Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 September 2026 | 13.00 WIB

6 Cara Berbicara dengan Orang-Orang yang Paling Sulit Dihadapi Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

Pada akhirnya, kemampuan berkomunikasi dengan orang sulit bukan tentang memiliki jawaban paling cerdas. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Berbicara dengan orang lain seharusnya menjadi aktivitas sederhana. Kita menyampaikan apa yang kita pikirkan, mendengarkan jawaban, kemudian mencari titik temu. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ada orang-orang tertentu yang membuat komunikasi terasa jauh lebih melelahkan.


Ada orang yang selalu ingin menang dalam percakapan. Ada yang mudah tersinggung, cepat marah, gemar menyalahkan orang lain, tidak mau mendengarkan, atau bahkan sengaja memancing emosi. Ketika berhadapan dengan karakter seperti ini, komunikasi dapat berubah menjadi sebuah pertengkaran yang sebenarnya tidak pernah kita inginkan.

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa menghadapi orang yang sulit bukan hanya persoalan menemukan kata-kata yang tepat. Cara kita mengelola emosi, memahami pola perilaku, menentukan batasan, dan memilih waktu untuk berbicara juga sangat menentukan hasil komunikasi.

Kita tidak selalu bisa mengubah karakter orang lain. Namun, kita dapat mengubah cara kita merespons mereka.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), terdapat enam cara yang dapat membantu ketika harus berbicara dengan orang-orang yang paling sulit dihadapi.

1. Jangan Membalas Emosi dengan Emosi

Salah satu kesalahan paling umum ketika menghadapi orang yang sulit adalah ikut terbawa suasana.

Ketika seseorang berbicara dengan nada tinggi, kita secara alami mungkin terdorong untuk meninggikan suara. Ketika seseorang bersikap kasar, kita ingin membalas dengan kekasaran. Ketika seseorang menuduh kita, kita langsung merasa harus membela diri.

Masalahnya, respons seperti ini sering membuat percakapan semakin panas.

Dalam psikologi, kemampuan untuk mengenali dan mengatur respons emosional merupakan bagian penting dari regulasi emosi. Ketika emosi sedang tinggi, kemampuan seseorang untuk berpikir secara tenang dan mempertimbangkan konsekuensi responsnya dapat terganggu.

Karena itu, langkah pertama ketika menghadapi orang yang sedang marah bukanlah mencari kalimat paling pintar, melainkan menurunkan intensitas emosi diri sendiri.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Kamu sendiri yang mulai marah-marah!"

kita dapat mengatakan:

"Saya paham kamu sedang kesal. Mari kita bicarakan masalahnya tanpa saling meninggikan suara."

Kalimat tersebut bukan berarti kita mengakui bahwa orang tersebut benar. Kita hanya menolak ikut masuk ke dalam eskalasi emosional.

Ada perbedaan besar antara memahami emosi seseorang dan menyetujui perilakunya.

Kita dapat memahami bahwa seseorang sedang marah tanpa membenarkan caranya menghina atau merendahkan kita.

Beri jeda jika diperlukan

Jika percakapan sudah terlalu emosional, mengambil jeda juga bukan tanda kelemahan.

Kita bisa mengatakan:

"Saya ingin menyelesaikan masalah ini, tetapi sepertinya sekarang kita sama-sama sedang emosi. Kita lanjutkan ketika sudah lebih tenang."

Jeda memberi kesempatan bagi sistem emosi untuk mereda sehingga percakapan berikutnya dapat berlangsung dengan lebih rasional.

Kadang-kadang, percakapan yang paling produktif bukanlah percakapan yang dilakukan saat itu juga.

2. Dengarkan Maksudnya, Bukan Hanya Kata-Katanya

Orang yang sulit diajak bicara sering membuat kita terlalu fokus pada kata-kata yang mereka gunakan.

Seseorang mungkin berkata:

"Kamu memang tidak pernah peduli!"

Jika kita langsung membantah, percakapan dapat berubah menjadi perdebatan tentang apakah kita "pernah" atau "tidak pernah" peduli.

Padahal, mungkin yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

"Saya merasa tidak diperhatikan."

Di sinilah kemampuan mendengarkan secara aktif menjadi penting.

Mendengarkan aktif bukan berarti kita harus setuju dengan lawan bicara. Artinya, kita berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang mereka komunikasikan.

Kita dapat menggunakan teknik sederhana berupa refleksi:

"Jadi, yang membuat kamu kecewa adalah karena kamu merasa saya tidak melibatkanmu dalam keputusan itu?"

Kalimat seperti ini memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk mengklarifikasi maksudnya.

Sering kali, seseorang menjadi semakin keras bukan karena ingin bertengkar, tetapi karena merasa tidak didengar.

Pisahkan fakta dari interpretasi

Ketika menghadapi orang yang sulit, cobalah memisahkan tiga hal:

Apa yang terjadi?

Apa yang dia rasakan?

Apa kesimpulan yang dia buat?

Misalnya:

Fakta: sebuah pesan tidak dibalas selama beberapa jam.
Perasaan: dia merasa diabaikan.
Interpretasi: "Kamu sengaja mengabaikan saya."

Ketiganya berbeda.

Dengan memahami perbedaan tersebut, kita tidak perlu langsung berdebat mengenai interpretasi orang lain.

Kita dapat merespons:

"Saya mengerti kamu merasa diabaikan. Saya memang belum membalas pesanmu, tetapi bukan karena saya sengaja mengabaikanmu."

Ini jauh lebih konstruktif daripada:

"Kamu selalu berpikiran negatif!"

3. Gunakan Kalimat yang Tegas Tanpa Menyerang

Ada dua ekstrem yang sering muncul ketika seseorang menghadapi orang sulit.

Ekstrem pertama adalah terlalu pasif. Kita terus mengalah karena tidak ingin konflik.

Ekstrem kedua adalah terlalu agresif. Kita menyerang balik agar tidak dianggap lemah.

Psikologi komunikasi umumnya membedakan sikap agresif dengan sikap asertif.

Asertif berarti mampu menyampaikan kebutuhan, perasaan, pendapat, dan batasan dengan jelas tanpa merendahkan orang lain.

Misalnya, daripada berkata:

"Kamu benar-benar tidak bisa diajak bicara."

kita dapat mengatakan:

"Saya bersedia membicarakan masalah ini, tetapi saya tidak nyaman jika pembicaraan dilakukan dengan penghinaan."

Atau daripada:

"Jangan pernah menyuruh-nyuruh saya lagi!"

kita bisa mengatakan:

"Saya bisa membantu, tetapi saya perlu diberi tahu lebih awal agar dapat mengatur pekerjaan saya."

Perhatikan perbedaannya.

Kalimat agresif menyerang orangnya.

Kalimat asertif membahas perilaku dan batasannya.

Gunakan pola "saya"

Salah satu cara praktis untuk membuat komunikasi lebih asertif adalah menggunakan kalimat yang berfokus pada pengalaman diri.

Contohnya:

"Saya merasa kesulitan berdiskusi ketika suara kita mulai meninggi."

"Saya membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan keputusan ini."

"Saya tidak bersedia melanjutkan percakapan jika saya dihina."

Kalimat tersebut tidak menjadikan lawan bicara sebagai "orang jahat". Kita hanya menjelaskan apa yang kita rasakan dan batasan apa yang kita miliki.

Ini sangat berguna ketika menghadapi orang yang defensif.

4. Jangan Terjebak dalam Keinginan untuk Selalu Menang

Ada orang yang menjadikan hampir setiap percakapan sebagai kompetisi.

Jika kita mengatakan sesuatu, mereka harus punya cerita yang lebih hebat.

Jika kita menyampaikan pendapat, mereka harus membuktikan bahwa pendapat kita salah.

Jika kita menjelaskan pengalaman, mereka menganggap pengalaman mereka lebih penting.

Dalam situasi seperti ini, keinginan untuk "menang" justru dapat membuat kita semakin lelah.

Tidak semua percakapan perlu menghasilkan pemenang.

Ada kalanya tujuan komunikasi bukan membuktikan siapa yang benar, tetapi mencari solusi.

Misalnya, ketika seseorang berkata:

"Cara kamu mengerjakan ini salah."

Kita mungkin tergoda menjawab:

"Tidak salah. Saya sudah melakukan ini berkali-kali."

Percakapan kemudian berubah menjadi adu pengalaman.

Alternatif yang lebih produktif:

"Mungkin kita punya cara berbeda. Bagian mana yang menurutmu perlu diperbaiki?"

Pertanyaan tersebut mengubah arah percakapan dari siapa yang benar menjadi apa yang dapat diperbaiki.

Pilih pertempuran yang memang penting

Orang yang dewasa secara emosional bukan orang yang selalu berhasil memenangkan argumen.

Justru, salah satu bentuk kematangan adalah mengetahui argumen mana yang layak diperjuangkan dan mana yang lebih baik dilepaskan.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah masalah ini benar-benar penting?

Apakah perdebatan ini akan menghasilkan perubahan?

Apakah saya sedang mencari solusi atau sekadar ingin membuktikan bahwa saya benar?

Jika jawabannya hanya yang terakhir, mungkin tidak ada gunanya melanjutkan perdebatan.

5. Tetapkan Batasan yang Jelas

Tidak semua masalah komunikasi dapat diselesaikan dengan menjadi lebih sabar.

Ada orang yang terus-menerus melanggar batasan. Mereka mungkin menghina, mengancam, memanipulasi, mengganggu privasi, atau menggunakan kemarahan untuk mengendalikan orang lain.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan menetapkan batasan menjadi sangat penting.

Batasan bukan hukuman.

Batasan adalah pernyataan mengenai apa yang kita bersedia terima dan apa yang akan kita lakukan ketika batas tersebut dilanggar.

Contohnya:

"Saya bersedia membicarakan masalah ini, tetapi saya tidak akan melanjutkan percakapan jika ada penghinaan."

Kemudian, yang paling penting adalah konsistensi.

Jika orang tersebut kembali menghina, kita tidak perlu memberikan ceramah panjang. Kita dapat mengakhiri percakapan seperti yang sudah kita sampaikan.

Batasan harus realistis

Kesalahan lain adalah membuat batasan yang sebenarnya tidak dapat kita tegakkan.

Misalnya:

"Kalau kamu melakukan itu lagi, saya tidak akan pernah berbicara denganmu seumur hidup."

Jika kita tidak benar-benar akan melakukan hal tersebut, batasan itu kehilangan kredibilitas.

Batasan yang lebih realistis:

"Kalau pembicaraan kembali berubah menjadi penghinaan, saya akan menghentikan percakapan dan kita bisa membicarakannya lagi nanti."

Dengan cara ini, kita tidak berusaha mengontrol perilaku orang lain. Kita menentukan respons kita sendiri.

Itulah inti dari batasan yang sehat.

6. Kenali Kapan Harus Berhenti Berbicara

Salah satu pelajaran psikologis yang penting adalah bahwa tidak semua konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi.

Kadang-kadang kita sudah menjelaskan dengan tenang.

Kita sudah mendengarkan.

Kita sudah meminta klarifikasi.

Kita sudah menetapkan batasan.

Namun, orang tersebut tetap tidak mau berdialog secara sehat.

Pada titik tertentu, terus berbicara justru dapat memperburuk keadaan.

Kita perlu mengenali tanda-tanda bahwa percakapan sudah tidak produktif, misalnya:

pembicaraan terus berputar tanpa kemajuan;
setiap penjelasan selalu dipelintir;
lawan bicara terus menghina atau merendahkan;
tujuan percakapan berubah menjadi saling menyerang;
salah satu pihak sudah terlalu emosional untuk berpikir jernih;
tidak ada kemauan untuk mendengarkan atau mencari solusi.

Dalam kondisi tersebut, mengakhiri percakapan sementara dapat menjadi pilihan yang lebih sehat.

Kita dapat mengatakan:

"Saya rasa percakapan ini tidak akan menghasilkan apa-apa kalau kita lanjutkan sekarang. Kita bisa membicarakannya lagi ketika suasananya lebih tenang."

Ini bukan berarti kita kalah.

Kadang-kadang, berhenti berdebat adalah bentuk pengendalian diri.

Mengapa Orang Sulit Tidak Selalu Harus "Dikalahkan"?

Salah satu jebakan terbesar dalam menghadapi orang yang sulit adalah berpikir bahwa kita harus menemukan cara untuk mengubah mereka.

Padahal, kita memiliki kendali yang sangat terbatas atas perilaku orang lain.

Kita tidak dapat memaksa seseorang menjadi lebih dewasa.

Kita tidak dapat memaksa seseorang mendengarkan.

Kita tidak dapat membuat orang lain berhenti defensif.

Yang dapat kita kendalikan adalah respons kita sendiri.

Kita dapat memilih untuk tidak membalas penghinaan.

Kita dapat memilih untuk mendengarkan sebelum menyimpulkan.

Kita dapat memilih kata-kata yang lebih tenang.

Kita dapat menetapkan batasan.

Dan kita dapat memilih untuk meninggalkan percakapan yang sudah tidak sehat.

Perubahan kecil dalam respons kita terkadang mengubah dinamika sebuah hubungan secara signifikan.

Namun, penting juga untuk realistis: komunikasi yang baik bukan jaminan bahwa orang lain akan bersikap baik kepada kita.

Jika seseorang memang tidak memiliki kemauan untuk berkomunikasi secara sehat, tugas kita bukan terus-menerus mencari "kalimat ajaib" yang akhirnya membuat mereka berubah.

Tugas kita adalah menjaga cara kita berkomunikasi sekaligus menjaga diri sendiri.

Kesimpulan

Berbicara dengan orang yang sulit memang tidak mudah. Kita mungkin menghadapi orang yang mudah marah, defensif, keras kepala, gemar menyalahkan, atau tidak mau mendengarkan.

Namun, psikologi memberikan satu prinsip penting: kita tidak harus mengendalikan orang lain untuk membuat komunikasi menjadi lebih baik.

Kita dapat memulainya dari diri sendiri.

Enam strategi yang dapat digunakan adalah:

Jangan membalas emosi dengan emosi.
Dengarkan maksud di balik kata-kata.
Gunakan komunikasi yang tegas tetapi tidak menyerang.
Jangan menjadikan setiap percakapan sebagai kompetisi.
Tetapkan batasan yang jelas dan konsisten.
Ketahui kapan percakapan sebaiknya dihentikan.

Pada akhirnya, kemampuan berkomunikasi dengan orang sulit bukan tentang memiliki jawaban paling cerdas.

Ini tentang memiliki cukup ketenangan untuk memilih respons yang tepat.

Karena terkadang, kemenangan terbesar dalam sebuah percakapan bukan ketika orang lain mengakui bahwa kita benar.

Melainkan ketika kita berhasil menjaga akal sehat, harga diri, dan ketenangan diri sendiri.***
 
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore