Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2026 | 15.16 WIB

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tampak Selalu Mudah Marah Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang tampak selalu mudah marah. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang seolah-olah selalu mudah tersulut emosi?


Hal kecil bisa membuatnya kesal. Percakapan biasa dapat berubah menjadi perdebatan. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, reaksinya bisa sangat besar. Bahkan terkadang, orang di sekitarnya merasa harus berhati-hati dalam berbicara agar tidak memicu kemarahan.

Melihat perilaku seperti itu, kita mungkin langsung memberikan label: “Dia memang pemarah.”

Namun, dalam psikologi, kemarahan biasanya tidak sesederhana sifat bawaan atau sekadar persoalan “temperamen buruk”. Marah adalah emosi manusia yang normal. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang terlalu sering marah, mudah tersulut, atau memberikan respons yang jauh lebih besar daripada situasi yang dihadapinya.

Menariknya, kemarahan juga sering kali bukan emosi yang berdiri sendiri. Di baliknya dapat terdapat rasa frustrasi, kecewa, takut, terancam, tidak dihargai, lelah, atau perasaan kehilangan kendali.

Lalu, mengapa sebagian orang tampak jauh lebih mudah marah dibandingkan orang lain?

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), terdapat enam kemungkinan yang dapat membantu menjelaskannya dari sudut pandang psikologi.

1. Mereka memiliki ambang frustrasi yang lebih rendah

Setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menghadapi frustrasi.

Frustrasi muncul ketika seseorang menghadapi hambatan antara dirinya dan sesuatu yang diinginkan. Misalnya, seseorang ingin pekerjaannya berjalan sempurna tetapi terus menemukan masalah. Orang lain ingin didengarkan tetapi merasa diabaikan. Ada pula yang mengharapkan sesuatu berlangsung sesuai rencana, tetapi kenyataan justru berbeda.

Bagi sebagian orang, situasi seperti itu masih dapat ditoleransi. Mereka mungkin berpikir, “Ini memang menyebalkan, tetapi saya bisa mengatasinya.”

Sementara itu, orang dengan toleransi frustrasi yang lebih rendah dapat mengalami situasi yang sama sebagai sesuatu yang jauh lebih mengganggu.

Masalah kecil terasa seperti masalah besar.

Ketika frustrasi meningkat, kemarahan dapat menjadi respons yang muncul dengan cepat. Karena itu, orang tersebut mungkin terlihat seperti mudah marah, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kemampuan menoleransi ketidaknyamanan sedang rendah.

Hal ini juga menjelaskan mengapa seseorang bisa sangat marah ketika menghadapi antrean panjang, kesalahan kecil dari orang lain, perubahan rencana, atau sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan.

Bukan berarti ia sengaja ingin membuat suasana menjadi buruk. Bisa jadi sistem emosinya lebih cepat mencapai titik “cukup”.

Namun, toleransi frustrasi bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak dapat berubah. Kemampuan mengelola ekspektasi, mengenali pemicu emosi, belajar menunda respons, serta membangun strategi regulasi emosi dapat membantu seseorang menghadapi frustrasi dengan cara yang lebih sehat.

2. Kemarahan menjadi cara untuk mendapatkan kembali rasa kendali

Ada orang yang marah terutama ketika merasa kehilangan kendali.

Bayangkan seseorang yang terbiasa mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya. Ketika orang lain menolak, rencana berubah, atau sesuatu terjadi di luar kendalinya, ia mungkin merasa sangat tidak nyaman.

Dalam situasi tersebut, kemarahan dapat memberikan sensasi bahwa dirinya kembali memiliki kekuatan.

Meninggikan suara, membantah, mengancam, atau menunjukkan ekspresi agresif terkadang membuat orang lain mundur. Ketika orang lain akhirnya mengikuti keinginannya, kemarahan tersebut secara tidak langsung “berhasil”.

Di sinilah sebuah pola dapat terbentuk.

Seseorang marah → orang lain mengalah → ia mendapatkan kembali apa yang diinginkan → kemarahan terasa efektif.

Jika pola tersebut berulang, kemarahan dapat menjadi strategi yang semakin otomatis.

Ini bukan berarti setiap orang yang mudah marah sengaja memanipulasi orang lain. Sering kali prosesnya tidak disadari.

Bagi sebagian orang, kemarahan mungkin menjadi respons yang sudah sangat familiar ketika mereka merasa tidak berdaya.

Ironisnya, semakin seseorang merasa perlu mengendalikan lingkungan untuk merasa aman, semakin mudah ia mengalami kemarahan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapannya.

Karena itu, salah satu pertanyaan penting ketika seseorang mudah marah adalah:

“Apa yang sebenarnya ia rasakan ketika ia tidak bisa mengendalikan keadaan?”

Jawabannya bisa berupa rasa takut, tidak berdaya, tidak dihargai, atau tidak aman.

3. Mereka mungkin memiliki kesulitan dalam mengatur emosi

Regulasi emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola respons emosionalnya.

Orang yang memiliki regulasi emosi yang baik bukan berarti tidak pernah marah. Mereka tetap dapat merasa kesal, kecewa, atau frustrasi.

Perbedaannya terletak pada apa yang dilakukan setelah emosi muncul.

Seseorang mungkin merasa marah, tetapi mampu berhenti sejenak sebelum berbicara.

Orang lain mungkin langsung bereaksi.

Perbedaan ini sangat penting.

Ketika kemampuan regulasi emosi kurang baik, emosi dapat terasa seperti sesuatu yang mengambil alih. Seseorang mungkin mengetahui bahwa reaksinya terlalu besar, tetapi kesulitan menghentikannya ketika sedang berada dalam kondisi emosional.

Misalnya, komentar kecil dari pasangan dapat memicu kemarahan besar karena komentar tersebut ditafsirkan sebagai kritik atau penolakan. Setelah emosinya mereda, ia mungkin menyadari bahwa reaksinya berlebihan.

Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan semata-mata “terlalu banyak marah”, tetapi bagaimana seseorang memproses dan mengatur emosinya.

Kemampuan tersebut dipengaruhi banyak hal, termasuk kebiasaan, pengalaman hidup, pola belajar sejak kecil, kondisi psikologis, stres, dan lingkungan.

Kabar baiknya, regulasi emosi merupakan keterampilan yang dapat dilatih.

Belajar mengenali tanda-tanda tubuh sebelum kemarahan mencapai puncak, memberi jeda sebelum merespons, mengidentifikasi pikiran yang memicu kemarahan, serta mencari cara berkomunikasi yang lebih sehat merupakan beberapa langkah yang dapat membantu.

4. Mereka sering merasa tidak dihargai atau tidak didengarkan

Kadang-kadang kemarahan yang terlihat di permukaan sebenarnya berkaitan dengan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Seseorang yang terus-menerus merasa diabaikan, diremehkan, atau tidak dihargai mungkin menjadi semakin sensitif terhadap situasi yang menurutnya mengandung penghinaan atau penolakan.

Misalnya, seseorang meminta pendapatnya didengarkan tetapi terus dipotong. Pada satu kesempatan, ia mungkin hanya merasa kesal.

Namun, jika pengalaman serupa terjadi berkali-kali, rasa frustrasi dapat menumpuk.

Pada akhirnya, pemicu yang sebenarnya kecil dapat menghasilkan reaksi besar karena membawa akumulasi pengalaman sebelumnya.

Itulah sebabnya terkadang seseorang tampak “meledak” hanya karena satu kejadian kecil.

Kejadian tersebut mungkin bukan satu-satunya alasan kemarahannya. Ia bisa menjadi pemicu terakhir dari berbagai kekecewaan yang sudah menumpuk.

Dalam psikologi, penting untuk membedakan antara pemicu dan akar masalah.

Pemicu adalah kejadian yang terjadi sekarang.

Akar masalah bisa berupa pengalaman berulang yang membuat seseorang merasa tidak aman, tidak dihargai, tidak memiliki kendali, atau tidak didengarkan.

Tentu saja, merasa tidak dihargai tidak otomatis membenarkan perilaku agresif. Seseorang tetap bertanggung jawab atas bagaimana ia mengekspresikan emosinya.

Tetapi memahami sumber emosinya dapat membantu kita melihat bahwa kemarahan sering memiliki cerita di belakangnya.

5. Stres, kelelahan, dan tekanan hidup dapat membuat seseorang lebih reaktif

Kita sering mengira bahwa seseorang marah karena kejadian yang sedang berlangsung.

Padahal, kondisi tubuh dan pikiran sebelum kejadian juga berpengaruh besar.

Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, kurang tidur, kelelahan, tekanan pekerjaan, masalah finansial, konflik hubungan, atau terlalu banyak tuntutan, kapasitasnya untuk menghadapi gangguan kecil dapat menurun.

Sesuatu yang biasanya dapat ia abaikan menjadi terasa sangat mengganggu.

Bayangkan kapasitas emosional seperti baterai.

Ketika baterai penuh, gangguan kecil mungkin tidak terlalu berpengaruh.

Tetapi ketika seseorang sudah kelelahan secara mental, “baterainya” tinggal sedikit. Gangguan kecil pun dapat terasa seperti beban yang jauh lebih besar.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang biasanya tenang dapat tiba-tiba menjadi mudah marah pada periode tertentu dalam hidupnya.

Ia bukan tiba-tiba berubah menjadi orang yang berbeda. Bisa jadi kapasitasnya untuk menghadapi tekanan sedang menurun.

Karena itu, ketika melihat seseorang lebih mudah marah dari biasanya, kita tidak selalu perlu langsung bertanya, “Kenapa dia jadi pemarah?”

Pertanyaan yang lebih membantu mungkin:

“Apa yang sedang membebani dirinya akhir-akhir ini?”

Namun, memahami penyebab bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain. Stres dapat menjelaskan mengapa seseorang lebih mudah tersulut, tetapi tidak menjadi alasan untuk melakukan kekerasan atau memperlakukan orang lain secara abusif.

6. Mereka belajar bahwa marah adalah cara yang “normal” untuk berkomunikasi

Manusia belajar banyak hal melalui pengamatan.

Sejak kecil, seseorang dapat melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya menghadapi konflik.

Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan di mana perbedaan pendapat hampir selalu diselesaikan dengan teriakan, ancaman, atau ledakan emosi, ia dapat belajar bahwa itulah cara berkomunikasi ketika menghadapi masalah.

Ketika dewasa, pola tersebut mungkin terbawa ke hubungan pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan romantis.

Seseorang mungkin tidak pernah secara sadar memutuskan, “Saya akan menjadi orang yang mudah marah.”

Sebaliknya, ia hanya mengulangi pola yang telah lama dikenalnya.

Misalnya:

“Kalau ingin didengar, harus bicara keras.”

“Kalau orang lain tidak setuju, berarti kita harus melawan.”

“Kalau merasa tersinggung, kita harus langsung membalas.”

Pola semacam ini dapat menjadi kebiasaan.

Selain lingkungan keluarga, pengalaman sosial juga dapat membentuk cara seseorang mengekspresikan kemarahan. Jika seseorang pernah mendapatkan apa yang diinginkannya setelah marah, perilaku tersebut dapat semakin diperkuat.

Dengan demikian, kemarahan bukan hanya soal emosi yang muncul secara spontan. Cara seseorang mengekspresikan kemarahan juga dapat merupakan hasil pembelajaran.

Dan sesuatu yang dipelajari pada akhirnya juga dapat dipelajari ulang.

Jadi, apakah orang yang mudah marah sebenarnya sedang menyembunyikan emosi lain?

Tidak selalu.

Kemarahan adalah emosi yang nyata dan sah. Seseorang memang bisa benar-benar marah.

Namun, dalam banyak situasi, kemarahan dapat muncul bersama emosi lain.

Di balik kemarahan bisa terdapat:

rasa kecewa,
rasa takut,
rasa malu,
rasa tidak dihargai,
rasa tidak berdaya,
kesedihan,
frustrasi,
atau perasaan kehilangan kendali.

Karena kemarahan sering terasa lebih “kuat”, sebagian orang lebih mudah mengenalinya dibandingkan emosi yang mendasarinya.

Misalnya, mengatakan “Saya marah” mungkin terasa lebih mudah daripada mengatakan “Saya sebenarnya merasa ditolak.”

Atau mengatakan “Kamu membuat saya kesal” mungkin terasa lebih mudah daripada mengakui “Saya takut saya tidak dianggap penting.”

Karena itu, memahami kemarahan terkadang membutuhkan pertanyaan yang lebih dalam:

“Apa yang saya rasakan sebelum marah?”

dan

“Apa yang saya takutkan atau butuhkan dalam situasi ini?”

Pertanyaan semacam itu dapat membantu seseorang memahami pola emosinya dengan lebih baik.

Kemarahan bukan masalah—cara mengelolanya yang menentukan

Penting untuk tidak menganggap kemarahan sebagai emosi yang buruk.

Marah memiliki fungsi. Kemarahan dapat memberi sinyal bahwa seseorang merasa batasnya dilanggar, mengalami ketidakadilan, menghadapi masalah, atau membutuhkan perubahan.

Masalah muncul ketika kemarahan menjadi satu-satunya cara seseorang menghadapi masalah.

Jika setiap konflik berakhir dengan teriakan, penghinaan, intimidasi, atau tindakan agresif, dampaknya dapat merusak hubungan dan kesehatan psikologis orang-orang yang terlibat.

Karena itu, tujuan pengelolaan kemarahan bukanlah membuat seseorang tidak pernah marah.

Tujuannya adalah membuat seseorang mampu mengatakan:

“Saya sedang marah, tetapi saya tetap bisa memilih bagaimana saya bertindak.”

Ada perbedaan besar antara merasakan kemarahan dan melampiaskan kemarahan.

Seseorang dapat merasa sangat marah tanpa harus menyakiti orang lain.

Ia dapat menetapkan batas tanpa mengintimidasi.

Ia dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan.

Dan ia dapat meninggalkan percakapan untuk menenangkan diri tanpa menggunakan diam sebagai hukuman.

Kesimpulan

Sebagian orang tampak selalu mudah marah bukan semata-mata karena mereka memiliki “sifat pemarah”.

Ada berbagai kemungkinan yang dapat berperan, mulai dari toleransi frustrasi yang rendah, kebutuhan akan kontrol, kesulitan mengatur emosi, perasaan tidak dihargai, stres dan kelelahan, hingga pola komunikasi yang dipelajari sejak lama.

Yang juga penting untuk diingat adalah bahwa kita tidak dapat mengetahui kondisi psikologis seseorang hanya dari perilaku marah yang terlihat.

Seseorang yang sering marah tidak otomatis memiliki gangguan psikologis tertentu. Demikian pula, mengetahui kemungkinan penyebab kemarahan tidak berarti membenarkan perilaku agresif.

Pemahaman psikologis seharusnya membantu kita melihat perilaku dengan lebih jernih: mencari penyebab tanpa terburu-buru memberi label, sekaligus tetap mempertahankan batas yang sehat.

Pada akhirnya, kemarahan adalah bagian dari pengalaman manusia. Yang membedakan bukan apakah seseorang pernah marah, melainkan apakah ia mampu memahami emosinya dan memilih respons yang tidak merusak dirinya maupun orang lain.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore