Ilustrasi seseorang yang burnout
JawaPos.com – Burnout kini menjadi istilah yang sering terdengar, terutama di kalangan generasi Z. Meski bukan kondisi medis, burnout diakui sebagai kelelahan fisik, emosional, dan mental yang berdampak pada motivasi serta produktivitas. Pertanyaannya, apa yang membuat Gen Z lebih rentan terhadap kondisi ini?
Menurut konten edukasi yang diunggah akun @satupersen_official di TikTok, salah satu penyebab utama burnout adalah ekspektasi yang terlalu tinggi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Generasi Z tumbuh di era media sosial yang sarat perbandingan. Melihat pencapaian orang lain membuat mereka merasa tertinggal dan berusaha bekerja lebih keras, tanpa menyadari batas kemampuan.
Kreator konten @augieaditya juga menyoroti faktor overthinking yang banyak dialami anak muda. Ketika dihadapkan dengan pilihan karier atau masa depan, Gen Z sering kali tenggelam dalam pikiran negatif. Alih-alih fokus menyelesaikan masalah, mereka justru menghabiskan energi untuk membayangkan skenario terburuk. Inilah yang mempercepat munculnya gejala burnout, seperti mudah lelah, kehilangan motivasi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.
Fenomena ini turut dijelaskan oleh akun @tirtacipeng. Ia menyebut bahwa budaya “hustle” atau bekerja tanpa henti semakin memperparah situasi. Generasi Z sering kali merasa harus produktif setiap saat demi membuktikan diri. Bahkan, waktu istirahat dianggap tidak produktif dan memunculkan rasa bersalah. Padahal, tanpa keseimbangan, tubuh dan pikiran justru makin rentan kelelahan.
Baca Juga: Burnout Kerja Bukan Sekadar Capek, Kenali Tanda-Tanda Awalnya Sebelum Karier dan Kesehatan Terganggu
Lalu, apa dampaknya?
Burnout tidak hanya memengaruhi kualitas kerja, tetapi juga kesehatan mental dan fisik. Video edukasi dari kanal Neuron di YouTube menjelaskan bahwa burnout dapat menurunkan konsentrasi, menimbulkan gangguan tidur, hingga memicu depresi. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berisiko mengurangi rasa percaya diri dan membuat seseorang kehilangan arah dalam hidupnya.
Siapa yang paling terdampak?
Anak muda yang masih berada di tahap transisi, seperti mahasiswa atau pekerja awal karier, menjadi kelompok paling rentan. Mereka sering kali dihadapkan dengan target akademik, tekanan ekonomi, sekaligus tuntutan untuk tampil sukses di media sosial. Kombinasi faktor ini membuat daya tahan mental mereka mudah terkuras.
Bagaimana cara mengatasinya?
Psikolog dan pakar kesehatan mental menyarankan beberapa langkah praktis. Pertama, penting untuk mengenali tanda-tanda awal burnout, seperti merasa hampa, kehilangan motivasi, atau sering sakit kepala. Kedua, batasi eksposur media sosial agar tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Ketiga, terapkan manajemen waktu dengan menetapkan prioritas dan memberi ruang untuk istirahat.
Selain itu, dukungan sosial juga berperan besar. Berbicara dengan teman, keluarga, atau mencari bantuan profesional dapat membantu melepas beban mental. Perusahaan maupun institusi pendidikan juga diharapkan menciptakan lingkungan yang sehat dengan budaya kerja seimbang.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
