
Ilustrasi orang yang belanja secara impulsif (freepik)
JawaPos.com – Fenomena belanja impulsif semakin marak di era digital, terutama dengan hadirnya e-commerce, diskon kilat, hingga tren check out dadakan. Perilaku ini bukan sekadar persoalan konsumsi, melainkan erat kaitannya dengan faktor psikologis. Lantas, bagaimana psikologi memengaruhi kecenderungan belanja impulsif, dan bagaimana cara mengendalikannya?
Apa Itu Belanja Impulsif?
Menurut Journal Psikologi Universitas Gadjah Mada (2014), belanja impulsif adalah perilaku membeli barang secara spontan tanpa perencanaan rasional, didorong oleh dorongan emosional sesaat. Konsumen biasanya tidak mempertimbangkan kebutuhan nyata, melainkan mengikuti rasa ingin yang muncul tiba-tiba.
Penelitian dari Universitas Mulawarman (2021) menjelaskan bahwa perilaku impulsif ini tidak hanya terjadi di pusat perbelanjaan, tetapi semakin meningkat di platform daring. Kemudahan akses, metode pembayaran instan, serta promosi yang menarik memperkuat kecenderungan untuk membeli barang tanpa pikir panjang.
Mengapa Orang Mudah Melakukan Belanja Impulsif?
Ada beberapa faktor psikologis yang berperan dalam perilaku ini:
Emosi Sesaat. Studi dari Universitas Prima Indonesia (2020) menemukan bahwa emosi positif maupun negatif dapat mendorong belanja impulsif. Misalnya, seseorang yang stres cenderung membeli barang untuk “menghibur diri”.
Kepribadian. Jurnal Winners BINUS University (2018) mencatat bahwa individu dengan sifat ekstrovert dan pencari sensasi lebih rentan melakukan pembelian impulsif.
Lingkungan Sosial. Riset dari Universitas Negeri Surabaya (2022) menunjukkan bahwa tekanan sosial dan tren gaya hidup turut memperkuat dorongan belanja spontan.
Faktor Digital. Rome Journal Universitas Ciputra (2021) menyoroti peran teknologi seperti notifikasi aplikasi belanja, flash sale, dan gratis ongkir yang dirancang untuk memicu perilaku impulsif konsumen.
Hubungan Psikologi dengan Perilaku Belanja Impulsif
Secara psikologis, belanja impulsif erat kaitannya dengan konsep hedonic shopping motivation, dorongan belanja untuk mencari kesenangan dan pengalaman emosional, bukan sekadar memenuhi kebutuhan.
Menurut penelitian dari FEB Universitas Brawijaya (2015), konsumen dengan tingkat kontrol diri rendah lebih mudah terjebak dalam perilaku ini. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme psikologis seperti pengendalian emosi dan kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) memengaruhi intensitas belanja impulsif seseorang.
Dampak Belanja Impulsif
Meski sesekali membeli barang spontan bisa memberi rasa senang, perilaku ini berdampak negatif jika berlebihan. Dari sisi finansial, belanja impulsif memicu pemborosan dan hutang. Dari sisi psikologis, individu bisa merasa bersalah, menyesal, atau bahkan stres akibat pengeluaran yang tidak terkendali.
Penelitian di Journal Unesa (2022) menegaskan bahwa belanja impulsif berulang dapat menurunkan kesejahteraan psikologis, karena konsumen sering terjebak dalam siklus “belanja untuk merasa bahagia, lalu menyesal setelahnya.”
Bagaimana Cara Mengendalikannya?

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
