seseorang yang mencari tujuan hidup. (Magnific)
Kamu sampai di rumah, meletakkan tas, mengganti pakaian, makan malam, membuka media sosial, menonton sesuatu, lalu tidur.
Besok pagi, semuanya dimulai lagi.
Bangun. Berangkat kerja. Menyelesaikan tugas. Menghadapi rapat. Mengejar target. Pulang. Istirahat. Tidur.
Lalu tiba-tiba muncul pertanyaan:
“Sebenarnya aku hidup untuk apa?”
Pertanyaan itu tidak selalu berarti kamu membenci pekerjaanmu. Bisa jadi kamu hanya sedang menyadari bahwa pekerjaan selama ini mengisi sebagian besar waktumu, tetapi belum tentu memberikan jawaban tentang makna hidupmu.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (8/9), dalam psikologi, pencarian makna dan tujuan hidup merupakan bagian penting dari kesejahteraan psikologis. Manusia bukan hanya membutuhkan kenyamanan atau kesenangan. Kita juga membutuhkan sesuatu yang terasa berarti, sesuatu yang membuat kita merasa bahwa waktu, tenaga, dan pengalaman yang kita jalani memiliki arah.
Kabar baiknya, tujuan hidup tidak selalu harus ditemukan melalui sebuah “panggilan besar”.
Kamu tidak harus tiba-tiba mengetahui apa misi hidupmu pada usia tertentu.
Sering kali, tujuan hidup justru dibangun sedikit demi sedikit melalui hal-hal yang kamu lakukan setelah pekerjaan selesai.
Jika akhir-akhir ini kamu merasa hidup hanya berputar antara kantor dan rumah, enam cara berikut bisa menjadi titik awal.
1. Jangan langsung mengisi waktu kosong dengan hiburan
Setelah bekerja seharian, sangat wajar jika kamu ingin beristirahat.
Masalahnya bukan pada istirahat.
Masalahnya muncul ketika seluruh waktu luang otomatis diisi dengan sesuatu yang membuat pikiran tidak perlu merasakan apa pun.
Kamu membuka media sosial selama satu jam.
Menonton video berikutnya.
Beralih ke aplikasi lain.
Scrolling lagi.
Kemudian tanpa terasa malam sudah semakin larut.
Keesokan harinya, kamu mungkin merasa sudah “beristirahat”, tetapi belum tentu merasa lebih hidup.
Dalam psikologi, ada perbedaan antara aktivitas yang sekadar mengalihkan perhatian dengan aktivitas yang benar-benar memulihkan diri. Istirahat yang berkualitas tidak selalu berarti tidak melakukan apa-apa. Terkadang, aktivitas yang membuat kita merasa terhubung dengan diri sendiri justru lebih menyegarkan daripada konsumsi hiburan tanpa batas.
Karena itu, setelah pulang kerja, cobalah menciptakan ruang transisi.
Misalnya, selama 30–60 menit pertama setelah sampai di rumah, jangan langsung tenggelam dalam layar.
Mandi.
Berjalan kaki sebentar.
Minum teh.
Duduk di teras.
Mendengarkan musik.
Memasak makanan sederhana.
Atau sekadar berbaring tanpa membuka ponsel.
Tujuannya bukan untuk menjadi produktif.
Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada otak untuk keluar dari mode “bekerja” dan kembali menyadari apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Setelah itu, tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau malam ini aku tidak perlu mengejar apa pun, sebenarnya aku ingin melakukan apa?”
Jawaban pertama mungkin sederhana.
Mungkin kamu ingin membaca.
Mungkin ingin bermain musik.
Mungkin ingin berbicara dengan seseorang.
Mungkin ingin belajar sesuatu.
Jangan meremehkan jawaban kecil tersebut.
Tujuan hidup tidak selalu muncul sebagai sebuah jawaban besar. Kadang-kadang ia muncul sebagai rasa penasaran kecil yang terus kembali.
2. Cari tahu apa yang membuatmu merasa “hidup”, bukan hanya apa yang membuatmu sukses
Banyak orang memilih arah hidup berdasarkan pertanyaan:
“Apa yang bisa membuatku sukses?”
Padahal, jika kamu sedang mencari tujuan hidup, pertanyaan yang lebih berguna mungkin:
“Aktivitas apa yang membuatku merasa benar-benar hadir?”
Ini penting karena kesuksesan eksternal dan makna pribadi tidak selalu berjalan bersamaan.
Kamu bisa mendapatkan promosi tetapi tetap merasa kosong.
Kamu bisa mendapatkan gaji lebih tinggi tetapi tetap tidak tahu untuk apa kamu bekerja.
Sebaliknya, ada aktivitas sederhana yang tidak menghasilkan uang banyak tetapi membuatmu merasa waktu berlalu begitu cepat.
Perhatikan pengalaman tersebut.
Misalnya, kamu merasa sangat menikmati ketika membantu rekan kerja memahami sesuatu.
Atau kamu senang ketika memperbaiki benda yang rusak.
Kamu merasa bersemangat ketika menulis.
Kamu suka mengajari anak-anak.
Kamu menikmati olahraga.
Kamu merasa puas ketika membuat sesuatu dengan tangan.
Atau kamu merasa tenang ketika merawat tanaman.
Jangan langsung bertanya apakah aktivitas itu bisa menjadi pekerjaan.
Untuk sementara, cukup tanyakan:
“Apa yang sebenarnya menarik bagiku?”
Cobalah membuat daftar selama satu minggu.
Setiap malam setelah pulang kerja, tuliskan tiga hal:
Apa yang membuatku berenergi hari ini?
Apa yang membuatku penasaran?
Kapan aku merasa paling menjadi diriku sendiri?
Setelah beberapa minggu, mungkin kamu akan mulai melihat pola.
Dan pola itulah yang menarik.
Sebab tujuan hidup sering kali tidak ditemukan melalui satu momen pencerahan, melainkan melalui pola berulang tentang hal-hal yang kita pedulikan.
3. Gunakan waktu setelah kerja untuk membangun sesuatu, bukan hanya mengonsumsi sesuatu
Coba perhatikan bagaimana kamu menghabiskan sebagian besar waktu luangmu.
Berapa banyak waktu yang digunakan untuk mengonsumsi?
Menonton.
Scrolling.
Membaca komentar.
Melihat kehidupan orang lain.
Mendengarkan podcast.
Bermain game.
Semua itu boleh.
Namun, jika hampir seluruh waktu luang digunakan untuk menerima sesuatu dari luar, kamu mungkin kehilangan kesempatan untuk mengalami kepuasan dari menciptakan sesuatu sendiri.
Dalam psikologi positif, perasaan memiliki kompetensi—merasa mampu melakukan sesuatu dan berkembang—merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang penting.
Itulah sebabnya membuat sesuatu bisa terasa berbeda dari sekadar menghibur diri.
Kamu tidak perlu membuat perusahaan.
Tidak perlu menulis buku.
Tidak perlu menjadi seniman.
Mulailah dari proyek kecil.
Misalnya:
Senin: belajar fotografi selama 30 menit.
Selasa: belajar bahasa baru.
Rabu: menulis satu halaman.
Kamis: belajar memasak.
Jumat: mengerjakan proyek pribadi.
Sabtu: mengembangkan keterampilan yang sudah lama ingin dipelajari.
Yang penting bukan seberapa besar hasilnya.
Yang penting adalah munculnya perasaan:
“Aku sedang membangun sesuatu.”
Perasaan tersebut bisa memberikan arah yang berbeda terhadap hidup.
Bayangkan dua malam.
Pada malam pertama, kamu pulang kerja lalu menghabiskan tiga jam scrolling.
Pada malam kedua, kamu pulang kerja lalu menghabiskan satu jam belajar gitar.
Mungkin hasilnya belum terlihat.
Tetapi setelah satu bulan, kamu sudah memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak kamu miliki.
Setelah enam bulan, mungkin kamu bisa memainkan beberapa lagu.
Setelah dua tahun, mungkin kamu benar-benar menjadi seorang musisi amatir.
Begitulah tujuan sering terbentuk.
Bukan dari satu keputusan besar, tetapi dari investasi kecil yang dilakukan berulang kali.
4. Cari aktivitas yang memberi kontribusi kepada orang lain
Ada satu pertanyaan yang sering terlupakan ketika seseorang mencari tujuan hidup:
“Siapa yang bisa mendapatkan manfaat dari keberadaanku?”
Tujuan hidup tidak hanya berkaitan dengan apa yang ingin kita dapatkan.
Ia juga berkaitan dengan apa yang ingin kita berikan.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Hubungan, kontribusi, dan rasa bahwa keberadaan kita berarti bagi orang lain dapat menjadi sumber makna yang kuat.
Karena itu, jika kamu merasa hidupmu terlalu berpusat pada pekerjaan, cobalah menggunakan sebagian waktu setelah pulang kerja untuk melakukan sesuatu yang berdampak bagi orang lain.
Tidak harus menjadi relawan setiap hari.
Bisa sangat sederhana.
Membantu teman belajar.
Mengajari adik.
Mendengarkan pasangan dengan sungguh-sungguh.
Membantu orang tua.
Berbagi ilmu di internet.
Menjadi mentor bagi seseorang.
Bergabung dengan komunitas.
Membantu tetangga.
Atau sekadar menjadi orang yang bisa diandalkan ketika seseorang membutuhkan bantuan.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mencari “passion” sampai lupa bahwa makna juga bisa ditemukan dalam kontribusi.
Kamu mungkin tidak pernah menemukan pekerjaan impian.
Namun kamu tetap bisa menemukan alasan untuk merasa hidupmu berarti.
Misalnya, seorang pekerja kantoran mungkin tidak terlalu mencintai pekerjaannya. Tetapi setiap malam ia mengajari anaknya membaca.
Ia mungkin tidak menganggap kegiatan itu sebagai “tujuan hidup”.
Padahal, bisa jadi justru di situlah sebagian makna hidupnya berada.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa yang membuatku bahagia?”
Cobalah juga bertanya:
“Apa yang bisa kuberikan kepada orang lain?”
5. Berhenti menunggu tujuan hidup terasa jelas sebelum mulai bergerak
Salah satu jebakan terbesar dalam pencarian tujuan hidup adalah menunggu kepastian.
Kita berpikir:
“Kalau memang ini tujuan hidupku, aku pasti tahu.”
“Kalau aku menemukan passion, aku pasti langsung bersemangat.”
“Kalau sudah yakin, baru aku mulai.”
Padahal, sering kali prosesnya justru terbalik.
Kita mencoba sesuatu terlebih dahulu.
Kemudian kita belajar.
Setelah belajar, kita menjadi lebih baik.
Ketika menjadi lebih baik, kita mulai menikmati prosesnya.
Dari sana, ketertarikan tumbuh.
Dan perlahan, sesuatu yang awalnya hanya eksperimen bisa berubah menjadi bagian penting dalam hidup.
Jadi, jika kamu belum tahu apa tujuan hidupmu, jangan menjadikan ketidaktahuan itu alasan untuk tidak melakukan apa pun.
Gunakan prinsip eksperimen kecil.
Pilih satu aktivitas yang membuatmu penasaran.
Lakukan selama 30 hari.
Tidak perlu berjanji akan melakukannya selamanya.
Cukup katakan:
“Aku akan mencoba ini selama satu bulan.”
Misalnya kamu tertarik menulis.
Jangan langsung berpikir:
“Apakah aku harus menjadi penulis?”
Cukup tulis 300 kata setiap malam.
Jika tertarik olahraga, jangan langsung bertanya:
“Apakah ini akan mengubah hidupku?”
Cukup olahraga tiga kali seminggu.
Jika tertarik bisnis, jangan langsung berpikir:
“Apakah aku harus resign?”
Coba pelajari bisnis tersebut setelah pulang kerja.
Tujuan hidup tidak membutuhkan keputusan permanen di awal.
Yang kamu butuhkan adalah keberanian untuk melakukan eksperimen.
6. Buat kehidupan yang tidak hanya berisi pekerjaan
Ini mungkin langkah yang paling penting.
Jika pekerjaan mengambil 8–10 jam sehari, sangat mudah bagi identitas kita untuk menyatu dengan profesi.
Ketika seseorang bertanya:
“Kamu siapa?”
Jawabannya sering kali berupa pekerjaan.
“Aku seorang manajer.”
“Aku seorang programmer.”
“Aku seorang akuntan.”
“Aku seorang guru.”
Padahal kamu lebih besar daripada pekerjaanmu.
Pekerjaan adalah salah satu bagian dari hidupmu, bukan keseluruhan identitasmu.
Karena itu, cobalah membangun apa yang bisa disebut sebagai kehidupan kedua setelah jam kerja.
Bukan berarti kamu harus menjalani dua pekerjaan.
Maksudnya adalah memiliki dunia lain di luar kantor.
Dunia yang terdiri dari hubungan, kesehatan, kreativitas, pembelajaran, komunitas, spiritualitas, hobi, dan pengalaman.
Bayangkan hidupmu seperti sebuah meja.
Jika hanya memiliki satu kaki bernama “pekerjaan”, meja tersebut akan mudah goyah ketika pekerjaan bermasalah.
Tetapi jika hidupmu memiliki beberapa sumber makna—keluarga, teman, kesehatan, kreativitas, pembelajaran, kontribusi, dan pekerjaan—kamu memiliki fondasi yang lebih kuat.
Karena itu, setelah pulang kerja, jangan selalu bertanya:
“Apa yang harus aku lakukan agar besok lebih produktif?”
Sesekali tanyakan:
“Apa yang bisa kulakukan malam ini agar hidupku terasa lebih utuh?”
Pertanyaan tersebut menghasilkan jawaban yang sangat berbeda.
Mungkin jawabannya adalah makan malam bersama keluarga.
Mungkin pergi berolahraga.
Mungkin menelepon teman lama.
Mungkin membaca buku.
Mungkin belajar keterampilan baru.
Mungkin membuat sesuatu.
Mungkin tidak melakukan apa-apa dan benar-benar beristirahat.
Semuanya sah.
Karena tujuan hidup bukan berarti membuat setiap menit menjadi produktif.
Tujuan hidup adalah memiliki alasan yang membuat kita merasa bahwa hidup ini layak dijalani dan waktu yang kita miliki memiliki arti.
Jangan Terlalu Terobsesi Menemukan “Satu Tujuan Hidup”
Ada satu hal penting yang perlu diingat.
Kamu mungkin tidak memiliki satu tujuan hidup yang tetap selama puluhan tahun.
Tujuanmu pada usia 25 tahun bisa berbeda dengan usia 35 tahun.
Apa yang penting ketika kamu masih lajang bisa berbeda setelah memiliki keluarga.
Hal yang kamu kejar ketika baru memulai karier bisa berubah setelah mengalami kegagalan, kehilangan, atau perubahan besar.
Itu bukan berarti kamu tersesat.
Itu berarti kamu berkembang.
Karena itu, daripada mencari satu jawaban permanen untuk pertanyaan:
“Apa tujuan hidupku?”
mungkin lebih sehat untuk bertanya:
“Apa yang ingin kubuat berarti pada tahap hidupku sekarang?”
Pertanyaan tersebut terasa lebih ringan.
Dan lebih realistis.
Kamu tidak harus mengetahui seluruh perjalanan.
Kamu hanya perlu mengetahui langkah berikutnya.
Coba Rutinitas 30 Menit Setelah Pulang Kerja
Jika kamu bingung harus mulai dari mana, cobalah rutinitas sederhana ini selama dua minggu.
10 menit pertama — berhenti sejenak
Jauhkan ponsel.
Tarik napas.
Mandi atau duduk dengan tenang.
Biarkan pikiran beralih dari pekerjaan ke kehidupan pribadi.
10 menit kedua — refleksi
Tuliskan:
Apa yang membuatku berenergi hari ini?
Apa yang menguras energiku?
Apa yang membuatku penasaran?
Apa satu hal yang ingin kulakukan di luar pekerjaan?
10 menit terakhir — lakukan sesuatu yang bermakna
Baca beberapa halaman buku.
Belajar keterampilan.
Menulis.
Berolahraga.
Menghubungi orang yang kamu sayangi.
Mengerjakan proyek pribadi.
Atau melakukan sesuatu yang membuatmu merasa terhubung dengan dirimu sendiri.
Tidak perlu sempurna.
Yang penting konsisten.
Setelah dua minggu, lihat kembali catatanmu.
Cari pola.
Mungkin kamu akan menemukan bahwa setiap kali menulis, kamu merasa lebih hidup.
Atau ternyata kamu selalu merasa bahagia setelah membantu seseorang.
Atau kamu ternyata sangat menikmati belajar hal baru.
Atau kamu membutuhkan lebih banyak waktu bersama orang-orang yang kamu cintai.
Dari situlah pencarian tujuan hidup mulai menjadi lebih konkret.
Pada Akhirnya, Tujuan Hidup Tidak Selalu Ditemukan—Sering Kali Ia Dibangun
Mungkin selama ini kamu membayangkan bahwa suatu hari akan ada sebuah momen ketika semuanya menjadi jelas.
Kamu bangun tidur dan tiba-tiba tahu:
“Inilah tujuan hidupku.”
Tetapi kehidupan jarang bekerja sesederhana itu.
Tujuan hidup sering kali dibangun dari keputusan-keputusan kecil.
Dari sesuatu yang kamu pilih untuk pelajari.
Dari orang yang kamu pilih untuk bantu.
Dari hubungan yang kamu rawat.
Dari keterampilan yang kamu kembangkan.
Dari keberanian mencoba sesuatu yang baru.
Dari pengalaman gagal dan belajar kembali.
Dan bahkan dari malam-malam biasa setelah pulang kerja ketika kamu memutuskan untuk tidak sekadar menghabiskan waktu, tetapi mulai memperhatikan apa yang sebenarnya penting bagimu.
Jadi, jika sekarang kamu sedang pulang kerja dan merasa:
“Aku tidak tahu sebenarnya hidupku mau dibawa ke mana,”
jangan buru-buru menganggap dirimu gagal.
Mungkin kamu sedang berada di fase ketika hidup memintamu untuk berhenti sejenak dan bertanya kembali:
Apa yang penting bagiku?
Apa yang ingin kubangun?
Siapa yang ingin kubantu?
Hal apa yang membuatku merasa hidup?
Dan yang paling penting:
“Kalau pekerjaan bukan satu-satunya bagian dari hidupku, kehidupan seperti apa yang ingin kubangun setelah jam kerja?”
Kamu tidak harus menemukan jawabannya malam ini.
Mulailah dengan satu langkah kecil.
Karena terkadang, tujuan hidup tidak menunggu kita di ujung perjalanan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Aris Sebut Dua Apartemennya Dipakai Endah Fitrianingsih dan Malik Bawazier Berselingkuh
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022