
Ilustrasi: Pasangan bertengkar. (Pexels/Alena Darmel)
JawaPos.com – Dalam hubungan yang sehat, cinta seharusnya memberikan rasa aman, dukungan, dan kepercayaan diri. Namun, dalam hubungan toxic, kata “cinta” sering kali disalahgunakan untuk menyembunyikan manipulasi dan kontrol.
Pasangan yang toxic sering kali mengklaim bahwa tindakan atau kata-kata mereka adalah bentuk cinta, tetapi kenyataannya, mereka justru merusak kepercayaan diri korban dengan cara yang halus dan destruktif.
Mereka menciptakan ketergantungan emosional yang mengikis rasa percaya diri, sehingga korban merasa tak berdaya dan tidak bisa hidup tanpa mereka.
Melansir dari laman Geediting, Rabu (26/2), dalam artikel ini akan membahas 7 cara pasangan toxic secara perlahan merusak kepercayaan diri korban dengan menggunakan “cinta” sebagai alat untuk mengontrol korban.
Pasangan yang toxic menggunakan manipulasi emosional untuk meremehkan perasaan pasangannya, dengan cara membuat mereka merasa terlalu sensitif atau dramatis setiap kali menyuarakan perasaan atau ketidaknyamanan terhadap pasangan.
Hal ini menyebabkan korban meragukan diri sendiri dan menekan perasaan mereka, yang pada akhirnya mengurangi kepercayaan diri mereka.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan kontrol atas pasangannya dan memastikan bahwa tindakan mereka tidak dipertanyakan atau diprotes.
Pasangan yang toxic membuat korbannya merasa tidak cukup, meskipun korban sudah berusaha keras untuk memberikan segalanya.
Mereka terus-menerus mengkritik dan mencari alasan untuk membuat korban merasa gagal, sehingga korban terus berusaha mencari persetujuan atau validasi mereka.
Dalam hubungan yang toxic, pasangan selalu memusatkan penyebab masalah pada korban, membuat korban merasa bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi, baik itu suasana hati buruk, kelupaan sesuatu, atau kemarahan mereka.
Meskipun korban berusaha sangat hati-hati agar tidak menyinggung pasangannya, masalah tetap tidak akan berubah karena pasangan hanya mencari seseorang untuk disalahkan, yaitu korban.
Dalam hubungan yang toksik, korban cenderung memilih untuk diam dan menahan perasaannya karena mengungkapkan perasaan justru sering berujung pada pertengkaran.
Pasangan memanipulasi situasi dengan memutarbalikkan kata-kata dan membuat korban merasa dia yang salah, sehingga merasa tidak ada gunanya berbicara dan pada akhirnya korban meminta maaf, meski dia tidak bersalah.
Akibatnya, korban mulai menekan perasaannya untuk menghindari konsekuensi negatif, meskipun perasaan tersebut seharusnya sah untuk diungkapkan.
Dalam hubungan yang toksik, korban mulai meragukan kebutuhan dan harapan mereka. Mereka ingin dihargai dan didengarkan, tetapi setiap kali mengungkapkan keinginan, pasangan membuat mereka merasa keinginannya itu egois.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
