Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 April 2026 | 17.41 WIB

8 Ungkapan Menyakitkan yang Sering Didengar Perempuan yang Terus-Menerus Meminta Maaf, Menurut Psikologi

seseorang yang terus menerus meminta maaf. (Freepik/The Yuri Arcurs Collection) - Image

seseorang yang terus menerus meminta maaf. (Freepik/The Yuri Arcurs Collection)


JawaPos.com - Kebiasaan meminta maaf adalah hal yang pada dasarnya positif. Ia mencerminkan empati, kesadaran diri, dan tanggung jawab sosial.

Namun ketika seseorang terutama perempuan meminta maaf secara berlebihan, bahkan untuk hal-hal kecil atau yang bukan kesalahannya, hal itu sering kali memiliki akar psikologis yang lebih dalam.

Dalam banyak kasus, perilaku ini tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk dari pengalaman masa lalu, pola asuh, dinamika sosial, hingga tekanan budaya yang menuntut perempuan untuk selalu “menyenangkan orang lain.”

Sayangnya, perempuan yang memiliki kecenderungan ini sering kali juga tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik, penolakan, atau validasi yang minim. Akibatnya, mereka terbiasa menenangkan situasi dengan satu kata: “maaf.”

Dilansir dari Expert Editor, menurut perspektif psikologi, ada sejumlah ungkapan menyakitkan yang kerap mereka dengar—baik secara langsung maupun tersirat—yang memperkuat kebiasaan tersebut.

1. “Kamu terlalu sensitif”

Kalimat ini tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Ketika emosi seseorang dianggap berlebihan, ia belajar bahwa perasaannya tidak valid.

Akhirnya, untuk menghindari konflik atau penolakan, ia memilih meminta maaf bahkan sebelum benar-benar mengungkapkan perasaannya.

2. “Ini salah kamu”

Penyalahkan yang terus-menerus, terutama sejak kecil, dapat membuat seseorang menginternalisasi rasa bersalah.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan learned guilt, yaitu kondisi di mana seseorang merasa bertanggung jawab atas hampir segala hal yang terjadi di sekitarnya—bahkan yang di luar kendalinya.

3. “Kalau kamu tidak begitu, ini tidak akan terjadi”

Kalimat ini memperkuat keyakinan bahwa dirinya adalah sumber masalah. Lama-kelamaan, muncul pola pikir:

“Lebih baik aku minta maaf duluan daripada disalahkan.”

Ini adalah bentuk mekanisme perlindungan diri.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore