Foto pasaraya (Dok. Pixabay/Jarmoluk)
JawaPos.com - Dewasa ini, perilaku over-konsumsi marak dilakukan oleh banyak orang. Over-konsumsi merupakan tindakan konsumsi berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Meskipun kondisi ekonomi tidak bisa dikatakan baik-baik saja, masyarakat tetap mempertahankan gaya hidup over-konsumsi.
Produk Apa Saja yang Sering Menjadi Bahan Over-Konsumsi?
Gaya hidup konsumsi berlebih ini bisa terjadi pada berbagai macam produk, baik itu kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier.
Contoh yang paling umum adalah pakaian. Walaupun tergolong kebutuhan primer, banyak dari konsumen yang rela merogoh koceknya untuk mendapatkan motif, gaya, dan desain berbeda untuk sebuah pakaian.
Industri fast fashion (pakaian yang diproduksi sangat cepat) masih diminati hingga kini. Masyarakat terus mengonsumsi pakaian demi mendapatkan gaya dan mengikuti trend terkini.
Di sisi lain, elektronik juga menjadi produk yang terus dikonsumsi secara masif. Industri elektronik memiliki pertumbuhan produksi sangat cepat. Hal ini tentu saja didorong dengan minat pembeli yang menginginkan perangkatnya terbarukan baik itu ponsel, laptop, atau yang lainnya.
Mengapa Masyarakat Melakukan Over-Konsumsi?
Laman Instopedia menjelaskan bahwa adanya kecenderungan konsumen tetap membeli barang mewah kecil bahkan selama krisis ekonomi. Hal ini disebut juga dengan ‘Efek Lipstik’.
Efek lipstik merupakan ilusi bahwa setidaknya, walaupun ekonomi sedang tidak baik-baik saja, konsumen masih mampu membeli lipstik untuk kesenangannya.
Selain lipstik, konsumen juga cenderung memilih membeli tiket konser atau kebutuhan tersier lainnya. Bagi konsumen, lebih baik membeli barang yang lebih terjangkau (walaupun tidak diperlukan) dibanding menabung untuk barang yang lebih mahal seperti rumah dan mobil.
Mengapa Over-Konsumsi Berbahaya dan Bagaimana Menghentikannya?
Konsumsi sesuatu secara berlebihan membuat pembeli melupakan kenyataan bahwa ekonomi sedang tidak baik-baik saja.
Membeli produk yang akan meningkatkan kesenangan pembeli dapat menciptakan ilusi. Sayangnya, kesenangan tidak akan bertahan lama dan kenyataannya konsumen perlu memikirkan keuangan jangka panjang.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
