Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 Juli 2025 | 03.19 WIB

Kenali Pola Coping Mechanism Tidak Sehat dan Langkah Awal Mengganti dengan Strategi Sehat

Ilustrasi seseorang mencoba melepaskan diri dari kebiasaan coping yang tak sehat. (dok. Freepik)

JawaPos.com - Dalam kehidupan modern, saat menghadapi tekanan emosional atau stres, banyak orang secara otomatis menggunakan strategi coping.

Namun, ada sejumlah pola coping yang sejatinya tidak sehat, sifatnya sementara dan justru memperparah kondisi mental dalam jangka panjang. Walau menawarkan kelegaan instan, mekanisme seperti menghindar, makan berlebihan, atau menyendiri bisa menciptakan dampak negatif pada hubungan, kesehatan, dan stabilitas emosi.

Menurut Bay Area CBT Center, sebuah praktik terapi kognitif-behavioral di AS, coping tidak sehat (maladaptive coping) mencakup perilaku seperti penyalahgunaan zat, isolasi sosial, emotional eating, self‑talk negatif, dan kerja berlebihan yang digunakan untuk menghindari masalah daripada menyelesaikannya. Meskipun terasa menenangkan di awal, kebiasaan ini cenderung memperparah stres dan menghambat pemulihan jangka panjang.

Pola Unhealthy Coping yang Perlu Kamu Kenali

  • Substance abuse (penyalahgunaan zat)

Menggunakan alkohol, obat-obatan, atau zat lain untuk melarikan diri dari tekanan emosional. Riskan memicu kecanduan dan memburuknya kesehatan mental.

  • Isolation (penarikan sosial)

Menarik diri dari teman atau keluarga sebagai bentuk coping. Padahal, isolasi jangka panjang bisa meningkatkan risiko kesepian, depresi, dan menurunnya sistem pendukung sosial.

  • Emotional eating (makan berlebihan karena emosi)

Menggunakan makanan sebagai pelarian dari perasaan negatif. Meski memberi rasa nyaman sesaat, sering berujung rasa bersalah, gangguan nutrisi, dan citra tubuh negatif.

  • Negative self-talk

Kebiasaan mengkritik diri secara berlebihan, berpikiran hitam-putih, atau menyalahkan diri sendiri. Pola ini merusak kepercayaan diri dan meningkatkan kecemasan atau depresi.

  • Overworking

Terutama sebagai bentuk pelarian, bekerja terus tanpa jeda emosional. Pada awalnya terlihat produktif, tapi sering menyebabkan burnout mental dan kehidupan tidak seimbang.

  • Escapism berlebihan

Termasuk binge-watching, game maraton, atau doomscrolling. Aktivitas ini mematikan kesadaran serta menghalangi penyelesaian emosi maupun masalah yang mendasari.

  • Avoidance dan denial

Menghindari atau menyangkal masalah daripada menghadapi. Menghambat pertumbuhan pribadi dan membuat stress menumpuk tanpa solusi efektif.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore