Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2026 | 15.08 WIB

6 Strategi Memanfaatkan Waktu yang Terbuang untuk Meningkatkan Karier Menurut Psikologi

seseorang yang berhenti menghitung waktu terbuang. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu melihat ke belakang dan merasa terlalu banyak waktu yang sudah terbuang?

Mungkin ada beberapa tahun ketika kamu tidak belajar keterampilan baru. Ada masa ketika pekerjaan terasa stagnan. Bisa juga kamu pernah menunda mengambil peluang karena takut gagal, terlalu nyaman dengan rutinitas, atau terlalu sibuk memikirkan apa yang dilakukan orang lain.

Pada titik tertentu, perasaan seperti ini dapat berubah menjadi penyesalan.

"Seandainya dulu saya mulai belajar."

"Seandainya waktu itu saya berani mengambil kesempatan."

"Seandainya saya lebih serius membangun karier."

Namun, psikologi memberikan sudut pandang yang lebih konstruktif. Waktu yang telah berlalu memang tidak bisa dikembalikan, tetapi cara kita memberikan makna terhadap masa lalu dan menggunakan pengalaman tersebut masih dapat diubah.

Dengan kata lain, masalah sebenarnya bukan selalu tentang berapa banyak waktu yang telah hilang.

Masalahnya adalah apa yang kita lakukan setelah menyadari bahwa waktu tersebut telah berlalu.

Daripada terus menghukum diri sendiri karena masa lalu, kamu dapat mengubah pengalaman tersebut menjadi bahan bakar untuk perkembangan berikutnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), terdapat enam strategi yang dapat membantu.

1. Berhenti Menghitung Waktu yang Hilang dan Mulai Menghitung Modal yang Dimiliki

Ketika merasa tertinggal dalam karier, manusia cenderung melakukan perbandingan.

Kita melihat teman yang sudah mendapatkan promosi.

Melihat seseorang yang lebih muda sudah menjadi pemimpin.

Melihat orang lain membangun bisnis.

Melihat seseorang yang dulu berada di posisi yang sama sekarang memiliki pencapaian jauh lebih besar.

Kemudian muncul pikiran:

"Saya sudah terlalu terlambat."

Pola pikir seperti ini berbahaya karena membuat perhatian kita terkunci pada sesuatu yang tidak dapat diubah.

Dalam psikologi, perhatian merupakan sumber daya mental yang terbatas. Jika sebagian besar energi mental digunakan untuk menyesali masa lalu, semakin sedikit energi yang tersedia untuk merencanakan tindakan berikutnya.

Karena itu, langkah pertama bukan langsung bekerja lebih keras.

Langkah pertama adalah mengubah cara melihat masa lalu.

Daripada bertanya:

"Berapa banyak waktu yang sudah saya buang?"

ubah pertanyaannya menjadi:

"Apa yang saya miliki sekarang yang dapat saya gunakan untuk bergerak maju?"

Coba inventarisasi.

Apa keterampilan yang sudah kamu punya?

Pengalaman kerja apa yang sudah kamu lalui?

Masalah apa yang pernah kamu selesaikan?

Kesalahan apa yang pernah kamu buat?

Orang-orang profesional seperti apa yang sudah kamu kenal?

Pengetahuan apa yang sudah kamu dapatkan?

Bahkan pengalaman yang tampaknya tidak berguna dapat memiliki nilai tertentu.

Misalnya, seseorang mungkin merasa lima tahun bekerja di posisi administratif merupakan pemborosan karena ia sebenarnya ingin masuk ke bidang digital marketing.

Namun, lima tahun tersebut mungkin telah membuatnya memiliki kemampuan komunikasi, pengelolaan data, koordinasi, ketelitian, dan pemahaman terhadap proses bisnis.

Artinya, ia tidak benar-benar memulai dari nol.

Ia hanya perlu memindahkan modal yang sudah dimiliki ke arah yang baru.

Cara menerapkannya

Buat tiga daftar sederhana:

Pertama: keterampilan yang saya miliki.

Contohnya:

komunikasi
menulis
analisis data
presentasi
negosiasi
manajemen proyek
penggunaan software tertentu

Kedua: pengalaman yang saya miliki.

Misalnya:

pernah mengelola proyek
pernah menangani pelanggan
pernah membuat laporan
pernah memimpin tim kecil
pernah menyelesaikan konflik

Ketiga: hal yang saya pelajari dari kegagalan.

Ini sering dilupakan.

Padahal kegagalan dapat memberikan informasi tentang apa yang tidak efektif.

Dengan cara ini, masa lalu tidak lagi hanya menjadi kumpulan waktu yang hilang.

Ia berubah menjadi database pengalaman.

2. Gunakan Prinsip "Small Wins" untuk Mengembalikan Momentum

Salah satu masalah terbesar setelah merasa kehilangan banyak waktu adalah keinginan untuk mengejar semuanya sekaligus.

Misalnya seseorang menyadari bahwa kariernya stagnan.

Kemudian ia membuat rencana:

belajar bahasa Inggris dua jam setiap hari
mengambil kursus
membaca lima buku
memperbaiki CV
membangun personal branding
belajar coding
aktif di LinkedIn
mencari pekerjaan baru
membangun bisnis sampingan

Semua dilakukan dalam satu minggu.

Hasilnya?

Beberapa hari kemudian energi habis.

Rencana ditinggalkan.

Kemudian muncul kesimpulan:

"Saya memang tidak disiplin."

Padahal masalahnya belum tentu kurang disiplin.

Bisa jadi targetnya terlalu besar.

Psikologi perilaku menunjukkan bahwa kemajuan kecil yang konsisten dapat membantu membangun rasa kompetensi dan momentum.

Inilah pentingnya konsep small wins.

Daripada berpikir:

"Saya harus memperbaiki karier saya."

ubah menjadi:

"Apa satu tindakan kecil yang bisa membuat karier saya sedikit lebih baik hari ini?"

Misalnya:

Hari Senin: memperbaiki satu bagian CV.

Hari Selasa: membaca satu artikel profesional.

Hari Rabu: mempelajari satu konsep baru.

Hari Kamis: menghubungi satu koneksi profesional.

Hari Jumat: membuat satu contoh portofolio.

Kelihatannya kecil.

Tetapi masalah karier jarang diselesaikan oleh satu tindakan besar.

Karier biasanya berubah melalui akumulasi tindakan kecil yang dilakukan cukup lama.

Mengapa strategi ini penting?

Karena ketika seseorang merasa tertinggal, ia sering kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Small wins membantu menciptakan pengalaman:

"Ternyata saya masih bisa bergerak."

Dari sana muncul kepercayaan diri.

Kepercayaan diri kemudian mendorong tindakan berikutnya.

Tindakan berikutnya menghasilkan hasil.

Hasil tersebut memperkuat kepercayaan diri.

Terbentuklah sebuah siklus positif.

Jadi, jangan terlalu terobsesi dengan perubahan besar.

Cari kemenangan kecil yang dapat diulang.

3. Ubah Penyesalan Menjadi Informasi, Bukan Hukuman

Penyesalan adalah bagian alami dari kehidupan.

Tetapi ada dua cara manusia merespons penyesalan.

Yang pertama adalah rumination, yaitu terus memikirkan kejadian masa lalu tanpa menghasilkan keputusan atau tindakan baru.

Contohnya:

"Kenapa dulu saya tidak mengambil kesempatan itu?"

"Kenapa saya membuang waktu sebanyak itu?"

"Kenapa saya tidak belajar dari dulu?"

Pikiran tersebut berputar berulang kali.

Namun tidak menghasilkan perubahan.

Cara kedua adalah menggunakan penyesalan sebagai informasi untuk mengambil keputusan yang lebih baik.

Misalnya:

"Saya menyesal tidak belajar kemampuan digital lima tahun lalu."

Daripada berhenti di sana, ubah menjadi:

"Apa yang sebenarnya membuat saya menunda?"

Mungkin jawabannya adalah takut gagal.

Atau merasa tidak punya waktu.

Atau tidak tahu harus mulai dari mana.

Setelah penyebabnya diketahui, kita dapat membuat strategi untuk mencegah pola tersebut berulang.

Misalnya:

Penyesalan: Tidak pernah meningkatkan keterampilan.

Penyebab: Selalu menunggu waktu luang.

Pelajaran: Waktu luang tidak akan selalu muncul.

Strategi baru: Belajar 30 menit sebelum bekerja, tiga kali seminggu.

Ini adalah perubahan penting.

Kamu tidak lagi menggunakan masa lalu untuk menyerang diri sendiri.

Kamu menggunakannya sebagai data.

4. Gunakan "Future Self" untuk Menentukan Apa yang Harus Dilakukan Sekarang

Salah satu kesalahan ketika ingin memperbaiki karier adalah terlalu fokus pada kondisi saat ini.

Kita bertanya:

"Apa yang saya inginkan sekarang?"

Padahal pertanyaan yang lebih berguna adalah:

"Saya ingin menjadi profesional seperti apa tiga atau lima tahun dari sekarang?"

Dalam psikologi, konsep future self membantu seseorang membayangkan dirinya di masa depan dan menghubungkan tindakan hari ini dengan identitas yang ingin dibangun.

Bayangkan dirimu tiga tahun dari sekarang.

Bukan sekadar berapa gajimu.

Tanyakan:

Pekerjaan seperti apa yang kamu lakukan?
Keterampilan apa yang kamu kuasai?
Masalah apa yang mampu kamu selesaikan?
Siapa yang biasanya meminta bantuan kepadamu?
Bagaimana reputasimu di tempat kerja?
Apakah kamu memiliki spesialisasi tertentu?
Seperti apa kualitas kehidupan kerjamu?

Setelah itu, lakukan sesuatu yang sangat sederhana:

Tarik garis dari masa depan ke hari ini.

Jika tiga tahun lagi kamu ingin menjadi data analyst, kemampuan apa yang harus sudah kamu miliki?

Jika ingin menjadi manajer, kemampuan apa yang harus mulai dibangun?

Jika ingin menjadi freelancer, portofolio seperti apa yang harus tersedia?

Jika ingin menjadi entrepreneur, pengalaman dan pengetahuan apa yang perlu dikumpulkan?

Dengan cara ini, kamu tidak lagi menjalani hari secara acak.

Setiap aktivitas mulai memiliki arah.

Jangan Bertanya "Apa yang Bisa Saya Dapatkan Sekarang?"

Tanyakan:

"Apa yang perlu saya bangun sekarang agar diri saya di masa depan memiliki lebih banyak pilihan?"

Pertanyaan tersebut mengubah perspektif.

Belajar keterampilan baru mungkin tidak langsung menghasilkan uang.

Membangun portofolio mungkin tidak langsung menghasilkan klien.

Membangun jaringan profesional mungkin tidak langsung menghasilkan pekerjaan.

Tetapi semuanya meningkatkan optionality, yaitu jumlah pilihan yang tersedia bagi dirimu di masa depan.

Dan semakin banyak keterampilan, pengalaman, jaringan, serta reputasi yang kamu miliki, semakin besar kemungkinan munculnya peluang baru.

5. Manfaatkan Waktu yang Terbuang untuk Membangun "Career Capital"

Tidak semua aktivitas memiliki nilai yang sama bagi karier.

Menghabiskan tiga jam scrolling media sosial dan menghabiskan tiga jam mengerjakan proyek yang meningkatkan kemampuan profesional mungkin sama-sama menggunakan tiga jam.

Tetapi hasil jangka panjangnya berbeda.

Karena itu, setelah menyadari bahwa waktu telah banyak terbuang, jangan hanya berusaha menjadi lebih sibuk.

Berusahalah menjadi lebih bernilai.

Dalam pengembangan karier, kamu dapat memikirkan hal ini sebagai career capital atau modal karier.

Modal tersebut dapat berbentuk:

Skill

Kemampuan teknis dan interpersonal.

Experience

Pengalaman menyelesaikan masalah nyata.

Portfolio

Bukti bahwa kamu mampu menghasilkan sesuatu.

Network

Hubungan dengan orang-orang yang relevan secara profesional.

Reputation

Persepsi orang lain terhadap kualitas dan kemampuanmu.

Credibility

Bukti bahwa keahlianmu dapat dipercaya.

Semakin kuat modal tersebut, semakin besar daya tawarmu di pasar kerja.

Karena itu, setiap kali memiliki waktu kosong, coba tanyakan:

"Aktivitas ini menambah modal karier saya atau hanya menghabiskan energi?"

Tidak berarti semua waktu harus digunakan untuk bekerja.

Istirahat tetap penting.

Hiburan juga penting.

Kehidupan sosial penting.

Namun, kita perlu menyadari perbedaan antara recovery dan avoidance.

Istirahat membuat kita kembali dengan energi lebih baik.

Penghindaran hanya membuat kita semakin jauh dari sesuatu yang sebenarnya perlu dilakukan.

6. Terapkan Aturan "Jangan Kehilangan Tahun Kedua"

Ini mungkin strategi yang paling penting.

Kamu tidak dapat mengubah tahun-tahun yang sudah berlalu.

Tetapi kamu masih dapat mencegah agar penyesalan yang sama terjadi lagi.

Bayangkan kamu menyadari pada September 2026 bahwa selama beberapa tahun terakhir kariermu tidak berkembang seperti yang diharapkan.

Ada dua kemungkinan.

Pada September 2027, kamu masih mengatakan:

"Saya membuang banyak waktu."

Atau kamu mengatakan:

"Setidaknya tahun lalu saya mulai memperbaikinya."

Perbedaannya bukan terletak pada masa lalu.

Perbedaannya adalah apa yang kamu lakukan setelah menyadari masalah tersebut.

Karena itu, buat satu aturan sederhana:

Saya mungkin sudah kehilangan waktu, tetapi saya tidak akan kehilangan waktu yang sama untuk kedua kalinya.

Jika dulu kamu terlalu takut mengambil peluang, mulai berlatih mengambil risiko yang terukur.

Jika dulu kamu tidak memiliki keterampilan tertentu, mulai mempelajarinya.

Jika dulu tidak memiliki jaringan profesional, mulai membangunnya.

Jika dulu terlalu sering menunda, mulai menggunakan sistem yang mengurangi kesempatan untuk menunda.

Tujuannya bukan menjadi sempurna.

Tujuannya adalah menghentikan pola yang sama.

Cara Mengubah Enam Strategi Ini Menjadi Rencana 30 Hari

Mengetahui strategi tanpa menggunakannya tentu tidak banyak membantu.

Karena itu, kamu dapat mencoba rencana sederhana berikut.

Minggu Pertama: Audit Masa Lalu

Luangkan waktu untuk mengevaluasi perjalanan karier.

Tuliskan:

Apa yang saya sesali?
Apa penyebabnya?
Apa yang saya pelajari?
Keterampilan apa yang sudah saya miliki?
Apa kekuatan yang sering saya gunakan?
Kesalahan apa yang tidak ingin saya ulangi?

Jangan gunakan sesi ini untuk menyalahkan diri sendiri.

Anggap seperti melakukan audit.

Tujuannya bukan mencari siapa yang salah.

Tujuannya adalah mencari informasi yang berguna.

Minggu Kedua: Tentukan Arah

Pilih satu tujuan karier yang realistis.

Bukan sepuluh.

Satu.

Misalnya:

"Dalam satu tahun saya ingin memiliki kemampuan yang cukup untuk berpindah ke bidang digital marketing."

Kemudian tentukan tiga kemampuan utama yang dibutuhkan.

Misalnya:

content marketing
analytics
copywriting

Kemudian tentukan bukti yang harus dimiliki.

Contohnya:

tiga proyek portofolio
satu sertifikasi
pengalaman mengelola kampanye
beberapa studi kasus

Sekarang tujuan tersebut menjadi lebih konkret.

Minggu Ketiga: Mulai Mengumpulkan Small Wins

Setiap hari lakukan satu tindakan yang berhubungan dengan tujuan.

Tidak perlu besar.

Yang penting konsisten.

Misalnya:

30 menit belajar.

20 menit membaca.

30 menit membuat portofolio.

15 menit networking.

20 menit memperbaiki CV.

Tujuannya bukan menyelesaikan semuanya dalam sebulan.

Tujuannya membuktikan kepada diri sendiri bahwa:

"Saya sudah mulai bergerak."

Minggu Keempat: Evaluasi dan Sesuaikan

Setelah empat minggu, jangan hanya bertanya:

"Apakah saya sudah berhasil?"

Pertanyaan itu terlalu hitam-putih.

Tanyakan:

Apa yang berhasil?
Apa yang tidak berhasil?
Apa yang paling sulit?
Aktivitas mana yang memberikan hasil terbesar?
Keterampilan apa yang masih kurang?
Apa yang harus saya hentikan?
Apa yang harus saya lanjutkan?

Kemudian buat siklus berikutnya.

Empat minggu.

Lalu empat minggu lagi.

Lalu empat minggu lagi.

Dalam satu tahun, kamu mungkin akan terkejut melihat seberapa jauh perubahan yang terjadi dari tindakan yang awalnya terasa kecil.

Jangan Terjebak dalam "Produktivitas Palsu"

Ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Setelah merasa membuang waktu, seseorang bisa menjadi terlalu obsesif untuk menebus masa lalu.

Akibatnya, ia menganggap setiap menit harus produktif.

Bangun pagi harus belajar.

Siang harus bekerja.

Malam harus mengikuti kursus.

Akhir pekan harus membangun bisnis.

Tidak ada ruang untuk istirahat.

Ini bukan solusi.

Otak dan tubuh membutuhkan pemulihan.

Produktivitas yang berkelanjutan bukan berarti bekerja sepanjang waktu.

Justru kemampuan untuk bekerja, beristirahat, kemudian kembali bekerja dengan energi yang cukup merupakan bagian penting dari performa jangka panjang.

Jadi, memanfaatkan waktu bukan berarti memaksimalkan setiap menit.

Memanfaatkan waktu berarti mengalokasikan waktu untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Ada waktu untuk bekerja.

Ada waktu untuk belajar.

Ada waktu untuk membangun hubungan.

Ada waktu untuk keluarga.

Ada waktu untuk tidur.

Ada waktu untuk tidak melakukan apa pun.

Semuanya memiliki fungsi.

Pada Akhirnya, Karier Bukan Perlombaan Melawan Masa Lalu

Salah satu jebakan terbesar dalam perjalanan karier adalah menganggap hidup seperti perlombaan.

Seolah-olah ada jadwal universal:

Usia tertentu harus lulus.

Usia tertentu harus mendapatkan pekerjaan.

Usia tertentu harus dipromosikan.

Usia tertentu harus memiliki bisnis.

Usia tertentu harus mencapai posisi tertentu.

Padahal perjalanan profesional setiap orang berbeda.

Yang jauh lebih penting daripada bertanya:

"Mengapa saya tertinggal dari orang lain?"

adalah bertanya:

"Apakah saya bergerak ke arah yang benar?"

Mungkin kamu memang terlambat dibandingkan seseorang.

Tetapi terlambat bukan berarti selesai.

Mungkin kamu membuang waktu.

Tetapi membuang waktu bukan berarti seluruh masa depan juga harus terbuang.

Mungkin kamu membuat keputusan buruk.

Tetapi keputusan buruk dapat menjadi sumber pembelajaran jika kamu benar-benar menggunakannya.

Masa lalu adalah sesuatu yang sudah terjadi.

Kariermu berikutnya masih merupakan sesuatu yang dapat dibentuk.

Kesimpulan: Jangan Berusaha Mengembalikan Waktu, Bangun Nilai dari Waktu yang Tersisa

Jika kamu merasa telah membuang banyak waktu dalam perjalanan karier, jangan menghabiskan waktu tambahan untuk menghukum diri sendiri.

Gunakan enam strategi ini:

1. Berhenti menghitung waktu yang hilang dan mulai menghitung modal yang dimiliki.

2. Gunakan small wins untuk membangun kembali momentum.

3. Jadikan penyesalan sebagai informasi, bukan hukuman.

4. Gunakan gambaran future self untuk menentukan tindakan hari ini.

5. Gunakan waktu untuk membangun career capital: skill, pengalaman, portofolio, jaringan, dan reputasi.

6. Buat aturan untuk tidak kehilangan tahun yang sama untuk kedua kalinya.

Hal yang paling penting bukan apakah kamu mulai lebih awal dibandingkan orang lain.

Yang lebih penting adalah apakah hari ini kamu mulai bergerak dengan lebih sadar dibandingkan kemarin.

Karena pada akhirnya, waktu yang sudah berlalu memang tidak dapat dikembalikan.

Tetapi waktu yang masih tersisa dapat digunakan untuk membangun sesuatu yang jauh lebih berharga:

versi dirimu yang memiliki lebih banyak kemampuan, lebih banyak pilihan, dan lebih banyak kendali atas arah kariernya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore