
Suka mencari validasi adalah salah satu perilaku perempuan yang suka bersaing dengan perempuan lain (freepik)
JawaPos.com – Pada dasarnya Anda tentu pernah berada di pertemuan sosial dan ada seorang perempuan yang Anda kenal membuat komentar santai namun tajam tentang pencapaian terkini Anda bahkan meremehkan kesuksesan Anda.
Kemudian, dia secara halus membandingkan pakaiannya dengan pakaian Anda dan mencoba menegaskan gayanya sebagai yang lebih unggul. Hal ini mencerminkan pola umum yang terlihat pada perempuan yang merasa perlu berkompetisi.
Mereka cenderung terlibat dalam perilaku seperti merendahkan orang lain, mencari perhatian atau memberikan pujian tidak langsung.
Dilansir dari laman Global English Editing, Selasa (22/10) berikut beberapa perilaku perempuan yang merasa perlu bersaing dengan perempuan lain :
1. Suka membanding-bandingkan dirinya
Persaingan sering kali dimulai dengan perbandingan. Kecenderungan ini untuk mengukur harga diri seseorang berdasarkan prestasi, penampilan atau status orang lain.
Ini bukan sekadar pikiran sekilas atau komentar sepintas. Namun kita berbicara tentang kebutuhan terus-menerus untuk membandingkan sampai pada titik di mana itu menjadi kebiasaan bawah sadar.
2. Terlalu menekankan penampilan luar
Seiring dengan perbandingan terus-menerus maka muncullah penekanan berlebihan pada penampilan luar. Bukan karena menikmatinya tetapi karena mereka merasa harus bersaing dengan perempuan lain dalam lingkaran sosialnya.
Mereka bahkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk bersiap-siap hingga terobsesi dengan setiap detail kecil tentang penampilannya.
3. Meremehkan pencapaian orang lain
Di tengah persaingan yang ketat, beberapa perempuan akhirnya mendiskreditkan pencapaian perempuan lain. Ini bukan tentang kritik yang membangun atau memberikan masukan untuk perbaikan.
Namun ini tentang meremehkan prestasi perempuan lain hanya untuk membuat diri sendiri merasa lebih unggul. Selain itu, perilaku ini berasal dari rasa tidak aman dan ketakutan bahwa keberhasilan orang lain akan mengurangi harga diri kita.
4. Melakukan kompensasi berlebihan melalui media sosial
Di era digital, platform media sosial telah menjadi ladang subur persaingan.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
