Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 September 2026 | 05.26 WIB

7 Alasan Mengapa Lebih Banyak Perempuan Melakukan Diet daripada Laki-Laki Menurut Psikologi

seseorang yang melakukan diet dengan baik / foto: Magnific/ARTcreator_98

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu memperhatikan bahwa pembicaraan tentang diet, menurunkan berat badan, menjaga bentuk tubuh, atau menghitung kalori lebih sering terdengar di kalangan perempuan?

Tentu saja, bukan berarti laki-laki tidak melakukan diet. Banyak laki-laki juga menjalani pola makan tertentu, menghitung asupan protein, mengurangi lemak, melakukan intermittent fasting, atau berusaha menurunkan berat badan. Namun, dalam banyak konteks sosial, perhatian terhadap berat badan dan bentuk tubuh memang lebih sering dibebankan kepada perempuan.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana "perempuan lebih peduli pada penampilan". Psikologi melihat persoalan ini sebagai hasil interaksi berbagai faktor: citra tubuh, tekanan sosial, standar kecantikan, proses sosialisasi sejak kecil, cara seseorang menilai dirinya sendiri, hingga bagaimana masyarakat memperlakukan tubuh perempuan dan laki-laki secara berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), terdapat tujuh alasan yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut.

1. Perempuan lebih sering mendapatkan tekanan sosial untuk memenuhi standar kecantikan tertentu

Salah satu faktor yang paling kuat adalah tekanan sosial.

Sejak usia muda, perempuan sering berhadapan dengan pesan bahwa penampilan merupakan bagian penting dari nilai dirinya. Tubuh yang dianggap langsing, proporsional, muda, dan menarik sering diposisikan sebagai standar ideal.

Masalahnya, standar tersebut bukan sesuatu yang muncul secara alami. Standar kecantikan dibentuk dan diperkuat oleh keluarga, lingkungan sosial, media, industri kecantikan, periklanan, hingga budaya populer.

Ketika seseorang berulang kali melihat gambaran bahwa "tubuh ideal" harus memiliki bentuk tertentu, ia dapat mulai membandingkan tubuhnya sendiri dengan standar tersebut.

Dari sinilah muncul pertanyaan:

"Apakah tubuh saya sudah cukup bagus?"

"Apakah saya terlalu gemuk?"

"Kenapa tubuh saya tidak seperti orang lain?"

"Apakah saya akan terlihat lebih menarik kalau berat badan saya turun?"

Dalam psikologi, proses membandingkan diri dengan orang lain dikenal sebagai social comparison.

Perbandingan sosial tidak selalu buruk. Manusia memang secara alami menggunakan orang lain sebagai referensi untuk memahami dirinya sendiri. Namun, ketika perbandingan tersebut dilakukan terus-menerus terhadap standar yang sangat sulit dicapai, seseorang dapat merasa dirinya tidak cukup baik.

Diet kemudian dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kembali rasa kontrol.

Bukan hanya tentang kesehatan.

Bagi sebagian perempuan, diet bisa terasa seperti usaha untuk mengatakan kepada dirinya sendiri:

"Saya masih bisa memperbaiki sesuatu dari diri saya."

Inilah sebabnya mengapa keputusan untuk diet terkadang memiliki dimensi psikologis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar ingin mengurangi berat badan.

2. Citra tubuh memiliki peran besar dalam keputusan seseorang untuk diet

Citra tubuh atau body image adalah cara seseorang melihat, merasakan, dan menilai tubuhnya sendiri.

Dua orang dengan berat badan yang sama belum tentu memiliki citra tubuh yang sama.

Seseorang dapat memiliki berat badan yang sehat tetapi tetap merasa dirinya terlalu gemuk. Sebaliknya, seseorang dengan tubuh yang secara medis memiliki kelebihan berat badan mungkin merasa nyaman dengan penampilannya.

Artinya, keputusan untuk diet tidak selalu ditentukan oleh ukuran tubuh secara objektif.

Persepsi seseorang terhadap tubuhnya juga sangat berpengaruh.

Pada sebagian perempuan, perhatian terhadap tubuh dapat menjadi sangat intens. Mereka mungkin lebih sering memperhatikan bentuk perut, paha, lengan, wajah, pinggang, atau bagian tubuh tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan.

Ketika perhatian tersebut berubah menjadi ketidakpuasan, diet dapat dianggap sebagai solusi.

Persoalannya, semakin seseorang memusatkan perhatian pada kekurangan tubuh, semakin mudah ia menemukan sesuatu yang menurutnya harus diperbaiki.

Hari ini mungkin masalahnya berat badan.

Besok mungkin bentuk perut.

Kemudian ukuran paha.

Setelah itu bentuk lengan.

Akhirnya, seseorang dapat masuk ke dalam siklus:

membandingkan → merasa kurang → diet → mendapatkan hasil sementara → kembali membandingkan.

Karena itu, psikologi tidak hanya bertanya apakah seseorang melakukan diet, tetapi juga:

"Apa yang membuat seseorang merasa tubuhnya perlu diubah?"

Pertanyaan tersebut sering kali lebih penting.

3. Perempuan lebih sering disosialisasikan untuk menghubungkan penampilan dengan harga diri

Sejak kecil, anak laki-laki dan perempuan dapat menerima pesan sosial yang berbeda mengenai tubuh mereka.

Anak laki-laki lebih sering mendapatkan pujian karena kuat, berani, aktif, pintar, atau mampu melakukan sesuatu.

Sementara itu, anak perempuan lebih sering mendapatkan komentar tentang penampilan: cantik, lucu, manis, rapi, langsing, atau menarik.

Tentu saja pola ini tidak berlaku pada setiap keluarga dan budaya. Namun, sebagai kecenderungan sosial, cara kita berbicara kepada anak dapat membentuk bagaimana mereka memahami dirinya sendiri.

Jika seorang anak perempuan tumbuh dengan pesan bahwa penampilan merupakan bagian penting dari identitasnya, ia mungkin belajar bahwa bagaimana dirinya terlihat sama pentingnya dengan siapa dirinya.

Ketika dewasa, pesan tersebut dapat berubah menjadi:

"Saya harus terlihat menarik."

"Saya harus menjaga berat badan."

"Saya tidak boleh menjadi gemuk."

"Saya harus tetap terlihat muda."

Diet kemudian bukan sekadar aktivitas makan.

Diet dapat menjadi bagian dari usaha mempertahankan identitas yang selama bertahun-tahun dikaitkan dengan penampilan.

Sebaliknya, laki-laki juga mengalami tekanan terhadap tubuh, tetapi bentuk ideal yang ditawarkan kepada mereka sering berbeda.

Tubuh laki-laki lebih sering dikaitkan dengan kekuatan, otot, kebugaran, atau ukuran tertentu.

Akibatnya, sebagian laki-laki yang ingin mengubah tubuh mungkin tidak menyebutnya sebagai "diet".

Mereka bisa menyebutnya sebagai:

"bulking",

"cutting",

"fitness",

"gym",

"program latihan",

atau "menambah massa otot".

Secara psikologis, tujuan mengubah tubuh dapat sama-sama kuat, tetapi bahasa dan konteks sosialnya berbeda.

4. Media sosial membuat perbandingan terhadap tubuh menjadi jauh lebih intens

Dulu, seseorang mungkin hanya membandingkan dirinya dengan orang-orang di lingkungan sekitar.

Sekarang, seseorang dapat melihat ratusan bahkan ribuan tubuh manusia setiap hari melalui media sosial.

Foto, video pendek, influencer, selebritas, model, konten olahraga, konten kecantikan, hingga transformasi tubuh dapat muncul tanpa henti.

Masalahnya, media sosial bukan cermin realitas yang netral.

Gambar dapat dipilih, diedit, difilter, diatur pencahayaannya, atau ditampilkan dari sudut tertentu. Namun, otak manusia tetap dapat memperlakukannya sebagai bahan perbandingan.

Seseorang akhirnya membandingkan kehidupan nyata dengan versi terbaik dari kehidupan orang lain.

Hal yang sama dapat terjadi pada tubuh.

Kita melihat seseorang dengan pinggang tertentu, kulit tertentu, bentuk wajah tertentu, atau tubuh tertentu.

Kemudian kita melihat tubuh sendiri di depan cermin.

Perbedaan tersebut dapat menimbulkan ketidakpuasan.

Semakin sering seseorang terpapar konten yang berorientasi pada penampilan, semakin besar peluang tubuh menjadi objek evaluasi terus-menerus.

Dan ketika tubuh selalu dievaluasi, diet menjadi salah satu respons yang mudah muncul.

Ironisnya, seseorang mungkin merasa harus diet bukan karena tubuhnya berubah secara drastis, tetapi karena standar pembandingnya berubah.

5. Diet memberikan perasaan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap tubuhnya

Ini adalah sisi psikologis yang menarik.

Manusia menyukai perasaan memiliki kontrol.

Ketika hidup terasa penuh ketidakpastian, mengatur sesuatu yang bisa dikendalikan dapat memberikan rasa aman.

Makanan adalah salah satu hal yang relatif mudah diatur.

"Saya tidak akan makan makanan ini."

"Saya hanya makan sampai jam tertentu."

"Saya akan mengurangi gula."

"Saya akan menghitung kalori."

"Saya akan olahraga setiap pagi."

Aturan-aturan tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa ia sedang mengambil kembali kendali atas dirinya.

Bagi sebagian orang, perasaan tersebut sangat memuaskan.

Ada tujuan.

Ada aturan.

Ada angka.

Ada target.

Dan ada hasil yang dapat dilihat dari perubahan berat badan atau ukuran tubuh.

Inilah salah satu alasan mengapa diet bisa terasa sangat menarik secara psikologis.

Namun, ada sisi lain.

Jika kontrol terhadap makanan menjadi terlalu ketat, seseorang justru dapat mengalami hubungan yang semakin rumit dengan makanan.

Makanan bukan lagi sekadar sumber energi dan kenikmatan.

Makanan dapat berubah menjadi sesuatu yang dikategorikan sebagai "baik" atau "buruk", "boleh" atau "dilarang", bahkan "berhasil" atau "gagal".

Ketika seseorang melanggar aturan diet, rasa bersalah dapat muncul.

Kemudian ia kembali membatasi makanan.

Lalu merasa sangat lapar.

Kemudian makan berlebihan.

Setelah itu merasa bersalah lagi.

Siklus seperti ini menunjukkan bahwa hubungan dengan makanan memiliki komponen psikologis yang perlu diperhatikan, bukan sekadar masalah kemauan.

6. Perempuan lebih sering menghadapi komentar tentang berat badan dan bentuk tubuh

Komentar tentang tubuh dapat memiliki dampak psikologis yang besar, terutama jika diterima berulang kali.

"Sepertinya kamu tambah gemuk."

"Harus diet, tuh."

"Kalau lebih kurus pasti lebih cantik."

"Jangan terlalu banyak makan."

"Sudah mulai gemuk, ya?"

Bagi orang yang mengucapkannya, komentar tersebut mungkin dianggap bercanda atau perhatian.

Tetapi bagi orang yang menerimanya, komentar tersebut dapat menjadi bagian dari cara ia memandang dirinya sendiri.

Lama-kelamaan, suara dari luar dapat berubah menjadi suara di dalam kepala.

Tidak ada lagi orang yang perlu mengatakan:

"Kamu gemuk."

Seseorang sudah mengatakannya kepada dirinya sendiri.

Inilah salah satu mekanisme psikologis yang penting.

Tekanan sosial dapat mengalami proses internalisasi. Artinya, standar yang awalnya berasal dari luar akhirnya menjadi standar yang digunakan seseorang untuk menilai dirinya sendiri.

Akibatnya, seseorang mungkin melakukan diet bahkan ketika tidak ada orang lain yang memintanya.

Ia merasa harus melakukannya.

Bukan karena ada larangan dari luar, melainkan karena standar tersebut sudah menjadi bagian dari cara ia mengevaluasi dirinya sendiri.

7. Diet pada perempuan sering memiliki hubungan dengan identitas, penerimaan sosial, dan rasa percaya diri

Pada titik tertentu, diet bukan lagi sekadar tentang makanan.

Diet dapat menjadi simbol dari harapan yang lebih besar.

Harapan untuk merasa lebih percaya diri.

Harapan untuk mendapatkan pasangan.

Harapan untuk terlihat lebih menarik.

Harapan untuk diterima lingkungan.

Harapan untuk merasa nyaman ketika mengenakan pakaian tertentu.

Harapan untuk mendapatkan kembali kendali atas kehidupan.

Inilah yang membuat alasan seseorang melakukan diet bisa sangat personal.

Dua perempuan dapat melakukan diet dengan alasan yang sepenuhnya berbeda.

Orang pertama mungkin ingin meningkatkan kesehatan.

Orang kedua mungkin merasa tertekan dengan penampilannya.

Orang ketiga mungkin ingin mengikuti tren.

Orang keempat mungkin mendapatkan rekomendasi dari tenaga kesehatan.

Orang kelima mungkin sedang mempersiapkan diri untuk sebuah acara.

Jadi, tidak tepat jika kita menyimpulkan bahwa perempuan melakukan diet semata-mata karena "lebih suka memperhatikan penampilan".

Ada banyak faktor psikologis, sosial, budaya, dan biologis yang dapat berinteraksi.

Lalu, Mengapa Laki-Laki Terlihat Lebih Jarang Berdiet?

Pertanyaan ini juga menarik.

Bukan berarti laki-laki tidak peduli terhadap tubuh.

Sebagian laki-laki justru sangat memperhatikan bentuk tubuh.

Namun, perhatian tersebut sering menggunakan kerangka yang berbeda.

Jika standar ideal perempuan sering dikaitkan dengan tubuh yang lebih langsing, laki-laki lebih sering mendapatkan gambaran ideal berupa tubuh yang kuat dan berotot.

Akibatnya, laki-laki yang ingin mengubah tubuh mungkin lebih nyaman menggunakan bahasa kebugaran daripada bahasa diet.

Mereka pergi ke gym.

Mengonsumsi protein.

Mengurangi makanan tertentu.

Mengatur kalori.

Melakukan cutting.

Kemudian membangun massa otot.

Dari luar, aktivitas tersebut mungkin terlihat seperti "olahraga".

Padahal, di baliknya juga terdapat usaha mengubah komposisi tubuh.

Dengan kata lain, perbedaan yang kita lihat mungkin sebagian merupakan perbedaan cara masyarakat membicarakan perubahan tubuh.

Perempuan lebih sering diberi pesan:

"Kamu harus lebih kurus."

Laki-laki lebih sering diberi pesan:

"Kamu harus lebih kuat."

Keduanya sama-sama merupakan standar tubuh.

Hanya bentuk standarnya yang berbeda.

Diet tidak selalu berarti masalah psikologis

Penting untuk memberikan nuansa.

Melakukan diet tidak otomatis berarti seseorang memiliki masalah citra tubuh.

Seseorang bisa mengubah pola makan karena alasan kesehatan, rekomendasi profesional, kebutuhan olahraga, alergi makanan, kondisi medis tertentu, atau sekadar ingin membangun kebiasaan makan yang lebih teratur.

Demikian pula, tidak semua perempuan merasa tertekan oleh standar kecantikan.

Banyak perempuan memiliki hubungan yang sehat dengan tubuh dan makanan.

Karena itu, kita perlu berhati-hati agar pembahasan mengenai gender tidak berubah menjadi stereotip.

Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa perempuan, secara rata-rata dalam banyak konteks sosial, menghadapi tekanan penampilan tertentu yang dapat meningkatkan perhatian terhadap berat badan dan citra tubuh.

Tetapi pengalaman setiap individu tetap berbeda.

Yang Sebenarnya Penting Bukan "Siapa yang Lebih Banyak Diet"

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah:

"Mengapa perempuan lebih sering diet daripada laki-laki?"

Melainkan:

"Apa yang membuat seseorang merasa harus mengubah tubuhnya?"

Jika seseorang ingin menurunkan berat badan karena alasan kesehatan dan melakukannya secara realistis, itu merupakan konteks yang berbeda dari seseorang yang merasa dirinya tidak berharga hanya karena bentuk tubuhnya tidak sesuai standar tertentu.

Perbedaan tersebut sangat penting.

Karena tubuh manusia tidak pernah berhenti berubah.

Berat badan dapat naik dan turun.

Bentuk tubuh dapat berubah seiring usia.

Metabolisme berubah.

Lingkungan berubah.

Kebutuhan tubuh berubah.

Jika harga diri sepenuhnya digantungkan pada bentuk tubuh, seseorang akan terus berada dalam perlombaan yang sulit dimenangkan.

Hari ini merasa cukup kurus.

Besok menemukan kekurangan lain.

Hari ini merasa cantik.

Besok melihat seseorang yang dianggap lebih cantik.

Hari ini puas dengan tubuh.

Besok standar baru muncul.

Karena itu, hubungan yang sehat dengan tubuh bukan berarti seseorang tidak boleh ingin mengubah berat badan.

Hubungan yang sehat berarti seseorang mampu membedakan antara:

"Saya ingin menjaga kesehatan tubuh saya"

dan

"Saya harus mengubah tubuh saya supaya saya layak dihargai."

Keduanya terdengar mirip, tetapi secara psikologis dapat memiliki makna yang sangat berbeda.

Kesimpulan

Perempuan terlihat lebih sering melakukan diet bukan karena perempuan secara alami lebih terobsesi dengan berat badan.

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui kombinasi tekanan sosial, citra tubuh, proses sosialisasi, perbandingan sosial, media, kebutuhan akan kontrol, komentar mengenai tubuh, dan hubungan antara penampilan dengan harga diri.

Sementara itu, laki-laki juga menghadapi tekanan terhadap tubuh, tetapi sering kali dalam bentuk yang berbeda—misalnya tuntutan untuk terlihat kuat, berotot, atletis, dan bugar.

Jadi, persoalan sebenarnya bukan sekadar siapa yang lebih banyak melakukan diet.

Persoalannya adalah bagaimana masyarakat mengajarkan manusia untuk memandang tubuhnya sendiri.

Ketika seseorang mulai percaya bahwa nilai dirinya ditentukan oleh ukuran pinggang, angka di timbangan, bentuk tubuh, atau penampilan, maka diet dapat berubah dari sekadar pilihan pola makan menjadi perjuangan psikologis.

Sebaliknya, ketika seseorang dapat melihat tubuh sebagai bagian dari dirinya—bukan sebagai ukuran seluruh nilai dirinya—maka keputusan mengenai makanan, olahraga, dan kesehatan dapat dibuat dengan lebih tenang.

Pada akhirnya, tubuh memang layak dirawat.

Tetapi manusia jauh lebih besar daripada tubuhnya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore