Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 12.10 WIB

6 Cara Bagaimana Dukungan Sosial Dapat Menyelamatkan Kita dari Keterpurukan Menurut Psikologi

seseorang yang mendapat dukungan sosial. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa seolah-olah semua hal berjalan ke arah yang salah. Masalah pekerjaan, konflik keluarga, kehilangan seseorang yang dicintai, kegagalan dalam hubungan, tekanan finansial, atau kekecewaan terhadap diri sendiri dapat membuat seseorang kehilangan energi untuk menghadapi hari.


Pada kondisi seperti itu, kita sering kali merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian. Ada anggapan bahwa menjadi kuat berarti tidak membutuhkan orang lain. Padahal, dari sudut pandang psikologi, manusia bukanlah makhluk yang dirancang untuk menghadapi seluruh tekanan hidup seorang diri.

Kehadiran orang lain dapat menjadi salah satu sumber kekuatan ketika seseorang berada dalam kondisi terpuruk. Dukungan sosial—baik berupa percakapan sederhana, bantuan nyata, penerimaan, maupun sekadar kehadiran—dapat membantu seseorang menghadapi tekanan psikologis dengan lebih sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (8/9), dukungan sosial bukan berarti orang lain akan menghilangkan seluruh masalah kita. Masalah tetap ada. Namun, cara kita memandang dan menghadapi masalah dapat berubah ketika kita tahu bahwa kita tidak sendirian.

Lalu, bagaimana sebenarnya dukungan sosial dapat membantu seseorang keluar dari keterpurukan?

1. Dukungan Sosial Membuat Kita Merasa Tidak Sendirian

Salah satu pengalaman paling berat ketika seseorang sedang terpuruk adalah perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang memahami dirinya.

Seseorang mungkin berada di tengah banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian. Ia bisa bekerja, berinteraksi dengan teman, bahkan tertawa seperti biasa, tetapi di dalam dirinya terdapat perasaan bahwa tidak ada tempat untuk menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Di sinilah dukungan sosial memiliki peran penting.

Ketika seseorang memiliki orang yang dapat dipercaya untuk berbicara, muncul sebuah pengalaman psikologis yang sangat berarti: "Saya tidak harus menghadapi semuanya sendirian."

Kalimat sederhana seperti "Aku ada di sini kalau kamu mau cerita" dapat memberikan rasa aman yang berbeda dibandingkan nasihat panjang.

Dalam psikologi, hubungan sosial yang positif berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa diterima dan terhubung dengan orang lain. Ketika seseorang merasa memiliki hubungan yang bermakna, ia dapat memiliki sumber daya emosional yang lebih besar untuk menghadapi tekanan.

Menariknya, dukungan tidak selalu harus berbentuk solusi.

Terkadang seseorang tidak membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengakui bahwa apa yang sedang ia rasakan memang berat.

Misalnya, dibandingkan mengatakan:

"Sudahlah, jangan dipikirkan."

Respons seperti:

"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa sangat berat setelah mengalami semua itu."

dapat membuat seseorang merasa lebih dipahami.

Perasaan dipahami tidak secara ajaib menghilangkan masalah. Namun, pengalaman tersebut dapat mengurangi beban psikologis karena seseorang tidak lagi merasa harus memikul semuanya sendirian.

Dan terkadang, langkah pertama untuk bangkit bukanlah menemukan solusi.

Langkah pertama adalah menyadari bahwa kita tidak sendirian.

2. Dukungan Sosial Membantu Kita Mengelola Stres dengan Lebih Baik

Ketika menghadapi tekanan berat, tubuh dan pikiran dapat berada dalam kondisi siaga. Kita menjadi lebih mudah cemas, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, sulit tidur, atau terus memikirkan kemungkinan buruk.

Masalah yang sebenarnya sudah berat dapat terasa semakin besar karena pikiran terus berada dalam keadaan tertekan.

Dukungan sosial dapat berfungsi sebagai salah satu sumber daya untuk menghadapi stres.

Bayangkan seseorang baru saja kehilangan pekerjaan. Jika ia menghadapi situasi tersebut sendirian, pikirannya mungkin berkembang seperti ini:

"Saya gagal."

"Bagaimana kalau saya tidak mendapatkan pekerjaan lagi?"

"Bagaimana saya membayar kebutuhan bulan depan?"

"Masa depan saya hancur."

Ketika pikiran tersebut terus berputar tanpa adanya perspektif lain, tekanan dapat terasa semakin besar.

Namun, ketika ia berbicara dengan orang yang dipercaya, situasinya dapat mulai dilihat dari perspektif yang lebih luas.

Temannya mungkin berkata:

"Kehilangan pekerjaan memang berat. Tapi kamu masih punya pengalaman dan kemampuan. Kita bisa pikirkan langkah berikutnya bersama-sama."

Kalimat tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa pekerjaan telah hilang.

Namun, cara individu tersebut memaknai situasinya dapat berubah.

Ia mulai melihat bahwa kehilangan pekerjaan bukan berarti seluruh hidupnya telah berakhir.

Inilah salah satu manfaat penting dukungan sosial: membantu seseorang mendapatkan perspektif lain ketika pikirannya sedang terjebak dalam tekanan.

Selain itu, dukungan sosial dapat memberikan bantuan praktis.

Teman mungkin membantu mencari informasi pekerjaan. Keluarga mungkin membantu urusan sehari-hari. Rekan kerja mungkin memberikan koneksi profesional.

Artinya, dukungan sosial tidak hanya bekerja pada tingkat emosional, tetapi juga dapat memberikan sumber daya nyata untuk menghadapi masalah.

Semakin banyak sumber daya yang tersedia, semakin besar kemungkinan seseorang merasa memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi sulit.

3. Dukungan Sosial Membantu Mengembalikan Rasa Berharga dalam Diri

Keterpurukan sering kali tidak hanya menghancurkan suasana hati. Dalam kondisi tertentu, seseorang juga dapat mulai mempertanyakan nilai dirinya.

Kegagalan dapat berubah menjadi:

"Saya gagal."

Kemudian berkembang menjadi:

"Saya memang tidak mampu."

Dan akhirnya menjadi:

"Saya tidak berharga."

Padahal, ketiga pernyataan tersebut memiliki makna yang sangat berbeda.

Seseorang bisa mengalami kegagalan tanpa berarti dirinya adalah seorang yang gagal dalam segala hal.

Namun ketika seseorang sedang berada dalam tekanan psikologis, batas antara "saya mengalami kegagalan" dan "saya adalah orang yang gagal" dapat menjadi kabur.

Hubungan sosial yang sehat dapat membantu mengembalikan perspektif tersebut.

Orang-orang yang mengenal kita dengan baik sering kali mampu mengingatkan kualitas diri yang sedang tidak dapat kita lihat sendiri.

Misalnya:

"Kamu memang sedang gagal dalam hal ini, tetapi bukan berarti semua yang pernah kamu lakukan tidak berarti."

Atau:

"Aku tahu kamu sedang kecewa dengan dirimu sendiri. Tapi aku juga tahu seberapa keras kamu sudah berusaha."

Dukungan semacam ini dapat membantu memisahkan identitas seseorang dari satu peristiwa buruk yang sedang dialaminya.

Hal ini penting karena manusia cenderung menilai dirinya berdasarkan pengalaman yang sedang dominan.

Ketika pengalaman buruk memenuhi pikiran, seluruh identitas diri dapat terasa buruk.

Kehadiran orang lain dapat menjadi semacam "cermin alternatif" yang membantu kita melihat diri dengan lebih objektif.

Tentu saja, dukungan sosial yang sehat bukan berarti memberikan pujian kosong.

Teman yang baik tidak harus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Sebaliknya, mereka dapat mengatakan:

"Memang ada bagian yang perlu kamu perbaiki. Tapi satu kesalahan tidak menentukan seluruh nilai dirimu."

Itulah bentuk dukungan yang lebih realistis dan konstruktif.

4. Dukungan Sosial Membantu Kita Melihat Masalah dari Perspektif yang Berbeda

Ketika sedang terpuruk, pikiran dapat menjadi sangat sempit.

Kita melihat masalah dari satu sudut pandang dan sulit membayangkan kemungkinan lain.

Seseorang yang mengalami putus hubungan, misalnya, mungkin berpikir:

"Saya tidak akan pernah menemukan orang seperti dia lagi."

Seseorang yang gagal dalam karier mungkin berpikir:

"Karier saya sudah selesai."

Seseorang yang melakukan kesalahan mungkin berpikir:

"Semua orang pasti membenci saya."

Masalahnya bukan hanya peristiwa yang terjadi, tetapi juga interpretasi kita terhadap peristiwa tersebut.

Di sinilah percakapan dengan orang lain dapat membantu.

Orang lain mungkin melihat sesuatu yang tidak dapat kita lihat ketika emosi sedang sangat kuat.

Bukan berarti perspektif orang lain selalu benar. Namun, perspektif alternatif dapat membantu kita keluar dari pola berpikir yang terlalu sempit.

Misalnya, seorang teman dapat bertanya:

"Apakah benar tidak ada satu pun hal yang bisa kamu lakukan?"

Atau:

"Kalau orang lain mengalami hal yang sama, apakah kamu akan mengatakan bahwa dia tidak berharga?"

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuat seseorang berhenti sejenak dan memeriksa kembali pikirannya.

Dalam proses psikologis, kemampuan untuk melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang sangat penting.

Ketika perspektif menjadi lebih luas, masalah yang awalnya terasa seperti jalan buntu dapat mulai terlihat sebagai situasi sulit yang masih memiliki beberapa kemungkinan jalan keluar.

Dukungan sosial, dengan demikian, bukan hanya tentang memberikan kenyamanan.

Ia juga dapat membantu seseorang berpikir dengan lebih fleksibel.

5. Dukungan Sosial Membantu Kita Kembali Bergerak

Saat seseorang terpuruk, salah satu masalah terbesar bukan selalu kurangnya pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan.

Sering kali, orang tersebut sebenarnya tahu apa yang perlu dilakukan, tetapi tidak memiliki tenaga psikologis untuk memulainya.

Ia tahu harus mencari pekerjaan, tetapi terlalu takut membuka lowongan.

Ia tahu harus menyelesaikan tugas, tetapi terlalu lelah untuk memulai.

Ia tahu harus berbicara dengan seseorang, tetapi terlalu malu untuk menghubungi mereka.

Dalam kondisi seperti ini, kehadiran orang lain dapat menjadi dorongan kecil yang sangat berarti.

Misalnya, seorang teman tidak perlu memberikan pidato motivasi.

Ia cukup berkata:

"Ayo, hari ini kita cari satu lowongan saja."

Atau:

"Kalau kamu belum sanggup menyelesaikan semuanya, kita kerjakan bagian pertama dulu."

Pendekatan semacam ini membantu memecah masalah besar menjadi langkah yang lebih kecil.

Dukungan sosial juga dapat menciptakan rasa tanggung jawab yang sehat.

Ketika seseorang mengatakan kepada temannya:

"Besok aku mau mulai memperbaiki CV."

Kemudian temannya bertanya keesokan harinya:

"Jadi, sudah mulai?"

Pertanyaan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa ada langkah yang perlu dilakukan.

Bukan karena seseorang sedang dipaksa, tetapi karena ia merasa memiliki seseorang yang mendukung prosesnya.

Dalam proses pemulihan psikologis, tindakan kecil sangat penting.

Bangkit tidak selalu berarti tiba-tiba kembali menjadi pribadi yang sangat produktif.

Kadang-kadang, bangkit berarti mandi setelah berhari-hari kehilangan motivasi.

Bangkit berarti kembali keluar rumah.

Bangkit berarti mengirim satu lamaran pekerjaan.

Bangkit berarti mulai berbicara dengan orang lain.

Bangkit berarti mencoba lagi meskipun belum sepenuhnya percaya diri.

Dukungan sosial dapat membantu seseorang mengambil langkah-langkah kecil tersebut.

Dan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar.

6. Dukungan Sosial Memberi Kita Harapan bahwa Keadaan Bisa Berubah

Mungkin inilah salah satu fungsi dukungan sosial yang paling penting.

Ketika seseorang berada dalam keterpurukan yang panjang, ia dapat kehilangan harapan.

Ia mulai merasa:

"Percuma."

"Tidak akan ada yang berubah."

"Memang hidup saya akan seperti ini."

Harapan menjadi semakin sulit ditemukan ketika seseorang hanya melihat keadaan dari posisi saat ini.

Di sinilah orang lain dapat membantu kita melihat masa depan yang belum terlihat.

Bukan dengan memberikan janji palsu bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja, tetapi dengan mengingatkan bahwa keadaan saat ini bukan selalu keadaan yang permanen.

Seorang teman dapat mengatakan:

"Sekarang memang berat. Kita tidak perlu menyelesaikan seluruh hidupmu hari ini. Kita pikirkan satu langkah dulu."

Kalimat seperti ini terdengar sederhana, tetapi memiliki pesan penting:

Keadaan sekarang tidak harus menjadi keadaan selamanya.

Harapan sering kali muncul bukan karena masalah telah selesai, melainkan karena seseorang mulai percaya bahwa ia memiliki kemampuan dan dukungan untuk menghadapi hari berikutnya.

Dan terkadang, ketika kita belum mampu memiliki harapan untuk diri sendiri, orang lain dapat "meminjamkan" harapan itu untuk sementara.

"Aku tahu kamu belum percaya bahwa semuanya bisa membaik. Tidak apa-apa. Untuk sekarang, biarkan aku yang percaya bahwa kamu bisa melewati ini."

Dukungan seperti itu dapat menjadi sangat berarti bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah.

Dukungan Sosial Bukan Berarti Harus Selalu Meminta Nasihat

Ada kesalahpahaman bahwa membantu seseorang berarti harus memberikan solusi.

Padahal, tidak semua orang yang sedang mengalami masalah membutuhkan nasihat.

Terkadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Dukungan sosial dapat hadir dalam berbagai bentuk:

mendengarkan tanpa menghakimi;
memberikan validasi terhadap emosi;
menemani seseorang melakukan aktivitas sederhana;
menawarkan bantuan praktis;
mengingatkan seseorang untuk menjaga kebutuhan dasar;
membantu mencari informasi;
memberikan perspektif alternatif;
atau sekadar hadir ketika seseorang sedang membutuhkan teman.

Karena setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda, bentuk dukungan yang efektif juga dapat berbeda.

Ada saatnya seseorang membutuhkan nasihat.

Ada saatnya ia membutuhkan pelukan.

Ada saatnya ia membutuhkan bantuan nyata.

Dan ada saatnya ia hanya ingin didengarkan.

Karena itu, sebelum membantu seseorang, terkadang pertanyaan paling sederhana justru menjadi yang paling berguna:

"Kamu ingin aku mendengarkan, membantu mencari solusi, atau sekadar menemanimu?"

Pertanyaan tersebut memberikan ruang kepada orang yang sedang kesulitan untuk menentukan bentuk dukungan yang paling ia butuhkan.

Namun, Tidak Semua Dukungan Sosial Bersifat Menyehatkan

Penting untuk diingat bahwa memiliki banyak hubungan sosial tidak otomatis berarti seseorang mendapatkan dukungan sosial yang sehat.

Hubungan yang penuh kritik, manipulasi, penghakiman, atau tekanan justru dapat memperburuk kondisi psikologis.

Dukungan sosial yang sehat biasanya membuat seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, mampu mengungkapkan kesulitan tanpa takut dipermalukan, dan tetap memiliki ruang untuk mengambil keputusan sendiri.

Sebaliknya, dukungan yang tidak sehat dapat berbentuk:

"Kamu harus mengikuti semua nasihatku."

"Masalahmu sebenarnya tidak seberapa."

"Kamu terlalu sensitif."

"Kalau kamu mau mendengarkan aku, hidupmu pasti tidak akan seperti ini."

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar "banyak orang", tetapi hubungan yang berkualitas.

Satu orang yang benar-benar dapat dipercaya terkadang jauh lebih berarti daripada puluhan orang yang hanya hadir ketika keadaan sedang menyenangkan.

Ketika Dukungan Sosial Belum Cukup

Dukungan dari keluarga dan teman memiliki peran penting, tetapi dukungan sosial bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang menghadapi masalah psikologis yang berat atau berlangsung lama.

Jika seseorang mengalami kesulitan yang sangat mengganggu fungsi sehari-hari, merasa tidak mampu mengendalikan dirinya, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri maupun mengakhiri hidup, penting untuk mencari bantuan profesional dan dukungan darurat yang sesuai.

Meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Justru, kemampuan untuk mengatakan "Saya membutuhkan bantuan" merupakan salah satu bentuk keberanian.

Psikologi tidak mengajarkan bahwa manusia harus selalu kuat sendirian.

Sebaliknya, manusia memiliki kapasitas untuk bertahan melalui hubungan, dukungan, kemampuan beradaptasi, dan bantuan ketika diperlukan.

Pada Akhirnya, Kita Tidak Harus Menjalani Semuanya Sendirian

Keterpurukan sering membuat seseorang percaya bahwa ia sendirian.

Masalah terasa terlalu besar.

Masa depan terasa terlalu gelap.

Dan diri sendiri terasa terlalu lemah untuk melakukan apa pun.

Namun, dukungan sosial dapat mengubah pengalaman tersebut.

Seseorang mungkin tetap memiliki masalah yang sama setelah berbicara dengan temannya. Tagihan masih harus dibayar. Pekerjaan masih harus dicari. Hubungan mungkin tetap berakhir. Kegagalan tetap menjadi bagian dari kenyataan.

Tetapi ada sesuatu yang berubah:

Ia tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.

Dan terkadang, itulah yang kita butuhkan untuk mulai melangkah.

Dukungan sosial dapat membantu kita merasa diterima, mengelola tekanan, melihat diri secara lebih realistis, menemukan perspektif baru, mengambil tindakan kecil, dan mempertahankan harapan.

Pada akhirnya, manusia tidak selalu bangkit karena tiba-tiba menjadi lebih kuat.

Kadang-kadang kita bangkit karena ada seseorang yang tetap berada di samping kita ketika kita sendiri sudah tidak yakin mampu berdiri.

Jadi, jika suatu hari seseorang yang kita kenal sedang terpuruk, mungkin kita tidak perlu mencari kata-kata yang sempurna.

Kita bisa mulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

"Aku tidak tahu persis apa yang sedang kamu rasakan. Tapi kamu tidak harus melewati ini sendirian."

Dan jika suatu hari justru kita yang berada di posisi tersebut, semoga kita juga memiliki keberanian untuk mengatakan:

"Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku membutuhkan seseorang."

Karena meminta dukungan bukan berarti kita gagal menjadi kuat.

Terkadang, menerima dukungan adalah bagian dari cara kita bertahan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore