Ilustrasi Pertemanan yang berkualitas. (Freepik)
JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, seseorang biasanya mulai banyak kehilangan sesuatu yang menemani dirinya sewaktu muda. Salah satunya adalah teman.
Orang yang berusia lanjut biasanya lebih banyak termenung sendirian di rumah, duduk di kursi goyang, dan memperhatikan lalu lalang depan halaman rumah dengan mata kosong.
Hal itu menyakitkan, bukan? Oleh karena itu, penting untuk tetap mempunyai teman dan terus menjalinnya dengan erat seiring bertambahnya usia.
Sehingga, saat seiring bertambahnya usia, kita tetap masih memiliki teman untuk menjadi tempat berbagai.
Dikutip dari Jeanette Brown, menurut psikologi terapkan 8 kebiasaan ini jika Anda ingin tetap menjalin pertemanan yang erat seiring bertambahnya usia.
1. Luangkan waktu untuk persahabatan Anda
Membangun dan menjaga persahabatan yang langgeng seiring bertambahnya usia membutuhkan investasi waktu. Persahabatan tumbuh subur melalui pengalaman dan momen kebersamaan yang saling terhubung.
Baik itu sekadar mengobrol, minum kopi mingguan, atau mengikuti hobi bersama, interaksi ini membangun fondasi hubungan yang kuat dan langgeng.
Waktu yang dihabiskan dalam persahabatan bukan hanya tentang kuantitas tetapi kualitas. Kehadiran penuh selama waktu yang Anda habiskan bersama dapat mempererat ikatan lebih dari sekadar waktu yang tak terhitung jumlahnya yang dihabiskan bersama dengan perhatian yang terbagi.
2. Tunjukkan penghargaan dan rasa terima kasih
Mengakui nilai teman Anda, bukan hanya atas apa yang mereka lakukan tetapi atas siapa mereka, akan memperkuat hubungan pertemanan itu sampai waktu yang tak terbatas usia.
Mengungkapkan rasa terima kasih bukan hanya sekadar kesopanan. Ini adalah pengakuan akan pentingnya kehadiran seseorang dalam hidup Anda. Ucapan "terima kasih" yang sederhana atas dukungan mereka, catatan yang menghargai kebaikan mereka, atau pesan yang mengakui pengaruh mereka dapat berarti lebih dari sekadar tindakan besar.
Kebiasaan menunjukkan penghargaan ini menciptakan lingkungan yang menumbuhkan perasaan positif. Kebiasaan ini menumbuhkan rasa saling menghormati dan mempererat ikatan di antara teman, membuat setiap orang merasa dihargai dan penting.
Dengan begitu, pertemanan akan tetap erat terjalin meski telah ditelan usia.
3. Terapkan komunikasi terbuka
Jika ingin tetap mempunyai pertemanan yang erat seiring bertambahnya usia kuncinya adalah komunikasi yang terbuka. Komunikasi yang terbuka adalah jembatan yang menghubungkan dua pikiran yang memungkinkan pikiran, ketakutan, harapan, dan impian mengalir dengan bebas.
Keterbukaan dalam berbagi menciptakan ruang yang aman untuk kerentanan, tempat ikatan sejati terbentuk dan diperkuat.
Berkomunikasi tidak hanya membutuhkan berbicara, tetapi juga mendengarkan. Mendengarkan secara aktif, yaitu saat kita terlibat sepenuhnya dengan apa yang dikatakan teman kita tanpa langsung merumuskan tanggapan, sangatlah penting.
Dengan memupuk lingkungan di mana sahabat merasa nyaman mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi, kita meletakkan dasar bagi persahabatan yang dapat bertahan menghadapi perubahan dan tantangan hidup.
4. Tetap hadir dalam kehidupan mereka
Ini bukan hanya tentang berada di sana secara fisik selama momen-momen penting, tetapi juga tentang momen-momen sehari-hari yang menjalin jalinan hubungan kita.
