Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 November 2023 | 21.12 WIB

Peduli Kesehatan Mental Anak di Era Digital, Dokter Kejiwaan: Orang Tua Perlu Jadi Bestie

Ilustrasi keluarga. - Image

Ilustrasi keluarga.

JawaPos.com–Orang tua memiliki peran penting dalam kesehatan mental anak. Dalam menjaga kesehatan anak terutama di era digital, salah satu peran yang dapat dilakukan yaitu menjadi teman baik anak atau bestie.

Peran orang tua sebagai bestie itu diungkapkan dokter kejiwaan di RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta dr Isa Multazam Noor, MSc, SpKJ(K). Dalam talk show Hai Anak Muda, Jaga Kesehatan Mental itu Penting! yang disiarkan melalui live Instagram Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Jumat (3/11), dokter Isa menyinggung pentingnya kesehatan mental anak dan pola asuh yang turut berpengaruh dalam kesehatan jiwa tersebut.

Dia Isa menyampaikan, dalam pola asuh yang diterapkan pada anak di masa sekarang, yang juga merupakan era digital, komunikasi sebagai teman dekat perlu diterapkan.

”Kuncinya adalah membangun komunikasi yang efektif, dengan cara tidak ada unsur emosional dan sebagai bestie atau sebagai teman,” kata Isa Multazam Noor.

Orang tua harus bisa merangkul anak. Hal itu untuk menghindarkan anak dari menyuarakan atau curhat ke orang yang salah. Yang bisa jadi memberi solusi yang menjurus hal menyimpang. Sebagai contoh peran sebagai bestie tersebut, orang tua dapat meluangkan waktu sebelum tidur untuk berkomunikasi dengan anak.

”Anak sekarang tidak mau disalah-salahkan karena protesnya tinggi dan mereka sudah banyak literasi yang dia sudah baca duluan,” tutur Isa Multazam Noor.

Berkaitan dengan hal tersebut orang tua pun perlu memperbanyak informasi mengenai berbagai hal. ”Sebagai orang tua, kita harus punya banyak menambah pengetahuan untuk pendekatan pada anak,” terang Isa Multazam Noor.

Dia menambahkkan, di era digital, anak umumnya sudah membaca terlebih dahulu berbagai hal. Oleh karena itu, orang tua perlu mengimbanginya.

Dokter Isa juga menyampaikan pentingnya kesehatan mental anak, terlebih di era digital 4.0, di mana akses terhadap internet dan dunia digital terbuka lebar. Berbagai informasi mengenai kesehatan mental pun dapat diakses dengan mudah. Anak-anak masa kini, yang dapat mengakses hal tersebut pun perlu orang tua perhatikan. Terlebih, anak remaja berada di usia yang masih dalam transisi untuk mencari jati diri atau identitas.

”Dulu kita tidak punya media sosial, curhat langsung ke teman kita, tapi sekarang curhat kok di media sosial. Dan ini yang sebenarnya toxic juga karena kan semua dibuka, dibaca, akhirnya bisa muncul juga konflik di situ,” kata dr. Isa.

Perkembangan digital juga membuat anak generasi sekarang lebih sadar diri tentang mental. Namun, hal itu juga dapat mengakibatkan anak melakukan self-diagnosis.

”Langsung bilang aku depresi, aku cemas, aku fobia, padahal sebenarnya harus dikonsultasikan kepada profesional yang ahli, jadi jangan self diagnosis,” papar Isa. 

Oleh karena itu, peran orang tua sebagai bestie atau teman baik anak diperlukan. Dengan begitu, anak tidak langsung mengutarakan segala hal ke media sosial, maupun menelan segala informasi yang tersedia di dunia digital atau internet. 

Dia menambahkan, dalam kasus orang tua tidak dapat menjalankan peran tersebut, misalnya sudah bercerai, peran tersebut hendaknya dapat diisi pihak lain. Pihak lain tersebut dapat seperti kakek, kakak, nenek, atau pihak lain yang mengerti perkembangan anak.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore