
Ilustrasi Snack Platter. Waspadai keinginan untuk craving makanan manis dan asin di malam hari. (Freepik)
JawaPos.com – Pernahkah kamu merasa tiba-tiba sangat ingin makan sesuatu, entah cokelat, keripik asin, atau mie instan di jam 11 malam? Padahal, sebenarnya perutmu belum lapar.
Fenomena ini disebut food craving, yaitu dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan tertentu meski tidak lapar. Berbeda dari rasa lapar biasa, craving sering kali datang karena otak, bukan perut.
Harvard Gazette (2024) menjelaskan bahwa makanan tinggi gula, garam, dan lemak memicu sistem reward otak. Bagian yang sama aktif ketika seseorang merasakan kesenangan, misalnya saat jatuh cinta atau menang game.
Ketika kita makan cokelat atau kentang goreng, otak mengeluarkan dopamin, zat kimia yang bikin kita merasa bahagia dan puas.
Masalahnya, sensasi ini bikin kita ingin mengulang pengalaman itu terus-menerus. Otak belajar bahwa makanan tertentu = rasa senang. Akhirnya, muncul kebiasaan: setiap stres atau capek, kita mencari “hadiah kecil” lewat makanan.
Menurut The Nutrition Source dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, craving sering kali bersifat emosional, bukan biologis. Otak kita membentuk asosiasi antara rasa dan perasaan.
Misalnya, rasa manis diasosiasikan dengan kenyamanan, sementara rasa asin bisa mengingatkan pada momen santai seperti makan popcorn sambil nonton film. Karena itulah, craving sering muncul saat kita butuh “comfort,” bukan kalori.
Penelitian di PubMed Central juga mengungkap bahwa isyarat lingkungan (food cues) berperan besar dalam munculnya craving.
Bayangkan kamu lagi scrolling TikTok, lalu muncul video orang bikin martabak meleleh. Meski nggak lapar, otak langsung aktif dan menyiapkan sinyal “aku juga pengin itu.”
Peristiwa ini disebut cue-induced craving, dan bisa muncul hanya karena penciuman, visual, atau bahkan memori.
Sementara itu, The Psychology of Food Cravings menambahkan bahwa membatasi makanan secara ketat justru bisa memperkuat craving.
Semakin kamu melarang diri makan manis, semakin besar keinginan otak untuk mencarinya. Ini yang disebut efek “forbidden fruit”. Semakin dilarang, akan terlihat semakin menarik.
Nah, craving terhadap makanan manis biasanya muncul karena fluktuasi gula darah. Saat kadar gula menurun, otak mengirim sinyal lapar untuk menstabilkan energi.
Tapi kalau kamu terlalu sering mengandalkan gula sederhana seperti permen atau minuman manis, tubuh jadi cepat “ketagihan.” Dopamin naik sebentar, lalu turun drastis, bikin kamu pengin tambah lagi.
Sedangkan craving terhadap makanan asin bisa punya alasan berbeda. Beberapa studi menunjukkan bahwa stres bisa menurunkan kadar natrium dalam tubuh, sehingga muncul dorongan untuk makan asin.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022