
Ilustrasi overwork/Magnific
JawaPos.com-Produktif memang baik untuk aktivitas pekerjaan. Sikap produktif dapat membantu kita menghasilkan lebih banyak dan meraih kesuksesan.
Namun, beberapa perilaku produktif ini bisa berubah menjadi toxic. Kondisi itu dikenal dengan istilah Toxic Productivity.
Toxic productivity merupakan obsesi seseorang untuk terus bekerja habis-habisan sampai mengorban dirinya sendiri, termasuk kesehatan mental dan kondisi fisik.
Toxic productivity juga sering membawa kecemasan ketika melihat orang lain terlihat lebih produktif. Mereka juga bisa merasa iri dengan pencapaian orang lain, dan merasa tertinggal, sampai akhirnya memaksakan diri supaya terlihat lebih sukses.
Melansir dari laman talenta.co dan nusamed.co.id pada (21/5) ada perilaku-perilaku yang berpotensi berubah menjadi toxic productivity dan membuat seseorang kerap merasa stres dan burnout.
Workaholic
Workaholic sebenarnya bukanlah hal yang buruk dan masih berdampak positif, asalkan dilakukan dalam batas yang wajar dan sehat. Namun, workaholic bisa berubah menjadi toxic disaat seseorang mulai terobsesi mencari-cari pengakuan dan validasi. Workaholic juga termasuk ke dalam toxic productivity saat seseorang mencoba mendistraksi permasalahan pribadi dengan bekerja tanpa henti. Hal ini dapat berpengaruh buruk pada kondisi kesehatan mental dan fisik.
Hustle Culture
Hustle Culture juga dapat berdampak pada kondisi mental seseorang. Budaya hustle atau bekerja keras untuk mencapai kesuksesan finansial bisa berubah menjadi hal negatif, jika dilakukan tanpa jeda, mengorbankan kehidupan pribadi, kesehatan, waktu, kehidupan pribadi, dan memicu stres mental serta kelelahan fisik berlebih.
Lembur
Lembur bisa jadi kewajiban dan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesekali. Namun kondisi ini bisa berubah jika dikerjakan secara terus menerus.kemudian anda menganggapnya sebagai bentuk kewajiban agar terlihat produktif. Bekerja melebihi kemampuan normal sangat berdampak pada kesehatan mental.
Overachieving
Overachieving terhadap suatu pencapaian juga dapat berubah menjadi toxic. Keinginan untuk terus produktif dan menjadi yang terbaik dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mental. Overachieving biasanya muncul dengan ciri-ciri tidak pernah merasa puas, membandingkan diri dengan orang lain, terlalu perfeksionis, hanya merasa bangga jika memiliki prestasi, sering merasa gagal, terlihat cemas,dan kehilangan waktu istirahat.
Multitasking
Multitasking dapat menjadi kemampuan yang bermanfaat. Namun, hal itu bisa berubah menjadi toxic jika dilakukan secara berlebihan. Bukan malah produktif, multitasking setiap saat dapat menurunkan kualitas, mudah terdistraksi, memicu stres, dan meningkatkan risiko burnout.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
