
Ilustrasi doomscrolling (Dok. Freepik)
JawaPos.com – Kebiasaan scrolling media sosial tanpa henti kini menjadi fenomena global. Meski tampak sepele, penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ini berdampak signifikan pada kondisi psikologis, mulai dari meningkatnya kecemasan, gangguan tidur, hingga penurunan kepuasan diri.
Media sosial sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan scrolling tanpa henti, baik sekadar mencari hiburan, informasi, atau mengikuti tren terbaru. Namun, di balik manfaatnya, terlalu sering scrolling ternyata menyimpan efek serius bagi kesehatan mental.
Apa Itu Doomscrolling?
Fenomena ini kerap disebut doomscrolling, yakni kebiasaan terus-menerus menggulir layar meski konten yang dikonsumsi menimbulkan perasaan negatif. Menurut McLean Hospital (2023), perilaku ini sering dipicu oleh rasa ingin tahu berlebihan, sekaligus ketidakmampuan untuk berhenti meski sadar sudah menghabiskan banyak waktu.
Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychiatry (PMC, 2022) menunjukkan bahwa paparan media sosial secara berlebihan meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga depresi. Pengguna cenderung membandingkan hidupnya dengan orang lain, yang akhirnya menimbulkan rasa rendah diri dan ketidakpuasan.
Relief Mental Health (2023) juga mengungkapkan bahwa scrolling berlebihan dapat memicu gangguan tidur akibat paparan cahaya layar serta stimulasi otak berlebih menjelang waktu istirahat. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan berdampak pada kesehatan mental maupun fisik.
Sementara itu, penelitian terbaru di Computers in Human Behavior (2025) menyebutkan bahwa penggunaan media sosial yang intens dapat memengaruhi regulasi emosi. Individu yang terlalu sering scrolling cenderung mengalami perubahan suasana hati (mood swing), mudah lelah secara mental, bahkan kesulitan berkonsentrasi.
Mengapa Orang Sulit Berhenti Scrolling?
Menurut Washington University (2023), perilaku scrolling menimbulkan efek mirip kecanduan. Setiap kali menemukan konten baru, otak melepaskan dopamin, hormon yang memicu rasa senang. Hal inilah yang membuat seseorang terus menggulir layar tanpa henti, meski sebenarnya tidak lagi membutuhkan informasi.
Selain itu, algoritma media sosial yang dirancang menampilkan konten sesuai minat pengguna semakin memperkuat kebiasaan ini. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam lingkaran tanpa akhir yang sulit dihentikan.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Pakar psikologi menyarankan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi dampak negatif scrolling berlebihan:
Batasi Waktu Layar. Gunakan fitur screen time atau alarm sebagai pengingat kapan harus berhenti.
Pilih Konten Positif. Ikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat dan hindari konten pemicu emosi negatif.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
