
Ilustrasi keluarga berkumpul di sofa ruang tamu rumah. (Freepik)
JawaPos.com - Terdapat jurang komunikasi dan nilai yang signifikan antara generasi Baby Boomers (lahir 1946–1964) dengan Gen Z (lahir sekitar 1997–2012).
Apa yang dianggap sebagai kebijaksanaan atau aturan tegas di masa lalu, kini justru dilihat sebagai kekakuan emosional.
Kita akan melihat bagaimana beberapa ungkapan pengasuhan yang klasik dari era Boomers dapat membuat generasi muda terdiam karena terkejut.
Hal ini menunjukkan pergeseran fundamental dalam cara pandang terhadap otoritas, emosi, dan transparansi keluarga.
Melansir dari Geediting.com, ungkapan ini, yang dulu menjadi penentu batas dan disiplin, kini ditafsirkan sebagai pengabaian atau minimisasi perasaan.
Mari kita telaah sepuluh frasa tersebut dan mengapa maknanya telah berubah drastis dalam konteks budaya modern.
1. "Anak seharusnya terlihat, tetapi tidak terdengar"
Frasa ini merupakan aturan mutlak di tengah abad, menekankan agar anak diam dan tunduk pada orang dewasa. Bagi Gen Z, ungkapan tersebut terasa merampas hak bersuara. Mereka memandang bahwa membungkam suara anak akan mengeliminasi eksistensi diri mereka.
2. "Tunggu sampai ayahmu pulang"
Kalimat ini adalah pola asuh khas pada pertengahan abad, di mana ibu mengurus rumah tangga dan menyerahkan disiplin keras kepada ayah. Pesan ini mengirimkan sinyal bahwa ibu tidak mampu menangani masalah serius. Gen Z akan melihat ini sebagai bentuk kepemimpinan yang tidak seimbang di rumah.
3. "Karena ibu/ayah bilang begitu"
Pernyataan ini adalah penutup mutlak untuk setiap pertanyaan atau negosiasi yang tidak perlu dilakukan. Ungkapan ini menuntut kepatuhan buta tanpa perlu memahami alasan di baliknya. Gen Z yang menghargai alasan dan dialog akan menganggap ini sebagai pembungkaman intelektual yang otoriter.
4. "Sayangilah rotanmu, maka kau akan memanjakan anakmu"
Ungkapan lama ini mempromosikan hukuman fisik sebagai metode disiplin utama dalam pengasuhan. Bagi Gen Z, hukuman fisik kini dianggap sebagai tindak kekerasan. Penggunaan rotan sebagai alat mendidik sudah tidak relevan dan sangat merusak.
5. "Anak laki-laki tetaplah anak laki-laki"

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
