
Ilustrasi bentuk tubuh. (Pexels)
JawaPos.com - Saat ini gerakan self-love lebih sering kita lihat. Gerakan ini membawa pesan tentang kebebasan menerima tubuh sendiri tanpa memperdulikan standar kecantikan yang ditentukan oleh struktur masyarakat secara umum.
Gerakan ini juga mulai terdapat di industri pakaian atau fashion, dengan beberapa brand yang tidak lagi mewajibkan bentuk tubuh ideal sebagai model pakaian mereka.
Aktivitas ini juga sebagai kampanye yang dapat mengatasi rasa tidak percaya diri, penilaian negatif terhadap bentuk tubuh tertentu, serta sebagai cara untuk mengatasi gangguan makan.
Seperti yang kita tahu, beberapa bentuk tubuh manusia seperti hourglass, pir, rectangle, hingga inverted triangle, memang sebagian besar sudah ditentukan oleh faktor genetik yang tidak bisa diubah. Sayangnya, masih terdapat beberapa orang menganggap bentuk tubuh tertentu kurang menarik dibandingkan dengan yang lain.
Kemudian dikenalkan gerakan awal pada tahun 1960 tentang paham body positivity, yang kemudian berkembang menjadi body neutrality. Berdasarkan informasi dari laman verywellmind, berikut jawaban mengapa kedua pendekatan tersebut penting diterapkan secara bersamaan sesuai dengan kondisi mental kita sehari-hari.
Sejarah Singkat Body Positivity dan Body Neutrality
Gerakan body positivity muncul terlebih dahulu daripada body neutrality. Gerakan ini kemudian memunculkan pemahaman tentang body neutrality.
1. Body Positivity
Gerakan ini muncul pada tahun 1960 untuk melawan diskriminasi pada orang yang bertubuh besar. Tujuan utama dari gerakan ini adalah menghilangkan hubungan antara berat badan dengan nilai di dalam diri sendiri.
Gerakan ini mengajarkan bahwa setiap orang berhak diberikan rasa aman dan hormat tanpa memandang bentuk tubuh. Namun, body positivity memiliki kelemahan dalam kesehatan fisik. Meskipun paham ini berdampak baik bagi kesehatan mental, namun kelebihan berat badan dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi harapan hidup.
2. Body Neutrality
Paham ini mulai terkenal sejak tahun 2025. Gerakan ini membantu pasien obesitas untuk menemukan keseimbangan antara pola makan dan olahraga. Tidak hanya berfokus pada penampilan, body neutrality memungkinkan kita menghargai semua hal yang bisa dilakukan oleh tubuh kita. Body neutrality menyadari bahwa manusia adalah individu yang kompleks. Beberapa aspek seperti bentuk tubuh merupakan faktor genetik yang tidak bisa dikendalikan.
Baca Juga: Tips Memilih Model Potongan Celana Jeans untuk Bentuk Tubuh Wanita agar Terlihat Proporsional
Mengapa Keduanya Menjadi Penting?
Keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Menggabungkan kedua pendekatan ini dapat memperoleh manfaat yang lebih besar. Body positivity cocok digunakan ketika seseorang sedang memiliki pikiran negatif terhadap bentuk tubuh. Sementara itu, body neutrality dapat digunakan agar kita tidak memaksa mencintai tubuh, tapi cukup menerimanya dengan menghargai fungsinya.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