Hadir berarti lebih dari sekadar menghadiri ulang tahun atau pernikahan; kehadiran berarti mengulurkan tangan di saat-saat hening. Pesan untuk menanyakan kabar mereka, panggilan untuk berbagi cerita lucu, atau sekadar menyapa di saat-saat stres dapat membuat perbedaan.
Tindakan-tindakan kecil inilah yang menunjukkan kepada teman-teman kita bahwa mereka ada dalam pikiran dan hati kita, terlepas dari jarak fisik di antara kita.
5. Beradaptasi dengan perubahan dalam persahabatan
Merangkul evolusi tiap individu teman ini sangat penting untuk membina hubungan yang langgeng seiring bertambahnya usia. Perubahan dapat terwujud dalam berbagai bentuk—entah itu teman yang pindah ke kota baru, mengalami peristiwa penting dalam hidup, atau sekadar mengubah minat.
Kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ini mencerminkan ketahanan dan kedalaman persahabatan.
Fleksibilitas adalah kuncinya. Artinya, bersikap terbuka terhadap cara-cara baru untuk menjaga hubungan, baik melalui pertemuan virtual jika jarak menjadi penghalang atau menemukan titik temu baru saat minat berbeda.
6. Ciptakan pengalaman bersama
Pengalaman-pengalaman ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang satu sama lain, membangun empati dan penghargaan atas kekhasan dan kualitas satu sama lain.
Pengalaman-pengalaman ini juga berfungsi sebagai dasar untuk lelucon dan cerita-cerita pribadi, yang memperkaya persahabatan dengan dunia pribadi yang saling memahami dan humor.
Menciptakan momen-momen ini tidak selalu memerlukan tindakan besar atau rencana yang rumit. Bahkan aktivitas sederhana seperti jalan-jalan mingguan, memasak bersama, atau menghadiri acara lokal dapat menumbuhkan hubungan dan kenangan yang bermakna.
7. Menumbuhkan rasa saling menghormati
Inti dari setiap persahabatan yang langgeng adalah prinsip dasar saling menghormati. Rasa hormat ini menjadi dasar bagi semua aspek lain dalam hubungan yang sehat untuk tumbuh dan berkembang.
Rasa hormat ini meliputi pengakuan terhadap batasan masing-masing, menghargai pendapat meskipun berbeda dengan pendapat kita sendiri, dan memperlakukan pilihan hidup masing-masing dengan pertimbangan dan pengertian.
Prinsip ini membimbing kita tidak hanya dalam memelihara persahabatan yang langgeng tetapi juga dalam semua interaksi kita, memperkaya kehidupan kita dengan hubungan yang lebih dalam dan pemahaman yang lebih besar terhadap orang-orang di sekitar kita.
8. Berlatih memaafkan
Dalam hubungan persahabatan yang langgeng, tindakan memaafkan itu seperti merawat kebun; penting untuk pertumbuhan dan peremajaan.
Kesalahpahaman, ketidaksetujuan, dan bahkan saat-saat pengabaian dapat terjadi dalam hubungan apa pun. Kemampuan untuk memaafkan pelanggaran ini, baik besar maupun kecil, adalah hal yang memungkinkan persahabatan untuk melewati kemunduran sementara dan terus berkembang.
Mempraktikkan sikap memaafkan juga melibatkan refleksi diri dan mengakui kesalahan kita sendiri. Ini adalah kesempatan untuk belajar dari tindakan kita dan berusaha untuk menjadi teman yang lebih baik bagi diri kita sendiri. Dengan menerapkan praktik ini, kita menumbuhkan lingkungan di mana persahabatan bukanlah entitas rapuh yang mudah hancur oleh konflik, tetapi ikatan yang tangguh yang diperkaya dengan mengatasi kesulitan bersama.
Dalam memupuk kebiasaan memaafkan, kita memastikan persahabatan kita tidak ditandai oleh seberapa sempurna persahabatan itu dipertahankan, tetapi oleh seberapa indah persahabatan itu pulih dari ketidaksempurnaan. Ketahanan ini menjadi ciri sejati persahabatan yang langgeng.