Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Januari 2025 | 19.27 WIB

Rahasia Otak Saat Jatuh Cinta: Ini Penyebab Perasaan Ingin Selalu Bersama Saat Jatuh Cinta

Aktivitas di otak, mempengaruhi apa yang kita rasakan saat jatuh cinta ( Frank Mckenna/ Unsplash) - Image

Aktivitas di otak, mempengaruhi apa yang kita rasakan saat jatuh cinta ( Frank Mckenna/ Unsplash)

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasakan senasi tertentu pada tubuh saat jatuh cinta? Seperti rasa deg-deg an, geli di dalam perut, malu-malu, dan lain sebagainya. Reaksi-reaksi tersebut muncul karena dipengaruhi aktivitas tertentu dari otak kita.

Penelitian mengungkapkan, perasaan cinta memicu aktivitas di berbagai area otak, dan menghasilkan respons emosional dan fisiologis yang khas.

Dilansir dari laman resmi American Psychological Association, ahli saraf Stephanie Cacioppo, PhD, yang juga menulis Wired for Love: A Neuroscientist's Journey Through Romance, Loss, and the Essence of Human Connection mengungkapkan, dalam penelitiannya ia menemukan 12 area otak bekerja sama untuk melepaskan zat kimia, seperti hormon cinta atau oksitosin, hormon senang atau dopamin, hinga hormon adrenalin, yang memicu rasa euforia akan tujuan hidup.

Temuannya juga menunjukkan bahwa amigdala, hipokampus, dan korteks prefrontal di otak yang sangat sensitif terhadap perilaku yang memicu kesenangan, menyala pada pemindaian otak saat subjek penelitian berbicara tentang orang yang dicintai, karena ada peningkatan aliran darah di area otak tersebut.

Berikut penejelasan singkat yang menjelaskan tentang apa yang terjadi di otak saat Anda jatuh cinta.

Brain’s Reward Circuit Jadi Aktif

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, menurut Harvard Medical School, cinta romantis mengaktifkan area otak yang kaya dopamin dan neurotransmitter yang terkait dengan rasa senang dan motivasi.

Area seperti nukleus kaudatus dan area tegmental ventral menunjukkan peningkatan aktivitas saat seseorang melihat foto orang yang dicintai. Aktivasi ini mirip dengan respons otak terhadap rangsangan yang memberikan hadiah, seperti makanan atau obat-obatan, menjelaskan perasaan euforia saat jatuh cinta.

Perubahan Hormon

American Psychological Association mencatat bahwa tahap awal jatuh cinta ditandai dengan peningkatan kadar kortisol, hormon stres, yang dapat menyebabkan perasaan cemas dan pikiran obsesif tentang pasangan.

Selain itu, kadar serotonin juga ikut menurun. Hal tersebut akan berpengaruh pada perilaku obsesif, atau rasa tidak ingin ditinggalkan oleh orang yang kita cinai. Seiring waktu, tubuh akan meningkatkan produksi oksitosin dan vasopresin, yakni hormon yang terkait dengan ikatan dan keterikatan jangka panjang. Hormon tersebut mempengaruhi kuatnya hubungan emosional antara pasangan.

Turunnya Aktivitas Area di Otak yang Mengatur Penilaian Seseorang Terhadap Orang Lain

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa cinta romantis dapat menurunkan aktivitas di area otak yang terkait dengan penilaian sosial dan emosi negatif. Hal ini berarti bahwa saat jatuh cinta, seseorang cenderung lebih sedikit melakukan evaluasi kritis terhadap pasangannya, yang dapat menjelaskan mengapa kekurangan pasangan sering diabaikan pada tahap awal hubungan.

Transisi dari Gairah ke Keterikatan

Seiring berjalannya waktu, hubungan cenderung beralih dari fase gairah intens ke keterikatan yang lebih dalam. Menurut Psychology Today, fase awal cinta biasanya berlangsung sekitar satu tahun, setelah itu hubungan berkembang menjadi ikatan yang lebih stabil dan mendalam.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore