Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 02.01 WIB

Tak Percaya Diri dalam Cinta? 3 Penyebab Perempuan Merasa Tidak Layak Dicintai dan Solusinya

Ilustrasi Perempuan Merasa Tidak Layak Dicintai (freepik) - Image

Ilustrasi Perempuan Merasa Tidak Layak Dicintai (freepik)


JawaPos.com - Pernahkah sebuah pikiran mengusik muncul dalam benak Anda, bertanya, "Apakah saya tidak layak untuk dicintai?"

Bagaimana jika tidak ada yang pernah benar-benar mencintaiku? Jika Anda pernah merasakan hal tersebut, perlu diketahui bahwa Anda sama sekali tidak sendirian.

Banyak perempuan, yang cerdas, baik, dan kuat, ternyata juga bergumul dengan perasaan tidak layak untuk dicintai.

Perasaan ini seringkali tidak hadir dengan suara yang keras. Terkadang, ia hanya berbisik pelan, memberikan pesan halus seperti, "Jangan terlalu dekat," "Jangan meminta terlalu banyak," atau "Jangan berharap untuk dipilih."

Bisikan-bisikan inilah yang secara perlahan mengikis kepercayaan diri dan membentuk dinding yang menghalangi Anda untuk menerima cinta yang sesungguhnya.

Artikel ini akan menggali lebih dalam asal-usul dari perasaan tersebut, menurut pengalaman nyata yang membentuknya, dan yang terpenting, memberikan peta jalan untuk memulai proses penyembuhan.

Mari kita mulai dengan memahami akar permasalahannya. Berikut 3 penyebab perempuan merasa tidak layak dicintai yang dihimpun dari YouTube Psych2Go.

1. Parentifikasi: Terbiasa Menjadi Pemberi, Bukan Penerima

Sejak dini, banyak perempuan dikondisikan untuk mengurus dan menjaga orang lain, baik itu saudara kandung, orang tua, maupun teman.

Tanpa disadari, Anda menjadi sistem pendukung emosional bagi orang-orang di sekitar sebelum bahkan Anda memahami emosi Anda sendiri.

Peran ini lambat laun membentuk sebuah keyakinan bahwa nilai diri Anda ditentukan oleh apa yang dapat Anda berikan, bukan oleh siapa diri Anda adanya.

Kondisi psikologis ini dikenal sebagai parentifikasi, yaitu ketika seorang anak mengambil peran pengasuhan layaknya orang dewasa secara terlalu dini.

Pengalaman ini mengajarkan sebuah pelajaran tersirat bahwa "tugas saya adalah memberi cinta, bukan menerimanya."

Akibatnya, di masa dewasa, Anda merasa tidak nyaman ketika diperhatikan atau dikasihi karena peran yang telah melekat begitu dalam.

Mengatasi dampak parentifikasi membutuhkan kesadaran untuk melepaskan peran lama tersebut.

Mulailah dengan mengizinkan diri Anda untuk menjadi pusat perhatian untuk diri sendiri.

Kenali dan penuhi kebutuhan emosional Anda sebelum berusaha memenuhi kebutuhan orang lain.

2. Pengasuh Emosional: Mengabaikan Kebutuhan Sendiri

Dalam berbagai hubungan, banyak perempuan menemukan diri mereka berada dalam posisi sebagai pengasuh emosional (emotional caretaker).

Anda secara otomatis menempatkan kebutuhan, perasaan, dan kenyamanan orang lain di atas kebutuhan sendiri.

Pola ini sering kali dipuji sebagai sebuah pengorbanan yang mulia, padahal secara diam-diam ia mengirim pesan bahwa perasaan Anda tidak sepenting perasaan orang lain.

Kebiasaan terus-menerus mengutamakan orang lain ini pada akhirnya membuat Anda lupa cara merawat diri sendiri.

Anda merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri dan menganggapnya sebagai tindakan yang egois.

Ketidakmampuan untuk menerima bantuan atau kasih sayang berakar dari keyakinan bahwa Anda hanya berharga ketika sedang "memberi".

Memutus siklus ini dimulai dengan menyadari bahwa mengisi cup Anda sendiri bukanlah keegoisan, melainkan sebuah keharusan.

Anda tidak dapat menuangkan dari cangkir yang kosong. Belajarlah untuk mengatakan "tidak" dan menetapkan batasan yang sehat.

Ingatlah bahwa hubungan yang seimbang adalah hubungan di mana kedua belah pihak saling memberi dan menerima.

3. Trauma Penolakan Masa Lalu: Bisikan yang Membentuk Keyakinan

Perasaan tidak layak dicintai kerap berakar dari pengalaman traumatis akan penolakan, baik yang terjadi secara terang-terangan maupun halus, yang dialami di masa lalu.

Setiap penolakan, pengabaian, atau komentar pedas dari figur penting (seperti orang tua, teman, atau mantan pasangan) dapat tertanam dalam alam bawah sadar dan membentuk sebuah narasi negatif tentang diri sendiri.

Narasi inilah yang kemudian terus berbisik, mengonfirmasi ketakutan terdalam bahwa memang ada sesuatu yang salah dengan diri Anda.

Otak mulai menyaring setiap interaksi sosial untuk mencari "bukti" yang mendukung keyakinan keliru ini, mengabaikan semua bukti yang menunjukkan bahwa Anda sebenarnya dicintai dan dihargai.

Menyembuhkan luka akibat trauma penolakan memerlukan upaya untuk menantang dan merevisi narasi negatif tersebut.

Terapkan self-talk yang positif dan penuh kasih.

Tempatkan diri Anda dengan orang-orang yang menghargai Anda secara tulus, dan izinkan diri untuk percaya pada kasih sayang yang mereka berikan.

Terapi profesional juga dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk memproses trauma masa lalu ini.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore