
Ilustrasi Toxic Positivity. (pexels.com)
JawaPos.com - Kita semua pasti pernah mendengar frasa motivasi yang terlihat menggugah semangat, bahkan menenangkan hati. Tapi, pernahkah kamu merasa justru ada sesuatu yang janggal?
Kalimat motivasi yang sebenarnya positivitas beracun ini sering kali malah memperburuk keadaan seseorang alih-alih membantu.
Dilansir dari laman Blog Herald pada Selasa (3/12), inilah delapan frasa yang terdengar seperti motivasi, tetapi ternyata bisa menjadi toxic positivity.
Kedengarannya sederhana dan menghibur, bukan? Namun, mengatakan ini kepada seseorang yang sedang menghadapi masalah serius bisa terasa seperti meremehkan perasaan mereka.
Mengabaikan kekhawatiran atau rasa sakit seseorang dan langsung menyuruh mereka "bahagia saja" sama saja dengan meminta mereka berpura-pura baik-baik saja. Padahal, kadang-kadang yang dibutuhkan seseorang hanyalah ruang untuk merasa khawatir tanpa dihakimi.
Frasa ini mungkin terdengar bijak, tetapi efeknya bisa melukai. Dengan mengatakan bahwa semua yang terjadi sudah "ditakdirkan", kita secara tidak langsung mengabaikan rasa sakit dan perjuangan seseorang.
Tidak semua kesulitan yang kita alami harus diterima begitu saja tanpa diproses emosi di baliknya. Mengalami perasaan negatif adalah bagian penting dari pemulihan, bukan sesuatu yang harus dihapus dengan alasan filosofis.
Ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit, meminta mereka untuk "melihat sisi baiknya" bisa terasa menyalahkan. Rasanya seperti mereka tidak cukup pintar untuk menemukan sesuatu yang positif.
Padahal, dalam situasi tertentu, wajar jika seseorang hanya bisa fokus pada sisi buruknya. Memberikan validasi atas apa yang mereka rasakan jauh lebih berarti daripada memaksakan optimisme.
Optimisme sering dianggap solusi universal untuk berbagai masalah, tetapi apakah itu selalu cocok? Tidak juga. Meminta seseorang untuk "optimis saja" bisa menekan mereka untuk menyembunyikan perasaan negatif yang sebenarnya mereka alami.
Terkadang, orang hanya butuh didengarkan tanpa diberi nasihat tentang bagaimana cara mereka seharusnya merasa.
Ini adalah salah satu contoh paling klasik dari toxic positivity. Saat kamu menghadapi situasi yang sulit, solusi tidak selalu sesederhana mengubah pola pikir menjadi positif. Mengatakan hal ini bisa mengabaikan perjuangan nyata yang sedang dialami seseorang.
Alih-alih memberikan motivasi, frasa ini malah membuat mereka merasa gagal karena tidak bisa “memikirkan hal yang positif.”
Frasa ini sering digunakan untuk membandingkan masalah seseorang dengan orang lain yang mungkin lebih parah. Tetapi, masalahnya adalah perasaan tidak bisa diukur seperti itu.
Kalimat motivasi yang sebenarnya positivitas beracun ini justru mengecilkan pengalaman seseorang dan membuat mereka merasa bersalah atas perasaan mereka sendiri. Padahal, setiap emosi itu valid, terlepas dari besar kecilnya masalah.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
