Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Mei 2025 | 13.15 WIB

Mengenal Over-Konsumsi, Gaya Hidup yang Ternyata Berbahaya dan Langkah Mengatasinya

Foto pasaraya (Dok. Pixabay/Jarmoluk)

JawaPos.com - Dewasa ini, perilaku over-konsumsi marak dilakukan oleh banyak orang. Over-konsumsi merupakan tindakan konsumsi berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. 

Meskipun kondisi ekonomi tidak bisa dikatakan baik-baik saja, masyarakat tetap mempertahankan gaya hidup over-konsumsi.    

Produk Apa Saja yang Sering Menjadi Bahan Over-Konsumsi? 

Gaya hidup konsumsi berlebih ini bisa terjadi pada berbagai macam produk, baik itu kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. 

Contoh yang paling umum adalah pakaian. Walaupun tergolong kebutuhan primer, banyak dari konsumen yang rela merogoh koceknya untuk mendapatkan motif, gaya, dan desain berbeda untuk sebuah pakaian. 

Industri fast fashion (pakaian yang diproduksi sangat cepat) masih diminati hingga kini. Masyarakat terus mengonsumsi pakaian demi mendapatkan gaya dan mengikuti trend terkini.

Di sisi lain, elektronik juga menjadi produk yang terus dikonsumsi secara masif. Industri elektronik memiliki pertumbuhan produksi sangat cepat. Hal ini tentu saja didorong dengan minat pembeli yang menginginkan perangkatnya terbarukan baik itu ponsel, laptop, atau yang lainnya.  

Mengapa Masyarakat Melakukan Over-Konsumsi?

Laman Instopedia menjelaskan bahwa adanya kecenderungan konsumen tetap membeli barang mewah kecil bahkan selama krisis ekonomi. Hal ini disebut juga dengan ‘Efek Lipstik’. 

Efek lipstik merupakan ilusi bahwa setidaknya, walaupun ekonomi sedang tidak baik-baik saja, konsumen masih mampu membeli lipstik untuk kesenangannya. 

Selain lipstik, konsumen juga cenderung memilih membeli tiket konser atau kebutuhan tersier lainnya. Bagi konsumen, lebih baik membeli barang yang lebih terjangkau (walaupun tidak diperlukan) dibanding menabung untuk barang yang lebih mahal seperti rumah dan mobil. 

Mengapa Over-Konsumsi Berbahaya dan Bagaimana Menghentikannya? 

Konsumsi sesuatu secara berlebihan membuat pembeli melupakan kenyataan bahwa ekonomi sedang tidak baik-baik saja. 

Membeli produk yang akan meningkatkan kesenangan pembeli dapat menciptakan ilusi. Sayangnya, kesenangan tidak akan bertahan lama dan kenyataannya konsumen perlu memikirkan keuangan jangka panjang. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore