Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Mei 2026 | 21.00 WIB

Sering Dikira Produktif tapi Sebenarnya Toxic, Kebiasaan Kerja Berikut Sebenarnya Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Anda

Ilustrasi overwork/Magnific - Image

Ilustrasi overwork/Magnific

JawaPos.com-Produktif memang baik untuk aktivitas pekerjaan. Sikap produktif dapat membantu kita menghasilkan lebih banyak dan meraih kesuksesan.

Namun, beberapa perilaku produktif ini bisa berubah menjadi toxic. Kondisi itu dikenal dengan istilah Toxic Productivity.

Toxic productivity merupakan obsesi seseorang untuk terus bekerja habis-habisan sampai mengorban dirinya sendiri, termasuk kesehatan mental dan kondisi fisik.

Toxic productivity juga sering membawa kecemasan ketika melihat orang lain terlihat lebih produktif. Mereka juga bisa merasa iri dengan pencapaian orang lain, dan merasa tertinggal, sampai akhirnya memaksakan diri supaya terlihat lebih sukses.

Melansir dari laman talenta.co dan nusamed.co.id pada (21/5)  ada perilaku-perilaku yang berpotensi berubah menjadi toxic productivity dan membuat seseorang kerap merasa stres dan burnout. 

Workaholic sebenarnya bukanlah hal yang buruk dan masih berdampak positif, asalkan dilakukan dalam batas yang wajar dan sehat. Namun, workaholic bisa berubah menjadi toxic disaat seseorang mulai terobsesi mencari-cari pengakuan dan validasi. Workaholic juga termasuk ke dalam toxic productivity saat seseorang mencoba mendistraksi permasalahan pribadi dengan bekerja tanpa henti. Hal ini dapat berpengaruh buruk pada kondisi kesehatan mental dan fisik.

Hustle Culture juga dapat berdampak pada kondisi mental seseorang. Budaya hustle atau bekerja keras untuk mencapai kesuksesan finansial bisa berubah menjadi hal negatif, jika dilakukan tanpa jeda, mengorbankan kehidupan pribadi, kesehatan, waktu, kehidupan pribadi, dan memicu stres mental serta kelelahan fisik berlebih. 

Lembur bisa jadi kewajiban dan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesekali. Namun kondisi ini bisa berubah jika dikerjakan secara terus menerus.kemudian anda menganggapnya sebagai bentuk kewajiban agar terlihat produktif. Bekerja melebihi kemampuan normal sangat berdampak pada kesehatan mental. 

Overachieving terhadap suatu pencapaian juga dapat berubah menjadi toxic. Keinginan untuk terus produktif dan menjadi yang terbaik dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mental. Overachieving biasanya muncul dengan ciri-ciri tidak pernah merasa puas, membandingkan diri dengan orang lain, terlalu perfeksionis, hanya merasa bangga jika memiliki prestasi, sering merasa gagal, terlihat cemas,dan kehilangan waktu istirahat.

Multitasking dapat menjadi kemampuan yang bermanfaat. Namun, hal itu bisa berubah menjadi toxic jika dilakukan secara berlebihan. Bukan malah produktif, multitasking setiap saat dapat menurunkan kualitas, mudah terdistraksi, memicu stres, dan meningkatkan risiko burnout.  

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore