
Ilustrasi korban cyber child grooming di internet. (freepik)
JawaPos.com - Pengakuan Aurelie Moeremans dalam memoarnya Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah membuka diskusi luas tentang praktik child grooming, bentuk kekerasan seksual yang kerap terjadi tanpa disadari korban.
Kisah pahit yang dialami Aurelie sejak usia remaja menjadi gambaran nyata bagaimana grooming bisa berlangsung perlahan, halus, dan tersembunyi di balik relasi yang tampak normal.
Sejak potongan memoar tersebut viral di media sosial pada awal Januari 2026, perhatian publik tak hanya tertuju pada pengalaman personal Aurelie, tetapi juga pada pemahaman masyarakat tentang apa itu child grooming dan mengapa banyak korban baru menyadari manipulasi tersebut setelah bertahun-tahun berlalu.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming merupakan taktik manipulatif dan eksploitatif yang digunakan predator untuk membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja, dengan tujuan melakukan pelecehan atau eksploitasi seksual di masa mendatang.
Proses ini umumnya tidak melibatkan kekerasan fisik secara langsung pada tahap awal, sehingga kerap luput dikenali.
Pelaku secara sistematis menciptakan rasa aman palsu, membuat korban merasa dipahami, dibutuhkan, dan istimewa.
Dalam kondisi ini, korban sulit melihat adanya niat tersembunyi di balik perhatian tersebut.
Tahapan Grooming yang Kerap Terjadi
Dalam banyak kasus, termasuk yang digambarkan Aurelie dalam memoarnya, grooming memiliki pola yang hampir serupa. Tahap awal biasanya dimulai dengan membangun kepercayaan.
Pelaku tampil sebagai sosok dewasa yang ramah, suportif, dan seolah menjadi pelindung.
Tahap berikutnya adalah pemberian perhatian berlebihan, pujian, atau hadiah untuk menumbuhkan ketergantungan emosional. Korban perlahan diarahkan untuk merasa bahwa hanya pelaku yang benar-benar memahami dirinya.
Selanjutnya, pelaku mulai mengisolasi korban dari teman dan keluarga. Pembatasan ini bisa terjadi secara halus, baik melalui larangan langsung maupun manipulasi emosional.
Tahap paling berbahaya adalah normalisasi perilaku tidak pantas. Sentuhan fisik, percakapan bernuansa seksual, atau permintaan tertentu diperkenalkan secara bertahap hingga korban menganggapnya wajar atau sebagai rahasia bersama.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
