
BERI KESEMPATAN: Ortu yang overparenting selalu ingin memastikan kenyamanan anak, tetapi membuat anak cenderung sulit mandiri.
Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun, bisa berujung tidak baik jika ortu terlalu melibatkan diri ketika anak sudah memasuki usia mandiri. Pola asuh yang berlebihan atau overparenting akan membuat anak bergantung pada orang lain.
---
BEBERAPA waktu lalu muncul cuitan di Twitter soal adanya WhatsApp group para orang tua atau wali murid jenjang SMA, bahkan mahasiswa. Perlukah ortu terlalu melibatkan diri dalam kehidupan anak yang sudah memasuki usia mandiri? Lahir dari kemudahan teknologi, fenomena dalam parenting masa kini tersebut bisa jadi termasuk indikasi overparenting.
”Dalam membesarkan anak, tentu ortu wajib terlibat, tapi bukan yang terlalu terlibat bahkan sampai hal-hal terkecil. Apalagi jika anak sudah seharusnya bisa mandiri,” ujar Dhian Kusumastuti SPsi MPsi Psikolog.
Dhian menuturkan, ortu berlaku demikian atas dorongan sendiri untuk mengatasi ketidaknyamanan yang dirasakan. Mereka tidak nyaman dengan perasaan kecewa, sedih, hingga kegagalan. Alhasil, tidak ingin sang anak merasakan yang sama. Padahal, sangat penting belajar merasakan emosi-emosi tak mengenakkan itu.
”Biasanya, ortu seperti itu mudah stres, takut sendirian. Mereka juga tidak tega menerapkan kedisiplinan ke anak sehingga berkembanglah pola asuh yang berlebihan,” ungkap psikolog klinis di Unit Pelayanan Psikologi Universitas Airlangga itu.
Akibatnya, anak tidak berusaha mengembangkan value-nya. Sebab, semua sudah diatur ortu. Jika dibiasakan, sampai dewasa anak akan terus bergantung pada orang lain. ”Pada anak usia dini atau SD misalnya, lihat anaknya kesusahan mengerjakan PR, lantas PR-nya dikerjakan ortu,” ujarnya memberi contoh.
Pada contoh lain, untuk anak jenjang SMP dan SMA, ketika ada kegiatan pentas seni, orang tua yang heboh membahas di WhatsApp group, terlalu khawatir memastikan persiapan anak agar penampilannya maksimal.
Ortu yang overparenting juga selalu ingin anaknya menang dalam setiap kompetisi. Mereka tidak akan membiarkan anaknya merasakan kegagalan. Akhirnya, coping stres dan coping skill-nya buruk.
”Ketika dikecewakan atau nilainya jelek, anak kesulitan meregulasi emosi yang dirasakan karena tidak dibiasakan merasakan perasaan sedih dan kecewa,” imbuh psikolog yang juga praktik di Biro Psikologi Lestari itu.
Anak-anak dengan ortu yang overparenting, lanjut dia, akan menilai dirinya tidak mampu melakukan sesuatu. Efikasi atau keyakinan dirinya menurun. Begitu pula kepercayaan diri anak. ”Mereka nggak pede untuk mengambil keputusan, menganggap dirinya nggak mampu ngapa-ngapain, bahkan sesimpel memutuskan mau makan di mana,” tambah Dhian.
Karena sudah terbiasa sejak kecil diperlakukan demikian, terkadang anak tidak sadar jika ortunya overparenting. Biasanya, anak baru merasakan ketidaknyamanan ketika relasi sosialnya mulai luas. ”Pas sudah SMP atau SMA melihat teman-temannya punya kebebasan lebih dari mereka, di situ mulai tumbuh gejolak untuk punya kebebasan lebih,” lanjutnya.
Pada kesempatan itu, anak boleh untuk mengutarakan perasaan dan keinginannya. Meski, sulit bagi ortu yang overparenting membiarkan anaknya punya pendapat dan mengambil keputusan. ”Ortu harus sadar jika tidak bisa selamanya mendampingi anak. Mereka akan tumbuh mandiri. Karena itu, ajarkan mereka proses, lifeskill, bukan memberinya hasil,” tegas Dhian. (lai/c6/nor)
APAKAH TERMASUK ORTU YANG OVERPARENTING?
Efek Overparenting bagi Anak

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
