
seseorang yang memiliki rumah yang besar. (Freepik/geargodz)
JawaPos.com - Dalam masyarakat modern, simbol status seharusnya berevolusi seiring perubahan zaman. Namun kenyataannya, banyak simbol status lama yang secara fungsional sudah usang, bahkan tidak lagi relevan dengan kebutuhan hidup hari ini, tetap memiliki daya tarik luar biasa—terutama bagi kelas menengah ke bawah.
Psikologi sosial menjelaskan bahwa simbol status bukan semata tentang fungsi, melainkan tentang makna, pengakuan, dan harapan naik kelas. Ketika mobilitas sosial terasa semakin sulit, simbol-simbol lama justru menjadi jangkar emosional: sesuatu yang “terlihat berhasil”, meski secara ekonomi belum tentu menyehatkan.
Dilansir dari Geediting, terdapat delapan simbol status usang yang masih membuat banyak orang antusias, lengkap dengan alasan psikologis di baliknya.
1. Rumah Besar di Pinggir Kota
Dulu, rumah besar dengan pagar tinggi adalah lambang mutlak kesuksesan. Kini, biaya perawatan tinggi, akses jauh, dan kualitas hidup sering kalah dibanding hunian kecil di lokasi strategis.
Namun bagi banyak orang kelas menengah ke bawah, rumah besar tetap identik dengan “sudah jadi orang”. Ada kepuasan simbolik saat tamu datang dan melihat luas bangunan—meski cicilan menekan dan rumah jarang benar-benar “hidup”.
Makna tersembunyi: validasi sosial lebih penting daripada efisiensi hidup.
2. Mobil Pribadi Baru, Meski Kredit Panjang
Di era transportasi online dan kerja jarak jauh, mobil bukan lagi kebutuhan mutlak. Namun mobil baru tetap menjadi simbol kenaikan kelas yang sangat kuat.
Psikolog menyebut ini sebagai status signaling: pesan nonverbal kepada lingkungan bahwa seseorang telah “naik level”, walaupun secara finansial justru terjebak komitmen jangka panjang.
Ironi: kebebasan terlihat, tapi ruang gerak finansial menyempit.
3. Ponsel Flagship dengan Fitur yang Tak Terpakai
Banyak pengguna ponsel mahal hanya memanfaatkan fungsi dasar: chat, media sosial, dan kamera standar. Namun merek dan seri tetap menjadi kebanggaan.
Di sini, ponsel bukan alat produktivitas, melainkan simbol keterhubungan dengan kelas sosial yang lebih tinggi—meski secara fungsional berlebihan.
Pesan psikologis: “Saya setara dengan mereka,” meski realitas berkata lain.
4. Pesta Pernikahan Mewah
Pernikahan sederhana sering dianggap “kurang berhasil”, terutama di lingkungan sosial tertentu. Akibatnya, pesta besar menjadi simbol status keluarga, bukan pasangan.
Padahal, banyak pasangan memulai hidup bersama dengan utang sosial dan finansial. Status di satu hari dibayar dengan tekanan bertahun-tahun.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022