Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 12.18 WIB

7 Alasan Keheningan Saat Duduk Berdua Bisa Membuat Kita Tidak Nyaman Menurut Psikologi

seseorang yang tidak nyaman saat berada dalam keheningan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda duduk berdua dengan seseorang, lalu tiba-tiba tidak ada satu pun dari kalian yang berbicara? Awalnya mungkin terasa biasa saja.

Namun beberapa detik kemudian, suasana mulai terasa berbeda. Anda mulai memikirkan sesuatu untuk dikatakan.
 
Anda melihat ponsel. Memperhatikan sekeliling. Bertanya dalam hati apakah orang tersebut merasa bosan. Bahkan terkadang, Anda mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting hanya demi menghilangkan keheningan.

Menariknya, orang lain mungkin sebenarnya tidak merasa terganggu sama sekali.

Tetapi mengapa kita bisa merasa begitu tidak nyaman ketika hanya duduk berdua dalam suasana hening?

Menurut psikologi, keheningan dalam interaksi sosial bukan sekadar "tidak ada suara". Dalam situasi tertentu, keheningan dapat menjadi sesuatu yang secara psikologis terasa penuh dengan makna. Otak kita berusaha menafsirkan apa yang sedang terjadi, bagaimana orang lain menilai kita, dan apa yang seharusnya kita lakukan berikutnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (8/9), terdapat tujuh alasan mengapa keheningan saat duduk berdua dengan orang lain sering terasa begitu canggung dan tidak nyaman.

1. Kita Terlalu Sadar terhadap Diri Sendiri

Salah satu alasan terbesar mengapa keheningan terasa tidak nyaman adalah meningkatnya kesadaran terhadap diri sendiri.

Ketika percakapan berlangsung, perhatian kita terbagi antara apa yang kita katakan, apa yang dikatakan orang lain, serta situasi di sekitar kita.

Tetapi ketika tiba-tiba tidak ada yang berbicara, perhatian dapat beralih ke diri sendiri.

"Kok saya diam?"

"Apakah dia merasa saya membosankan?"

"Haruskah saya mengatakan sesuatu?"

"Kenapa suasananya jadi aneh?"

Kesadaran diri seperti ini dapat membuat situasi yang sebenarnya sederhana terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya.

Kita bukan hanya mengalami keheningan. Kita mulai mengamati diri sendiri yang sedang mengalami keheningan.

Inilah yang membuat beberapa detik terasa jauh lebih panjang.

Dalam psikologi sosial, perhatian terhadap diri sendiri dapat meningkat ketika seseorang merasa sedang menjadi objek pengamatan atau evaluasi. Ketika duduk berdua, kita juga cenderung merasa bahwa perhatian orang lain tertuju kepada kita.

Padahal kenyataannya, orang tersebut mungkin sedang memikirkan hal yang sama sekali berbeda.

Ia mungkin sedang memikirkan pekerjaannya.

Mungkin sedang lelah.

Mungkin nyaman dengan suasana tenang.

Atau bahkan mungkin juga berpikir, "Tidak apa-apa kalau kita diam."

Masalahnya adalah kita sering tidak memiliki akses langsung terhadap pikiran orang lain. Karena itu, otak mulai mengisi kekosongan informasi tersebut dengan asumsi.

Dan sayangnya, asumsi kita tidak selalu positif.

2. Otak Manusia Tidak Suka Ketidakpastian Sosial

Manusia adalah makhluk sosial. Kita terbiasa membaca ekspresi wajah, nada suara, bahasa tubuh, dan berbagai sinyal sosial untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Ketika seseorang berbicara, kita mendapatkan banyak informasi.

Namun ketika dua orang sama-sama diam, informasi tersebut berkurang drastis.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada respons.

Tidak ada ekspresi verbal yang membantu kita memahami keadaan.

Akibatnya, muncul ketidakpastian.

"Dia diam karena nyaman atau tidak nyaman?"

"Apakah dia ingin pergi?"

"Apakah saya mengatakan sesuatu yang salah?"

"Apakah dia sedang marah?"

Keheningan membuat kita harus menebak.

Dan otak manusia cenderung tidak menyukai situasi yang ambigu, terutama ketika situasi tersebut berkaitan dengan hubungan sosial.

Inilah salah satu alasan mengapa keheningan dengan orang yang sangat dekat sering terasa berbeda dibandingkan keheningan dengan orang yang baru dikenal.

Dengan sahabat dekat, kita mungkin dapat duduk bersama selama beberapa menit tanpa berbicara dan tidak merasa perlu melakukan apa pun.

Namun dengan seseorang yang baru kita kenal, keheningan yang sama bisa terasa sangat panjang.

Bukan karena keheningannya berbeda.

Melainkan karena tingkat kepastian kita mengenai hubungan tersebut berbeda.

Semakin tidak jelas posisi kita dalam sebuah interaksi, semakin besar kemungkinan kita mencoba mencari tanda-tanda dari orang lain.

3. Kita Takut Sedang Dinilai oleh Orang Lain

Ada alasan lain yang sangat manusiawi: kita takut dinilai.

Saat percakapan berhenti, kita mungkin mulai bertanya apakah orang lain sedang membentuk penilaian tentang diri kita.

"Apakah saya membosankan?"

"Apakah saya terlalu pendiam?"

"Apakah saya terlihat canggung?"

"Apakah dia berpikir saya tidak punya topik pembicaraan?"

Perasaan semacam ini berkaitan dengan kekhawatiran terhadap evaluasi sosial.

Menariknya, manusia sering melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan dirinya. Kita merasa setiap gerakan, perkataan, bahkan keheningan kita sangat terlihat.

Padahal orang lain juga memiliki pikirannya sendiri.

Mereka juga mungkin sedang sibuk memikirkan bagaimana mereka terlihat di hadapan kita.

Dengan kata lain, bisa saja kedua orang tersebut sama-sama takut terlihat canggung, sehingga keduanya berusaha mencari sesuatu untuk dikatakan.

Hasilnya?

Percakapan menjadi terasa seperti sebuah kewajiban.

Bukan lagi karena memang ada sesuatu yang ingin dibicarakan, tetapi karena kedua orang tersebut merasa harus menghindari keheningan.

Padahal diam sebenarnya tidak selalu berarti negatif.

Keheningan tidak otomatis berarti seseorang tidak menyukai kita.

Keheningan juga tidak selalu menunjukkan bahwa hubungan sedang bermasalah.

Kadang-kadang, diam hanyalah diam.

4. Kita Terbiasa Menganggap Percakapan sebagai Tanda Hubungan yang Baik

Sejak kecil, kita belajar bahwa komunikasi adalah bagian penting dari hubungan sosial.

Orang yang akrab biasanya dianggap banyak berbicara.

Teman yang menyenangkan adalah teman yang bisa diajak ngobrol.

Pertemuan yang menyenangkan sering digambarkan sebagai percakapan yang mengalir tanpa henti.

Akibatnya, kita secara tidak sadar dapat membentuk sebuah aturan sosial:

"Kalau kami dekat, seharusnya kami bisa terus berbicara."

Aturan ini membuat keheningan terlihat seperti sesuatu yang harus diperbaiki.

Begitu percakapan berhenti, kita merasa ada sesuatu yang salah.

Padahal hubungan yang sehat tidak selalu membutuhkan komunikasi verbal secara terus-menerus.

Ada bentuk kedekatan lain yang lebih tenang.

Misalnya, dua orang yang sudah merasa nyaman satu sama lain mungkin bisa membaca buku di ruangan yang sama, bekerja berdampingan, menikmati pemandangan, atau sekadar duduk bersama tanpa merasa harus mengisi setiap detik dengan percakapan.

Di titik tertentu, kemampuan untuk diam bersama justru dapat menjadi tanda kenyamanan.

Perbedaannya terletak pada bagaimana keheningan tersebut dirasakan.

Ada keheningan yang terasa seperti tekanan.

Tetapi ada juga keheningan yang terasa seperti ketenangan.

Yang satu membuat kita ingin segera berbicara.

Yang lain membuat kita tidak perlu berbicara sama sekali.

5. Kita Mengalami "Mind Reading" Tanpa Sadar

Ketika suasana hening, kita sering melakukan sesuatu yang dalam psikologi kognitif dikenal sebagai membaca pikiran secara asumtif atau mind reading.

Kita merasa tahu apa yang sedang dipikirkan orang lain, meskipun sebenarnya kita tidak memiliki bukti yang cukup.

Contohnya:

"Dia diam berarti dia bosan."

"Dia melihat ke ponsel berarti dia tidak tertarik berbicara dengan saya."

"Dia tidak memulai percakapan berarti dia tidak nyaman berada di sini."

Masalahnya, satu perilaku dapat memiliki banyak penjelasan.

Seseorang yang melihat ponsel mungkin memang bosan.

Tetapi bisa juga ia sedang memeriksa waktu.

Seseorang yang diam mungkin tidak tertarik berbicara.

Tetapi bisa juga ia sedang lelah.

Atau mungkin ia memang merasa nyaman dalam keheningan.

Ketika kita sedang cemas, kita cenderung memilih interpretasi yang paling mengkhawatirkan.

Inilah yang membuat keheningan semakin tidak nyaman.

Keheningan → muncul ketidakpastian → kita membuat interpretasi → interpretasi terasa negatif → kecemasan meningkat → kita semakin ingin menghilangkan keheningan.

Siklus tersebut dapat terjadi hanya dalam beberapa detik.

6. Kita Merasa Bertanggung Jawab untuk "Menyelamatkan" Suasana

Pernahkah Anda merasa harus menjadi orang yang memulai percakapan ketika suasana mulai hening?

"Jadi, kamu sudah makan?"

"Besok kerja?"

"Eh, ngomong-ngomong..."

Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini terkadang bukan muncul karena kita benar-benar ingin mengetahui jawabannya.

Kita mengatakannya karena ingin mengurangi ketegangan.

Ada dorongan psikologis untuk memperbaiki suasana yang kita anggap tidak nyaman.

Ini terutama terasa ketika kita merasa bertanggung jawab terhadap kualitas interaksi.

Kita mungkin berpikir:

"Kalau saya tidak mengatakan sesuatu, suasananya akan semakin canggung."

Akibatnya, kita mulai memproduksi percakapan secara spontan.

Dan semakin kita berusaha keras mencari sesuatu untuk dikatakan, semakin sulit percakapan terasa alami.

Ironisnya, usaha berlebihan untuk menghilangkan keheningan justru dapat membuat kita semakin sadar bahwa suasananya sedang hening.

Kita menjadi terlalu fokus pada proses percakapan.

"Kira-kira saya harus ngomong apa?"

"Apakah topik ini bagus?"

"Jangan-jangan pertanyaan saya aneh."

Pada titik tersebut, percakapan tidak lagi berjalan secara spontan. Kita seperti sedang melakukan evaluasi terus-menerus terhadap diri sendiri.

7. Keheningan Memberi Ruang bagi Pikiran yang Biasanya Kita Hindari

Ini mungkin alasan yang paling menarik.

Keheningan tidak selalu terasa tidak nyaman karena orang lain.

Kadang-kadang, keheningan membuat kita mendengar isi kepala kita sendiri.

Saat percakapan berlangsung, pikiran kita memiliki banyak rangsangan untuk diproses. Kita fokus pada cerita, respons, ekspresi, dan berbagai hal yang sedang dibicarakan.

Namun ketika semuanya berhenti, ruang mental menjadi lebih luas.

Pikiran yang sebelumnya berada di latar belakang bisa muncul ke permukaan.

Kekhawatiran.

Rasa tidak percaya diri.

Pertanyaan mengenai hubungan.

Kecemasan tentang masa depan.

Bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak kita pikirkan sebelumnya.

Karena itu, seseorang yang tidak nyaman dengan keheningan belum tentu tidak nyaman dengan orang di depannya.

Bisa jadi ia tidak nyaman dengan apa yang muncul di dalam pikirannya ketika tidak ada distraksi.

Inilah salah satu alasan mengapa sebagian orang selalu ingin mengisi waktu dengan musik, video, percakapan, media sosial, atau aktivitas lainnya.

Bukan semata-mata karena mereka tidak menyukai kesunyian.

Mungkin karena kesunyian memberi mereka kesempatan untuk mendengar pikirannya sendiri.

Mengapa Keheningan dengan Orang Tertentu Terasa Lebih Canggung?

Menariknya, kita tidak merasa tidak nyaman dalam semua situasi hening.

Anda mungkin bisa duduk sendirian di kamar selama beberapa menit tanpa masalah.

Anda juga mungkin bisa duduk bersama sahabat dekat tanpa berbicara.

Tetapi ketika duduk berdua dengan orang yang baru dikenal atau seseorang yang ingin Anda dekati, keheningan bisa terasa sangat berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya "diam".

Yang berperan adalah makna sosial yang kita berikan pada diam tersebut.

Keheningan bersama orang yang kita percaya dapat ditafsirkan sebagai kenyamanan.

Keheningan bersama orang yang hubungannya belum jelas dapat ditafsirkan sebagai penolakan.

Situasinya sama.

Interpretasinya berbeda.

Dan interpretasi tersebut memengaruhi emosi kita.

Apakah Keheningan Selalu Berarti Hubungan Tidak Nyaman?

Tidak.

Ini merupakan hal penting yang sering dilupakan.

Keheningan tidak otomatis menunjukkan bahwa hubungan sedang buruk.

Bahkan, dalam hubungan yang sudah sangat dekat, kemampuan untuk diam bersama dapat menjadi salah satu bentuk kenyamanan.

Bayangkan dua orang yang sudah lama berteman.

Mereka duduk di sebuah kafe.

Salah satu membaca sesuatu di ponselnya. Yang lain melihat keluar jendela.

Tidak ada percakapan selama beberapa menit.

Tidak ada yang panik.

Tidak ada yang merasa harus mengatakan sesuatu.

Tidak ada yang bertanya, "Kok kita diam?"

Itu bukan berarti mereka tidak menikmati kebersamaan.

Justru mungkin karena mereka tidak merasa harus terus-menerus membuktikan kedekatan mereka melalui percakapan.

Sebaliknya, jika seseorang merasa harus selalu berbicara agar hubungan tetap terasa baik, mungkin ada kecemasan sosial atau kekhawatiran terhadap penilaian yang sedang bekerja di belakang layar.

Bagaimana Cara Menjadi Lebih Nyaman dengan Keheningan?

Kabar baiknya, kita tidak harus selalu menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut dengan berbicara.

Kita bisa belajar mengubah cara kita memandang keheningan.

Pertama, sadari bahwa diam bukan keadaan darurat.

Tidak ada kewajiban bahwa setiap detik dalam sebuah percakapan harus diisi dengan kata-kata.

Kedua, ketika muncul pikiran seperti "Dia pasti bosan", jangan langsung menganggapnya sebagai fakta.

Cobalah menggantinya dengan:

"Saya belum tahu apa yang dia pikirkan."

Kalimat sederhana tersebut membantu memisahkan fakta dari interpretasi.

Ketiga, perhatikan tubuh.

Ketika keheningan membuat kita cemas, tubuh mungkin menjadi tegang. Kita mulai memainkan tangan, melihat ponsel, mengubah posisi duduk, atau berbicara lebih cepat.

Menyadari reaksi tubuh dapat membantu kita berhenti sejenak sebelum secara otomatis berusaha menghilangkan keheningan.

Keempat, biarkan percakapan muncul secara alami.

Jika memang ada sesuatu yang ingin dibicarakan, bicarakan.

Jika tidak ada, tidak selalu harus dipaksakan.

Dan yang paling penting, belajar memahami bahwa kenyamanan dalam sebuah hubungan tidak selalu terlihat dari seberapa banyak kita berbicara.

Kadang-kadang, kenyamanan justru terlihat dari kemampuan untuk tidak mengatakan apa-apa.

Pada Akhirnya, yang Membuat Keheningan Tidak Nyaman Bukan Selalu Keheningannya

Keheningan sendiri sebenarnya netral.

Yang membuatnya terasa canggung adalah makna yang kita berikan kepadanya.

Kita takut dinilai.

Kita takut dianggap membosankan.

Kita tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain.

Kita merasa harus menjaga percakapan tetap hidup.

Dan ketika tidak ada suara, pikiran kita mulai bekerja lebih keras untuk mencari penjelasan.

Itulah sebabnya beberapa detik keheningan dapat terasa seperti beberapa menit.

Namun semakin kita memahami mekanisme tersebut, semakin kita dapat menyadari bahwa tidak semua keheningan perlu diperbaiki.

Tidak semua diam berarti penolakan.

Tidak semua jeda berarti hubungan sedang bermasalah.

Dan tidak semua orang mengharapkan kita menjadi penghibur yang harus mengisi setiap ruang kosong dengan kata-kata.

Terkadang, dua orang yang duduk bersama tidak perlu melakukan apa-apa.

Mereka hanya perlu merasa cukup aman untuk membiarkan suasana berjalan sebagaimana adanya.

Karena pada tingkat kedekatan tertentu, diam bersama seseorang bukan lagi tanda tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa kita tidak perlu terus-menerus mengatakan sesuatu untuk merasa dekat.***

 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore