seseorang yang terdorong tren parenting di media. (Magnific)
Fenomena ini menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi. Ketika sebuah gaya parenting mendapat sorotan media secara terus-menerus, masyarakat dapat mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang normal, modern, bahkan wajib dilakukan. Akibatnya, tren parenting dapat menyebar dengan sangat cepat, meskipun belum tentu semua pendekatan tersebut sesuai dengan kebutuhan setiap anak.
Lalu, bagaimana sebenarnya sorotan media dapat mendorong tren parenting?
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), terdapat enam cara utama yang dapat dijelaskan melalui perspektif psikologi.
1. Media Membentuk Persepsi tentang “Parenting yang Ideal”
Salah satu pengaruh terbesar media terhadap parenting adalah kemampuannya membentuk standar mengenai seperti apa orang tua yang ideal.
Di media sosial, misalnya, kita sering melihat orang tua yang tampak sangat terorganisasi: menyiapkan makanan sehat untuk anak, memiliki jadwal tidur yang teratur, menyediakan aktivitas edukatif, membaca buku bersama anak, hingga mendokumentasikan berbagai pencapaian anak.
Paparan semacam itu dapat menciptakan gambaran tertentu dalam pikiran orang tua.
Muncul pemikiran:
“Kalau saya orang tua yang baik, seharusnya saya melakukan hal yang sama.”
Dalam psikologi sosial, manusia memang cenderung menggunakan perilaku orang lain sebagai salah satu sumber informasi untuk menentukan apakah perilakunya sendiri sudah tepat. Proses ini sering dikaitkan dengan social comparison atau perbandingan sosial.
Masalahnya, media biasanya hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Orang tua mungkin melihat video keluarga lain yang memperlihatkan rutinitas membaca buku selama 30 menit bersama anak. Namun, mereka tidak melihat bahwa sebelum video tersebut dibuat, orang tua itu mungkin mengalami hari yang sangat melelahkan, anak sedang tantrum, atau rutinitas tersebut sebenarnya hanya dilakukan sesekali.
Akibatnya, terjadi perbandingan antara kehidupan nyata seseorang dengan versi terkurasi kehidupan orang lain.
Mengapa ini dapat menjadi tren?
Ketika sebuah pola parenting terus ditampilkan sebagai sesuatu yang positif, lama-kelamaan pola tersebut dapat memperoleh status sebagai “standar”.
Misalnya, ketika media berulang kali menyoroti:
gentle parenting,
positive parenting,
mindful parenting,
homeschooling,
screen-free parenting,
aktivitas Montessori di rumah,
atau pola makan tertentu,
orang tua dapat semakin mengenal istilah tersebut.
Semakin sering istilah itu muncul, semakin mudah pula masyarakat menganggapnya sebagai bagian penting dari parenting modern.
Namun, penting untuk diingat bahwa popularitas sebuah metode tidak otomatis membuktikan bahwa metode tersebut paling efektif untuk semua keluarga.
2. Efek Modeling: Orang Tua Belajar dari Apa yang Mereka Lihat
Psikologi juga mengenal konsep observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan.
Salah satu tokoh penting dalam pembahasan ini adalah Albert Bandura. Dalam teori pembelajaran sosial, manusia dapat mempelajari perilaku dengan mengamati tindakan orang lain dan konsekuensi yang mereka dapatkan.
Konsep ini sangat relevan dengan media sosial.
Bayangkan seseorang melihat konten seorang ibu yang menerapkan pendekatan tertentu ketika anak mengalami tantrum.
Dalam video tersebut, sang ibu terlihat tenang. Ia tidak berteriak, memberikan pilihan kepada anak, lalu anak akhirnya menjadi lebih tenang.
Bagi penonton, konten tersebut dapat berfungsi sebagai model perilaku.
Orang tua kemudian berpikir:
“Kalau saya menghadapi tantrum dengan cara seperti itu, mungkin hasilnya juga akan sama.”
Dari sini, sebuah teknik parenting dapat menyebar dari satu orang ke ribuan bahkan jutaan orang.
Mengapa modeling sangat kuat?
Karena manusia tidak selalu belajar melalui pengalaman langsung.
Seorang orang tua tidak harus mencoba 20 metode pengasuhan untuk mengetahui semuanya. Ia dapat mengamati pengalaman orang lain terlebih dahulu.
Media memperbesar proses tersebut.
Dulu, seorang ibu mungkin belajar parenting dari:
orang tua,
mertua,
saudara,
tetangga,
guru,
dokter,
atau komunitas lokal.
Sekarang, sumber model perilaku bisa datang dari:
influencer parenting,
psikolog di media sosial,
selebritas,
YouTuber,
podcaster,
atau bahkan akun anonim.
Semakin menarik dan meyakinkan sosok yang menjadi model, semakin besar kemungkinan perilakunya diperhatikan dan ditiru.
Namun, ada satu persoalan penting.
Apa yang berhasil pada satu anak belum tentu berhasil pada anak lain.
Temperamen anak, usia, lingkungan keluarga, kebutuhan perkembangan, kondisi ekonomi, hubungan orang tua-anak, serta berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi hasil suatu strategi parenting.
Karena itu, modeling sebaiknya digunakan sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai formula universal.
3. Sorotan Media Membuat Tren Parenting Terlihat Lebih Umum daripada Kenyataannya
Pernahkah kita merasa bahwa “semua orang” sedang melakukan sesuatu hanya karena kita terus melihatnya di media?
Secara psikologis, salah satu mekanisme yang dapat berperan adalah availability heuristic.
Secara sederhana, manusia cenderung menilai sesuatu sebagai lebih umum atau lebih penting ketika contoh mengenai hal tersebut mudah muncul dalam ingatan.
Misalnya, seseorang melihat banyak sekali konten tentang orang tua yang menerapkan screen time sangat ketat.
Setelah melihat puluhan video dalam beberapa minggu, ia dapat mulai merasa:
“Sekarang hampir semua orang tua membatasi gadget anak secara ketat.”
Padahal, apa yang muncul di media tidak selalu merupakan representasi statistik masyarakat secara keseluruhan.
Algoritma media sosial juga memiliki peran besar.
Platform digital biasanya berusaha menampilkan konten yang dianggap menarik bagi pengguna. Jika seseorang sering menonton konten parenting tertentu, sistem rekomendasi dapat semakin banyak menampilkan konten serupa.
Akibatnya, seseorang masuk ke semacam lingkaran paparan.
Ia melihat topik yang sama berulang kali.
Lalu muncul persepsi:
“Ini sedang menjadi tren.”
Karena merasa tren tersebut semakin besar, ia semakin tertarik untuk mengikuti.
Ketika semakin banyak orang mengikutinya, konten mengenai tren tersebut semakin banyak dibuat.
Akhirnya tercipta siklus:
paparan → persepsi popularitas → imitasi → semakin banyak konten → semakin besar paparan.
Dengan kata lain, media bukan hanya mencerminkan tren parenting. Dalam kondisi tertentu, media juga dapat ikut memperkuat dan mempercepat terbentuknya tren tersebut.
4. Influencer dan Selebritas Dapat Menjadi Sumber Social Proof
Cara keempat adalah melalui social proof, yaitu kecenderungan manusia menggunakan perilaku atau pilihan orang lain sebagai petunjuk mengenai apa yang dianggap benar, aman, atau layak dilakukan.
Dalam konteks parenting, pengaruh ini menjadi semakin kuat ketika sumbernya adalah orang yang dianggap kredibel, populer, atau memiliki kedekatan emosional dengan audiens.
Misalnya, seorang figur publik menceritakan:
“Saya menerapkan rutinitas tidur seperti ini kepada anak saya dan hasilnya luar biasa.”
Bagi sebagian orang tua, cerita tersebut mungkin terasa lebih meyakinkan dibandingkan informasi abstrak mengenai perkembangan anak.
Mengapa?
Karena ada unsur identifikasi.
Orang tua mungkin merasa:
“Dia seperti saya.”
atau:
“Anaknya seumuran dengan anak saya.”
atau:
“Dia kelihatannya berhasil menjadi orang tua yang tenang.”
Hubungan psikologis ini dapat membuat rekomendasi terasa lebih personal.
Tetapi popularitas bukan bukti ilmiah
Ini bagian yang sangat penting.
Jumlah pengikut seseorang tidak sama dengan tingkat kompetensinya dalam bidang psikologi anak.
Begitu pula sebuah video yang mendapatkan jutaan penayangan tidak otomatis berarti metode yang ditampilkan memiliki bukti ilmiah paling kuat.
Dalam psikologi, sebuah klaim mengenai perkembangan anak idealnya dinilai berdasarkan kualitas bukti, bukan hanya berdasarkan seberapa sering klaim tersebut muncul di media.
Orang tua dapat bertanya:
Apakah klaim tersebut didukung penelitian?
Siapa yang menyampaikannya?
Apakah ada konteks yang dijelaskan?
Apakah metode tersebut cocok untuk usia dan kebutuhan anak?
Apakah orang tua lain hanya membagikan pengalaman pribadi atau membuat klaim seolah-olah berlaku untuk semua anak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu mengurangi risiko mengikuti tren hanya karena mendapatkan banyak social proof.
5. Kontroversi Parenting Justru Bisa Membuat Sebuah Tren Semakin Viral
Menariknya, media tidak hanya dapat menyebarkan parenting melalui konten positif.
Kontroversi juga dapat menjadi mesin penyebaran tren.
Topik yang menimbulkan perdebatan biasanya lebih mudah mendapatkan perhatian.
Contohnya:
“Apakah anak boleh menggunakan gadget?”
“Haruskah orang tua selalu lembut kepada anak?”
“Apakah hukuman efektif?”
“Apakah anak perlu les sejak usia dini?”
“Apakah orang tua terlalu memanjakan anak?”
“Apakah anak harus tidur sendiri?”
“Apakah sekolah formal masih menjadi pilihan terbaik?”
Pertanyaan semacam ini memiliki karakteristik yang membuatnya menarik untuk dibicarakan.
Ada konflik.
Ada perbedaan pendapat.
Ada emosi.
Dan ada kemungkinan orang memilih kubu.
Dari perspektif psikologi, manusia memiliki perhatian yang relatif besar terhadap informasi yang dianggap penting secara emosional atau mengandung ancaman dan konflik.
Karena itu, konten parenting yang kontroversial dapat memperoleh engagement tinggi.
Ironisnya, sebuah perdebatan yang awalnya dimaksudkan untuk mengkritik sebuah tren justru dapat membuat tren tersebut semakin terkenal.
Misalnya:
Konten A: “Mengapa metode parenting X berbahaya?”
Konten B: “Tidak benar! Metode parenting X justru sangat efektif.”
Konten C: “Psikolog menjelaskan kontroversi metode X.”
Konten D: “Saya mencoba metode X selama 30 hari.”
Semua konten tersebut membicarakan hal yang sama.
Akibatnya, orang yang sebelumnya tidak mengenal metode X akhirnya menjadi tahu tentang metode tersebut.
Inilah salah satu paradoks media:
Sebuah tren tidak selalu menjadi populer karena semua orang menyukainya. Terkadang, sebuah tren menjadi populer karena semua orang membicarakannya.
6. Media Dapat Memengaruhi Cara Orang Tua Memahami Identitas Dirinya
Pengaruh media terhadap parenting akhirnya tidak berhenti pada perilaku.
Ia dapat masuk ke wilayah identitas orang tua.
Ketika seseorang mulai mengidentifikasi dirinya sebagai “gentle parent”, “strict parent”, “Montessori parent”, “minimalist parent”, atau identitas parenting lainnya, metode tersebut dapat menjadi bagian dari cara ia mendefinisikan dirinya.
Ini penting secara psikologis.
Sebab ketika suatu perilaku sudah menjadi bagian dari identitas, mengubah perilaku tersebut dapat terasa lebih sulit.
Contohnya:
“Saya adalah orang tua yang tidak pernah membentak anak.”
Kalimat tersebut terdengar positif.
Tetapi jika seorang ibu atau ayah suatu hari kehilangan kesabaran dan membentak anak, masalahnya bukan hanya muncul sebagai kesalahan perilaku.
Ia mungkin merasa:
“Saya gagal menjadi orang tua yang baik.”
Di sinilah tren parenting dapat berubah menjadi tekanan psikologis.
Media sosial sering memperlihatkan parenting sebagai sesuatu yang sangat ideal:
selalu sabar,
selalu hadir,
selalu responsif,
selalu menyediakan aktivitas edukatif,
selalu memberikan makanan sehat,
selalu membatasi gadget,
selalu memahami emosi anak,
dan selalu mampu mengendalikan emosi sendiri.
Standar seperti itu bisa sangat sulit dicapai secara konsisten.
Padahal, menjadi orang tua bukan berarti harus sempurna.
Dalam perkembangan anak, kualitas hubungan jangka panjang jauh lebih kompleks daripada sekadar apakah orang tua pernah melakukan satu kesalahan atau tidak.
Orang tua tetap manusia.
Mereka dapat lelah.
Mereka dapat salah.
Mereka dapat kehilangan kesabaran.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk memperbaiki hubungan, belajar dari kesalahan, dan membangun lingkungan yang cukup aman dan suportif bagi anak.
Mengapa Tren Parenting Bisa Menyebar Sangat Cepat di Era Digital?
Jika keenam mekanisme tadi digabungkan, kita dapat melihat bahwa media modern memiliki ekosistem yang sangat kuat untuk menyebarkan tren parenting.
Prosesnya dapat digambarkan seperti ini:
1. Muncul sebuah metode parenting
↓
2. Seorang figur atau akun populer membicarakannya
↓
3. Audiens mulai mengenal metode tersebut
↓
4. Orang tua lain mencoba dan membagikan pengalaman
↓
5. Konten mengenai metode tersebut semakin banyak
↓
6. Algoritma semakin sering merekomendasikannya
↓
7. Masyarakat mulai melihatnya sebagai tren
↓
8. Lebih banyak orang tua ikut mencoba
↓
9. Muncul kontroversi dan diskusi
↓
10. Semakin banyak media memberitakannya
↓
11. Tren semakin dikenal luas
Siklus tersebut menunjukkan bahwa perkembangan tren parenting tidak hanya bergantung pada apakah sebuah metode benar atau salah.
Perhatian publik juga memainkan peran penting.
Apakah Mengikuti Tren Parenting Selalu Buruk?
Tidak.
Mengikuti tren parenting tidak otomatis berarti seseorang membuat keputusan yang buruk.
Justru media dapat memberikan manfaat besar bagi orang tua.
Media dapat membantu orang tua:
menemukan informasi baru,
mengenal istilah psikologi,
mendapatkan dukungan sosial,
menemukan komunitas,
mengetahui perkembangan ilmu parenting,
belajar mengenali kebutuhan emosional anak,
dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian menghadapi tantangan pengasuhan.
Masalahnya muncul ketika popularitas menggantikan penilaian kritis.
Sebuah metode sebaiknya tidak diterapkan hanya karena:
“Semua orang sedang melakukannya.”
Orang tua dapat menggunakan prinsip yang lebih sederhana:
“Apakah pendekatan ini masuk akal, memiliki dasar yang baik, dan sesuai dengan kebutuhan anak saya?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih bermanfaat daripada sekadar:
“Apakah metode ini sedang viral?”
Bagaimana Orang Tua Menyikapi Tren Parenting Secara Sehat?
Ada beberapa langkah psikologis yang dapat membantu.
1. Bedakan pengalaman pribadi dan bukti ilmiah
Kalimat seperti:
“Ini berhasil untuk anak saya.”
berbeda dengan:
“Ini pasti berhasil untuk semua anak.”
Pengalaman pribadi tetap berharga, tetapi tidak otomatis dapat digeneralisasikan.
2. Perhatikan kondisi anak
Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua anak.
Temperamen, usia, kebutuhan perkembangan, lingkungan, dan kondisi keluarga dapat berbeda.
3. Jangan menjadikan media sosial sebagai standar kehidupan keluarga
Media sosial adalah ruang yang sangat terkurasi.
Apa yang ditampilkan bukan keseluruhan realitas.
4. Jangan mengukur keberhasilan parenting berdasarkan engagement
Jumlah likes, komentar, atau followers tidak menentukan apakah seseorang merupakan orang tua yang baik.
5. Berikan ruang untuk kesalahan
Parenting bukan proyek untuk menghasilkan orang tua sempurna.
Anak membutuhkan hubungan yang cukup aman, responsif, dan konsisten—bukan orang tua yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Kesimpulan
Sorotan media memiliki kekuatan besar dalam membentuk tren parenting anak. Dari perspektif psikologi, pengaruh tersebut dapat terjadi melalui beberapa mekanisme: perbandingan sosial, observational learning, availability heuristic, social proof, efek kontroversi, dan pembentukan identitas orang tua.
Media dapat memperkenalkan pendekatan parenting yang bermanfaat dan membuat pengetahuan psikologi lebih mudah diakses. Namun, media juga dapat menciptakan standar yang tidak realistis ketika kehidupan keluarga yang sangat kompleks disederhanakan menjadi video pendek, slogan, atau tren.
Karena itu, tantangan bagi orang tua modern bukan sekadar mencari “metode parenting terbaik”, melainkan belajar memilah informasi.
Pada akhirnya, parenting bukan kompetisi untuk menjadi keluarga yang paling sempurna di media sosial.
Tujuan utama parenting adalah membangun hubungan yang sehat dan mendukung perkembangan anak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022