
Ilustrasi Strawberry. (Freepik)
JawaPos.com – Strawberry Generation mulai banyak dibahas di media sosial, terutama karena semakin banyaknya generasi muda yang memiliki ciri-ciri yang sama.
Dilansir dari mcaresforkids.com, para guru menemukan fenomena anak-anak yang mudah frustrasi, mudah menyerah, dan memiliki toleransi yang rendah terhadap ketidaknyamanan.
Rhenald Kasali pada tahun 2018 telah mengidentifikasi fenomena sosial tersebut sebagai Strawberry Generation, yaitu anak-anak yang lahir pada akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an.
Strawberry Generation menggambarkan generasi muda saat ini yang dianggap lemah dan rapuh seperti buah strawberry.
Mereka dianggap terlalu sensitif dan tidak mampu menghadapi kesulitan atau kritik, serta kurangnya ketahanan, kekuatan emosional, dan kemampuan untuk menghadapi kekalahan.
Munculnya Strawberry Generation dikaitkan dengan model parenting dari orang tua terhadap generasi muda, antara lain adalah sebagai berikut:
Orang tua dari Strawberry Generation lebih cenderung bersikap terlalu protektif dan mengatur kehidupan anak-anak mereka secara mendetail.
Misalnya memantau setiap gerakan anak-anak mereka, membuat semua keputusan untuk mereka, dan tidak membiarkan mereka mengalami kegagalan atau ketidaknyamanan, sehingga mencegah anak-anak mengembangkan kemandirian.
Orang tua Strawberry Generation juga memberi fokus besar pada prestasi dan kesuksesan akademis anak-anak mereka. Hingga terkadang mengorbankan bidang lain, misalnya pertumbuhan sosial dan emosional.
Hal ini dapat menyebabkan anak-anak berprestasi tinggi di sekolah tetapi kesulitan dengan keterampilan hidup penting lainnya atau aspek-aspek perkembangan mereka.
Karena fokus mereka hanya pada prestasi dan kesuksesan akademis, orang tua Strawberry Generation kerap lalai mengajarkan keterampilan hidup yang penting.
Seperti literasi keuangan, memasak, atau pekerjaan rumah tangga dasar, yang dapat membuat anak-anak mereka tidak siap untuk kehidupan dewasa.
Orang tua Strawberry Generation mungkin mengalami kesulitan menetapkan dan menegakkan batasan dengan anak-anak mereka. Sehingga menyebabkan anak-anak mengalami kesulitan memahami aturan dan batasan.
Dalam upaya untuk membuat anak-anak mereka sibuk dan bahagia, orang tua Strawberry Generation sangat bergantung pada teknologi, seperti ponsel pintar atau tablet, sebagai cara untuk menenangkan atau menghibur anak-anak mereka.
Hal ini dapat menyebabkan anak-anak mengalami kesulitan dengan rentang perhatian dan keterampilan komunikasi interpersonal.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
