Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 15.55 WIB

Orang yang Egois tetapi Tidak Menyadarinya, Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang sangat egois tetapi tidak menyadari (Magnific/jcomp) - Image

seseorang yang sangat egois tetapi tidak menyadari (Magnific/jcomp)

JawaPos.com - Tidak semua orang egois terlihat sombong, keras kepala, atau terang-terangan mementingkan diri sendiri. Dalam banyak kasus, sifat egois justru muncul secara halus dan sering kali tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Mereka mungkin merasa hanya sedang “jujur”, “melindungi diri”, atau “punya standar tinggi”, padahal perilakunya membuat orang lain lelah secara emosional.

Dalam psikologi, egoisme bukan hanya soal selalu ingin menang sendiri. Egoisme juga berkaitan dengan rendahnya empati, kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian, dan kesulitan memahami kebutuhan emosional orang lain. Menariknya, banyak orang egois sebenarnya tidak sadar bahwa sikap mereka perlahan merusak hubungan sosial, pertemanan, bahkan keluarga.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang yang sangat egois tetapi tidak menyadarinya.

1. Selalu Mengarahkan Percakapan Kembali ke Dirinya

Pernah berbicara dengan seseorang yang hampir selalu menghubungkan semua topik ke pengalaman pribadinya?

Saat Anda bercerita tentang masalah pekerjaan, ia langsung membahas pekerjaannya. Ketika Anda berbagi kabar bahagia, ia malah membandingkannya dengan pencapaiannya sendiri.

Sekilas terlihat normal, tetapi jika terjadi terus-menerus, itu menunjukkan kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian.

Menurut psikologi sosial, orang yang terlalu fokus pada diri sendiri cenderung memiliki self-centered communication style, yaitu pola komunikasi yang membuat interaksi selalu berputar pada pengalaman, emosi, dan sudut pandangnya sendiri.

Mereka sering tidak sadar bahwa lawan bicara merasa diabaikan. Yang mereka pikirkan hanyalah:

“Aku juga pernah mengalami itu.”
“Pengalamanku lebih berat.”
“Aku paling mengerti situasinya.”

Padahal, mendengarkan bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, melainkan siapa yang mampu memberi ruang bagi orang lain untuk merasa dipahami.

2. Sulit Mengakui Kesalahan

Orang egois sering memiliki hubungan yang rumit dengan kata “maaf”.

Bukan berarti mereka tidak pernah meminta maaf sama sekali, tetapi biasanya:

meminta maaf sambil menyalahkan orang lain,
memberi alasan berlebihan,
atau memutarbalikkan keadaan agar terlihat sebagai korban.

Contohnya:

“Maaf kalau kamu tersinggung, tapi sebenarnya kamu juga terlalu sensitif.”

Kalimat seperti ini bukan permintaan maaf yang tulus. Ini adalah bentuk defensiveness, yaitu mekanisme psikologis untuk melindungi ego agar tidak merasa bersalah.

Mengakui kesalahan membutuhkan kedewasaan emosional. Seseorang harus mampu menerima bahwa dirinya tidak selalu benar. Orang yang sangat egois sulit melakukan itu karena harga dirinya terlalu bergantung pada citra diri yang sempurna.

Akibatnya, konflik kecil bisa menjadi panjang hanya karena mereka tidak ingin terlihat kalah.

3. Hanya Peduli Saat Ada Keuntungan untuk Dirinya

Salah satu tanda paling jelas dari egoisme tersembunyi adalah hubungan yang terasa sepihak.

Mereka hadir ketika membutuhkan sesuatu:

bantuan,
perhatian,
validasi,
koneksi,
atau dukungan emosional.

Namun ketika orang lain membutuhkan mereka, responsnya minim atau bahkan menghilang.

Dalam psikologi hubungan interpersonal, ini disebut transactional relationship mindset — melihat hubungan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pribadi, bukan koneksi emosional yang saling mendukung.

Orang seperti ini sering berkata:

“Aku sibuk.”
“Aku lupa.”
“Aku juga lagi banyak masalah.”

Tetapi anehnya, mereka selalu punya waktu ketika sedang membutuhkan bantuan.

Hubungan yang sehat seharusnya memiliki keseimbangan antara memberi dan menerima. Jika hanya satu pihak yang terus berkorban, hubungan itu perlahan menjadi melelahkan.

4. Merasa Pendapatnya Paling Benar

Orang egois tidak selalu berbicara keras. Kadang mereka terlihat tenang, tetapi diam-diam menganggap pendapat orang lain kurang penting.

Mereka sulit menerima sudut pandang berbeda karena dalam pikirannya:

cara berpikirnya paling logis,
pilihannya paling tepat,
dan pengalaman hidupnya paling relevan.

Akibatnya, diskusi berubah menjadi kompetisi, bukan pertukaran ide.

Psikologi menyebut ini sebagai egocentric bias, yaitu kecenderungan melihat dunia terutama dari perspektif diri sendiri dan kesulitan memahami bahwa orang lain bisa memiliki pengalaman yang sama validnya.

Ciri-cirinya antara lain:

sering memotong pembicaraan,
sulit menerima kritik,
suka mengoreksi orang lain,
dan selalu ingin menjadi pihak terakhir yang berbicara.

Mereka mungkin menganggap dirinya “kritis” atau “cerdas”, padahal orang lain melihatnya sebagai pribadi yang melelahkan.

5. Kurang Empati terhadap Perasaan Orang Lain

Empati adalah kemampuan memahami emosi orang lain tanpa harus mengalami hal yang sama.

Namun orang yang sangat egois sering kesulitan melakukan ini.

Ketika orang lain sedih, mereka malah:

mengecilkan masalah,
memberi respons dingin,
atau langsung mengalihkan topik.

Contohnya:

“Ah, itu mah biasa.”

“Jangan lebay.”

“Masalah begitu aja dipikirin.”

Bagi mereka, semua hal diukur berdasarkan pengalaman pribadi. Jika mereka merasa suatu masalah tidak berat, maka orang lain juga dianggap tidak pantas terlalu emosional.

Padahal setiap orang memiliki kapasitas mental dan pengalaman hidup yang berbeda.

Kurangnya empati membuat hubungan terasa tidak aman secara emosional. Orang lain jadi enggan terbuka karena takut dihakimi atau diremehkan.

6. Sering Bermain sebagai Korban

Ini salah satu bentuk egoisme yang paling sulit dikenali.

Sebagian orang selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling tersakiti, bahkan ketika mereka juga melakukan kesalahan.

Mereka:

memelintir cerita,
mencari simpati,
dan membuat orang lain merasa bersalah.

Dalam psikologi, perilaku ini berkaitan dengan victim mentality, yaitu pola pikir yang membuat seseorang terus merasa menjadi korban keadaan atau korban orang lain.

Mengapa ini bisa menjadi bentuk egoisme?

Karena fokus utamanya tetap diri sendiri. Semua situasi diarahkan agar perhatian, belas kasihan, dan validasi kembali kepada mereka.

Akibatnya:

orang lain merasa dimanipulasi,
konflik sulit selesai,
dan hubungan dipenuhi drama emosional.

7. Tidak Menghargai Batasan Orang Lain

Orang yang egois sering menganggap kebutuhannya lebih penting dibanding kenyamanan orang lain.

Mereka mungkin:

memaksa orang selalu tersedia,
tersinggung saat ditolak,
menghubungi terus-menerus tanpa memikirkan waktu,
atau merasa berhak mengetahui semua hal pribadi orang lain.

Ketika seseorang mencoba membuat batasan sehat, respons mereka biasanya:

marah,
merasa diabaikan,
atau menuduh orang lain berubah.

Padahal dalam hubungan yang sehat, boundaries atau batasan pribadi sangat penting.

Psikologi modern menekankan bahwa menghargai batasan adalah tanda kedewasaan emosional dan rasa hormat terhadap identitas orang lain.

Orang yang tidak mampu menerima batasan sering kali belum bisa membedakan antara:

kebutuhan pribadi, dan hak orang lain untuk memiliki ruang sendiri.

8. Sulit Ikut Bahagia atas Kesuksesan Orang Lain

Alih-alih tulus senang, orang egois sering merasa:

iri,
tersaingi,
atau diam-diam tidak nyaman ketika orang lain berhasil.

Mereka mungkin merespons dengan:

meremehkan pencapaian,
membandingkan diri,
atau mencoba mengalihkan perhatian.

Contohnya:

“Oh, cuma begitu?”

“Aku juga pernah.”

“Ya, tapi keberuntungan aja sih.”

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan fragile self-esteem — harga diri yang rapuh sehingga keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman pribadi.

Orang yang benar-benar percaya diri biasanya mampu ikut bahagia atas pencapaian orang lain tanpa merasa dirinya berkurang.

Sebaliknya, orang egois melihat hidup seperti kompetisi tanpa akhir.

Mengapa Banyak Orang Egois Tidak Menyadarinya?

Egoisme tidak selalu lahir dari niat buruk. Kadang itu terbentuk dari:

pola asuh,
trauma,
kebutuhan validasi,
rasa tidak aman,
atau kebiasaan yang terus dibiarkan.

Sebagian orang tumbuh di lingkungan yang membuat mereka harus selalu memprioritaskan diri sendiri untuk bertahan. Akibatnya, mereka kesulitan membangun empati yang sehat saat dewasa.

Karena perilaku ini sudah terasa “normal” bagi mereka, mereka tidak sadar bahwa orang lain merasa terkuras secara emosional.

Itulah mengapa kesadaran diri sangat penting.

Menjadi egois bukan berarti seseorang sepenuhnya buruk. Semua manusia pada dasarnya memiliki sisi egois. Yang membedakan adalah kemampuan untuk:

mendengarkan,
memahami perasaan orang lain,
menerima kritik,
dan memperbaiki diri.

Psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dibangun bukan hanya lewat perhatian terhadap diri sendiri, tetapi juga lewat empati, keseimbangan, dan rasa hormat terhadap orang lain.

Jika beberapa perilaku di atas terasa familiar, tidak perlu langsung defensif. Bisa jadi itu kesempatan untuk lebih mengenali diri sendiri dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang secara emosional.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore