Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Oktober 2025 | 01.16 WIB

Hati-Hati dengan Makananmu! Ini 4 Pengawet Makanan Sintetis Paling Umum Digunakan dan Dampaknya pada Kesehatan

Ilustrasi makanan yang disimpan di dalam toples (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi makanan yang disimpan di dalam toples (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Beberapa orang memiliki cukup waktu untuk memasak makanan dari bahan segar, namun ada pula yang tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut. Karena keterbatasan waktu, mereka cenderung lebih sering mengonsumsi makanan siap saji.

Jenis-jenis makanan ini mudah ditemukan di toko-toko maupun restoran. Meskipun sebagian makanan disiapkan atau dimasak langsung oleh pihak restoran pada hari itu juga, ada pula yang sudah dimasak jauh sebelum akhirnya dibeli oleh konsumen. Agar makanan ini tetap segar atau layak konsumsi hingga kurun waktu tertentu, pihak produsen menggunakan pengawet makanan.

Terdapat beberapa macam pengawet alami yang dapat digunakan untuk masakan rumahan. Namun, karena pengawet alami belum tentu cocok untuk makanan cepat saji, diciptakanlah pengawet makanan buatan dari bahan kimia. Dilansir dari ACS Distance Education, bahan-bahan kimia ini dapat disemprotkan pada bagian luar atau ditambahkan langsung ke dalam makanan.

Meskipun pengawet makanan sintetis terdengar mengkhawatirkan bagi konsumen, sebenarnya banyak di antaranya yang didapatkan dari sumber alami. Berikut adalah beberapa contoh pengawet makanan sintetis yang umum digunakan:

Sulfit

Dilansir dari Food Safety Institute, sulfur dioksida dan sulfit adalah pengawet makanan terumum yang berfungsi untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur pada makanan. Kedua bahan kimia ini juga mencegah pencoklatan enzimatik dan nonenzimatik, sehingga dapat mempertahankan penampilan makanan olahan.

Sulfit paling sering digunakan pada buah-buahan kering untuk melindungi warna buah, anggur alkohol untuk mencegah pertumbuhan bakteri selama fermentasi, dan jus buah untuk menjaga kesegaran dan warna.

Menurut Australian Institute of Food Safety, sulfit dapat ditemukan di kemasan dengan berbagai nama, seperti potassium metabisulfite, sodium metabisulfite, sodium sulfite, atau sodium bisulfite. Sulfit dianggap sebagai pengawet yang aman, namun dapat berdampak buruk terhadap penderita asma.

Benzoat

Benzoat juga merupakan salah satu pengawet makanan yang digunakan untuk mencegah, bahkan membunuh, pertumbuhan sel-sel jamur. Benzoat bekerja lebih baik pada tingkat keasaman di bawah pH 4.5. Pengawet ini sering digunakan pada minuman berkarbonasi, acar, tepung, pasta gigi, obat, saus, dan bumbu.

Benzoat dapat ditemukan tertulis pada kemasan sebagai asam benzoat atau sodium benzoat. Yang kedua terkadang lebih sering digunakan karena lebih mudah larut di air. Walaupun benzoat efektif menghentikan pertumbuhan mikroba, benzoat juga mengandung sedikit karsinogen.

Sorbat

Sorbat dapat ditemukan pada kemasan dengan nama asam sorbat, potassium sorbate, dan kalsium sorbat. Pengawet ini sangat efektif melawan pertumbuhan ragi dan jamur, serta terdapat sedikit efek terhadap bakteri.

Sama seperti benzoat, sorbat bekerja lebih baik di lingkungan yang asam. Namun, karena sorbat tidak terlalu memengaruhi rasa pada makanan, perusahaan lebih menyukainya. Makanan yang sering menggunakan sorbat adalah produk roti-rotian untuk mencegah pertumbuhan jamur, keju untuk mencegah jamur selama proses pematangan, dan alkohol untuk mencegah refermentasi pada alkohol manis.

Nitrat

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore