Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 September 2026 | 05.14 WIB

6 Alasan Mengapa Menemukan Ide-Ide Buruk Adalah Tanda yang Baik Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang menemukan ide-ide buruk / foto: Magnific/SkelDry

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu mendapatkan sebuah ide, lalu beberapa detik kemudian langsung berpikir, “Ah, ini ide yang buruk.”?

Mungkin ide itu terasa terlalu aneh. Terlalu sederhana. Terlalu berisiko. Bahkan mungkin terdengar sedikit konyol.

Banyak orang menganggap munculnya ide buruk sebagai tanda bahwa mereka sedang tidak kreatif. Mereka merasa hanya orang yang benar-benar pintar atau kreatif yang mampu menghasilkan gagasan-gagasan hebat sejak awal.

Padahal, psikologi kreativitas menunjukkan gambaran yang jauh lebih menarik.

Ide buruk tidak selalu merupakan kegagalan berpikir. Dalam banyak situasi, kemampuan menghasilkan ide yang buruk justru merupakan bagian dari proses menuju ide yang lebih baik.

Kreativitas hampir tidak pernah bekerja seperti lampu yang tiba-tiba menyala dan menghasilkan gagasan sempurna. Kreativitas lebih mirip proses eksplorasi: kita menghasilkan kemungkinan, mengujinya, menemukan kelemahannya, membuang sebagian, memperbaiki sebagian lainnya, lalu secara perlahan menemukan sesuatu yang lebih bernilai.

Dengan kata lain, sebelum menemukan satu ide yang bagus, kita mungkin harus melewati banyak ide yang biasa saja—bahkan buruk.

Lalu, mengapa menemukan ide buruk bisa menjadi tanda yang baik?

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), terdapat enam alasannya.

1. Ide buruk menunjukkan bahwa otakmu sedang menghasilkan banyak kemungkinan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang kreativitas adalah anggapan bahwa orang kreatif selalu mendapatkan ide yang bagus.

Padahal, kreativitas membutuhkan kelancaran menghasilkan gagasan.

Ketika seseorang sedang melakukan brainstorming, tujuan awalnya bukan selalu menemukan jawaban terbaik. Tujuan awalnya adalah menghasilkan berbagai kemungkinan.

Misalnya, kamu ingin membuat sebuah bisnis kecil.

Kamu mungkin berpikir:

“Bagaimana kalau aku membuat toko yang hanya menjual satu jenis produk?”

Kemudian muncul ide lain:

“Bagaimana kalau produknya bisa dikustomisasi?”

Lalu:

“Bagaimana kalau pelanggan bisa ikut membuat produknya?”

Kemudian:

“Bagaimana kalau semuanya dilakukan melalui komunitas?”

Sebagian besar gagasan tersebut mungkin tidak akan digunakan.

Dan itu normal.

Justru ketika seseorang terlalu cepat menilai setiap gagasan dengan pertanyaan “Apakah ini bagus?”, aliran kreativitas dapat terhambat.

Otak menjadi terlalu sibuk melakukan evaluasi sebelum eksplorasi selesai.

Dalam proses kreatif, ada perbedaan antara menghasilkan ide dan menilai ide.

Keduanya penting, tetapi waktunya berbeda.

Pada tahap awal, kamu membutuhkan ruang untuk menghasilkan kemungkinan. Pada tahap berikutnya, kamu membutuhkan kemampuan untuk mengkritik dan menyaringnya.

Karena itu, munculnya banyak ide yang kurang bagus bisa menunjukkan bahwa kamu sedang membuka lebih banyak kemungkinan daripada sebelumnya.

Bayangkan seorang penulis yang ingin membuat sebuah cerita.

Ia menulis sepuluh kemungkinan pembukaan. Sembilan terasa biasa saja.

Apakah sembilan pembukaan itu sia-sia?

Belum tentu.

Mungkin dari kesembilan ide tersebut ia menemukan satu karakter, konflik, atau sudut pandang yang akhirnya menjadi inti cerita.

Ide buruk terkadang bukan tujuan akhir. Ia adalah bahan mentah.

2. Ide buruk menunjukkan bahwa kamu berani keluar dari pola berpikir yang biasa

Otak manusia menyukai pola.

