
"Saya sudah lama merasa sendirian."
"Orang ketiga itu membuat saya merasa menjadi diri sendiri."
Alasan-alasan tersebut mungkin memiliki unsur kebenaran. Bisa saja memang ada masalah serius dalam hubungan utama.
Namun, menjelaskan mengapa seseorang tidak bahagia berbeda dengan membenarkan tindakan menyakiti atau mengkhianati pasangan.
Ketika seseorang harus terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri bahwa perilakunya benar, hal tersebut menunjukkan adanya konflik internal yang justru dapat mengurangi ketenangan psikologis.
4. Hubungan yang dimulai dengan kebohongan dapat membawa masalah kepercayaan
Ada paradoks yang sering muncul dalam perselingkuhan.
Seseorang mungkin meninggalkan pasangan karena merasa tidak dipercaya, tidak dipahami, atau tidak mendapatkan hubungan yang ideal.
Kemudian ia memulai hubungan baru dengan orang yang sebelumnya menjadi pihak ketiga.
Tetapi hubungan baru tersebut membawa sejarah yang rumit.
Pertanyaan yang sangat manusiawi kemudian muncul:
"Kalau dia dulu berselingkuh dengan saya, apa yang membuat saya yakin dia tidak akan melakukan hal yang sama kepada saya?"
Pertanyaan ini tidak otomatis berarti hubungan tersebut pasti gagal.
Namun, kepercayaan dapat menjadi lebih rumit ketika hubungan baru dimulai melalui kebohongan atau pengkhianatan terhadap hubungan sebelumnya.
Jika seseorang terbiasa menyelesaikan ketidakpuasan dengan mencari orang lain secara diam-diam, pasangan baru mungkin memiliki kekhawatiran bahwa pola tersebut dapat terulang.
Bahkan pelaku sendiri dapat mengalami ketidakamanan.
Ia mungkin berpikir:
"Apakah dia benar-benar memilih saya?"
"Apakah suatu hari dia akan menemukan orang lain?"
"Kalau hubungan kami memburuk, apakah dia akan melakukan hal yang sama?"
Dengan demikian, hubungan yang awalnya terasa seperti tempat pelarian dapat berubah menjadi hubungan yang membutuhkan banyak usaha untuk membangun rasa aman.
Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam hubungan bukan hanya tentang seberapa kuat perasaan romantis.
Kepercayaan, konsistensi, keamanan emosional, komunikasi, dan kemampuan menyelesaikan konflik juga memiliki peran besar.
Gairah dapat memulai hubungan.
Tetapi rasa aman membantu mempertahankannya.
5. Perselingkuhan sering kali tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya
Ini mungkin alasan yang paling penting.
Perselingkuhan dapat mengubah siapa yang bersama seseorang, tetapi belum tentu mengubah pola psikologis orang tersebut.
Misalnya, seseorang merasa tidak puas dalam hubungan karena sulit berkomunikasi.
Ia kemudian berselingkuh dengan orang yang dianggap lebih komunikatif.
Pada awalnya semuanya terasa mudah.
Mereka bisa berbicara berjam-jam.
Namun jika akar masalahnya adalah ketidakmampuan seseorang menghadapi konflik, pola tersebut dapat muncul kembali ketika hubungan baru menghadapi masalah.
Contoh lainnya:
Seseorang merasa bosan dalam hubungan.
Ia kemudian mencari hubungan baru karena menginginkan sensasi.
Hubungan baru memang terasa menarik selama beberapa bulan.
Tetapi setelah kebaruan menghilang, rasa bosan dapat muncul kembali.
Atau seseorang merasa dirinya tidak cukup dihargai.
Ia kemudian mencari validasi dari orang lain.
Perhatian baru membuatnya merasa berharga.
Tetapi jika harga dirinya sangat bergantung pada validasi eksternal, kebutuhan tersebut kemungkinan tidak hilang hanya karena ia mendapatkan pasangan baru.
Masalah internal tidak otomatis hilang hanya karena pasangan berubah.
Itulah sebabnya psikologi membedakan antara mengubah situasi dan mengubah pola.
Seseorang dapat meninggalkan hubungan lama, tetapi tetap membawa dirinya sendiri ke hubungan baru.
Cara berkomunikasi ikut terbawa.
Cara menghadapi konflik ikut terbawa.
Rasa tidak aman ikut terbawa.
Pola mencari validasi ikut terbawa.
Kesulitan menetapkan batasan ikut terbawa.
Jika faktor-faktor tersebut tidak dipahami dan diperbaiki, hubungan baru dapat mengalami masalah yang serupa dengan hubungan sebelumnya.
6. "Rumput tetangga lebih hijau" sering terjadi karena kita membandingkan realitas dengan fantasi
Perselingkuhan sering berkembang dalam ruang yang berbeda dari hubungan sehari-hari.
Ketika seseorang bertemu orang ketiga, ia biasanya tidak langsung melihat keseluruhan kehidupan orang tersebut.
Ia melihat bagian-bagian tertentu.
Mungkin orang tersebut perhatian.
Lucu.
Romantis.
Menarik.
Mau mendengarkan.
Membuat seseorang merasa istimewa.
Sementara pasangan di rumah mungkin sedang terlihat lelah, sibuk, mudah marah, atau tidak romantis.
Akibatnya, otak melakukan perbandingan yang tidak seimbang.
Seseorang membandingkan:
versi terbaik orang baru
dengan
versi kehidupan sehari-hari pasangan lama.
Dalam kondisi seperti itu, orang baru hampir pasti terlihat lebih menarik.
Namun hubungan yang sehat pada akhirnya juga akan memasuki kehidupan sehari-hari.
Orang yang awalnya sangat romantis bisa menjadi lelah.
Orang yang selalu mendengarkan bisa mengalami hari buruk.
Orang yang terlihat sangat pengertian juga dapat memiliki kebutuhan dan kekurangan.
Tidak ada hubungan yang hidup selamanya dalam fase intensitas awal.
Karena itu, sebagian daya tarik perselingkuhan sebenarnya dapat berasal dari ruang fantasi.
Hubungan tersebut belum diuji oleh realitas.
Belum ada cicilan yang harus dibayar bersama.
Belum ada pembagian pekerjaan rumah.
Belum ada konflik keluarga.
Belum ada tekanan karier.
Belum ada perbedaan gaya hidup yang serius.
Belum ada keputusan sulit yang harus dibuat bersama.
Ketika fantasi bertemu realitas, seseorang baru dapat melihat apakah hubungan tersebut benar-benar memiliki fondasi yang kuat.
Jadi, apakah perselingkuhan pasti membuat seseorang tidak bahagia?
Tidak.
Penting untuk menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana.
Psikologi tidak mengatakan bahwa setiap orang yang berselingkuh pasti akan sengsara atau bahwa setiap hubungan yang dimulai dari perselingkuhan pasti gagal.
Manusia memiliki alasan yang sangat beragam untuk melakukan perselingkuhan.
Ada yang mencari validasi.
Ada yang merasa kesepian.
Ada yang menghindari konflik.
Ada yang impulsif.
Ada yang mengalami ketidakpuasan dalam hubungan.
Ada pula yang memang sudah tidak ingin mempertahankan hubungan tetapi tidak mampu mengakhirinya dengan cara yang sehat.
Karena itu, perselingkuhan lebih tepat dipahami sebagai perilaku yang perlu dilihat dalam konteks hubungan, kepribadian, kebutuhan emosional, nilai, dan pola psikologis seseorang.
Yang perlu digarisbawahi adalah:
perselingkuhan bukanlah jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar.
Rasa senang, gairah, dan perhatian baru memang bisa sangat kuat.
Tetapi kebahagiaan jangka panjang biasanya membutuhkan sesuatu yang lebih kompleks: hubungan yang aman, kepercayaan, komunikasi yang sehat, kemampuan menyelesaikan konflik, kesesuaian nilai, dan kesejahteraan psikologis individu.
Kebahagiaan Baru Tidak Selalu Berarti Hubungan Baru
Salah satu kesalahan berpikir yang sering terjadi adalah menganggap:
"Jika saya merasa lebih bahagia bersama orang lain, berarti orang lain itu adalah pasangan yang lebih tepat."
Padahal, perasaan adalah informasi, bukan selalu keputusan akhir.
Perasaan tidak puas dapat menunjukkan bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi.
Tetapi kebutuhan tersebut perlu dipahami terlebih dahulu.
Apakah masalahnya benar-benar pasangan?
Apakah hubungan memang sudah tidak sehat?
Apakah kebutuhan komunikasi tidak pernah dibicarakan?
Apakah seseorang sedang mengalami krisis pribadi?
Apakah ia membutuhkan validasi?
Apakah ia sedang mencari pelarian dari masalah hidup lainnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar bertanya:
"Siapa yang lebih menarik?"
Sebab hubungan yang sehat tidak hanya dibangun berdasarkan siapa yang membuat kita merasa paling berdebar.
Hubungan juga membutuhkan kemampuan untuk menghadapi saat-saat ketika tidak ada lagi sensasi baru.
Pada akhirnya, yang dicari manusia bukan hanya gairah
Perselingkuhan dapat memberikan sesuatu yang terasa sangat kuat: perhatian, kebaruan, validasi, gairah, dan perasaan diinginkan.
Namun, semua itu tidak selalu sama dengan kebahagiaan yang mendalam.
Kebahagiaan dalam hubungan biasanya jauh lebih tenang.
Ia terlihat dalam rasa aman.
Dalam kemampuan menjadi diri sendiri.
Dalam kepercayaan.
Dalam komunikasi yang terbuka.
Dalam mengetahui bahwa konflik tidak otomatis berarti hubungan berakhir.
Dalam memiliki pasangan yang tetap hadir ketika kehidupan tidak lagi menarik.
Karena itu, jika seseorang merasa hubungan yang dimilikinya tidak lagi membuatnya bahagia, perselingkuhan bukan satu-satunya pilihan.
Ada pilihan lain yang jauh lebih konstruktif: berbicara secara jujur, mencari bantuan profesional bila diperlukan, memperbaiki pola komunikasi, mengevaluasi kebutuhan masing-masing, atau mengakhiri hubungan dengan cara yang jelas dan bertanggung jawab jika hubungan tersebut memang sudah tidak dapat dipertahankan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Apakah orang lain bisa membuat saya lebih bahagia?"
Melainkan:
"Apa sebenarnya yang membuat saya tidak bahagia, dan apa yang perlu saya lakukan untuk menghadapinya?"
Pertanyaan kedua jauh lebih sulit.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022