
Posting berlebihan adalah salah satu perilaku orang yang suka mencari validasi di media sosial (freepik)
JawaPos.com – Pada dasarnya ketika Anda menelusuri umpan media sosial Anda dan sulit untuk melewatkan beberapa kegiatan mulai dari foto yang difilter dengan sempurna hingga pembaruan terus-meneru.
Hal tersebut bukan hanya sekadar berbagi momen namun tentang persetujuan atau validasi. Bagi banyak orang, lingkaran validasi tanpa akhir ini menjadi hal yang lumrah dan mereka bahkan tidak menyadari hal itu terjadi.
Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai beberapa perilaku orang yang mengandalkan media sosial untuk mencari persetujuan atau validasi sebagaimana dilansir dari mana Global English Editing, Kamis (17/10) sebagai berikut.
Di dunia media sosial, konten adalah raja. Semakin banyak Anda memposting maka semakin banyak pula keterlibatan yang berpotensi Anda hasilkan.
Tetapi bagi mereka yang sangat bergantung pada media sosial untuk validasi maka tindakan ini bisa menjadi ritual harian bahkan setiap jam.
Mereka merasa perlu mendokumentasikan setiap aspek kehidupan mereka mulai dari makanan hingga latihan mereka, perjalanan mereka dan bahkan momen pribadi mereka.
Intinya posting yang terus-menerus ini menjadi cara bagi mereka untuk mencari kepastian dan penegasan dari komunitas daring mereka.
Ironisnya, meskipun mereka menerima validasi yang mereka idamkan dalam bentuk suka dan komentar namun perilaku ini juga dapat menyebabkan semacam ketergantungan.
Di era digital saat ini, platform media sosial telah memberi kit acara unik untuk mengukur popularitas kita baik itu melalui like, share, komentar dan pengikut.
Bagi sebagian orang, angka-angka tersebut menjadi lebih dari sekadar statistik. Mereka berubah menjadi barometer status sosial dan harga diri.
Intinya orang yang mengandalkan media sosial untuk validasi ditemukan terobsesi memeriksa metrik ini dan merasa gembira ketika angka mereka bertambah dan kecewa ketika angkanya stagnan atau turun.
Perilaku umum di antara mereka yang sangat bergantung pada media sosial untuk validasi adalah membuat teks dan komentar secara halus atau terang-terangan meminta persetujuan atau pujian.
Ini termasuk humor mencela diri sendiri atau memancing pujian yang disamarkan sebagai percakapan ringan. Meskipun pernyataan ini sering kali dirancang untuk memperoleh umpan balik positif namun taktik ini dapat menjadi bumerang.
Pasalnya pendekatan yang jauh lebih sehat adalah mengekspresikan diri kita secara autentik di media sosial, berbagi pikiran, pengalaman dan perasaan kita tanpa motif tersembunyi untuk menginginkan validasi.
Dalam dunia maya media sosial, mudah untuk mengatur versi kehidupan kita yang terlihat sempurna. Kita dapat secara selektif membagikan momen istimewa, keberhasilan dan saat-saat bahagia serta secara praktis mengabaikan perjuangan, kegagalan dan hal-hal membosankan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