Pola membantu kita mengambil keputusan dengan cepat tanpa harus memikirkan semuanya dari awal.

Masalahnya, pola yang sama juga dapat membuat kita terus menghasilkan jawaban yang sama.

Jika setiap kali menghadapi masalah kita selalu menggunakan cara yang sama, kemungkinan besar solusi yang muncul juga tidak jauh berbeda.

Di sinilah ide yang terasa “aneh” bisa memiliki nilai.

Ketika sebuah gagasan terasa tidak biasa, itu mungkin menunjukkan bahwa pikiranmu sedang menjelajahi hubungan atau kemungkinan yang sebelumnya tidak kamu pertimbangkan.

Misalnya, seorang guru ingin membuat murid lebih tertarik membaca.

Ide pertama mungkin cukup konvensional:

“Bagaimana kalau kita memberikan lebih banyak buku?”

Lalu muncul ide yang lebih aneh:

“Bagaimana kalau murid justru memilih sendiri buku yang ingin mereka baca?”

Kemudian muncul ide lain:

“Bagaimana kalau mereka membuat klub membaca berdasarkan genre favorit?”

Tidak semua ide tersebut otomatis bagus.

Namun ide yang berbeda memperluas ruang pencarian.

Dalam psikologi kreativitas, kemampuan menghasilkan gagasan yang beragam dan berpindah dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain berkaitan dengan divergent thinking, yaitu proses berpikir yang mengeksplorasi banyak kemungkinan jawaban daripada hanya mencari satu jawaban.

Itulah mengapa ide buruk terkadang justru menarik.

Ia bisa menjadi tanda bahwa pikiranmu tidak hanya berjalan di jalur yang sudah dikenal.

Dan sering kali, ide yang benar-benar baru pada awalnya memang terlihat aneh karena belum memiliki tempat yang jelas dalam pola lama kita.

3. Ide buruk memberi kita sesuatu yang bisa diuji dan diperbaiki

Sebuah ide tidak harus sempurna agar berguna.

Terkadang nilai sebuah ide baru terlihat setelah kita mengetahui apa yang salah dengannya.

Misalnya kamu mempunyai gagasan:

“Bagaimana kalau orang bekerja hanya dua jam sehari?”

Pada pandangan pertama, mungkin terdengar tidak realistis untuk banyak jenis pekerjaan.

Tetapi daripada langsung membuangnya, kita bisa bertanya:

Mengapa dua jam?
Apa yang sebenarnya ingin dicapai?
Apakah masalahnya jumlah jam kerja atau produktivitas?
Bagaimana jika rapat dikurangi?
Bagaimana jika pekerjaan yang tidak penting dihilangkan?
Apakah sebagian pekerjaan bisa diotomatisasi?
Apakah model ini mungkin diterapkan pada jenis pekerjaan tertentu?

Perhatikan apa yang terjadi.

Ide awalnya mungkin buruk atau tidak realistis.

Namun ia memunculkan pertanyaan baru.

Dan pertanyaan baru dapat menghasilkan solusi yang lebih baik.

Inilah salah satu alasan mengapa kesalahan dan kegagalan sering menjadi bagian penting dari proses belajar.

Ketika kita menemukan kelemahan sebuah gagasan, kita memperoleh informasi.

Kita sekarang tahu sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui.

“Ide ini tidak berhasil karena alasan X.”

Informasi seperti itu dapat membantu kita membuat versi berikutnya menjadi lebih baik.

Jadi, ide buruk dapat berfungsi seperti prototipe mental.

Ia memberi kita kesempatan untuk berkata:

“Oke, bagian ini tidak bekerja. Lalu bagaimana kalau kita mengubahnya?”

4. Ide buruk dapat mengurangi rasa takut terhadap kegagalan

Ada fenomena psikologis yang menarik dalam kreativitas: seseorang bisa memiliki banyak ide tetapi takut mengungkapkannya.

Mengapa?

Karena mereka takut dinilai.

Takut terlihat bodoh.

Takut ditertawakan.

Takut idenya ditolak.

Akibatnya, sebelum sebuah gagasan sempat berkembang, pikiran langsung melakukan sensor:

“Jangan bilang itu.”

“Terlalu bodoh.”

“Orang lain pasti menertawakan.”

“Tidak mungkin berhasil.”

Jika proses ini terjadi terus-menerus, seseorang mungkin hanya menyampaikan ide yang sudah terasa aman.

Masalahnya, kreativitas membutuhkan eksperimen.

Dan eksperimen selalu memiliki kemungkinan menghasilkan sesuatu yang tidak berhasil.

Karena itu, belajar menerima bahwa beberapa ide memang akan buruk dapat membantu mengurangi tekanan untuk selalu benar.

Kita mulai melihat proses berpikir sebagai eksperimen, bukan ujian.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku harus menghasilkan ide yang benar.”

dan:

“Aku akan menghasilkan beberapa kemungkinan, kemudian kita lihat mana yang layak dikembangkan.”

Pola pikir kedua memberikan ruang yang jauh lebih besar bagi kreativitas.

Hal ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kamu tidak terlalu takut menghasilkan ide yang buruk, kamu mungkin menjadi lebih berani mengajukan pertanyaan, mencoba pendekatan baru, atau mempertimbangkan perspektif yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Dengan kata lain:

kemampuan menoleransi ide yang belum sempurna dapat membantu seseorang berpikir lebih bebas.

5. Ide buruk bisa menjadi jalan menuju insight yang tidak terduga

Salah satu hal paling menarik tentang pikiran manusia adalah bahwa ide jarang muncul sendirian.

Satu gagasan dapat memicu gagasan berikutnya.

Kemudian gagasan kedua memunculkan gagasan ketiga.

Dan terkadang, ide yang paling berharga bukan berasal dari ide pertama, tetapi dari rangkaian asosiasi yang terjadi setelahnya.

Bayangkan kamu sedang mencari nama untuk sebuah proyek.

Ide pertama:

“Bagaimana kalau namanya sederhana saja?”

Kemudian kamu mencoba beberapa nama.

Tidak ada yang terasa cocok.

Salah satu nama terdengar terlalu formal.

Nama lainnya terlalu panjang.

Nama berikutnya terasa aneh.

Namun ketika kamu memikirkan mengapa nama tersebut terasa aneh, kamu menemukan sebuah konsep yang sebelumnya belum terpikirkan.

Tiba-tiba muncul:

“Tunggu. Bagaimana kalau kita justru menggunakan konsep kebalikannya?”

Di sinilah sebuah ide yang buruk dapat memainkan peran penting.

Ia tidak selalu menghasilkan jawaban secara langsung.

Kadang-kadang ia hanya menggerakkan pikiran ke arah yang baru.

Dalam proses kreatif, koneksi semacam ini sangat penting.

Kreativitas sering kali melibatkan kemampuan menghubungkan informasi, pengalaman, konsep, atau perspektif yang sebelumnya tampak tidak berhubungan.

Karena itu, jangan selalu menilai sebuah ide hanya berdasarkan kualitasnya pada detik pertama.

Tanyakan juga:

“Ke mana ide ini bisa membawaku?”

Sebuah ide yang buruk mungkin tidak berguna sebagai hasil akhir, tetapi bisa sangat berguna sebagai jembatan menuju ide berikutnya.

6. Ide buruk mengajarkan kita untuk membedakan kreativitas dari penilaian

Ini mungkin alasan yang paling penting.

Banyak orang mengira kreativitas berarti mampu menghasilkan ide bagus.

Sebenarnya, kreativitas memiliki beberapa komponen.

Ada kemampuan menghasilkan kemungkinan.

Ada kemampuan melihat hubungan baru.

Ada kemampuan mengembangkan gagasan.

Dan ada kemampuan mengevaluasi apakah gagasan tersebut benar-benar memiliki nilai.

Dengan kata lain, menghasilkan ide dan menilai ide adalah dua aktivitas mental yang berbeda.

Bayangkan seorang fotografer.

Ia mungkin mengambil seratus foto untuk mendapatkan satu foto yang benar-benar bagus.

Apakah sembilan puluh sembilan foto lainnya berarti kegagalan?

Tidak selalu.

Mereka adalah bagian dari proses pencarian.

Hal yang sama dapat terjadi dalam menulis, penelitian, bisnis, desain, pemecahan masalah, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahap eksplorasi:

“Apa saja yang mungkin?”

Pada tahap evaluasi:

“Mana yang masuk akal?”

Pada tahap pengembangan:

“Bagaimana membuatnya lebih baik?”

Pada tahap implementasi:

“Bagaimana menerapkannya di dunia nyata?”

Kesalahan terjadi ketika kita menggunakan standar tahap evaluasi pada tahap eksplorasi.

Kita menuntut ide pertama untuk langsung sempurna.

Padahal, otak membutuhkan kesempatan untuk bermain dengan kemungkinan.

Jadi, apakah semua ide buruk adalah tanda kreativitas?

Tentu tidak.

Ini bagian yang penting.

Menganggap setiap ide buruk sebagai sesuatu yang positif juga merupakan kesalahan.

Sebuah gagasan tetap perlu dievaluasi.

Apakah gagasan tersebut masuk akal?

Apakah memiliki bukti pendukung?

Apa risikonya?

Apa konsekuensinya?

Apakah dapat diuji dengan cara yang aman?

Apakah benar-benar menyelesaikan masalah?

Ide buruk bisa berguna sebagai bagian dari proses berpikir, tetapi bukan berarti kita harus menjalankan setiap ide yang muncul.

Ada perbedaan antara:

“Ide ini buruk, tetapi menarik untuk dieksplorasi.”

dan

“Ide ini buruk, tetapi aku harus melakukannya.”

Yang pertama merupakan bagian dari eksplorasi.

Yang kedua membutuhkan evaluasi yang jauh lebih hati-hati.

Jangan Takut Menghasilkan Ide yang Buruk

Mungkin selama ini kamu terlalu cepat membuang ide.

Begitu sebuah gagasan muncul dan terasa aneh, kamu langsung mengatakan:

“Tidak mungkin.”

Padahal mungkin yang dibutuhkan bukan langsung menerima ide tersebut, tetapi memberinya beberapa menit untuk berkembang.

Coba ubah pertanyaannya.

Daripada:

“Apakah ini ide yang bagus?”

cobalah:

“Apa yang menarik dari ide ini?”

Daripada:

“Apakah ini akan berhasil?”

cobalah:

“Bagian mana yang mungkin bisa berhasil?”

Daripada:

“Ini terlalu aneh.”

cobalah:

“Mengapa ini terasa aneh?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah cara kita berinteraksi dengan pikiran sendiri.

Kita tidak harus mempercayai setiap ide.

Kita juga tidak harus menjalankan setiap ide.

Kita hanya perlu memberi ruang bagi beberapa ide untuk berkembang sebelum memutuskan apakah ide tersebut layak dipertahankan.

Penutup: Ide Buruk Bisa Menjadi Awal dari Sesuatu yang Lebih Baik

Menemukan ide buruk bukan berarti otakmu gagal bekerja.

Dalam banyak proses kreatif, ide buruk adalah bagian dari perjalanan menuju ide yang lebih matang.

Ia dapat menunjukkan bahwa kamu sedang menghasilkan banyak kemungkinan, keluar dari pola lama, menemukan kelemahan sebuah gagasan, mengurangi rasa takut terhadap kegagalan, membangun koneksi baru, dan belajar membedakan proses menghasilkan ide dari proses menilainya.

Tentu, tidak semua ide buruk perlu dipertahankan.

Sebagian harus dibuang.

Sebagian harus diperbaiki.

Sebagian hanya menjadi batu loncatan menuju sesuatu yang lain.

Dan sebagian mungkin mengajarkan kita apa yang tidak boleh dilakukan.

Namun justru di situlah nilainya.

Kreativitas bukan kemampuan untuk selalu mendapatkan ide yang bagus. Kreativitas adalah kemampuan untuk terus mengeksplorasi kemungkinan sampai menemukan sesuatu yang memiliki nilai.

Jadi, lain kali sebuah ide muncul di kepalamu dan kamu langsung berpikir,

“Ini ide yang buruk.”

jangan buru-buru kecewa.

Cobalah bertanya:

“Menarik. Kalau ide ini buruk, apa yang bisa kupelajari darinya?”

Karena terkadang, ide yang terlihat paling buruk bukanlah akhir dari proses berpikir.

Ia mungkin hanya pintu pertama menuju ide yang lebih baik.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore