Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Agustus 2026 | 23.47 WIB

Jika Anda Ingin Memimpin Tapi Anda Bukan Orang yang Didengar, Coba 8 Strategi Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha menjadi pemimpin (Magnific/prostophotokate) - Image

seseorang yang berusaha menjadi pemimpin (Magnific/prostophotokate)

JawaPos.com - Dalam banyak situasi, kita sering mengira bahwa seorang pemimpin adalah orang yang paling banyak bicara, paling percaya diri, paling populer, atau paling mudah mendapatkan perhatian. Padahal, dalam kehidupan nyata, kepemimpinan tidak selalu dimulai dari posisi sebagai orang yang paling didengar.


Ada orang yang memiliki jabatan tinggi tetapi sulit mendapatkan kepercayaan. Sebaliknya, ada seseorang yang tidak banyak berbicara dalam sebuah kelompok, tetapi ketika ia memberikan pendapat, orang-orang mulai mempertimbangkannya.

Di sinilah psikologi memberikan sudut pandang yang menarik: kemampuan memimpin tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras suara Anda terdengar, tetapi juga oleh seberapa besar orang lain mempercayai penilaian, konsistensi, dan niat Anda.

Jika saat ini Anda merasa bukan orang yang paling didengar di tempat kerja, dalam kelompok pertemanan, organisasi, keluarga, atau lingkungan sosial, bukan berarti Anda tidak memiliki kemampuan untuk memimpin.

Mungkin Anda hanya perlu menggunakan pendekatan yang berbeda.

Anda tidak harus mengubah diri menjadi orang yang paling vokal. Anda juga tidak perlu memaksakan diri untuk mendominasi percakapan. Justru, kepemimpinan yang efektif sering kali muncul dari kemampuan untuk membangun kredibilitas, memahami orang lain, mengambil tanggung jawab, dan membuat orang merasa bahwa mereka sedang bergerak menuju tujuan yang sama.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (24/8), terdapat 8 strategi psikologis yang dapat membantu Anda mulai memimpin meskipun Anda bukan orang yang paling didengar.

1. Jangan Berusaha Menjadi Orang yang Paling Banyak Bicara

Kesalahan pertama yang sering dilakukan seseorang ketika ingin mendapatkan pengaruh adalah mencoba berbicara lebih banyak.

Ketika seseorang merasa pendapatnya diabaikan, ia mungkin berpikir bahwa solusinya adalah berbicara lebih keras, menyela pembicaraan, atau terus-menerus menjelaskan pendapatnya.

Namun, banyak bicara tidak selalu menghasilkan pengaruh.

Dalam psikologi sosial, perhatian manusia sangat terbatas. Ketika seseorang terlalu sering berbicara tanpa memberikan informasi yang benar-benar bernilai, orang lain justru dapat mulai mengabaikannya.

Karena itu, jika Anda bukan orang yang paling didengar, jangan langsung mencoba memenangkan perhatian melalui kuantitas.

Cobalah meningkatkan kualitas kontribusi Anda.

Daripada memberikan sepuluh komentar yang biasa saja, berikan satu komentar yang membantu kelompok melihat masalah dengan cara yang lebih jelas.

Misalnya, dalam rapat semua orang sedang memperdebatkan siapa yang bertanggung jawab atas sebuah masalah.

Anda bisa mengatakan:

"Sebelum kita menentukan siapa yang salah, mungkin kita perlu melihat bagian mana dari proses yang membuat masalah ini terjadi. Kalau kita menemukan titiknya, kita bisa mencegahnya terulang."

Pernyataan seperti itu mungkin tidak panjang.

Tetapi memiliki nilai.

Anda membantu kelompok berpindah dari mencari kesalahan menuju mencari solusi.

Itulah salah satu bentuk kepemimpinan.

Pemimpin tidak selalu menjadi orang yang paling sering berbicara. Terkadang, pemimpin adalah orang yang membantu percakapan bergerak ke arah yang lebih produktif.

Jika Anda tidak mudah mendapatkan perhatian, fokuslah pada satu pertanyaan:

"Apa yang bisa saya katakan yang benar-benar membantu?"

Bukan:

"Bagaimana caranya agar semua orang memperhatikan saya?"

Perubahan fokus tersebut dapat membuat cara Anda berkomunikasi menjadi jauh lebih kuat.

2. Bangun Kredibilitas Sebelum Menuntut Pengaruh

Orang lebih mudah mengikuti seseorang yang mereka anggap kompeten dan dapat dipercaya.

Ini merupakan prinsip penting dalam psikologi kepemimpinan.

Bayangkan ada dua orang yang memberikan saran.

Orang pertama sering berbicara tentang banyak hal, tetapi jarang menyelesaikan pekerjaannya.

Orang kedua tidak terlalu banyak bicara, tetapi setiap kali mendapatkan tanggung jawab, ia menyelesaikannya dengan baik.

Ketika keduanya memberikan pendapat tentang sebuah masalah, kemungkinan besar orang akan lebih memperhatikan orang kedua.

Mengapa?

Karena pengalaman sebelumnya membentuk ekspektasi.

Perilaku Anda sebelum berbicara ikut menentukan seberapa besar orang akan mempercayai perkataan Anda.

Karena itu, jika Anda ingin menjadi lebih berpengaruh, jangan hanya fokus pada cara berbicara.

Fokuslah pada reputasi yang Anda bangun.

Tepati janji.

Datang ketika dibutuhkan.

Selesaikan pekerjaan.

Akui kesalahan.

Jangan mengambil kredit atas pekerjaan orang lain.

Dan jangan membuat klaim yang tidak dapat Anda pertanggungjawabkan.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana, tetapi justru merupakan fondasi kredibilitas.

Ketika Anda konsisten dalam tindakan, orang mulai membuat kesimpulan:

"Kalau dia mengatakan sesuatu, kemungkinan dia sudah memikirkannya."

Pada titik tersebut, suara Anda mungkin belum menjadi suara yang paling keras.

Tetapi suara Anda mulai memiliki bobot.

Dan dalam kepemimpinan, bobot sering kali lebih penting daripada volume.

3. Jadilah Orang yang Membantu, Bukan Orang yang Selalu Ingin Terlihat Hebat

Ada perbedaan besar antara ingin memimpin dan ingin terlihat sebagai seorang pemimpin.

Orang yang hanya ingin terlihat sebagai pemimpin biasanya fokus pada status.

Ia ingin berada di depan.

Ia ingin pendapatnya diikuti.

Ia ingin mendapatkan pengakuan.

Sementara itu, orang yang benar-benar ingin memimpin lebih fokus pada kebutuhan kelompok.

Pertanyaannya bukan:

"Bagaimana agar saya terlihat penting?"

Melainkan:

"Apa yang dibutuhkan kelompok ini agar bisa bergerak maju?"

Ini adalah perubahan psikologis yang sangat penting.

Ketika Anda menjadi orang yang membantu orang lain menyelesaikan masalah, pengaruh Anda dapat tumbuh secara alami.

Misalnya, seorang rekan kerja kesulitan memahami sistem baru.

Anda membantu menjelaskan.

Ada anggota tim yang kewalahan.

Anda menawarkan bantuan.

Kelompok mengalami kebingungan mengenai langkah berikutnya.

Anda membantu merapikan prioritas.

Anda tidak perlu mengatakan, "Saya pemimpinnya."

Perilaku Anda perlahan memberikan pesan yang jauh lebih kuat:

"Saya dapat diandalkan ketika keadaan menjadi sulit."

Inilah bentuk kepemimpinan yang sering kali tidak terlihat pada awalnya.

Namun, ketika situasi semakin kompleks, orang biasanya akan mencari individu yang dianggap mampu memberikan arah.

Dan individu tersebut tidak selalu orang yang paling populer.

Sering kali, justru orang yang paling banyak memberikan kontribusi nyata.

4. Belajar Mendengarkan Secara Aktif

Jika Anda merasa tidak didengar, mungkin respons pertama Anda adalah berbicara lebih banyak.

Tetapi cobalah melakukan sesuatu yang berlawanan:

dengarkan lebih baik.

Mendengarkan bukan berarti pasif.

Mendengarkan secara aktif berarti benar-benar mencoba memahami apa yang sedang dikatakan orang lain, termasuk kebutuhan, kekhawatiran, dan alasan di balik pendapat mereka.

Misalnya seseorang mengatakan:

"Saya rasa rencana ini tidak akan berhasil."

Daripada langsung menjawab:

"Kenapa tidak? Menurut saya justru bisa."

Anda bisa bertanya:

"Bagian mana yang paling membuat Anda khawatir?"

Pertanyaan sederhana tersebut memberikan ruang kepada orang lain untuk menjelaskan.

Setelah ia menjawab, Anda mungkin menemukan bahwa keberatannya sebenarnya bukan terhadap seluruh rencana, melainkan satu bagian tertentu.

Dengan mendengarkan, Anda mendapatkan informasi.

Dengan mendapatkan informasi, Anda dapat memberikan respons yang lebih tepat.

Dan ketika orang merasa didengarkan, mereka cenderung lebih terbuka terhadap komunikasi dua arah.

Ini penting karena kepemimpinan bukan sekadar kemampuan membuat orang mendengarkan Anda.

Kepemimpinan juga merupakan kemampuan membuat orang merasa bahwa suara mereka memiliki tempat.

Ironisnya, semakin baik Anda mendengarkan orang lain, semakin besar kemungkinan mereka bersedia mendengarkan Anda.

5. Gunakan Pertanyaan untuk Mengarahkan, Bukan Selalu Memberikan Perintah

Jika Anda bukan orang yang paling memiliki otoritas dalam kelompok, memberikan perintah secara langsung mungkin justru membuat orang defensif.

Sebaliknya, pertanyaan yang tepat dapat membantu Anda mengarahkan pembicaraan tanpa harus mendominasi.

Misalnya, daripada berkata:

"Kita harus menggunakan cara ini."

Anda bisa mengatakan:

"Kalau tujuan utama kita adalah menyelesaikan masalah ini minggu ini, pilihan mana yang paling realistis?"

Atau:

"Apa hambatan terbesar yang mungkin membuat rencana ini gagal?"

Pertanyaan seperti ini membuat orang berpikir.

Dan ketika Anda membantu kelompok berpikir dengan lebih terstruktur, Anda sebenarnya sedang menjalankan fungsi kepemimpinan.

Anda tidak memaksa orang menerima jawaban Anda.

Anda membantu mereka menemukan arah.

Ini juga dapat mengurangi resistensi.

Seseorang mungkin menolak sebuah perintah karena merasa dikendalikan.

Tetapi ia bisa menerima sebuah gagasan ketika ia merasa ikut terlibat dalam proses berpikir.

Karena itu, jika Anda belum memiliki otoritas yang kuat, jangan selalu berusaha menggantikannya dengan tekanan.

Gunakan rasa ingin tahu sebagai alat untuk memengaruhi arah pembicaraan.

6. Berani Mengambil Tanggung Jawab Saat Situasi Tidak Nyaman

Salah satu cara tercepat untuk membangun kepercayaan adalah mengambil tanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Banyak orang ingin menjadi pemimpin ketika semuanya berjalan baik.

Namun, kepemimpinan paling jelas terlihat ketika terjadi masalah.

Ketika target tidak tercapai, apakah Anda mencari kambing hitam?

Ketika terjadi kesalahan, apakah Anda langsung mengatakan bahwa itu bukan tanggung jawab Anda?

Ketika keputusan Anda ternyata salah, apakah Anda berusaha menyembunyikannya?

Atau Anda bisa mengatakan:

"Bagian ini merupakan tanggung jawab saya. Saya keliru dalam memperkirakannya. Sekarang mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya."

Pernyataan seperti itu membutuhkan kerendahan hati.

Namun, secara psikologis, pengakuan terhadap kesalahan dapat memperlihatkan integritas dan membuat orang melihat bahwa Anda tidak hanya mengejar citra diri.

Menariknya, seseorang tidak harus selalu benar untuk menjadi pemimpin yang dipercaya.

Ia harus menunjukkan bahwa ketika salah, ia bersedia memperbaiki.

Karena itu, jangan takut kehilangan wibawa ketika mengakui kesalahan.

Dalam banyak keadaan, kemampuan mengakui kesalahan justru dapat meningkatkan kredibilitas.

7. Temukan Satu atau Dua Orang yang Bersedia Mendukung Anda

Jika Anda bukan orang yang paling didengar, Anda mungkin merasa harus mendapatkan dukungan seluruh kelompok sekaligus.

Tidak selalu demikian.

Pengaruh sering kali berkembang melalui hubungan interpersonal.

Mulailah dengan membangun kepercayaan dengan beberapa orang.

Cari rekan yang menghargai cara berpikir Anda.

Bantu mereka ketika dibutuhkan.

Diskusikan ide.

Dengarkan perspektif mereka.

Dan ketika Anda memiliki gagasan, jangan selalu mencoba menjualnya kepada seluruh kelompok sekaligus.

Kadang-kadang, sebuah ide menjadi lebih mudah diterima setelah terlebih dahulu mendapatkan masukan dari beberapa orang yang dipercaya.

Ini bukan berarti memanipulasi orang atau membentuk "kelompok rahasia".

Sebaliknya, ini tentang memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Kita sering membentuk penilaian berdasarkan interaksi dan reputasi sosial.

Ketika orang lain sudah mengenal Anda sebagai seseorang yang masuk akal, kooperatif, dan dapat dipercaya, mereka mungkin lebih terbuka ketika Anda mengusulkan sesuatu.

Dari sana, pengaruh dapat berkembang secara bertahap.

Anda tidak perlu membuat semua orang langsung mengikuti Anda.

Mulailah dengan membangun beberapa hubungan yang kuat.

8. Bersabarlah: Kepemimpinan yang Sehat Dibangun dari Konsistensi

Ini mungkin strategi yang paling sulit.

Kita hidup dalam budaya yang sering menginginkan hasil cepat.

Kita ingin langsung dihormati.

Kita ingin pendapat kita langsung diterima.

Kita ingin sekali berbicara dan langsung mendapatkan perhatian.

Tetapi pengaruh yang bertahan lama biasanya tidak terbentuk dalam satu percakapan.

Ia dibangun melalui pola.

Hari ini Anda menunjukkan bahwa Anda dapat dipercaya.

Besok Anda membantu seseorang.

Minggu depan Anda menyelesaikan masalah.

Beberapa bulan kemudian, orang mulai mengenali pola tersebut.

Pada akhirnya, ketika sebuah masalah muncul, mereka mungkin mulai berkata:

"Coba tanyakan kepadanya."

Pada saat itu, sesuatu telah berubah.

Anda mungkin masih bukan orang yang paling banyak berbicara.

Anda mungkin bukan orang yang paling populer.

Anda mungkin bukan orang dengan jabatan tertinggi.

Tetapi orang mulai melihat Anda sebagai seseorang yang memiliki nilai.

Dan itulah salah satu bentuk pengaruh yang paling kuat.

Jangan Salah Mengartikan Diam sebagai Kelemahan

Ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Jika Anda bukan orang yang paling didengar, bukan berarti Anda harus berubah menjadi seseorang yang agresif.

Tidak semua orang harus menjadi pembicara yang dominan.

Ada orang yang memimpin melalui energi dan keberanian.

Ada yang memimpin melalui ketenangan.

Ada yang memimpin melalui keahlian.

Ada yang memimpin melalui empati.

Ada pula yang memimpin dengan menjadi orang pertama yang bertanggung jawab ketika keadaan sulit.

Jadi, jangan menganggap kepribadian yang tenang sebagai hambatan otomatis.

Yang perlu Anda kembangkan bukanlah kepribadian baru.

Yang perlu Anda kembangkan adalah kemampuan untuk membuat kontribusi Anda terlihat, relevan, dan dapat dipercaya.

Anda tidak perlu berteriak agar suara Anda memiliki arti.

Anda perlu memastikan bahwa ketika Anda berbicara, ada alasan bagi orang lain untuk mendengarkan.

Pada Akhirnya, Kepemimpinan Bukan Tentang Siapa yang Paling Didengar

Banyak orang mengejar kepemimpinan dengan cara yang salah.

Mereka mengejar perhatian sebelum membangun kepercayaan.

Mereka mengejar status sebelum menunjukkan tanggung jawab.

Mereka ingin didengar sebelum belajar mendengarkan.

Padahal, kepemimpinan yang sehat sering kali bergerak ke arah sebaliknya.

Dengarkan terlebih dahulu.

Bangun kepercayaan.

Berikan kontribusi.

Ambil tanggung jawab.

Bantu orang lain bergerak maju.

Kemudian, secara perlahan, pengaruh akan mengikuti.

Jika saat ini Anda merasa tidak menjadi orang yang paling didengar, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda tidak memiliki kemampuan memimpin.

Mungkin Anda sedang berada pada tahap awal membangun kredibilitas.

Mulailah dengan delapan strategi tadi: berbicara dengan lebih bermakna, membangun kredibilitas, menjadi orang yang membantu, mendengarkan secara aktif, menggunakan pertanyaan, mengambil tanggung jawab, membangun hubungan yang kuat, dan menjaga konsistensi.

Karena pada akhirnya, pemimpin yang paling berpengaruh bukan selalu orang yang suaranya paling keras.

Sering kali, mereka adalah orang yang membuat orang lain merasa lebih jelas, lebih percaya diri, dan lebih mampu menghadapi masalah setelah berinteraksi dengannya.

Dan jika Anda bisa menjadi orang seperti itu, Anda tidak perlu menjadi orang yang paling didengar untuk mulai memimpin.

Anda hanya perlu menjadi seseorang yang layak untuk didengarkan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore