Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 April 2026 | 14.47 WIB

Orang yang Diam-Diam Mendambakan Cinta, Tapi Berpura-Pura Baik Saat Sendirian, Biasanya Memiliki 6 Perilaku Halus Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berpura-pura baik-baik saat sendirian. (Freepik/bokodi) - Image

seseorang yang berpura-pura baik-baik saat sendirian. (Freepik/bokodi)

JawaPos.com - Tidak semua kesepian terlihat jelas. Ada orang-orang yang tampak kuat, mandiri, dan nyaman sendiri—seolah hidup mereka sudah utuh tanpa kehadiran orang lain. Namun, jauh di dalam lubuk hati, mereka sebenarnya mendambakan cinta, kedekatan, dan koneksi emosional yang mendalam.

Dalam psikologi, kondisi ini sering kali berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri. Seseorang belajar menekan kebutuhan emosionalnya karena takut terluka, ditolak, atau merasa tidak layak dicintai. Akibatnya, mereka mengembangkan perilaku halus yang sering tidak disadari, baik oleh orang lain maupun diri mereka sendiri.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat enam perilaku halus yang sering ditunjukkan oleh orang yang diam-diam mendambakan cinta, tetapi berpura-pura baik-baik saja sendirian:

1. Terlihat Sangat Mandiri, Bahkan Berlebihan

Kemandirian adalah hal yang baik. Namun, pada orang seperti ini, kemandirian sering menjadi “tameng”.

Mereka:

Selalu berkata, “Aku bisa sendiri”
Menolak bantuan, bahkan saat sebenarnya membutuhkan
Menghindari bergantung pada siapa pun

Secara psikologis, ini bisa menjadi bentuk self-protection. Mereka meyakinkan diri bahwa tidak membutuhkan orang lain agar tidak merasakan kekecewaan jika suatu saat ditinggalkan.

2. Menghindari Percakapan yang Terlalu Personal

Mereka bisa sangat menyenangkan diajak bicara—ramah, cerdas, bahkan humoris. Tapi ketika percakapan mulai menyentuh hal yang lebih dalam, mereka akan:

Mengalihkan topik
Menjawab secara singkat
Menutup diri secara halus

Ini karena kedekatan emosional terasa “berisiko”. Semakin dekat seseorang, semakin besar kemungkinan mereka merasa rentan.

3. Sering Menjadi Pendengar yang Baik, Tapi Jarang Bercerita

Orang seperti ini biasanya sangat suportif:

Mereka mendengarkan masalah orang lain dengan penuh perhatian
Memberi nasihat yang bijak
Terlihat sangat peduli

Namun, mereka jarang membuka diri tentang perasaan mereka sendiri.

Dalam psikologi, ini bisa menjadi bentuk emotional displacement—lebih nyaman fokus pada orang lain daripada menghadapi emosi sendiri.

4. Menormalisasi Kesendirian Secara Berlebihan

Mereka sering mengatakan:

“Sendiri itu lebih tenang”
“Aku lebih bahagia tanpa drama hubungan”
“Cinta itu ribet”

Sebagian dari ini mungkin benar, tetapi jika diulang terus-menerus, itu bisa menjadi bentuk self-justification—cara untuk merasionalisasi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Padahal, di dalam hati, mereka tetap ingin dicintai dan dipahami.

5. Takut Memulai, Tapi Diam-Diam Berharap Didekati

Ada kontradiksi yang menarik:

Mereka tidak berani mengambil langkah pertama
Tapi berharap ada seseorang yang datang mendekat

Ketakutan akan penolakan sering lebih besar daripada keinginan untuk mencoba. Akibatnya, mereka terjebak dalam posisi pasif—menunggu tanpa benar-benar membuka pintu.

6. Terlihat Baik-Baik Saja, Tapi Sering Merasa Kosong

Dari luar, hidup mereka tampak stabil:

Punya rutinitas
Punya teman
Terlihat produktif

Namun, di momen tertentu—terutama saat sendirian—muncul perasaan:

Hampa
Sepi yang sulit dijelaskan
Kerinduan akan koneksi yang lebih dalam

Ini adalah tanda bahwa kebutuhan emosional mereka belum benar-benar terpenuhi.

Penutup: Antara Bertahan dan Membuka Diri

Tidak ada yang salah dengan menjadi mandiri atau menikmati waktu sendiri. Namun, ketika itu digunakan untuk menutupi kebutuhan akan cinta dan koneksi, justru bisa menjadi beban emosional yang tidak terlihat.

Psikologi mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kebutuhan akan dicintai, dipahami, dan terhubung adalah hal yang alami—bukan kelemahan.

Langkah kecil seperti:

Mengakui perasaan sendiri
Berani membuka diri sedikit demi sedikit
Memberi kesempatan pada orang lain untuk mendekat

bisa menjadi awal untuk keluar dari “topeng” baik-baik saja.

Karena pada akhirnya, tidak apa-apa untuk menginginkan cinta. Itu adalah bagian dari menjadi manusia.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore